Novita Siswayanti
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

REVIEW BUKU: SYARAH KONSTITUSI UUD 1945 DALAM PERSPEKTIF ISLAM Siswayanti, Novita
Hunafa: Jurnal Studia Islamika Vol 10, No 2 (2013): Hukum Islam
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IDENTITAS PENULIS. Masdar Farid Mas’udi lahir pada 1954 di Purwokerto. Ia belajar agama Islam dari Kyai Chudlori (alm.) di Pesantren Tegalrejo, Magelang (1966-1968), Kyai Ali Maksoem (alm.) di Pesantren Krapyak, Yogyakarta (1968-1974), dan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1972-1979 ). Ia juga belajar filsafat pada Program Pascasarjana UI (1994-1996). Di lingkungan kaum Nahdliyin, Kyai Masdar termasuk sosok berpengaruh. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Tim Asistensi Pemikiran Keagamaan untuk Rais Am dan Ketua Umum PBNU (1984-1994), Katib I Syuriah PBNU (1999-2004), Pelaksana Harian Ketua Umum PBNU (2004), dan Ketua PBNU (2005-2010). Setelah Muktamar ke-32 PBNU, kini ia dipercaya menjabat Rais Syuriah PBNU (2010-2015).  Kiprahnya di dunia profesional tak kalah hebat.  Berbagai posisi penting pun ia jabat, antara lain anggota Komisi Ombudsman Nasional (2001-2009), anggota Komisi Ombudsman Harian KOMPAS (2000-2004), anggota Dewan Etik ICW (2004-2009), Direktur P3M (2000-2009), anggota Panel-45 Presiden RI untuk Sidang Umum PBB 2005, dan anggota Delegasi Indonesia untuk Konferensi PBB tentang HAM di Jenewa (Maret, 2008). Pemikiran Kyai Masdar termaktub dalam sejumlah buku, yakni Agama Keadilan: Risalah Zakat [Pajak] dalam Islam (1993) serta Islam dan Hak-Hak Reproduksi Perempuan (1997). Selain itu, ia kerap pula menuangkan gagasannya dalam banyak artikel di berbagai koran dan majalah serta makalah untuk beragam seminar di dalam negeri maupun di luar negeri.
Muhammad Djamil Djambek: Ulama Pembaharu Minangkabau Siswayanti, Novita
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sheikh Muhammad Jamil Djambek is a scholar of Islamic reformer in Minangkabau . He plays and took part in dawah and tablig , especially broadcast practice of Islamic values in life Minangkabau communities, which has a philosophy of  adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah. Beside that Sheikh Muhammad Djambil Djambek commonly known as Inyiak Djambek , also an expert Falak Sciences . Having Science Falak, he set the direction of Qibla prayer and has constructed  schedule of Ramadan Imsakiah. This research seeks to examine the persona profiles, roles, and gait Inyiak Djambek in the development and renewal of Islam in Minangkabau . The study used qualitative methods with a historical approach in revealing all aspects of the characters life, ranging from social background, education, role in propaganda and education activities  patterns of thought and religious works, books and figures influencing institutional heritage,, influence his thinking for the community, and so on.Keywords: Inyiak Djambek , Islamic reformer, Minangkabau
REVIEW BUKU: SYARAH KONSTITUSI UUD 1945 DALAM PERSPEKTIF ISLAM Siswayanti, Novita
Hunafa: Jurnal Studia Islamika Vol 10 No 2 (2013)
Publisher : State Institute of Islamic Studies (IAIN) Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.268 KB) | DOI: 10.24239/jsi.v10i2.37.381-398

Abstract

IDENTITAS PENULIS. Masdar Farid Mas’udi lahir pada 1954 di Purwokerto. Ia belajar agama Islam dari Kyai Chudlori (alm.) di Pesantren Tegalrejo, Magelang (1966-1968), Kyai Ali Maksoem (alm.) di Pesantren Krapyak, Yogyakarta (1968-1974), dan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1972-1979 ). Ia juga belajar filsafat pada Program Pascasarjana UI (1994-1996). Di lingkungan kaum Nahdliyin, Kyai Masdar termasuk sosok berpengaruh. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Tim Asistensi Pemikiran Keagamaan untuk Rais Am dan Ketua Umum PBNU (1984-1994), Katib I Syuriah PBNU (1999-2004), Pelaksana Harian Ketua Umum PBNU (2004), dan Ketua PBNU (2005-2010). Setelah Muktamar ke-32 PBNU, kini ia dipercaya menjabat Rais Syuriah PBNU (2010-2015).  Kiprahnya di dunia profesional tak kalah hebat.  Berbagai posisi penting pun ia jabat, antara lain anggota Komisi Ombudsman Nasional (2001-2009), anggota Komisi Ombudsman Harian KOMPAS (2000-2004), anggota Dewan Etik ICW (2004-2009), Direktur P3M (2000-2009), anggota Panel-45 Presiden RI untuk Sidang Umum PBB 2005, dan anggota Delegasi Indonesia untuk Konferensi PBB tentang HAM di Jenewa (Maret, 2008). Pemikiran Kyai Masdar termaktub dalam sejumlah buku, yakni Agama Keadilan: Risalah Zakat [Pajak] dalam Islam (1993) serta Islam dan Hak-Hak Reproduksi Perempuan (1997). Selain itu, ia kerap pula menuangkan gagasannya dalam banyak artikel di berbagai koran dan majalah serta makalah untuk beragam seminar di dalam negeri maupun di luar negeri.
MENGENAL MASJID NAHDLIYIN DALAM PERANAN MASJID JAMI KAJEN Siswayanti, Novita
Jurnal Bimas Islam Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.229 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v11i2.54

Abstract

Knowing the Nadhliyin Masjid can be known from the role of Jami Kajen Masjid. Jami Kajen Masjid one of the genealogy Islamic spread and growth of Nahdliyin Boarding School Kajen Pati in maintaining religion cultural identity. This article uses qualitative research methods by describing the religious amaliah in Jami Kajen Masjid then analyzed and interpreted. In this study found the role of Jami Kajen Masjid as the Nahdliyin Masjid: first, as a place of worship shalawat, zikir together and shake hands finished prayer; second, prayer together like istigasah, tahlilan, yasinan, khataman Al-Quran and shalawat barzanji; third, the study of the religious sciences; the fourth, preserving the Arabic-speaking Friday sermons, tarawih prayers for two groups and reading Al Qur?an; the fifth, social activities providing compensation to the poor, dhuafa and orphans; the sixth, the harmony place and ukhuwah islamiyah; the seventh, the Center for Cultural Conservation traditions of megengan and suronan; eighth, the salvation tradition or celebrating the days of Islam and suronan Kiai Ahmad Mutamakin. Mengenal Masjid Nadhliyin dapat diketahui dari peranan Masjid Jami Kajen sebagai salah satu genealogi penyebaran Islam dan pertumbuhan pesantren bernuansa Nahdliyin di Kajen Pati dalam memelihara identitas kultural keagamaan. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan amaliah keagamaan di Masjid Jami Kajen kemudian dianalisis dan diinterpretasikan. Dalam kajian ini ditemukan peran Masjid Kajen sebagai Masjid Nahdliyin yaitu: pertama, sebagai tempat ibadah shalawatan, zikir bersama dan berjabatan tangan selesai shalat; kedua, doa bersama seperti istighasah, tahlilan, yasinan, khataman Al-Quran dan shalawat barzanji; ketiga, pengkajian dan pengajian ilmu-ilmu keagamaan; keempat, melestarikan tradisi khutbah Jumat berbahasa Arab, shalat tarawih untuk dua kelompok dan ngaji kilatan; kelima, kegiatan sosial kemasyarakatan memberikan santunan kepada fakir miskin, kaum dhuafa dan yatim piatu; keenam, wadah perajut kerukunan dan ukhuwah islamiyah; ketujuh, Pusat Pelestarian Kebudayaan dengan tradisi megengan dan suronan; kedelapan, tradisi selamatan atau kenduri memperingati hari-hari besar Islam maupun suronan Kiai Ahmad Mutamakin
HAJI ABDUL KARIM AMRULLAH ULAMA PEMBAHARU ISLAM DI MINANGKABAU Siswayanti, Novita
Jurnal Dialog Vol 39 No 1 (2016): JURNAL DIALOG
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.256 KB) | DOI: 10.47655/dialog.v39i1.12

Abstract

Haji Abdul Karim Amrullah is an Islamic reformer from Minangkabau who played a significant role in dawah and tabligh in the spirit of purifying the practice of Islamic values from the practice of bid’ah, taqlîd, and khurafat. His struggle was in line with the philosophy of traditional Minangkabau ‘adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah’. Haji Abdul Karim Amrullah who was known as Haji Rasul preached Islamic teaching both in oral and in writing. Along with Kaum Mudo Minangkabau (the youth of Minangkabau), he shared his thoughts through the Al-Munir magazine. He enforced the foundation of Islamic reformation through education by establishing Surau Jembatan Besi (Madrasah Sumatra Thawalib) and Muhammadiyah as social foundations that concern about the nation. This study examines the figure and the role of Haji Rasul in the development and renewal of Islam in Minangkabau. By employing qualitative method, particularly the historical approach, this study investigates all aspects of Haji Rasul’s life. With this perspective, the profile of Haji Rasul is intensively revealed, ranging from his family background, social background, education, patterns of thought, religious works, dawah activities, his role in education, his institutions, and his impact to the society.
PENJAROAN RAJAB IN SAKATUNGGAL MOSQUE AT CIKAKAK VILLAGE: A STUDY OF LOCAL WISDOM Siswayanti, Novita
Jurnal Dialog Vol 41 No 1 (2018): DIALOG
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1717.951 KB) | DOI: 10.47655/dialog.v41i1.292

Abstract

English This paper attempts to describe how local wisdom is maintained in the ceremony of Penjaroan Rajab in Sakatunggal Mosque, Cikakak Village. The research was conducted using qualitative method with anthropological and historical approaches. This study is to identify the contestation of local wisdom in community ceremonies of Penjaroan Rajab where values are strongly planted in the community behavior, religious systems and beliefs. It finds that Penjaroan Rajab is a grave visit ritual that is conducted every 26th of the month of Rajab as a symbol of respect to the deceased Kiai Mustholih (the founder of the village). This ritual is marked by the replacement of fences surrounding the graveyard, slametan ngalap berkah (ritual meal to invoke blessing), Islamic sermons, and cultural performances. This ritual preserves the local wisdom of the Cikakak community including sincerity, harmony, religiosity and nationalism that melt people from different places and religions into the color of togetherness. Indonesia Artikel ini berupaya mendeskripsikan kearifan lokal yang ada pada ritual Penjaroan Rajab di Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan antropologis dan historis. Penelitian untuk mengidentifikasi kearifan lokal pada ritual Penjaroan Rajab melalui nilai-nilai yang terdapat pada perilaku masyarakat, sistem agama dan kepercayaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Penjaroan Rajab adalah ritual ziarah kubur setiap tanggal 26 Rajab sebagai simbol penghormatan kepada leluhur Kiai Mustholih. Ritual ini ditandai dengan penggantian pagar yang mengelilingi pemakaman, slametan ngalap berkah, pengajian, dan pentas budaya. Ritual ini melestarikan kearifan lokal masyarakat Cikakak meliputi keikhlasan, kerukunan, keberagamaan, dan nasionalisme sebagai elemen perekat lintas warga dan lintas agama yang memberikan warna kebersamaan.
Javanese Ethical Values in Tafsir Al-Huda Siswayanti, Novita
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 20, No 2 (2013): Analisa Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.302 KB) | DOI: 10.18784/analisa.v20i2.177

Abstract

Tafsir Al-Huda, interpreting Quran in Javanese language, is one of Indonesia interpretation in which the context projecting the process of mingle between Quran and Javanese culture heritage owned by the author with social culture condition surrounded. Tafsir Al-Huda is a guidebook for experiencing sacred messages of Quran which is filled with moral values of Javanese culture. This research tried to study Javanese ethical values written in Tafsir Al-Huda. Content analysis method with hermeunetic approach is used in this study by interpreting symbols in form of text in order to find its meaning. This research conclude that Tafsir Al-Huda has Javanese cultural perspective, use cultural context, and has acomodating and integrating interconection.  Tafsir Al-Huda embody the Javanese philosophy and view of life to make society remember the God and be aware to any behavior and saying (eling lan waspada), tolerate and respect others (tepa selira), and live in harmony with the concept that harmony can create unity, dispute can create separation (rukun agawe santosa lan crah agawe bubrah).
Tradisi Ziarah Kubur Pangeran Wong Agung Wilis Di Pura Langgar Bali Siswayanti, Novita
Jurnal Dialog Vol 42 No 1 (2019): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v42i1.317

Abstract

Tradisi ziarah kubur di Pura Langgar yang dilakukan umat Islam Jawa di Kampung Hindu Desa pakraman Bunutin Bangli Bali sebagai perwujudan dari moderasi beragama dan akulturasi budaya Hindu Bali dan Islam Jawa. Umat Islam Jawa kawitan Pangeran Wong Agung Wilis yang makamnya di Pura Langgar berziarah kubur pada hari sembahyangan umat Hindu. Tujuan kajian ini untuk mengetahui latar belakang ziarah kubur yang dilakukan umat Islam Jawa di Kampung Hindu, mengungkapkan ziarah kubur yang berakulturasi dengan Hindu-Islam Jawa dan mengetahui pemaknaan dari ziarah kubur yang dilakukan oleh umat Islam Jawa di Pura Langgar. Adapun metode penelitian adalah deskriptif interpretatif, menggambarkan fakta dan kenyataan sosial kemudian dianalisis dengan menggunakan pengetahuan, konsep yang ada dalam budaya penganut tradisi ziarah kubur Hindu Bali dan Islam Jawa. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa umat Islam Jawa berziarah kubur ke Pura Langgar sebagai wujud penghormatan kepada leluhur Pangeran Wong Agung Wilis,sebab dalam adat Bali mengetahui kawitan, berbakti kepada leluhur adalah suatu kepatutan. Prosesi ziarah kubur yang dilakukan umat Islam Jawa sesuai dengan tata cara Islam, tetapi mereka juga ikut terlibat dalam adat Bali dana punia dan sajian pesugihan jawa. Tradisi ziarah kubur bagi umat Islam Jawa ke Pura Langgar sebagai wujud penghormatan kepada leluhur, pengakuan ikatan silsilah keturunan dan persaudaraan sesama kawitan Pangeran Wong Agung Wilis, dan berdoa di pelinggih-pelinggih yang ada di Pura Langgar sesuai dengan kebutuhannya.
Dimensi Edukatif pada Kisah-Kisah Al-Qur'an Siswayanti, Novita
SUHUF Vol 3 No 1 (2010)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v3i1.80

Abstract

The stories in Qur'an are Allah’s decrees which convey more beau-tiful values beyond any religious text ever written. It is the holiest scripture and is written  in a wonderful, understandable, and attract-ive language humbly conveying a vast amount of information about life and events that happened in the past. It’s aim is to be an object of reflection for human beings living in this age and the future. Even more so, the stories in Al-Qur'an also entail an educative function providing learning materials,  and teaching methods, regarding the transformative power of Islam and the internalization of true religious values.