A. Hakim Halim
Fakultas Teknologi Industri, Program Studi Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Teknik Industri

MODEL PENJADWALAN BATCH PADA SATU MESIN YANG MENGALAMI DETERIORASI UNTUK MINIMASI TOTAL BIAYA SIMPAN DAN BIAYA KUALITAS Ahmad S. Indrapriyatna; Suprayogi Suprayogi; Bermawi P. Iskandar; A. Hakim Halim
Jurnal Teknik Industri Vol. 10 No. 1 (2008): JUNE 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.043 KB) | DOI: 10.9744/jti.10.1.pp. 26-37

Abstract

This research discusses batch scheduling model accommodating the condition of machine deterioration. The proposed model has changed the formulation of quality cost from that discussed in Indrapriyatna et al. (2007a), especially in the internal and external failure costs. It is assumed that the distribution of time between out-of-control conditions follows the exponential distribution. An algorithm has been proposed. This research concludes that, for continue batch size, the greater the sample size proportion of the batch size, the greater the total cost and number of batches. In addition, the greater the probability of producing nonconforming products, the greater the total cost. For any values of the probability, the number of batches will be the same, but the batch sizes are different. On the other hand, for model with discrete batch sizes, we used Indrapriyatna et al. (2007b) approach to solve the problem. Abstract in Bahasa Indonesia: Penelitian ini membahas model penjadwalan batch yang mengakomodasikan kondisi mesin terdeteriorasi, yang akan menyebabkan produk menjadi nonconforming. Pengembangan ini mengubah formulasi biaya kualitas yang telah dirumuskan pada model Indrapriyatna et al. (2007a), khususnya untuk Biaya Kegagalan Internal dan Biaya Kegagalan Eksternal. Dalam model usulan, waktu antar kondisi out-of-control diasumsikan berdistribusi eksponensial. Sebuah algoritma penyelesaian dirancang untuk model usulan tersebut. Studi ini menunjukkan bahwa, untuk model dengan ukuran batch kontinu, semakin besar proporsi ukuran sampel menyebabkan biaya total dan jumlah batch yang semakin besar. Selain itu, semakin besar peluang produk nonconforming dihasilkan maka akan menyebabkan semakin besar total biaya. Observasi lain menunjukkan bahwa jumlah batch selalu sama untuk sebarang nilai peluang; walaupun ukuran masing-masing batch berbeda. Pada model dengan ukuran batch diskrit digunakan 3 buah metode untuk mengubah ukuran batch menjadi integer yang diusulkan oleh Indrapriyatna et al. (2007b) dan menghasilkan kesimpulan yang sama. Kata kunci: mesin terdeteriorasi, produk nonconforming, ukuran batch kontinu, ukuran batch diskrit.
MODEL PENENTUAN UKURAN LOT PRODUKSI DENGAN POLA PERMINTAAN BERFLUKTUASI Docki Saraswati; Andi Cakravastia; Bermawi P. Iskandar; A. Hakim Halim
Jurnal Teknik Industri Vol. 11 No. 2 (2009): DECEMBER 2009
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.142 KB) | DOI: 10.9744/jti.11.2.PP. 122 – 133

Abstract

The purpose of this paper is to examine the impact of varying demand on the production lot size and the schedule of delivery in the integrated inventory system. This system is consisted of a single manufacturer as the supplier and a single buyer. Mostly, the problems on the economic lot size model are assumed that demand is continuous with time. Actually, demand occurs are varying in time rather than continuously over the planning time horizon. In this case, the buyer has decided the amount of order for each period is varied, because of the changing market environment. The integrated inventory system model between a supplier and a buyer are developed and implemented under the condition with varied demand. Forward dynamic programming is implemented for searching the solution. The objective is to minimize the total cost, associated with a single product for a deterministic varying demand. Two conditions are examined here, i.e., the integrated model with uncapacitated and capacitated production system. The difference between these two models is in the constraints formulation. The capacity constraints will give higher total cost, especially if the setup cost higher than the holding cost. A numerical example is presented to illustrate the implementation of the solution algorithm. Abstract in Bahasa Indonesia: Pada makalah ini diteliti pengaruh permintaan yang berfluktuasi terhadap penentuan ukuran lot produksi dan jadwal pengiriman pada sistem persediaan terintegrasi, dengan total ongkos persediaan melibatkan sistem persediaan pemanufaktur dan pembeli secara bersama. Sistem terdiri atas pemanufaktur tunggal dan pembeli tunggal untuk pemesanan satu jenis produk.Umumnya permasalahan penentuan ukuran lot produksi memiliki asumsi bahwa permintaan bersifat kontinu terhadap waktu. Penentuan ukuran lot pada model integrasi sistem persediaan antara pemanufaktur dan pembeli dengan kondisi permintaan berfluktuatif bertujuan meminimasi total ongkos. Pencarian solusi penentuan ukuran lot produksi dengan permintaan berfluktuatif mempergunakan pendekatan forward dynamic programming. Adapun model integrasi yang dikemukakan mempertimbangkan dua kondisi, yaitu kondisi kapasitas produksi tidak terbatas dan kapasitas produksi terbatas. Perbedaan formulasi terletak pada kondisi pembatas yang digunakan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa apabila ongkos setup jauh lebih tinggi dari pada ongkos simpan, maka kondisi dengan mempertimbangkan kapasitas akan menghasilkan total ongkos yang lebih tinggi. Suatu contoh numerik diberikan sebagai ilustrasi dari algoritma yang diusulkan. Kata kunci: ukuran lot produksi, fluktuasi permintaan, jadwal pengiriman, integrasi pemanufaktur-pembeli, programa dinamis.