Tumpal Simarmata
Dosen Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SEJARAH PENDIDIKAN PEREMPUAN DI TAPANULI UTARA (1868-1945) Sinaga, Kristina Meilina; Simarmata, Tumpal
JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial Vol 4, No 2 (2012): Penelitian Dosen dan Mahasiswa
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah pendidikan perempuan di Tapanuli Utara di mulai sejak tahun 1868 dengan mulai berkembangnya agama Kristen yang di bawa para zending. Pendidikan Perempuan sesudah masuknya zending mengalami perubahan yaitu pendidikan diselenggarakan untuk memperolah pengetahuan dan informasi dan tidak hanya sebatas pada kebutuhan hidup ataupun peran dalam adat-adat. Peran zending dalam memajukan pendidikan masyarakat Tapanuli Utara membawa dampak pada perkembangan pendidikan perempuan. Penyelenggaraan pendidikan di Tapanuli Utara sepenuhnya dilakukan oleh para zending (RMG), dengan sekolah-sekolah yang memenuhi syarat mendapat subsidi dari pemerintah kolonial. Pendidikan perempuan di Tapanuli Utara membawa dampak akan kemajuan pada bidang agama (kepercayaan), kegiatan politik, ekonomi sosial serta pendidikan terhadap masyarakatnya. Seluruh sekolah-sekolah yang dibangun para misionaris atau zending di serahkan dan dikelolah HKBP. Sebagian lagi adanya yang diambil alih pemertintah dan ada juga yang hancur atau hilang. Hingga sekarang terdapat beberapa inventaris sekolah-sekolah yang masih dapat digunakan (seperti lonceng, bangunan, brankas, dll). Bahkan beberapa sekolah ada yang dihancurkan hingga menjadi lahan perladangan.
SEJARAH PENDIDIKAN PEREMPUAN DI TAPANULI UTARA (1868-1945) Sinaga, Kristina Meilina; Simarmata, Tumpal
JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial Vol 4, No 2 (2012): JUPIIS (Jurnal Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial) DESEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah pendidikan perempuan di Tapanuli Utara di mulai sejak tahun 1868 dengan mulai berkembangnya agama Kristen yang di bawa para zending. Pendidikan Perempuan sesudah masuknya zending mengalami perubahan yaitu pendidikan diselenggarakan untuk memperolah pengetahuan dan informasi dan tidak hanya sebatas pada kebutuhan hidup ataupun peran dalam adat-adat. Peran zending dalam memajukan pendidikan masyarakat Tapanuli Utara membawa dampak pada perkembangan pendidikan perempuan. Penyelenggaraan pendidikan di Tapanuli Utara sepenuhnya dilakukan oleh para zending (RMG), dengan sekolah-sekolah yang memenuhi syarat mendapat subsidi dari pemerintah kolonial. Pendidikan perempuan di Tapanuli Utara membawa dampak akan kemajuan pada bidang agama (kepercayaan), kegiatan politik, ekonomi sosial serta pendidikan terhadap masyarakatnya. Seluruh sekolah-sekolah yang dibangun para misionaris atau zending di serahkan dan dikelolah HKBP. Sebagian lagi adanya yang diambil alih pemertintah dan ada juga yang hancur atau hilang. Hingga sekarang terdapat beberapa inventaris sekolah-sekolah yang masih dapat digunakan (seperti lonceng, bangunan, brankas, dll). Bahkan beberapa sekolah ada yang dihancurkan hingga menjadi lahan perladangan.
PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH ANTROPOLOGI PARIWISATA Simanjuntak, Daniel Harapan Parlindungan; Pasaribu, Payerli; Malau, Waston; Simarmata, Tumpal
Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi Vol 1, No 2 (2017): Edisi Desember 2017
Publisher : Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bdh.v1i2.8405

Abstract

Artikel ini merupakan hasil dari penelitian mengenai implementasi pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan berfikir kritis mahasiswa pada mata kuliah Antropologi Pariwisata. Pemilihan model pembelajaran di masing-masing mata kuliah  diharapkan dapat mengembangan pemikiran kritis mahasiswa dalam menyikapi berbagai permasalahan di masyarakat. Pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Antropologi Pariwisata mampu meningkatan berfikir kritis mahasiswa. Penerapan enam penugasan dalam model pembelajaran kontekstual pada mata kuliah Antropologi Pariwisata dapat membantu merangsang peningkatan berfikir kritis mahasiswa. Berfikir kritis mahasiswa yang dimaksud dalam tulisan ini dapat dilihat berupa artikel ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa. Mahasiswa berfikir kritis tentang kondisi pariwisata dan kendala yang dihadapkan pariwisata di kota Medan serta memberikan ide-ide sebagai upaya merekayasa solusi untuk pengembangan kepariwisataan di kota Medan khususnya.
PENGETAHUAN MASYARAKAT JAWA TENTANG TANAMAN BAHAN DASAR JAMU TRADISIONAL DI DESA BROHOL KECAMATAN SEI SUKA KABUPATEN BATUBARA Lestari, Ayu; Simarmata, Tumpal
Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi Vol 1, No 1 (2017): Edisi Juni 2017
Publisher : Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bdh.v1i1.8552

Abstract

dijadikan bahan dasar jamu serta khasiat tanaman, proses pembuatan jamu dengan bahan-bahan yang digunakan, khasiat pengobatan tradisional dengan jamu bagi konsumen, pengetahuan masyarakat Jawa terhadap jamu tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu teknik penelitian yang memaparkan data yang ada berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan melalui penelitian lapangan (field research) dengan metode observasi tanpa partisipasi dan wawancara tidak terstruktur. Dari hasil penelitian lapangan bahwa sejarah jamu ada di tengah-tengah masyarakat Jawa lebih dari seratus tahun yang lalu yang dikembangkan dilingkungan istana atau keraton yaitu Kesultanan di Yogyakarta dan Kasununan di Surakarta kemudian racikan jamu diperkenalkan pada masyarakat luas oleh dukun atau tabib yang merupakan ahli pengobatan tradisional jaman dulu.  Jamu tradisional adalah salah satu pengobatan tradisional masyarakat Jawa yang sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat untuk memelihara kesehatan, kecantikan maupun menyembuhkan penyakit. Ada 18 macam bahan-bahan berupa tumbuh-tumbuhan atau rempah-rempah yang digunakan untuk membuat jamu tradisional yang dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan. Dalam proses pembuatan jamu tradisional ada enam tahap yang dilakukan dalam proses pembuatan jamu tradisional yaitu memilih bahan, menimbang atau menakar bahan, mencuci bahan, menyiapkan peralatan, menghaluskan bahan, dan merebus bahan yang sudah dihaluskan termasuk didalamnya proses memberi garam, mencicipi, menyaring, dan mengisi jamu kedalam wadah botol. Ada berbagai macam penyakit yang bisa disembuhkan dengan jamu tradisional, yang dahulunya jamu tradisional ini hanya digunakan oleh kaum wanita tetapi sekarang dapat digunakan oleh semua jenis kelamin dan usia. Masyarakat Jawa tidak secara keseluruhan mengetahui tentang sejarah jamu ada di tengah-tengah mereka, segala jenis-jenis tanaman yang digunakan beserta khasiatnya, dan proses pembuatan jamu tradisional.
STRATEGI PENERAPAN ENAM PENUGASAN PADA MATA KULIAH ANTROPOLOGI PERKOTAAN DI PRODI. PENDIDIKAN ANTROPOLOGI Pasaribu, Payerli; Malau, Waston; Simarmata, Tumpal; Simanjuntak, Daniel Harapan Parlindungan
Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi Vol 1, No 2 (2017): Edisi Desember 2017
Publisher : Buddayah : Jurnal Pendidikan Antropologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/bdh.v1i2.8396

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang menggambarkan penerapan enam penugasan, pada awalnya dipandang oleh sebagian mahasiswa menjadi tugas berat yang tidak memberikan dampak. Focus Group Discussion yang dilakukan sebagai metode pengumpulan data berhasil mengungkap berbagai kesan dan pandangan mahasiswa terhadap penerapan enam penugasan. Berbagai kendala menambah kesan negatif terhadap pemberian enam penugasan. Beberapa kendala yang dihadapi mahasiswa yang terungkap diantaranya pemberian tugas dan pengumpulan tugas yang secara bersamaan, pedoman atau panduan yang tidak memadai, kurangnya pendanaan, dan  keterbatasan buku sumber. Enam penugasan sesungguhnya sangat bermanfaat baik bagi mahasiswa maupun bagi dosen bahkan bagi program studi apabila dijalankan dengan tepat dan benar. Ada beberapa strategi penerapan enam penugasan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi mahasiswa yaitu penerapan enam penugasan secara kolaboratif, revisi pedoman/panduan pelaksanaan dan rubrik penilaian, perubahan strategi belajar, dan pemetaan serta pengadaan sumber buku.