Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PASEDHULURAN AS A SOCIAL CAPITAL FOR LOCAL ECONOMIC DEVELOPMENT: EVIDENCE FROM POTTERY VILLAGE Karmilah, Mila; Nuryanti, Wiendu; Soewarno, Nindyo; Setiawan, Bakti
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2942

Abstract

The increase in both industrialization and tourism in Kasongan village famous with its pottery being the tourism Village since 1988, radically altered the local economy and domestic life. Based on oral history, survey, and documentary sources, this paper examine the impact of economics globalization to the diversity of culture in Kasongan. Globalization has two faces. If it can be managed properly, globalization can certainly give sufficient benefit to the country. The result of study indicated that pasedhuluran kinship systems in pottery production chain as one of social capital in socio-economic development in Kasongan, play an important role. This can be seen in terms of hiring local labor, then the pottery associated with the ordering system, and the use of the showroom to promote their pottery. Based on this note that the negative impact of globalization, especially the pottery in Kasongan indsutry can be minimized by pasedhuluran system. Peningkatan industrialisasi dan pariwisata di Desa Kasongan yang terkenal dengan kerajinan gerabah yang telah berkembang sejak tahun 1972 dan menjadi desa wisata pada tahun 1988, secara radikal telah mengubah ekonomi lokal dan kehidupan masyarakat di desa tersebut. Berdasarkan wawancara terkait sejarah, survei, dan sumber-sumber dokumenter lainnya, maka tulisan ini akan mengkaji dampak globalisasi ekonomi terhadap keragaman budaya masyarakat setempat. Globalisasi memiliki dua sisi. Jika globalisasi dapat dikelola dengan baik, maka globalisasi dapat memberikan manfaat yang cukup baik bagi negara. Namun, jika suatu negara tidak dapat beradaptasi dan menentukan strategi yang perlu diterapkan dalam rangka menghadapi globalisasi, negara akan menjadi korban dari globalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasedhuluran adalah sistem kekerabatan di rantai produksi kegiatan produksi gerabah. Pasedhuluran sebagai salah satu modal sosial dalam pembangunan sosial-ekonomi di Kasongan, memainkan peranan yang penting. Hal ini terlihat dalam sistem tenaga kerja, dimana sebagian besar merupakan keluarga.  Selain sistem tenaga kerja pasedhulran juga terlihat pada sistem pemesanan (order gerabah), dan menggunakan showroom sebagai tempat mempromosikan gerabah mereka. Berdasarkan studi ini diketahui bahwa dampak globalisasi dapat diminimalisir dengan adanya sistem kekerabatan (pasedhuluran).
Analisis Preferensi Dan Rute Destinasi Pariwisata Pantai Di Daerah Istimewa Yogyakarta Widyastuti, Henny; Marsoyo, Agam; Setiawan, Bakti
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.takoda.2018.010.02.2

Abstract

The mainstay tourism destinations in Yogyakarta Special Region are beach tourism destinations. Accessibility in beach tourism destinations does not deter tourists. The purpose of this study is to illustrate the relationship between accessibility to preferences and routes of beach tourism destinations, and identify factors affecting the preferences and routes of beach tourism destinations in Yogyakarta Special Region. The method used is deductive method with quantitative analysis. The analysis method used is using descriptive statistical analysis. The result of the analysis shows that there is a relation between accessibility with preference and route of beach tourism destination. There are beach tourism destinations that are often bypassed and become the referral of Baron Beach and Parangtritis Beach. Factors influencing the preferences and routes of beach tourism destinations are (i) the socio-demographic factor of tourists, consisting of the area of origin of tourists, the source of information, and the frequency of travel, (ii) the amenity factor which includes the availability of tourism facilities and infrastructure and the ability of facilities and infrastructure tourism in meeting the needs of tourists, (iii) tourist behavior factor, consisting of tourist destinations, tourism motivation, and tourist expectations of tourism facilities and infrastructure needed, (iv) tourist attraction factors that include the ability of tourist attractions in attracting tourists, tourist attractions are popular tourists, and tourist activities undertaken by touristsKeywords: Preferences, Routes, Beach Tourism Destinations, Yogyakarta Special Region.
Collaborative Planning on Cross-Border Service of Water Supply in Surakarta Urban Border Area, Indonesia Wahyono, Hadi; Djunaedi, Achmad; Setiawan, Bakti; Subanu, Leksono
International Journal of Planning and Development Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.238 KB)

Abstract

Abstract: Recently, many planners apply collaborative planning theory in planning involving two or more parties, such as between government, private and community, including in the inter-region cooperation. However, the theory has rarely been used to explain the interaction between regions in city border area, especially in the cases in Indonesia. This article discusses the case of cross-border service of water supply of the Local Water Company (PDAM-Perusahaan Daerah Air Minum) of Surakarta City into the urban border area of Sukoharjo Regency, based on collaborative planning theory. This article is written based on results of the research on the case using case study research method. The discussion concludes that the approach of collaborative planning theory used on the case is cooperative-accommodation approach. It is because PDAM of Surakarta City accommodate the cross-border region service as a reciprocal policy, as most of their water inputs come from their neighboring regions. In general, such an approach is in accordance with the need of the interacting regions, which one region needs supporting service to meet the need of their communities in water service, and another can fulfill the need based on its capacity. In this case, the concerned technical agencies, PDAM of every region interact each other directly in providing the service. The important thing, the interaction is in line with the prevailing cross-border region bureaucratic regulations and does not infringe the autonomy of every region.Keywords: city border area, collaborative planning, cross-border water supply, Surakarta
RUANG BERMAIN UNTUK ANAK DI KAMPUNG KOTA: STUDI PERSEPSI LINGKUNGAN, SETING, DAN PERILAKUANAK DI KAMPUNG CODE UTARA, YOGYAKARTA Setiawan, Bakti
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 13, No 2 (2006)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Seringkali perencanaan dan penataan ruang dilakukan tanpa pemahaman yang benar akan persepsi dan perilaku manusia pengguna ruangnya. Kenyataan yang terjadi adalah penataan ruang yang tidak optimal mengakomodasi kebutuhan dan keinginan penggunanya, serta tidak memfasilitasi proses adaptasi yang dinamik antara perilaku dengan setingnya. Interaksi anak-anak dengan lingkungan alam sangat menentukan pembentukan kematangan pribadi anak di kemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi, seting, dan perilaku anak-anak kota terhadap sungai dan lingkungannya, dengan kasus di Kampung Code Utara, Yogyakarta. Dalam penelitian dilakukan pemetaan perilaku, pemetaan mental, observasi lapangan, dan wawancara dengan 24 anak di area penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak di area penelitian mempunyai persepsi yang positip terhadap sungai sebagai elemen penting lingkungan perumahan mereka. Meskipun demikian, kondisi sungai dan penataan ruang di sekitar sungaijustru kurang memfasilitasi persepsi dan perilaku yang positip ini. Penataan ruang yang terjadi justru membatasi interaksi anak dengan sungai, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kognisi positipnya terhadap lingkungan dan alam sekitar. Penelitian ini menyarankan pentingya perencana kota menghadirkan ruang-ruang yang memungkinkan anak-anak perkotaan melakukan interaksi yang dinamik dengan lingkungan alam.
INDIKATOR KEBERLANJUTAN KOTA DI INDONESIA : STUDI KOMPARASI EMPAT KOTA DI JAWA Setiawan, Bakti
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 14, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Walaupun ide pembangunan kota yang berkelanjutan semakin diterima oleh banyak kalangan di Indonesia, kondisi kota-kota di Indonesia semakin saja buruk dan mengkhawatirkan. Ide-ide pembangunan kota yang berkelanjutan masih sekedar diwacanakan dan tidak dirumuskan menjadi satu program yang rinci dan terukur, sehingga secara berkala dapat dievaluasi perkembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur indikator keberlanjutan kota di Indonesia, khususnya indikator lingkungan fisik. Penelitian ini merupakan penelitian komparasi empat kota yakni: dua kota pantai (Semarang dan Surabaya) serta dua kota pedalaman (Bandung dan Yogyakarta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat kota menunjukkan perkembangan yang tidak menggembirakan dari aspek lingkungan fisik. Beberapa indikator utama lingkungan seperti: kualitas udara, kualitas air, sampah padat, perumahan, dan ketersediaan ruang terbuka hijau, cenderung menurun kondisinya. Penelitian ini juga menunjukkan variasi kondisi lingkungan yang cukup lebar antar empat kota yang dikaji. Kecenderungan kesamaan dan perbedaan indikator ini tidak disebabkan karena kebijakan dan program pemerintah kota, melainkan lebih karena kondisi geografis dan proses pertumbuhan kotanya masing-masing. Penelitian ini menyarankan diberlakukannya indikator keberlanjutan kota di Indonesia secara konsisten agar ide-ide pembangunan kota yang berkelanjutan dapat lebih aplikatif direalisasikan dan dimonitor.
COMMUNITY INITIATIVE AND INVOLVEMENT IN CREATING HEALTHY AND FRIENDLY CITIES: LESSONS FROM YOGYAKARTA Setiawan, Bakti
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 9, No 1 (2002)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Sejalan dengan peningkatan urbanisasi, akan semakin banyak orang tinggal di kota. Persoalannya adalah bahwa kota kota di Negara berkembang menghadapi berbagai persoalan lingkungan, ekonomi dan sosial, terutama karena pendekatan dan praktek perencanaan dan perancangan kota yang tidak pas. Lebih jauh, kota kota di Negara berkembang sebagaimana di Indonesia cenderung kehilangan identita kulturalnya, terutama karena proses pertumbuhan kota yang dipengaruhi oleh pasar global dan tidak memungkinkan penduduk lokal untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan kotanya. Paper ini berargumen bahwa partisipasi penduduk lokal merupakan prasarat bagi terwujudnya kota yang aman dan akrab. Didasarkan atas studi kasus lima proyek di Yogyakarta yang melibatkan penduduk kota, paper ini merumuskan faktor-faktor penting untuk meningkatkan keterlibatan penduduk lokal. Dari lima studi kasus ini, paper ini berkeyakinan bahwa keterlibatan penduduk lokal akan optimal apabila mereka terorganisir dan memahami dinamika proses pembangunan kota. Adalah penting bagi komunitas untuk memahami proses politik dalam pembangunan kota dan secara aktip terlibat dalam proses keeharian pengambilan keputusan yang menyangkut pembangunan kota.
EFISIENSI PEMANFAATAN LAHAN PERKOTAAN MELALUI PENGEMBANGAN PENGISIAN DI YOGYAKARTA Suradi, Suradi; Setiawan, Bakti
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 11, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Perkembangan perkotaan di lndonesia pada umumnya dicirikan dengan pengembangan perumahan di wilayah pinggiran kota yang berpola sprawl yang menciptakan efek negative antara lain: menjauhkan penduduk dari tempat kerja. polusi. dan konversi lahan pertanian di pinggiran. Pola pengembangan yang baru sangat diperlukan untuk mengarahkan perkembangan kota yang lebih efisien termasuk juga melalui cara infill development. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengevaluasi pembangunan perumahan melalui model pengisian di Kota Yogyakarta, khususnya menyangkut pola perkembangannya. motivasi pengembangannya. dan pengaruhnya pada perkembangan kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infill development di Yogyakarta mempunyai karakteristik sebagai berikut (1) merupakan perumahan untuk kelas menengah dan mewah. (2) umumnya merupakan rumah dengan 1-2 lantai, (3) berkepadatan sedang.(4) sebagian besar lahan yang dipakai adalah lahan kosong. Penelitian ini menengarai bahwa pemerintah kota tidak secara sadar mendukung model pengembangan ini karena tidak mengetahui manfaatnya. Dengan kata lain, infill development, yang terjadi di lapangan merupakan respon pasar terhadap kebutuhan rurnah. Model ini membawa beberapa manfaat positip antara lain (1) effisiensi lahan. (2) perkembangan kota yang lebih kompak. (3) meningkatkan suplai perumahan, dan (4) meningkatkan aktivitas ekonomi pada wilayah tersebut.
KONFLIK LINGKUNGAN DI KAMPUNG AGAS, TANJUNG UMA, BATAM Saprial, Saprial; Setiawan, Bakti; Wijono, Djoko
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 11, No 3 (2004)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Perkembangan kota Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, pelabuhan, dan pariwisata, membawa tidak saja dampak positip, melainkan juga dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang muncul adalah konffik lingkungan dalam bentuk pencemaran air di sungai Jodoh yang menganggu pemukiman liar di Kampung Agas, Tanjung Uma. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji akar masalah konflik dan resolusinya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif-kualitatip, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Penelitian ini menemukan bahwa akar masalah konffik adalah konflik spasial antara permukiman liar dan pembangunan ruko yang menimbulkan limbah di sekitar permukiman liar. Tidak dibangunnya IPAL memicu protes warga di permukiman liar dan terjadilah konflik. Penelitian ini melihat bahwa penyelesaian konflik dalam bentuk kompensasi atau “sagu hati" tidak menyelesaikan akar masalah konflik. Walaupun begitu, penyelesaian ini dipandang oleh pihak-pihak yang berkonflik sebagai hasil mufakat yang dimungkinkan untuk menghindari konflik sosial yang lebih besar. Penelitian ini juga menemukan bahwa bentuk penyelesaian konflik melalui musyawarah dan mufakat dapat dilakukan secara efektif sejauh ada mediator yang dipercaya oleh pihak-pihak yang bersengketa.
PENYUSUNAN INDIKATOR INDIKATOR KEBERLANJUTAN KOTA DI INDONESIA Haryadi, Haryadi; Setiawan, Bakti
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 9, No 3 (2002)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Selama ini konsep dan indikator pembangunan kota yang berkelanjutan telah banyak dikembangkan di negara-negara maju. Dalam konteks negara-negara berkembang, dimana kondisi lingkungan, sosial, ekonomi, dan budayanya berbeda, tentunya konsep dan indikator tersebut tidak dapat digunakan begitu saja. Melalui studi komparatip di berbagai kota di negara maju serla lokakarya di Denpasar dan Yogyakarta, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan indikator-indikator keberlanjutan kota di Indonesia. Hasil kajian merumuskan tiga kelompok indkator penting yakni: (l) indikator ekonomi, (2) indikator sosial; dan (3) indikator lingkungan. Masing-masing kelompok dirumuskan secara lebih rinci dalam penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perumusan indikator satu kota sebaiknya dilakukan oleh segenap warga kota agar benar-benar mencerminkan konsep dan persoalan warga kota.
DAMPAK PERKEMBANGAN KAWASAN PENDIDIKAN DI TEMBALANG SEMARANG JAWA TENGAH Samadikun, Budi Prasetyo; Sudibyakto, Sudibyakto; Setiawan, Bakti; Rijanta, Rijanta
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Kawasan Tembalang merupakan salah satu wilayah pemekaran Kota Semarang Propinsi Jawa Tengah yang peruntukannya sebagai daerah pusat pengembangan pendidikan serta  pertumbuhan perumahan dan permukiman.  Pada tahap awal,  perkembangan kampus (kawasan pendidikan) di wilayah ini masih berdampak positif, khususnya pada pertumbuhan/perbaikan infrastruktur. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata mulai timbul dampak negatif pada lingkungan di sekitar kawasan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tahapan dan bentuk perubahan yang terjadi di Kawasan Tembalang, serta mengkaji kondisi eksisting permukiman dan infrastruktur di wilayah ini. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dengan menggabungkan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa tahapan dan bentuk perubahan yang terjadi selama empat tahap mencakup aspek kependudukan, matapencaharian, kondisi sosial-ekonomi-budaya, suplai kebutuhan, tata guna lahan, kondisi infrastruktur, dan lingkungan. Nilai skoring terhadap infrastruktur eksisting bernilai baik untuk kondisi transportasi dan drainase, kondisi bangunan dinilai buruk, dan kondisi persampahan dinilai sedang.