Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

MANAJEMEN PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS KEARIFAN LOKAL ACEH Siraj, Siraj
Jurnal Pendidikan Almuslim Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Pendidikan Almuslim
Publisher : Jurnal Pendidikan Almuslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP FISIKA DI SMP NEGERI 8 BANDA ACEH Siraj, Siraj
Jurnal Pendidikan Almuslim Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Pendidikan Almuslim
Publisher : Jurnal Pendidikan Almuslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The System Approach in the Perspective of Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System Siraj, Siraj; Nasrah, Sayni; Trisfayani, Trisfayani
International Journal for Educational and Vocational Studies Vol 1, No 1 (2019): May 2019
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/ijevs.v1i1.1465

Abstract

In the context of implementing decentralization in the education sector, there are many problems that arise, because the implementation of decentralization of education is different from the decentralization of other areas of government which is basically concentrated at the district and city level. Decentralization of education has not only stalled at the district and city level but even more so that it reaches the school level. The existence of autonomy in the management of education is a potential for schools to improve the performance of personnel, offer direct participation from relevant parties, and increase public understanding of the implementation of education in schools. Decentralization of education has encouraged the improvement of services in the field of education to the community, which leads to efforts to improve the quality of education management at the lowest level, namely schools through the implementation of School-Based Management. The implementation of School-Based Management in general is to empower or empower schools through giving authority to schools, giving schools greater flexibility to manage school resources, and encouraging the participation of school members and communities to improve the quality of education.
Capacity building model development to improve the professionalism of vocational school teachers in the field of mechanical engineering expertise Alchalil, Alchalil; Siraj, Siraj; Nasrah, Sayni; Dahrum, Dahrum
International Journal for Educational and Vocational Studies Vol 3, No 5 (2021)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/ijevs.v3i5.5976

Abstract

The initial study has found several fundamental problems related to the professionalism of vocational teachers. These problems are in the form of 1) unequal teachers in getting the opportunity to participate in competency improvement programs; 2) lack of awareness in conducting research; 2) lack of desire to write articles and teaching materials, and 3) low level of desire to design instructional media in the field of mechanical engineering expertise. The objectives of this study were to 1) test the efficiency and effectiveness of the capacity building model; 2) find the determinants of success in professional development, and 3) produce a model for professional development of vocational teachers in the field of mechanical engineering expertise through effective and efficient capacity building. This study uses the Research and Development method. The subjects in this study were teachers in the field of mechanical engineering expertise in Bireuen Regency, the principal, two education management experts, and two mechanical engineering vocational education experts. Data collection techniques used in this research are through observation, interviews, FGD, documentation and questionnaires. Based on the research results, it can be concluded that the teacher capacity building model can improve teacher professionalism. These activities are carried out through the formation of learning communities, virtual self-education, writing, critical development groups, peer assistance, teacher exchanges, further studies, congregational action research, conferences and seminars, and ongoing training.
ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP FISIKA DI SMP NEGERI 8 BANDA ACEH Siraj Siraj
Jurnal Pendidikan Almuslim Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Pendidikan Almuslim
Publisher : FKIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesulitan-kesulitan siswa adalah suatu masalah di mana siswa tidak dapat memenuhi harapan yang disyaratkan kepadanya baik harapan dari orang tua maupun dari pihak lembaga. Dalam penelitian ini sesuatu yang susah dipecahkan atau diselesaikan siswa dalam menyelesaikan soal-soal menyangkut konsep cahaya, meliputi 3 hal yaitu translasi, interpretasi, dan ekstrapolasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan siswa dalam memahami konsep cahaya di SMP Negeri 8 Banda Aceh. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Banda Aceh Tahun Ajaran 2011/2012 yang berjumlah 139 siswa. Sedangkan sampel diambil kelas VII4 berjumlah 27 siswa,  VII5 berjumlah26 siswa, dan VII6  berjumlah 26 siswa.Analisis data menggunakan statistik deskriptif persentase dan ketuntasan belajar. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Banda Aceh mengalami kesulitan dalam memahami konsep cahaya. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam mentranslasi sebanyak 40% yaitu nomor soal nomor 4,8,9,10, kesulitan menginterpretasi sebanyak 90% yaitu nomor soal nomor 1,3,4,5,6,7,8,9,10 dan kesulitan mengekstrapolasi sebanyak 90% yaitu nomor soal nomor 2,3,4,5,6,7,8,9,dan 10. Kata Kunci : kesulitan, siswa, konsep fisika
MANAJEMEN PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS KEARIFAN LOKAL ACEH Siraj Siraj
Jurnal Pendidikan Almuslim Vol. 3 No. 1 (2015): Jurnal Pendidikan Almuslim
Publisher : FKIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manajemen pembelajaran berkaitan dengan upaya menghasilkan pengetahuan tentang bermacam-macam prosedur manajemen, kombinasi optimal berbagai prosedur dan situasi dimana model manajemen berjalan optimal. Peningkatan kualitas manajemen pembelajaran merupakan salah satu pondasi dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter. Pembelajaran efektif hanya ada pada kelas yang efektif, keberhasilan proses pembelajaran yang dilaksanakan akan ditentukan oleh pendayagunaan sumber daya pembelajaran yang sesuai untuk mencapai tujuan. Manajemen pembelajaran fisika berbasis kearifan lokal Aceh diharapkan mampu menanamkan rasa cinta terhadap kebudayaan Aceh. Peserta didik lebih mengenali dan menyadari bahwa banyak unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan sekitar yang perlu dilestarikan. Untuk memahami konsep fisika berbasis kearifan lokal Aceh, banyak sumber belajar yang menarik untuk dipelajari. Misalnya alat peras air tebu (nyeuh teubee), alat penumbuk padi atau beras (jeungki), serta meriam bambu (beude trieng). Semua alat-alat tersebut memiliki konsep fisika tentang momen gaya, gerak, usaha dan energi, serta tekanan. Kata kunci: Manajemen pembelajaran, fisika, kearifan lokal Aceh.
KETUNTASAN BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN BERORIENTASI AKTIVITAS SISWA (PBAS) DI SMP NEGERI 3 SAWANG KABUPATEN ACEH UTARA (Integrasi dengan IPA Terpadu) Siraj Siraj
Bionatural : Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi Vol 1, No 1 (2014): BIONATURAL: Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi
Publisher : STKIP BINA BANGSA MEULABOH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) ketuntasan belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran berorientasi aktivitas siswa (PBAS) pada pokok bahasan vertebrata di SMP Negeri 3 Sawang Kabupaten Aceh Utara; dan (2) aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran biologi melalui penerapan model pembelajaran berorientasi aktivitas siswa (PBAS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada tanggal 11-15 Februari 2014 di kelas VII3 SMP Negeri 3 Sawang Kabupaten Aceh Utara. Teknik pengumpulan data yang meliputi tahap persiapan dan pelaksaan. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah tes tertulis. Analisis data dihitung dengan menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penerapan model pembelajaran berorientasi aktivitas siswa (PBAS) dapat mentuntaskan belajar siswa pada pokok bahasan vertebrata di SMP Negeri 3 Sawang Kabupaten Aceh Utara, dengan tingkat ketuntasan individual 18 orang siswa, dan secara klasikal telah tuntas 75%; dan (2) Aktivitas guru dan siswa telah mencerminkan keterlaksanaan penerapan model pembelajaran berorientasi aktivitas siswa (PBAS). Hal ini dapat dilihat dari aktivitas guru dalam membimbing siswa berkelompok, diskusi, dan membuat siswa dapat dalam mempresentasi. Aktivitas siswa adalah siswa berdiskusi, mendiskusikan permasalahan-permasalahan dan mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.  Kata Kunci: Ketuntasan, belajar, PBAS, vertebrata   
IDENTIFIKASI KESULITAN SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP OPERASI HITUNG PECAHAN DI SMP NEGERI 1 SAWANG (Integrasi dengan Dasar-dasar Pendidikan MIPA) siraj siraj
MAJU : Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Vol 1, No 1 (2014): MAJU : Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika
Publisher : STKIP Bina Bangsa Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan yang dialami siswa dalam memahami konsep operasi hitung pecahan di SMP 1 Sawang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di kelas VII1 SMP Negeri 1 Sawang semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah nilai tes dan wawancara. Tes essay untuk menganalisis jawaban siswa tentang kesulitan yang dihadapi. Wawancara digunakan untuk mengetahui penyebab kesulitan yang dialami siswa. Analisis data dihitung dengan menggunakan rumus persentase. Siswa  yang mengalami kesulitan dilandasi dengan mendapat skor < 65% dari skor maksimum soal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam dalam memahami konsep porasi hitung pecahan, yaitu dari 13 orang siswa yang diteliti memilki kesulitan menggunakan konsep 19,61% dan kesulitan menggunakan prinsip 20,85%. Pada umumnya siswa mengalami kesulitan menggunakan prinsip karena kurangnya pemahaman konsep dasar. Kesulitan yang paling banyak dialami oleh siswa adalah menyamakan dua penyebut yang berbeda serta menyelesaikannya, dan menyelesaikan soal dalam bentuk gambar. Kata Kunci: Kesulitan siswa, operasi hitung pecahan