I Made Sugiarta
Universitas Hindu Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

NILAI PENDIDIKAN PADA TARI REJANG PAMENDAK DI PURA LUHUR BATUKAU Ni Luh Putu Wiwin Astari; I Made Sugiarta
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.629

Abstract

Pelaksanaan yadnya bagi umat Hindu, tidak hanya dalam bentuk upacara saja, akan tetapi melalui karya seni salah satunya seni Tari. Hampir tidak ada upacara ritual agama Hindu di Bali yang tidak dilengkapi dengan sajian tari-tarian, baik yang merupakan bagian dari upacara adat atau agama, sebagai sajian penunjang untuk melengkapi pelaksanaan upacara, maupun sebagai hiburan yang bersifat sekuler. Tari Rejang Pamendak sebagai bagian dari pelaksanaan upacara agama dimana kata ”Pamendak” mengandung makna memendak para Dewa yang berstana di Pura Batukau dari payogan dihadirkan pada saat upacara penyineban serangkaian Pujawali atau Piodalan di pura Luhur Batukau, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Umanis Galungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggungkap dua hal yaitu bagaimana bentuk tari Rejang Pamendak dan nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam tari Rejang Pamendak. Maka diperoleh kesimpulan bahwa tari Rejang Pamendak ditarikan oleh 10 orang atau lebih para wanita yang sudah menikah dengan membawa sarana dupa. Gerakan serta kostum sangat sederhana dan menggunakan gamelan Gong Kebyar dengan bilah daun sembilan. Nilai pendidikan yang terkandung pada Rejang Pamendak adalah Nilai Pendidikan Religi, Nilai Pendidikan Estetika, Nilai Pendidikan Etika,dan Nilai Pendidikan Tattwa.
ESTETIKA HINDU PADA TARI GANDRUNG DALAM UPACARA PIODALAN DI PURA DALEM, BANJAR TAMBAWU KELOD, DESA TAMBAWU, KELURAHAN PENATIH, KECAMATAN DENPASAR TIMUR I Made Sugiarta; Ni Luh Putu Wiwin Astari; I Gusti Putu Wulan Santika Puspita
WIDYANATYA Vol 3 No 1 (2021): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni 
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v3i1.1684

Abstract

Hinduism is the main source of the values ​​that animate Balinese culture, therefore every result of cultural creativity, including art, cannot be separated from noble values, especially aesthetic values ​​that come from Hinduism. In the implementation of religious activities, art has always been an important part of the success of the religious ceremonies that are held. In Tambawu village, we never miss to carry out the yadnya ceremony, this is based on the awareness of the community that everything is based on the gift of Ida Sang Hy ang Widhi Wasa. In carrying out the Dewa Yadnya ceremony, it is not only poured out in an offering in the form of Upakara but also presented sacred arts generation. Existence Gandrung dance is one type of sacred dance that is functioned in the bebali art setting during the Piodalan ceremony at Pura Dalem , Tambawu Village, which is presented every six months, on Tilem day after Buda Kliwon Paang . The problems at this writing include; 1) B How can the form of offering dance Infatuated , 2) What Functions dance gandrung , and 3) Is the Hindu aesthetics (tattva, ethics, ritual) in dihadirkannya dance gandrung on Piodalan at Pura Dalem , Tambawu village. The conclusion of its cover; (1) The form consists of dancers dance Infatuated , Range of motion , structure pe rsembahan dance Infatuated , Tata makeup and clothing, Upakara , music accompaniment, and place dihadirkannya . (2) The functions of tri Gandrung are Religious Functions, Social Functions , Hindu Religious Education Functions , and Cultural Preservation Functions. While the values ​​contained in the offerings of the Gandrung dance are the values of tattwa , morality and ceremonies
KUASA PENDIDIKAN ERA GLOBAL PADA SENI TRADISI GENGGONG DI DESA BATUAN, STUDI KASUS SENI PERTUNJUKAN GENGGONG I Nyoman Winyana; I Made Sugiarta; I Putu Gede Padma Sumardiana
WIDYANATYA Vol 1 No 1 (2019): widyanatya
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v1i1.271

Abstract

ABSTRAK Salah satu penyebab keberadaan kesenian Genggong menjadi tidak populer dalam kehidupan masyarakat masa Global adalah peran pendidikan yang diduga tidak berpihak pada seni Genggong seperti di Desa Batuan. Seni pertunjukan Genggong Batuan di era tahun 1973 sempat menjadi karya seni pertunjukan yang mengundang perhatian khususnya pada pertunjukan seni hiburan. Kekhasan dan keunikan bentuk karya ternyata tidak cukup mampu mempertahankan populeritasnya di panggung hiburan. Kajian tulisan ini berangkat dari metode kualitatif yang dirancang guna memperoleh jawaban secara lebih mendalam. Analisis data dilakukan dengan memperhatikan keabsahan data langsung di lapangan selain dokumentasi tersimpan. Teori yang dipakai membedah persoalan kuasa adalah diambil dari teori kuasa yang menekankan pada ranah kuasa dan juga habitus yang terjadi di masyarakat. Hasil akhir kajian ini adalah temuan yang berhubungan dengan proses pendidikan seni tradisional Genggong nyatanya tidak terkait dengan aktivitas kegiatan yang hiburan. Keterlantaran yang diakibatnya oleh perubahan gaya hidup dan struktur yang kurang berpihak pada seni Genggong Desa Batuan. ABSTRACT One of the causes of the existence of Genggong art became unpopular in the lives of the people of the Global period was the role of education which was allegedly not in favor of Genggong art such as in the Village of Batuan. The performance of Genggong Batuan in the 1973 era had become a performance art work that drew attention especially to entertainment art performances. The peculiarity and uniqueness of the form of work turned out to be not enough to maintain its popularity on the entertainment stage. The study of this paper departs from qualitative methods designed to obtain answers in more depth. Data analysis is done by paying attention to the validity of direct data in the field besides the stored documentation. The theory used to dissect the issue of power is taken from the theory of power which emphasizes the realm of power and also habitus that occurs in society. The final result of this study is that findings related to the process of traditional Genggong art education are in fact not related to entertainment activities. The negligence that was caused by changes in lifestyle and structure was not in favor of Genggong Desa Batuan art.
TINJAUAN ASPEK SASTRA DALAM JOGED PINGITAN DAN BARIS UPACARA i gusti made bagus supartama; I Made Sugiarta; Ni Luh Putu Wiwin Astari
WIDYANATYA Vol 4 No 1 (2022): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni 
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Joged Pingit and Baris ceremonies can be understood as part of a ritual and communal function, as part of rural life. Joged Pingit and Baris Ceremonies are held to fulfill spiritual needs. Joged Pingit and Baris Ceremonies are held to fulfill spiritual needs, the need to find meaning in life (cf. Danesi, 2012). Joged Pingit and Baris Ceremony indicate a religious experience and an aesthetic experience. Therefore, the concept of dancing in Joged Pingit and Baris Ceremony can be understood as an effort to involve the whole body in the search for the meaning of life and in communicating with God and other supernatural inhabitants. The essence of Joged Pingitan and Baris Ceremony is an effort by the supporting community to achieve unity with the god or Ida Bhatara who is worshiped as an istadewata. In order to achieve unity with the deity, Joged Pingitan and Baris ceremonies are containers that shape and incarnate beauty as a place where the god (Ida Bhatara) descends in incarnation as an object of worship, as indicated by the dancer who is in a trance. Furthermore, Joged Pingitan and Baris Ceremony are means to achieve the ultimate goal of the life of the supporting community (moksasrtham Jagad Hitam). Therefore, Joged Pingitan and Baris Ceremony become an integral part of Balinese Hindu religious ceremonies, which are based on the integration of a trilogy of Hindu aesthetic principles, namely Satyam (Kindness), Siwam (Truth), Sundaram (Beauty). ABSTRAK Joged Pingitan dan Baris upacara dapat dipahami sebagai bagian riual dan berfungsi komunal, sebagai bagian dari kehidupan pedesaan. Joged Pingitan dan Baris Upacara diadakan untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Joged Pingitan dan Baris Upacara diadakan untuk memenuhi kebutuhan spiritual, kebutuhan untuk mencari makna hidup (cf.Danesi, 2012). Joged Pingitan dan Baris Upacara mengindikasikan pengalaman keagamaan dan pengalaman estetis. Karena itu, konsep menari dalam Joged Pingitan dan Baris Upacara dapat dipahami sebagai upaya melibatkan seluruh tubuh dalam pencarian makna hidup serta dalam usaha berkomunikasi dengan Tuhan dan penghuni gaib lainnya. Hakikat Joged Pingitan dan Baris Upacara merupakan usaha masyarakat pendukungnya untuk mencapai kesatuan dengan dewa atau Ida Bhatara yang dipuja sebagai istadewata. Dalam rangka mencapai kesatuan dengan dewa tersebut, Joged Pingitan dan Baris upacara merupakan wadah yang membentuk dan menjelmakan keindahan sebagai tempat dewa (Ida Bhatara) itu turun dalam penjelmaan sebagai obyek pemujaan, sebagaimana diindikasikan oleh penari yang kesurupan. Lebih jauh, Joged Pingitan dan Baris Upacara merupakan sarana untuk mencapai tujuan akhir kehidupan masyarakat pendukungnya (moksasrtham jagadhitam). Karena itu, Joged Pingitan dan Baris Upacara menjadi bagian integral dalam upacara agama Hindu Bali, yang didasarkan pada integrasi trilogi kaidah estetika Hindu, yaitu Satyam (Kebaikan), Siwam (Kebenaran), Sundaram (Keindahan).
STRATEGI PEMBELAJARAN TATAP MUKA TERBATAS (PTMT) PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI PADA SISWA KELAS VI DI SD NEGERI 2 NYITDAH KECAMATAN KEDIRI KABUPATEN TABANAN I Made Sugiarta; I Gede Widya Suksma; Ni Nyoman Ayu Cahyani Putri
WIDYANATYA Vol 4 No 1 (2022): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni 
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Tabanan Regency Government through the Education and Culture Office regarding the implementation of face-to-face learning in education units within the Tabanan Regency Education and Culture Office, decided that the teaching and learning process (KBM) at the PAUD, SD and SMP level education units uses the Limited Face-to-face Learning (PTMT) method. The problems in this paper include: (1) Why is a Limited Face-to-face Learning (PTMT) strategy needed for Hindu Religion and Moral Education for Class VI Students at SD Negeri 2 Nyitdah, Kediri District, Tabanan Regency?, (2) How is the process of implementing the Learning strategy? Limited Face-to-Face (PTMT) Hindu Religious Education and Character Education for Class VI Students at SD Negeri 2 Nyitdah, Kediri District, Tabanan Regency?, (3) Supporting factors and inhibiting factors for implementing the Limited Face-to-face Learning (PTMT) strategy for Hindu Religious Education in Class VI students at SD Negeri 2 Nyitdah, Kediri District, Tabanan Regency. This type of research is a type of qualitative research that uses no-participant observation techniques, in-depth interviews, document studies as research methods. The conclusions are: (1) To avoid falling behind in learning, it is easier for teachers to provide material, and the material is more easily absorbed by students. (2) Establishing study sessions, implementing the covid-19 process, and using Small Group Discussion strategies and Active Learning strategies. (3) Supporting factors: Circular (SKB) 4 Ministers, facilities and infrastructure. Inhibiting factor: Parents are doubtful, and the subjects are taken to the core. ABSTRAK Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tentang pelaksanaan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabanan, memutuskan bahwa proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada satuan pendidikan tingkat PAUD, SD dan SMP menggunakan metode Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Masalah pada penulisan ini meliputi: (1) Mengapa diperlukan strategi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada Siswa Kelas VI di SD Negeri 2 Nyitdah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan?, (2) Bagaimanakah proses pelaksanaan strategi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada Siswa Kelas VI di SD Negeri 2 Nyitdah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan?, (3) Faktor pendukungdan faktor penghambat pelaksanaan strategi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) Pendidikan Agama Hindu pada Siswa Kelas VI di SD Negeri 2 Nyitdah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menggunakan teknik observasi no-partisipan, wawancara mendalam, studi dokumen sebagai metode penelitian. Adapun kesimpulannya: (1) Untuk menghindari terjadinya ketertinggalan belajar, memudahkan guru memberikan materi, dan materi lebih mudah diserap peserta didik. (2) Membentuk sesi belajar, Menerapkan prokes covid-19, dan penggunaan strategi pembelajaran Kelompok Kecil (Small Group Discussion) dan strategi Active Learning. (3) Faktor pendukung: Surat Edaran (SKB) 4 Menteri, sarana dan prasarana. Faktor penghambat : Orang Tua yang ragu, dan mata pelajaran diambil inti-intinya saja.