I Gusti Made Bagus Supartama
Universitas Hindu Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni

TARI BALI: TANTANGAN DAN SOLUSI DI ERA GLOBALISASI I Gusti Made Bagus Supartama; I Wayan Sukadana
WIDYANATYA Vol 2 No 01 (2020): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/widyanatya.v2i01.627

Abstract

Globalisasi dibangun dengan karakteristik ekonomi untuk mengintegrasikan bebagai elemen kehidupan kedalam system tunggal yang breskala dunia. Dengan demikian, maka akan terjadi eksploitas budaya local yang dikemas secara sistematis dalam bentuk komoditi kapitalis. Sesungguhnya hal ini merupakan ancaman terhadap keutuhan dan keaslian budaya lokal beserta pilar-pilar identitas yang membangunnya. Hal ini sangat nampak pada kesenian khususnya seni tari sebagai identitas budaya Bali, sehingga memerlukan revitalisasi terhadap tari Bali melalui konsensus bersama antara intelektual, seniman, tokoh-tokoh agama, beserta para pengusaha untuk merumuskan kembali kesenian dalam menghadapi era globalisasi.
TINJAUAN ASPEK SASTRA DALAM JOGED PINGITAN DAN BARIS UPACARA i gusti made bagus supartama; I Made Sugiarta; Ni Luh Putu Wiwin Astari
WIDYANATYA Vol 4 No 1 (2022): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan SeniĀ 
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Joged Pingit and Baris ceremonies can be understood as part of a ritual and communal function, as part of rural life. Joged Pingit and Baris Ceremonies are held to fulfill spiritual needs. Joged Pingit and Baris Ceremonies are held to fulfill spiritual needs, the need to find meaning in life (cf. Danesi, 2012). Joged Pingit and Baris Ceremony indicate a religious experience and an aesthetic experience. Therefore, the concept of dancing in Joged Pingit and Baris Ceremony can be understood as an effort to involve the whole body in the search for the meaning of life and in communicating with God and other supernatural inhabitants. The essence of Joged Pingitan and Baris Ceremony is an effort by the supporting community to achieve unity with the god or Ida Bhatara who is worshiped as an istadewata. In order to achieve unity with the deity, Joged Pingitan and Baris ceremonies are containers that shape and incarnate beauty as a place where the god (Ida Bhatara) descends in incarnation as an object of worship, as indicated by the dancer who is in a trance. Furthermore, Joged Pingitan and Baris Ceremony are means to achieve the ultimate goal of the life of the supporting community (moksasrtham Jagad Hitam). Therefore, Joged Pingitan and Baris Ceremony become an integral part of Balinese Hindu religious ceremonies, which are based on the integration of a trilogy of Hindu aesthetic principles, namely Satyam (Kindness), Siwam (Truth), Sundaram (Beauty). ABSTRAK Joged Pingitan dan Baris upacara dapat dipahami sebagai bagian riual dan berfungsi komunal, sebagai bagian dari kehidupan pedesaan. Joged Pingitan dan Baris Upacara diadakan untuk memenuhi kebutuhan spiritual. Joged Pingitan dan Baris Upacara diadakan untuk memenuhi kebutuhan spiritual, kebutuhan untuk mencari makna hidup (cf.Danesi, 2012). Joged Pingitan dan Baris Upacara mengindikasikan pengalaman keagamaan dan pengalaman estetis. Karena itu, konsep menari dalam Joged Pingitan dan Baris Upacara dapat dipahami sebagai upaya melibatkan seluruh tubuh dalam pencarian makna hidup serta dalam usaha berkomunikasi dengan Tuhan dan penghuni gaib lainnya. Hakikat Joged Pingitan dan Baris Upacara merupakan usaha masyarakat pendukungnya untuk mencapai kesatuan dengan dewa atau Ida Bhatara yang dipuja sebagai istadewata. Dalam rangka mencapai kesatuan dengan dewa tersebut, Joged Pingitan dan Baris upacara merupakan wadah yang membentuk dan menjelmakan keindahan sebagai tempat dewa (Ida Bhatara) itu turun dalam penjelmaan sebagai obyek pemujaan, sebagaimana diindikasikan oleh penari yang kesurupan. Lebih jauh, Joged Pingitan dan Baris Upacara merupakan sarana untuk mencapai tujuan akhir kehidupan masyarakat pendukungnya (moksasrtham jagadhitam). Karena itu, Joged Pingitan dan Baris Upacara menjadi bagian integral dalam upacara agama Hindu Bali, yang didasarkan pada integrasi trilogi kaidah estetika Hindu, yaitu Satyam (Kebaikan), Siwam (Kebenaran), Sundaram (Keindahan).