Claim Missing Document
Check
Articles

NISBAH DAUN BATANG, NISBAH TAJUK AKAR DAN KADAR SERAT KASAR ALFALFA (Medicago sativa) PADA PEMUPUKAN NITROGEN DAN TINGGI DEFOLIASI BERBEDA Rahmawati, Viata; Sumarsono, Sumarsono; Slamet, Widyati
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.282 KB)

Abstract

ABSTRACTThe study aimed to determine the effect of nitrogen fertilization and defoliation of different height to the leaf stem ratio, shot root ratio and crude fiber content in alfalfa plants (Medicago sativa). This research used factorial randomized block design (FRBD) 4x2 with 3 replicate. The main factor is the dose of nitrogen fertilization (0, 30, 60, 90 kg N/ha), the second factor is the heigth of the defoliation (5 and 10 cm). Parameters measured were leaf stem ratio, shot root ratio and crude fiber content of alfalfa. The results showed that there was no effect of nitrogen fertilization and defoliation high contrast ratio of leaf to stem, shot root ratio and crude fiber content of alfalfa. Data were analyzed with the results of research based on the F test of variance procedure and Duncan's multiple range test. The results showed that there was no effect of nitrogen fertilization and different defoliation height to leaf stem ratio, shoot root ratio and crude fiber of alfalfa. There are indication that leaf stem ratio and shoot root ratio obtained the best results in the treatment of nitrogen fertilization of 30 kg N/ha and defoliation height of 5 cm.Keywords: alfalfa, nitrogen fertilization, high defoliation, leaf stem ratio, shot root ratio, crude fiberABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan nitrogen dan tinggi defoliasi yang berbeda terhadap nisbah daun batang, nisbah tajuk akar dan kadar serat kasar pada tanaman alfalfa (Medicago sativa). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial 4x2 dengan 3 ulangan. Faktor utama adalah dosis pemupukan nitrogen (0, 30, 60, 90 kg N/ha), faktor kedua adalah tinggi defoliasi (5 dan 10 cm). Parameter yang diamati adalah nisbah daun batang, nisbah tajuk akar dan kadar serat kasar alfalfa. Data diolah dengan menggunakan analisis ragam dan uji wilayah ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh pemberian pemupukan nitrogen dan tinggi defoliasi berbeda terhadap nisbah daun batang, nisbah tajuk akar dan kadar serat kasar alfalfa. Ada indikasi nisbah daun batang dan nisbah tajuk akar hasil terbaik diperoleh pada perlakuan pemupukan nitrogen 30 kg N/ha dan tinggi defoliasi 5 cm.Kata kunci: alfalfa, pemupukan nitrogen, tinggi defoliasi, nisbah daun batang, nisbah tajuk akar, serat kasar
KADAR PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR ECENG GONDOK SEBAGAI SUMBER DAYA PAKAN DI PERAIRAN YANG MENDAPAT LIMBAH KOTORAN ITIK Wati, Risna; Sumarsono, Sumarsono; Surahmanto, Surahmanto
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.063 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh penambahan limbah kotoran itikterhadap protein kasar dan serat kasar eceng gondok. Penelitian dilaksanakan dirumah kaca (Glasshouse) Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak, FakultasPeternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. Analisis proteinkasar dan serat kasar eceng gondok dilakukan di Universitas KatolikSoegijapranata, Semarang. Rancangan percobaan yang digunakan RancanganAcak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, dengan persentase limbahkotoran itik yang berbeda pada setiap media tanam. P1 0 g/l, P2 5 g/l, P3 10 g/l,P4 15 g/l, dan P5 20 g/l. Parameter yang diamati adalah protein kasar dan seratkasar eceng gondok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbahkotoran itik yang berbeda pada media tanam memberikan pengaruh secara nyata(P≤0,05) terhadap kandungan protein kasar. Kadar protein kasar eceng gondoktertinggi adalah 12,99% dan tidak berpengaruh secara nyata (P≥0,05) terhadapkadar serat kasar. Rata-rata kadar serat kasar eceng gondok adalah 21,22%. Hasiltersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis limbah kotoran itik yangdiberikan maka akan meningkatkan kadar protein kasar dan tidak berpengaruhterhadap kadar serat kasar.Kata kunci : eceng gondok, protein kasar, dan serat kasar.
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BAHAN KERING ECENG GONDOK SEBAGAI SUMBER DAYA PAKAN DI PERAIRAN YANG MENDAPATKAN LIMBAH KOTORAN ITIK Zahmi, Hesti Reva Helva Ari; Sumarsono, Sumarsono; Anwar, Syaiful
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.466 KB)

Abstract

A study was conducted to assess the provision of duck manure on growth and dry matter production of water hyacinth as a feed resource. This research used Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replications, providing sewage ducks in each treatment (T0; 0 g / l of water, T1, 5 g / l of water, T2, 10 g / l of water , T3; 15 g / l of water, and T4; 20 g / l of water). Parameters measured were growth and dry matter production. Data were analyzed using analysis of variance (significance level of 5%) followed by Duncan Multiple Range Test to see different test and trials Orthogonal Polynomials. The results showed that the addition of duck manure in water hyacinth plants can enhance the growth of Total Leaf weeks 6 and dry matter production. Growth in the number of leaf-6 weeks to the highest achieved in the addition of duck manure 12,91 g / l with real predictive value of 233 strands, but not on plant height and leaf area, while the highest dry matter production achieved in the addition of duck manure as much as 12 g / l with real predictive value of 18,56 g.Keywords: duck manure, water hyacinth, growth, dry matter production
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH MENGENAI INVESTASI PMA/PMDN DALAM ERA OTONOMI DAERAH Sumarsono, Sumarsono
LAW REFORM Volume 3, Nomor 1, Tahun 2007
Publisher : PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2505.764 KB) | DOI: 10.14710/lr.v3i1.12362

Abstract

Keadaan ekonomi Idonesia sejak terjadinya krisis ekonomi, mengalami kemerosotan daya beli masyarakat secara terus menerus, tingkat pengangguran meningkat, perbedaan tingkat hidup yang makin menonjol, keadaan seperti ini hendaknya jangan dibiarkan terus menerus, sehingga segera diambil langkah-langkah untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat dengan menambah produksi barang dan jasa. Untuk mencapai peningkatan produksi barang dan jasa dapat melalui penanaman modal atau investasi, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan keterampilan, penambahan kemampuan berorganisasi dan manajemen, Dalam rangka ini penananman modal memegang peranan yang sangat penting. Sehingga modal harus diberikan tempat yang sewajarnya, sesuai arti dan pentingnya dalam pembangunan masyarakat yang adil dan makmur. Pembangunan ekonomi tidak akan mungkin berjalan tanpa adanya pemupukan modal baik dari dalam sendiri maupun modal dari luar negeri, Apalagi dengan pemberian Otonomi yang luas kepada daerah sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, diharapkan akan mempengaruhi kebijakan dibidang investasi di Indonesia, karena dengan berlakunya otonomi daerah maka pemerintah daerah-lah yang akan memegang peranan penting dalam menentukan perekonomian daerahnya termasuk dalam urusan perizinan yang berkaitan di bidang investasi.Dalam penelitian ini mengangkat tiga masalah pokok yang terkait dengan Implementasi Kebijakan Pemerintah Daerah mengenai Investasi PMA/PMDN dalam Era Otonomi Daerah, manfaat dan kendala-kendala dalam pelaksanaannya. Sedangkan yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi kebijakan pemerintah mengenai investasi PMA/PMDN dalam Era Otonomi Daerah di Provinsi Jawa Tengah, untuk mengetahui manfaat yang diperoleh dengan adanya kebijakan investasi dalam Era Otonomi Daerah, dan untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dengan adanya kebijakan Investasi dalam Era Otonomi Daerah.Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa kebijakan pemerintah mengenai investasi yang menggunakan fasilitas PMA/PMDN selalu mengalami perubahan, penambahan dan bahkan pencabutan, namun dalam pelaksanaannya yang digunakan sebagai acuap dasar adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri.Kata Kunci : Kebijakan Pemerintah, Investasi PMA/PMDN, Otonomi Daerah
KECERNAAN DAN FERMENTABILITAS HIJAUAN OROK-OROK SECARA IN VITRO SEBAGAI BAHAN PAKAN YANG DITANAM SECARA TUMPANGSARI DENGAN JAGUNG MANIS (In Vitro Digestibility and Fermentability of Orok-orok Forage Yield in Intercropping System with Sweet Corn as Feed) Thanesya, Attria; Sumarsono, Sumarsono; Nuswantara, Limbang K.
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.722 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan dan fermentabilitas dari hijauan orok-orok yang ditanam secara tumpangsari dengan jagung manis secara in vitro dengan perbedaan kepadatan dan pola tanam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial 3 x 2 dengan 4 ulangan. Kepadatan (K) sebagai faktor pertama (6, 12, 18 tanaman/m2 diantara tanaman jagung) dan pola tanam (P) sebagai faktor kedua (1 dan 2 baris tanaman orok-orok diantara tanaman jagung, jarak tanam 100 x 25 cm). Parameter yang diamati adalah KcBK, KcBO, produksi VFA dan konsentrasi NH3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pola tanam satu maupun dua baris dan kepadatan yang semakin meningkat tidak menurunkan KcBK, KcBO, produksi VFA secara nyata, namun menurunkan konsentrasi NH3 (P<0,05). Rerata nilai KcBK pada penelitian adalah 44,63% ± 48,09%. Rerata KcBO 49,35% ± 52,07%. Rerata produksi VFA 126,26 mM ± 136,25 mM. Peningkatan kepadatan 6 ke 12 tanaman/m2 tidak menurunkan NH3 namun nyata (P<0,05) dan konsentrasi NH3 menurun dari kepadatan dari 12 ke 16 tanaman/m2. Rerata NH3 6,06 mM ± 7,06 mM. Simpulan dari penelitian ini adalah pola tanam tidak mempengaruhi kualitas nutrisi secara nyata dan peningkatan kepadatan sampai 12 tanaman/m2 tidak mempengaruhi nilai kecernaan dan fermentabilitas.Kata kunci: tumpangsari; kecernaan; produksi; in-vitro ABSTRACT This research was conducted to evaluate the digestibility and in-vitro fermentability of orok-orok forage yielded in intercropping with sweet corn within different densities. A Completely Randomized Block Design (CRBD) was applied in 3 x 2 factorial and 4 replications. The first factor was plant density factor (6, 12, 18 plants/m2) among corn crops and the second one was line number of orok-orok (1 and 2) among corn plants, spacing 100 cm x 25 cm. The digestibility of Dry Matter (DoDM), the Digestibility of Organic Materials (DoOM), the production of volatile fatty acids (VFA) and the concentration of ammonia (NH3) were measured on fodder of orok-orok. Different plant lines of orok-orok with increasing density did not influence the DoDO, DoDM, and VFA, the value were 44.63% ± 48.09%; 49,35% ± 52.07%; 126.26 mM ± 136,25 mM; but decreased (P<0,05) the concentration of NH3, average value was 6.06 mM ± 7.06 mM. It can be concluded that neither line number of orok-orok plant nor the plant density up to 12/m2 of orok-orok plant in an intercropped system with corn plant influenced their nutrional quality as well as digestability and fermentability.Keywords: intercropping; digestibility; production; in-vitro
KUALITAS HIJAUAN KACANG PINTOI (Arachis pintoi) PADA BERBAGAI PANJANG STEK DAN DOSIS PUPUK ORGANIK CAIR Rachmansyah, Alfi; Sumarsono, Sumarsono; Sutarno, Sutarno
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.272 KB)

Abstract

This study aims to determine the quality of the forage pintoi peanut (Arachispintoi) at various cutting length and liquid organic fertilizer (POC) is different. Thematerial used is Arachis pintoi plant, Liquid Organic Fertilizer and granules(Herbafarm). The instrument used was 5 kg capacity scales, analytical scaleselectrical capacity of 1 kg with 0.01 g accuracy, pumpkin destruction, burette, beakerglass, porcelain bowls, H2SO4, N Hexan, NaOH, MB + MR indicator, filter paper,shovel, hoes, buckets, ruler / tape measure, stationery, tape, scissors, cutter, paperlabels, plastic bag, oven, furnace and eksikator. The trials were prepared using acompletely randomized design patterned Factorial 2 x 4 with 3 replications, with thefirst factor of the length of cuttings and the second dose of liquid organic fertilizer(POC) is different. The cutting length consists of 2 segments (S1) and 3 segments(S2), while the dose of liquid fertilizer composed of 0 ml / l (P1), 5 ml / l (P2)(dosage recommendations), 10 ml / l (P3) and 15 ml / l (P4). The data obtained wereanalyzed range, when significant followed by Duncan multiple test areas (5%) todetermine differences between treatments. The results of the analysis showed that thetreatment of long-range cuttings and different doses of POC, and the interactions theyprovide no significant effect (P> 0.05) on levels of protein and fiber content of roughforage. The length of cuttings significant influence (P <0.05) the production of CrudeProtein. Production of crude protein peak obtained at treatment S2 (324,59 g) andfollowed by S1 (244,56 g).Key word: Arachis pintoi, cutting length, POC, crude protein and crude fiber
SERAPAN UNSUR HARA NITROGEN DAN PHOSPOR BEBERAPA TANAMAN LEGUM PADA JENIS TANAH YANG BERBEDA Fajarditta, Fiona; Sumarsono, Sumarsono; Kusmiyati, Florentina
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.852 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji serapan unsur hara nitrogen dan phospor pada tanaman legum pada jenis tanah yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah tanah alluvial yang di ambil dari daerah Kabupaten Rembang, tanah latosol yang di ambil dari daerah Kecamatan Tembalang, Semarang; benih legum, meliputi: kaliandra (Calliandra calothyrsus Meissn), calopo (Calopogonium mucunoides), turi (Sesbania grandifora), lamtoro (Leucaena leucocephala), dan orok-orok ( Crotalaria juncea L). Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot) dengan 3 ulangan. Perlakuan jenis tanaman sebagai petak utama, yaitu turi, lamtoro, calopo, kaliandra, dan orok-orok. Perlakuan jenis tanah sebagai anak petak, yaitu tanah latosol dan tanah alluvial. Parameter yang diamati adalah serapan N dan P oleh akar dan tajuk. Hasil penelitian menunjukan bahwa serapan nitrogen tajuk, nitrogen akar, dan phospor tajuk angka tertinggi terlihat pada tanaman kaliandra di tanah latosol berturut-turut yaitu 2,23; 0,41; dan 3,41; sedangkan phospor akar angka tertinggi terlihat pada tanaman lamtoro di tanah latosol (0,67). Pada angka nitrogen tajuk, nitrogen akar, phospor tajuk, dan phospor akar terendah secara berurutan pada tanah alluvial terlihat pada tanaman kaliandra, turi, dan calopo; kaliandra, lamtoro dan calopo; kaliandra, turi, dan calopo; kaliandra, turi, calopo, dan lamtoro. Sedangkan bila di lihat dari persentase laju penurunan nitrogen tajuk, nitrogen akar, phospor tajuk, dan phospor akar terlihat persentase tertinggi pada tanaman kaliandra (92,70%; 87,53%; 93,28%; dan 88,27%), sedangkan persentase laju penurunan terendah nitrogen tajuk, phospor tajuk, dan phospor akar terlihat pada tanaman orok-orok (40,33%; 28,07%; dan 51,98%), sedangkan nitrogen akar terlihat pada tanaman turi (58,28%). Simpulan penelitian adalah serapan nitrogen dan phospor oleh tajuk dan akar legum pada tanah latosol lebih baik dibandingkan tanah alluvial.Kata kunci : alluvial; latosol; legum; nitrogen; phosporABSTRACTThe purpose of this study was to assess the uptake of elements nitrogen and phosphorus of legume crops on different soil types. The material used in this study was alluvial soil taken from areas Rembang district, latosol soil taken from areas Tembalang district, Semarang; seed legumes, include: Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra), Calopogonium mucunoides (calopo), Sesbania grandifora (turi), Leucaena leucocephala (lamtoro), and Crotalaria juncea L (orok-orok). The design used was split plot design (split plot) with 3 replications. The main plot was legumes plants, there are Sesbania grandifora, Leucaena leucocephala, Calopogonium mucunoides, Calliandra calothyrsus Meissn, and Crotalaria juncea L. The sub plot was soil types latosol soil and alluvial soil. Parameters measured were N and P uptake by the roots and crown. The results showed that crown nitrogen uptake, root nitrogen and phosphorus highest editorial looks at the plants in the ground Calliandra calothyrsus Meissn latosol row is 2.23; 0.41; and 3.41, while the roots of the highest visible phosphorus in plants Leucaena leucocephala in latosol soil (0.67). In figures crown nitrogen, nitrogen root, crown phosphorus, and phosphorus lowest root sequentially on alluvial soil seen in plants Calliandra calothyrsus Meissn, Sesbania grandifora, and Calopogonium mucunoides; Calliandra calothyrsus Meissn, Leucaena leucocephala, and Calopogonium mucunoides; Calliandra calothyrsus Meissn, Sesbanian grandifora, and Calopogonium mucunoides; Calliandra calothyrsus Meissn, Sesbania grandifora, Calopogonium mucunoides, and Leucaena leucocephala. Meanwhile, when seen from the decline in the percentage of nitrogen crown, root nitrogen, phosphorous crown and root seen the highest percentage of phosphorus in plants Calliandra calothyrsus Meissn (92.70%, 87.53%, 93.28% and 88.27%), while the percentage of the lowest rate of decline in crown nitrogen, phosphorous crown and root phosphorous visible on the plant Crotalaria juncea L (40.33%; 28.07%; and 51.98%), while nitrogen seen in plant roots Sesbania grandifora (58.28%). Conclusions of research are nitrogen and phosphorus uptake by the crown and on the ground legume roots latosol better than alluvial soil.Key word : alluvial; latosol; legumes; nitrogen; phosphor
ANALISIS PENGARUH KEPERCAYAAN DAN KOMITMEN TERHADAP KEDEKATAN HUBUNGAN DAN INOVASI DALAM UPAYA PENCAPAIAN KEUNGGULAN BERSAING BERKELANJUTAN (Studi Empirik Pada Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan di Semarang) Sumarsono, Sumarsono
Jurnal Sains Pemasaran Indonesia (Indonesian Journal of Marketing Science) Vol 6, No 3 (2007): Desember
Publisher : Master of Management Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.555 KB) | DOI: 10.14710/jspi.v6i3.347-360

Abstract

Banyaknya PPJK yang gulung  tikar karena ketidaksanggupan dalam  bersaing menunjukkan bahwa  perlu  diadakan  penelitian yang  mengkaji faktor-faktor yang  berpengaruh  terhadap keunggulan  bersaing berkelanjutan. Data dikumpulkan  dari 100 responden yang berasal dari seluruh  pimpinan  Pengusaha  Pengurusan Jasa  Kepabeanan  (PPJK)  Semarang,  kemudian data tersebut dianalisis dengan  menggunakan  analisis  SEM  dengan  program AMOS  4.0. Hasil  ana/isis  menunjukkan   bahwa  semua   hipotesis  yang  diajukan  dalam  penelitian  ini diterima, sehingga model tersebut dapat menggambarkan hubungan  kausalitas yang terjalin antar  variabel.   Dalam  penelitian  ini juga  menghubungkan  hasil penelitian  ini  terhadap implikasi teoritis maupun manajerial. Implikasi manajerial merekomendasikan kepada  PPJK Semarang untuk meningkatkan keunggulan  bersaing berkelanjutan melalui pengembangan hubungan    dekat   dengan    konsumen     dan    melakukan    inovasi    yang    berkelanjutan. Keterbatasan dari penelitian ini dan agenda penelitian  mendatang dapat digunakan  sebagai referensi oleh peneliti berikutnya
SEGMENTASI PASAR SEWA PERALATAN PEMBANGKIT LISTRIK DENGAN PENDEKATAN CLUSTER ANALYSIS (STUDI PADA PELANGGAN PT. SUMBERDAYA SEWATAMA JAKARTA) Sumarsono, Sumarsono
Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol 3, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Jurnal Bisnis dan Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to identify the factors that develop market segmentation of Power Rental Equipment, as well as to reveal the profile of the segment formed by the segmentation process. This type of research is  survey, which combines exploratory and descriptive research, with a purposive sampling method. The object of the research is the business customers of PT. Sumberdaya Sewatama Jakarta, with a purposive sample for a total of 48 respondents. This research using a Cluster Analysis methods..  Results of research showed the factors that necessitated priority in shaping the Market Segmentation of power rental equipment such as: delivery, quality, service, price and range. The study also profiled three segments  as follows : First Time Prospect, Novices, Sophisticates on which to base further development of empirical research. The uniqueness of this study is the first market segmentation study on power rental equipment industry in Indonesia.
Iodine Mineral Status of Etawah Crossbred Goat at Different Physiological Stages Fed Elephant Grass and Tofu Byproduct Widiyanto, Widiyanto; Sumarsono, Sumarsono; Sudjatmogo, Sudjatmogo; Prasetiyono, Bambang W.H.E; Setiadi, A; Surahmanto, Surahmanto
ANIMAL PRODUCTION Vol 17, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.382 KB) | DOI: 10.20884/1.anprod.2015.17.1.477

Abstract

Abstract. The objective of the study was to determine the iodine status and to map the thyroxin hormone concentration in etawah crossbred goat (ECG) at different physiological stages and its interrelation to the nutrition and performance. Fifteen female ECG was allotted in three physiolgical stage groups:  female kid, young female goat and lactating goat, fed elephant grass and tofu byproduct. The study was conducted  in Tossa Shakti Agro Company (TSA), Central Java, Indonesia. Analysis of variance in completely randomized design was used to determine the effect of physiological stages on soil and feed iodine content, blood serum thyroxin hormone concentration, nutrient and feed dry matter consumption, average daily gain and milk production. Result showed that soil iodine content was adequate to stimulate plant growth (3.109 mg/kg). Consumed feed iodine content  was adequate to all physiological stages, female kid, young female and lactating goat (1.003; 0.940 and 0.820 mg/kg, respectively). Thyroxin hormone concentration in blood serum of female kid and young female goat was  in normal range (8.23 and 10.05 µg/dl) but the concentration of thyroxin hormone in blood serum of lactating goat was  marginal ( 6.17 µg/dl).  Iodine supplementation was required for  lactating etawa crossbred goat  if tofu byproduct was included in its ration.Key words : nutrient, iodine, thyroxin hormone, etawah crossbred goat Abstrak.  Penelitian ini bertujuan mengkaji status iodine dan memetakan konsentrasi hormone tiroksin kambing peranakan etawah (PE) pada berbagai status fisiologis dan interelasinya dengan status nutrisi serta performans ternak.  Sebanyak 15 ekor kambing PE betina digunakan dalam penelitian yang terbagi atas tiga kelompok status fisiologis, yakni: cempe betina, kambing dara dan kambing laktasi.  Sebagai pakan, digunakan rumput gajah dan ampas tahu.  Penelitian ini dilakukan di PT. Tossa Shakti Agro (TSA) Kendal, Jawa Tengah.  Variabel yang diukur meliputi kandungan iodin tanah dan pakan, kadar hormon tiroksin serum darah, konsumsi bahan kering pakan dan nutrien, pertambahan bobot badan serta produksi susu. Data yang terkumpul diolah secara statistik dengan analisis variansi dalam rancangan acak lengkap guna mengetahui pengaruh status fisiologis terhadap variable-variabel tersebut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan iodine tanah memadai untuk menstimulasi pertumbuhan tanaman (3,109 mg/kg).  Kandungn iodin pakan terkonsumsi memadai untuk semua status fisiologis, dalam hal ini cempe betina, kambing dara dan kambing laktasi (masing-masing: 1,003; 0,940 dan 0,820 mg/kg).  Konsentrasi hormon tiroksin serum darah cempe betina dan kambing dara dalam kisaran normal (8,23 dan 10,05 ug/dl), tetapi konsentrasi hormon tiroksin serum darah kambing laktasi berada pada batas normal (borderline), yakni 6,17 ug/dl.  Suplementasi iodin diperlukan bagi kambing peranakan etawa yang sedang laktasi, jika ampas tahu digunakan sebagai bagian dari ransum.Kata kunci:  nutrien, iodin, hormone , kambing peranakan etawah