Asti Melani Astari
Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Asesmen Pra-Anestesi: Bukan Sekedar Kepatuhan Else Agustina; Viera Wardhani; Asti Melani Astari
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 02 (2020): Person-Patient-Family-Community Centered Care
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i02.52

Abstract

Latar Belakang: Asesmen praanestesi adalah prosedur penting yang bertujuan untuk memastikan keamanan tindakan bedah yang akan dilakukan. Prosedur ini sebenarnya adalah tanggung jawab dokter anestesiologi. Namun, dalam prosesnya melibatkan dokter, perawat serta pasien dan keluarganya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan asesmen praanestesi serta menggali praktik pendelegasian tugas (task shifting) dalam pelaksanaan asesmen praanestesi di ruangan rawat inap. Metode: Penelitian ini dilakukan di sebuah rumah sakit (RS) tipe C (140 tempat tidur) di kota Malang Jawa Timur. Peneliti melakukan observasi selama 11 hari terhadap pelaksanaan asesmen praanestesi pada kasus operasi elektif. Untuk melengkapi data, dilakukan juga pengamatan terhadap dokumen rekam medis pasien yang sama. Untuk menilai praktik pendelegasian tugas dari dokter ke perawat, peneliti menggunakan kuesioner yang berisi 28 aspek aktivitas asesmen praanestesi. Kuesioner ini didistribusikan kepada 80 orang responden yang terdiri dari perawat dan dokter spesialis yang terlibat dalam operasi elektif. Kuesioner ini menilai persepsi responden mengenai harapan dan kenyataan tentang siapa yang seharusnya melaksanakan aktivitas tersebut. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan pola pelaksanaan pendelegasian tugas dan asesmen praanestesi. Hasil: Asesmen praanestesi hanya dilakukan pada 19,5% dari total 43 kasus operasi elektif, namun tidak satupun yang menuliskan hasil asesmen pada dokumen yang semestinya. Dokumen rekam medis tentang asesmen praanestesi akan dilengkapi saat setelah pelaksanaan operasi (di kamar operasi). Sebagian besar responden beranggapan bahwa asesmen praanestesi dilaksanakan secara kolaborasi antara dokter dan perawat. Namun, dalam praktiknya, kebanyakan aktivitas dalam asesmen praanestesi dilakukan oleh perawat. Pendelegasian tertinggi dari dokter ke perawat terjadi pada aspek meminta tanda tangan persetujuan tindakan medis (informed consent) serta aspek menjelaskan tentang puasa kepada pasien dan keluarganya. Kesimpulan: Asesmen praanestesi belum terdokumentasi dengan lengkap dan tepat sebelum pelaksanaan operasi, serta terjadi pendelegasian tugas ke perawat terutama pada proses persetujuan tindakan medis.