G.R. Lono Lastoro Simatupang
Universitas Gajah Mada, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DIMENSI RAME: GEJALA, BENTUK, DAN CIRI Mulyana, Aton Rustandi; Haryono, Timbul; Simatupang, G.R. Lono Lastoro
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2218

Abstract

Umumnya rame dianggap sebagai hal wajar, biasa, dan lumrah. Namun di balik itu, rame adalah sebuah kebutuhan hidup. Rame justru sengaja dibentuk untuk mengisi ruang-ruang hidup yang kosong, sepi, atau nirmakna.  Kehadiran rame sendiri di(ter-) kondisikan, tidak pernah hadir tanpa sebab atau aksi. Sebaliknya, kehadirannya selalu ada di dalam hubungan peristiwa antara apa yang menjadi sebab dan apa akibatnya, atau apa aksinya dan apa reaksinya. Tulisan ini membahas  dimensi rame berdasarkan atas gejala, bentuk, dan ciri-cirinya. Secara gejala, rame berbeda dengan noise, di dalam upacara justru ini disengaja untuk mempertebal lapis simbolis, ritus, agama sekaligus sosialnya. Bentuknya selalu dapat dialami dengan indera, dapat dilihat, didengar, dihirup, dicecap, disentuh/diraba, atau dirasakan. In general rame is considered a commonplace thing. Yet, beyond all this, rame is a life necessity. Rame is indeed created to fill up vacant, lonely, or meaningless living spaces. Rame is always present by some causes or actions. In other words, it is present because of cause and effect relationship, or action and reaction process. This article discusses the dimension of rame based on phenomena, form, and its characteristics. Phenomenologically, rame is different from noise, because in ceremonies rame functions to solidify symbolic, ritual, religious, and social layers. The form could always be experienced by senses it is perceivable, smellable, tasteable, and touchable.
REPRESENTASI ETIKA BUDAYA JAWA DALAM KOMIK PANJI KOMING: PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Ismail, Ismail; Nugroho, Heru; Simatupang, G.R. Lono Lastoro
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.661 KB) | DOI: 10.18860/el.v17i2.3344

Abstract

The representation of Javanese cultural ethic in the comic Panji Koming can be identified from a few scenes, for example, physical action, speech and moral values through education and learning process since childhood in Javanese culture. The comic performs the Javanese principles and ethics in each edition. Javanese society upholds the manners. Accordingly, respect is the key for harmonious living in the society as a whole. The respect is shown in various ways: gesture, hand movements, voice, greeting, and the level of the language used. However, the discourse on Javanese female stereotype is clearly viewed, because of the simple representation that reduces women to a series of exaggerated characteristics and usually imply a negative connotation. The stereotype has reduced, naturalized, created a basis, and set a difference. While in the perspective of Islamic education the educational values are taught so that their children have good manners and language reflecting the values of Javanese custom which is still applied and maintained. Representasi etika budaya Jawa dalam komik Panji Koming dapat didentifikasi dari beberapa adegan misalnya, gerak fisik, tutur kata dan nilai-nilai moral melalui proses pembelajaran dan pendidikan yang ditanamkan sejak masih anak-anak dalam kebudayaan Jawa. Komik”Panji Koming” memunculkan prinsip-prinsip dan etika ke-Jawa-an pada tiap edisinya. Masyarakat Jawa menjunjung tinggi budaya unggah-ungguh atau tatakrama. Karena itu penghormatan menjadi kunci untuk dapat hidup secara harmonis dalam tatanan masyarakat secara keseluruhan. Penghormatan itu ditunjukkan dalam berbagai cara: sikap badan, tangan, nada suara, istilah penyapa, dan tataran bahasa yang dipergunakan. Namun sisi lain, wacana stereotipe pada perempuan Jawa dipandang jelas, karena adanya representasi sederhana yang mereduksi perempuan menjadi serangkaian karakteristik yang dibesar-besarkan dan biasanya berkonotasi negatif. Jadi stereotipe mereduksi, mendasarkan, mengalamiahkan dan mematok perbedaan. Sementara dalam perspektif pendidikan Islam nilai-nilai pendidikan yang diajarkan bertujuan agar anak-anak memiliki tatakrama serta bertutur kata yang baik yang mencerminkan nilai-nilai kebiasaan orang Jawa yang sampai sekarang masih diterapkan dan dipertahankan.
REPRESENTASI BUDAYA DALAM KOMIK STRIP PANJI KOMING Nugroho, Heru; Simatupang, G.R. Lono Lastoro
Paramasastra Vol 1, No 1 (2014): Vol 1 No 1 Bulan Maret Tahun 2014
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/parama.v1n1.p%p

Abstract

Representasi kebudayaan Jawa dapat didentifikasi dari beberapa adegan misalnya, gerak fisik, tutur kata, pakaian yang digunakan berikut aksesorisnya. Komik Strip  ?Panji Koming?  memunculkan Prinsip-prinsip dan etika ke-Jawa-an dalam beberapa adegan pada tiap edisinya. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi budaya unggah-ungguh atau tatakrama. Karena itu penghormatan menjadi kunci untuk dapat hidup secara harmonis dalam tatanan masyarakat secara keseluruhan. Penghormatan itu ditunjukkan dalam berbagai cara: sikap badan, tangan, nada suara, istilah penyapa, dan diatas segala-galanya, termasuk tataran bahasa yang dipergunakan. Adanya  stereorip  pada perempuan Jawa dipandang jelas, karena adanya representasi sederhana yang mereduksi perempuan menjadi serangkaian karekteristik yang dibesar-besarkan dan biasanya berkonotasi negatif. Jadi stereotip mereduksi, mendasarkan, mengalamiahkan dan mematok perbedaan.
DIMENSI RAME: GEJALA, BENTUK, DAN CIRI Mulyana, Aton Rustandi; Haryono, Timbul; Simatupang, G.R. Lono Lastoro
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2218

Abstract

Umumnya rame dianggap sebagai hal wajar, biasa, dan lumrah. Namun di balik itu, rame adalah sebuah kebutuhan hidup. Rame justru sengaja dibentuk untuk mengisi ruang-ruang hidup yang kosong, sepi, atau nirmakna.  Kehadiran rame sendiri di(ter-) kondisikan, tidak pernah hadir tanpa sebab atau aksi. Sebaliknya, kehadirannya selalu ada di dalam hubungan peristiwa antara apa yang menjadi sebab dan apa akibatnya, atau apa aksinya dan apa reaksinya. Tulisan ini membahas  dimensi rame berdasarkan atas gejala, bentuk, dan ciri-cirinya. Secara gejala, rame berbeda dengan noise, di dalam upacara justru ini disengaja untuk mempertebal lapis simbolis, ritus, agama sekaligus sosialnya. Bentuknya selalu dapat dialami dengan indera, dapat dilihat, didengar, dihirup, dicecap, disentuh/diraba, atau dirasakan. In general rame is considered a commonplace thing. Yet, beyond all this, rame is a life necessity. Rame is indeed created to fill up vacant, lonely, or meaningless living spaces. Rame is always present by some causes or actions. In other words, it is present because of cause and effect relationship, or action and reaction process. This article discusses the dimension of rame based on phenomena, form, and its characteristics. Phenomenologically, rame is different from noise, because in ceremonies rame functions to solidify symbolic, ritual, religious, and social layers. The form could always be experienced by senses it is perceivable, smellable, tasteable, and touchable.