Supriyono Venantius
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Umat Terpilih Hidup Dari Belaskasih Dan Kegembiraan Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema besar hari studi ke-40 STFT Widya Sasana ini adalah “Menjadi Gereja Indonesia yang Gembira dan Berbelaskasih: Dulu, Kini dan Esok”. Dalam sesi ini kita diajak untuk melihat dialektika Gereja dan kebudayaan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (aspek eklesiologi PL), sebagai inspirasi untuk membaca dinamika hidup Gereja paska Vatikan II.1 Menanggapi tema ini, seorang pasien di sebuah rumah sakit menulis catatan kepada saya: “Orang akan berbelaskasih jika Allah ada di dalam hatinya. Belaskasih seseorang hanya dapat dikenali dari tindakannya. Kalau Gereja mau berbelaskasih maka harus ditunjukkan dalam tindakannya, tindakan klerus dan tindakan awam. Dengan tindakan konkret, para klerus mengorbankan diri menjadi sarana penyalur berkat rohani dan jasmani bagi siapa saja yang membutuhkan; awam mengorbankan dana, tenaga, talenta dan apa saja yang dibutuhkan sesamanya. Hanya lewat tindakan konkret itu, baru boleh dikatakan ada belaskasih. Makna belaskasih Gereja menjadi nyata bila ada tindakan konkret untuk menciptakan suasana damai dan solidaritas antar umat manusia.”
Manusia menikmati Keterasingan Untuk Melewati Krisis Identitas Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan banyak fakta dan gejala yang menuntut manusia melakukan penyesuaian diri. Misalnya, karena teknologi digital, Kitab Suci bisa diakses lewat sebuah telpon pintar. Kesulitan dalam memahami pesan teks atau makna sebuah kata dalam Kitab Suci dapat dengan mudah ditemukan solusinya lewat grup, atau ditelusuri di google. Fakta ini tidak gampang diterima oleh yang menjunjung kesakralan kitab. Akan tetapi teknologi tetap maju terus. Yang tidak menyesuaikan diri terhadap kemajuannya akan masuk dalam pengalaman krisis identitas. Krisis identitas itu dialami karena apa yang selama ini dijadikan pegangan mendadak menjadi hilang maknanya. Krisis identitas itu terjadi karena penolakan terhadap apa yang terasa asing. Krisis identitas itu disebabkan oleh ketidakmampuan menikmati keterasingan. Kitab Suci mengajari kita bagaimana keluar dari krisis identitas itu dengan cara menikmati keterasingan. Kitab Daniel Bab 1 adalah salah satu teks yang memberi inspirasi bagaimana manusia dapat menikmati keterasingan. Dikisahkan, Nebukadnezar, raja Babel, mendeportasi orang-orang penting dari bangsa Yahudi ke Babel. Lalu ia memilih beberapa pemuda yang dideportasi itu untuk dilatih selama tiga tahun untuk menjadi pelayan raja. Mereka tentu saja mengalami keterasingan dan krisis identitas berat akibat deportasi ini. Mereka hidup di tanah asing, dalam budaya asing, dengan raja asing, makanan asing, semuanya asing. Akan tetapi mereka bisa bertahan di dalam keterasingan itu. Bahkan hidup mereka memberi kontribusi bagi orang-orang asing. Di tanah asing itu mereka mendapat makna baru atau semacam identitas baru bagi hidup selanjutnya.
Manusia Tinggal Dalam Persekutuan Allah Tritunggal Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap panitia yang meminta pembicaraan mengenai tema Hari Studi ke-44 STFT Widya Sasana Malang dari perspektif Kitab Suci. Tema Hari Studi ke-44 STFT Widya Sasana Malang adalah “Siapakah Manusia; Siapakah Allah di Era Industri 4.0?” Ada tiga hal yang mau dibahas oleh tema ini, yakni manusia, Allah, dan Era Industri 4.0. Tema ini menempatkan “manusia” di posisi pertama, urutan awal, lalu menyusul Allah, di posisi berikutnya. Sebaliknya, Kitab Suci, menempatkan Allah di posisi awal mula dan posisi manusia menyusul pada urutan sesudah Allah. Oleh karena itu, mengikuti alur Kitab Suci, tulisan ini akan berbicara pertama-tama mengenai Allah, lalu menyusul mengenai manusia. Sedangkan istilah “Era Industri 4.0” tidak pernah muncul dalam Kitab Suci. Istilah ini menjadi sesuatu yang asing dalam Kitab Suci. Oleh karena itu tulisan ini tidak membicarakannya secara khusus, namun tetap ada relevansinya untuk dicerna di era Industri 4.0 ini.