Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Sekuens Gen Protein Kapsid Mayor L1 Human Papilomavirus 16 dari Isolat Klinik Asal Bandung Pradita, Anandayu; Sahiratmadja, Edhyana; Suhandono, Sony; Susanto, Herman
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.647 KB)

Abstract

Kanker serviks disebabkan oleh infeksi kronik human papillomavirus (HPV) dengan genotipe HPV-16 sebagai HPV tersering yang menginfeksi epitel serviks. Protein penyelubung virus yang disebut kapsid mayor (L1) mempunyai peranan penting dalam menginfeksi epitel serviks. Tujuan penelitian untuk mengisolasi dan menganalisis sekuens gen L1 HPV-16. Pengetahuan mengenai sekuens gen L1 dapat memberikan informasi yang berguna, salah satunya yaitu untuk pengembangan vaksin. Pada studi ini, deoxyribonucleic acid (DNA) virus diekstraksi dari sediaan biopsi pasien kanker serviks yang diambil pada bulan Juni sampai Oktober 2010 di Kebidanan dan Kandungan RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Gen diamplifikasi dengan polymerase chain reaction menggunakan primer spesifik. Infeksi HPV-16 pada jaringan kanker dikonfirmasi dengan menggunakan kit komersial untuk tes genotipe HPV. Fragmen L1 kemudian diklon dan diinsersikan ke dalam pJET1.2/L1-16, kemudian dipotong dengan enzim BamHI dan BgIII untuk kemudian divalidasi dan disekuensing. Hasil sekuensing menunjukkan amplikon gen L1 HPV-16 sebesar 1.595 pasang basa. Analisis dari dua amplikon gen L1 HPV-16 menggunakan software BIOEDIT dan Basic Local Alignment Search Tool menunjukkan kesamaan ho mologi 99% dan 97% dengan sekuens L1 HPV-16 asal Thailand yang terregistrasi pada GenBank. Simpulan, telah dilakukan kloning sekuens gen L1 HPV-16 dari dua isolat klinik Bandung. Hasil kloning HPV-16 pada penelitian ini memberikan informasi tentang variasi sekuens yang perlu dipertimbangkan bagi pengembangan vaksin terutama bagi daerah spesifik seperti penduduk asal Indonesia.Kata kunci: Human papillomavirus, kanker serviks, gen L1 HPV-16 Sequence of Human Papilomavirus 16 Major Capsid L1 Gene from Clinical Isolates in BandungCervical cancer is strongly associated with chronic human papillomavirus (HPV) infection. HPV-16 is the most prevalent genotype infecting cervical epithelium. The major coat protein of viral particle (L1) plays a key role in the infection process. Our study aimed to isolate the HPV-16 L1 gene and analyze its sequence. Samples used were samples collected from the Department of Obstetrics and Gynaecology, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung during the period of June to October 2010. In this study, the HPV-16 L1 sequence was analyzed from the viral deoxyribonucleic acid (DNA) extracted from biopsy sample of cervical cancer patient biopsy samples.The HPV-16 L1 amplification was performed using the polymerase chain reaction with specific primer. The HPV infection in the cervical tissue was confirmed by commercial HPV genotyping test. The L1 fragment was cloned into plasmid and the insert of the recombinant clone pJET1.2/L1-16 was digested using BamHI and BgIII. The amplicon result showed HPV-16 L1 gene with a length of 1.595 base pairs. The sequence analysis of two samples using software BIOEDIT dan Basic Local Alignment Search Tool revealed a high level of sequence similarity to L1 HPV-16 from Thailand (99% and 97%) as registered in GenBank. In conclusion, the L1 HPV-16 gene from Bandung isolates revealed variations from published sequence. Knowledge on L1 gene sequence may give additional information to the development of vaccine. Further study on vaccine development is currently ongoing using this HPV-16 clone that may be specific to Indonesian population. Key words: Cervical cancer, human papillomavirus, L1 HPV-16 DOI: 10.15395/mkb.v46n3.317
Penurunan Nyeri Persalinan Primigravida Kala I Fase Aktif Pascapenghirupan Aromaterapi Lavender Tarsikah, -; Susanto, Herman; Sastramihardja, Herri S.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1291.028 KB)

Abstract

Nyeri persalinan merupakan bagian pada proses normal yang tidak jarang menyebabkan stres fisiologis dan psikologis terhadap ibu yang berdampak pada ibu maupun janin. Sebagian besar persalinan (90%) disertai nyeri, bahkan sampai nyeri berat. Penanganan nonfarmakologi merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi nyeri persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek analgesik penghirupan aromaterapi lavender pada nyeri persalinan primigravida kala I fase aktif. Rancangan yang digunakan adalah studi praeksperimental, satu kelompok diobservasi sebelum dan sesudah perlakuan terhadap 30 ibu bersalin di Rumah Bersalin (RB) Kasih Ibu Jatirogo kabupaten Tuban provinsi Jawa Timur sebagai sampel yang dipilih secara konsekutif. Pengukuran variabel menggunakan skala nyeri numerik. Dilakukan analisis univariabel kuantitatif untuk mengetahui nyeri sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis kuantitatif bivariabel Wilcoxon signed ranks test digunakan untuk mengetahui pengurangan nyeri dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Penelitian ini dilakukan periode 14 September–31 Oktober 2009. Hasil analisis univariabel menyatakan bahwa skor nyeri rata-rata sebelum perlakuan 7,3 (SD 1,1) dansesudah perlakuan 5,9 (SD 1,4). Hasil uji Wilcoxon signed ranks test menunjukkan pengurangan nyeri yang bermakna pascapenghirupan aromaterapi lavender (Z=-4,338; p=0,000). Simpulan, terdapat pengurangan nyeri persalinan pascapenghirupan aromaterapi lavender. [MKB. 2012;44(1):19–25].Kata kunci: Nyeri persalinan, penghirupan aromaterapi lavender Labor Pain Reduction in Primigravida Active Phase after Inhalation of Lavender AromatherapyLabor pain is part of a normal process, which often causes physiological and psychological stress to mother. These stress have impact to both mother and fetus. Largely (90%) labor comes with pain and in some cases severe pain. Non-pharmacological approach is one of alternatives to reduce labor pain. This research aims to analyse the analgesic effect of lavender aromatherapy inhalation on labor pain in primigravida in the active phase. The study was pra-experimental by observing one group before and after treatment. The group involved 30 parturients in RB Kasih Ibu Jatirogo district of Tuban, East Java. The sampling method was based on consecutive admission. The variables were measured by using numerical rating scales (NRS). Univariable quantitative analysis was applied to describe the pain before and after treatment. Wilcoxon signed ranks test bivariable quantitative analysis was used to investigate pain relief with significance level of p<0.05. The univariable analysis result revealed that mean pain score before treatment was 7.3 (SD 1.1) and after treatment 5.9 (SD 1.4). Wilcoxon signed ranks test result showed significant pain relief after lavender aromatherapy inhalation (Z=-4.338, p=0.000). The research shows that there is a reduction of labor pain after lavender aromatherapy inhalation. [MKB. 2012;44(1):19–25].Key words: Inhalation lavender aromatherapy, labor pain DOI:  http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.210
Analisis Filogenetik Gen L1 Human Papillomavirus 16 pada Penderita Kanker Serviks di Bandung Fadhilah, Fitri Rahmi; Sahiratmadja, Edhyana K.; Safitri, Ratu; Maskoen, Ani Melani; Susanto, Herman
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.585 KB)

Abstract

Infeksi human papillomavirus (HPV) tipe high risk (hr) yang kronik dapat menyebabkan kanker serviks. Berbagai genotipe hrHPV telah teridentifikasi dan HPV-16 merupakan genotipe yang tersering menginfeksi serviks. Fragmen L1 HPV dapat digunakan untuk mengidentifikasikan asal usul HPV. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi asal usul HPV-16 dengan membuat pohon filogenetik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Penelitian dilakukan di Laboratorium Genetika Molekuler Unit Penelitian Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung pada Februari hingga Agustus 2013. Isolat biopsi dari pasien kanker serviks disumbangkan oleh Departemen Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Isolasi DNA dibuat dari biopsi jaringan kanker serviks dan fragmen L1 diamplifikasi dengan desain primer sendiri. Infeksi dengan HPV-16 dikonfirmasi dengan Linear Array test (Roche). Sekuens urutan basa kemudian dimasukkan dalam program filogenetik (MEGA5). Hasil konstruksi menunjukkan isolat pasien kanker serviks dari Bandung berada dalam satu subgrup dengan HPV asal Asia dan Asia Timur. Simpulan, cluster HPV Indonesia berada pada galur Asia dan Asia Timur. [MKB. 2015;47(3):174–78]Kata kunci: Filogenetik, fragmen L1,  human papillomavirus 16 (HPV-16)Phylogenetic Analysis of Human Papillomavirus 16 L1 Gene from Cervical Cancer Patient in BandungAbstractChronic infection with high-risk (hr) human papillomavirus (HPV) can lead to cervical cancer. Various hrHPV genotypes have been identified and HPV genotype 16 is the most common genotypes that infect cervical cancer. HPV L1 fragment can identify the origin of HPV. The purpose of this study was to explore the origins of HPV-16 by making a phylogenetic tree. This study used analytical descriptive method and was  was conducted at the Laboratory of Molecular Genetics, Health Research Unit, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran Bandung in the period of February to August 2013. Biopsy from cervical cancer patient was donated by the Department of Obstetrics, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Bandung. Isolation of DNA was prepared from tissue biopsies of cervical cancer and L1 fragment was amplified with the specific primer. Infection with HPV-16 was confirmed by Linear Array test (Roche) design. The sequence then was constructed using the phylogenetic program (MEGA5). Results showed that the isolate from patient with cervical cancer from Bandung was in one subgroup with HPV from Asia and East Asia. In conclusion, cluster HPV of Bandung is in the same strain as the strain in Asia and East Asia. [MKB. 2015;47(3):174–78]Key words: Human papillomavirus 16 (HPV-16), L1 fragment, phylogenetic DOI: 10.15395/mkb.v47n3.598
Paclitaxel-carboplatin chemotherapy induced hematologic toxicities among epithelial ovarian cancer patients Charles, Afandi; Dewayani, Birgitta M.; Sahiratmadja, Edhyana; Winarno, Gatot N.A.; Susanto, Herman
Universa Medicina Vol 35, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2016.v35.165-170

Abstract

BackgroundEpithelial ovarian cancer (EOC) is one of the most common cancers diagnosed in Indonesian women. A combination of paclitaxel and carboplatin is used to treat EOC as standard chemotherapy which is known to have hematologic toxicities. This study aimed to investigate the effect of combined paclitaxel-carboplatin chemotherapy on hematologic status in EOC patients managed at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, West Java.MethodsAll patients with confirmed pathological diagnosis of EOC at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in the period of 2013 to 2014 were registered. Only patients with complete hematologic data before and after chemotherapy were collected and compared using the paired non-parametric Wilcoxon and McNemar tests. ResultsIn total there were 147 patients with EOC (median age 46 ± 12 years), with the most dominant pathological diagnosis of mucinous (32.7%) and serous (29.3%) types. Only 33 patients had hematologic data before the initiation of chemotherapy. There was a significant decrease after chemotherapy including hemoglobin level (12.0 vs 10.9 g/dL, p=0.013), erythrocyte count (4.53 vs 3.74 million/mL, p&lt;0.001), leukocyte count (7,700 vs 4,000/mm3 p&lt;0.001) and platelet count (343,000 vs 215,000/mm3, p&lt;0.001). Interestingly, anemia cases after chemotherapy were predominant (87.9%) compared with erythopenia, leukopenia, thrombocytopenia i.e. 39.4%, 57.6%, and 27.3% respectively. ConclusionsThis study confirmed the hematologic toxicities after paclitaxel-carboplatin chemotherapy in EOC patients treated in Hasan Sadikin General Hospital, West Java. The hemoglobin concentration may serve as prognostic factor. Further studies directed to other factors such as genetic factor for polymorphisms may be encouraged to explore the decrease of the hematologic indices.
Methylenetetrahydrofolate Reductase C677T Distribution among Cervical Cancer Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Maskoen, Ani Melani; Kurniawan, Cynthia; Susanto, Herman; Sahiratmadja, Edhyana
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.831 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v48n4.754

Abstract

Cervical cancer is the second most common cancer among women in the world. Persistent infection with high risk human papillomavirus (HPV) is one of the necessary causes of cervical cancer development. However, host genetic factors may also play a role in cervical cancer carcinogenesis. Methylenetetrahydrofolate reductase enzyme, encoded by the MTHFR gene, regulates folate metabolism which is important for genetic expression and stability. Single nucleotide polymorphism (SNP) C677T in MTHFR gene may produce a thermo-labile enzyme, resulting in a reduced enzyme activity. The aim of this study was to explore the SNP C677T of MTHFR gene and the susceptibility to cervical cancer among cancer patients visiting Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia. This descriptive quantitative study involved cervical cancer patients recruited in 2010 and their control group. Genomic DNA was extracted from patients’ blood. MTHFR C677T genotype was performed using BeadXpress Reader Illumina® and some samples were re-genotyped for confirmation using conventional PCR-RFLP. The distribution of MTHFR C677T genotype in cervical cancer patients was 71.6%, 25.4%, and 3%, and 44%, 36%, and 20% in control group for CC, CT, and TT, respectively. This yielded a statistical significant difference of CC vs CT+TT (p 0.014 with OR 3.22 and CI 95% 1.24 – 8.33). Taken together, this result indicates that T allele has a protective effect against cervical cancer development. Further studies to confirm this effect in bigger population is warranted. [MKB. 2016;48(4):216–21]Key words: Cervical cancer, MTHFR C677T, polymorphism, Bandung Distribusi C677T gen Methylenetetrahydrofolate Reductase pada Pasien Kanker Serviks di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin BandungKanker serviks menduduki peringkat kedua sebagai kanker yang paling sering ditemukan pada wanita di dunia. Infeksi persisten oleh human papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi merupakan salah satu penyebab utama kanker serviks. Selain itu, factor genetic juga turut berperan dalam proses perkembangan kanker serviks. Enzim methylenetetrahydrofolate reductase yang disandi oleh gen MTHFR berfungsi meregulasi metabolism folat. Polimorfisme C677T pada gen MTHFR dapat membuat produksi enzim menjadi termolabil sehingga terjadi penurunan aktivitas. Distribusi folat yang abnormal dapat mengganggu proses metilasi, sintesis, dan perbaikan DNA yang dikaitkan dengan perkembangan kanker serviks. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi polimorfisme C677T gen MTHFR pada pasien kanker serviks di Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin Bandung, Indonesia. Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan pasien kanker serviks yang diinklusi tahun 2010 dan sebagai control adalah wanita yang datang untuk pemeriksaan PAPsmear. DNA genomic diisolasi dari darah pasien dan dihibridisasi dengan menggunakan system BeadXpress Reader Illumina® untuk menentukan jenis genotipenya. Genotipe beberapa sampel dikonfirmasi dengan metode PCR-RFLP. Hasil distribusi polimorfisme C677T gen MTHFR dengan genotipe CC, CT, dan TT pada pasien kanker serviks adalah 71,6%, 25,4%, dan 3% dan pada kontrol adalah 44%, 36%, and 20%. Hasil ini menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pasien kanker serviks dan kontrolnya, dengan genotipe CC vs CT+TT menunjukkan nilai p=0,014 (OR 3.22 dan IK 95% 1,24–8,33). Simpulan, alel T menunjukkan efek yang protektif pada perkembangan kanker serviks. Penelitian harus dilanjutkan untuk membuktikan efek protektif alel pada kanker serviks.[MKB. 2016;48(4):216–21]Kata kunci: Kanker serviks, MTHFR C677T, polimorfisme, Bandung
Peran Serum IL-6 dan CA-125 Prabedah sebagai Prediktor Resektabilitas Tumor pada Kanker Ovarium Tipe Epitel KURNIADI, ANDI; HIDAYAT, YUDI M; SUARDI, DODI; SUSANTO, HERMAN; N.A.W, GATOT; PRAYITNO, HERU
Indonesian Journal of Cancer Vol 11, No 4 (2017): October- December 2017
Publisher : Indonesian Journal of Cancer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1245.528 KB)

Abstract

The success of ovarian cancer therapy is determined by optimal cytoreduction performed prior to chemotherapy. Maximum residual tumor after cytoreduction and before chemotherapy is essential for prognosis. Factors affecting tumor mass resectability are the surgeon, location of the mass, ascites more than 1000 mL, carcinomatosis, mass in lymph nodes more than 1 cm, mass at the liver parenchym, large mass up to diaphragm and pre-operative CA-125 > 500 MIU / L will increase the likelihood of suboptimal cytoreduction. IL-6 and CA-125 play a role in the occurrence of those factors, so both examinations are expected to improve the prediction of cytoreduction resectability and determine the appropriate choice for the treatment of ovarian cancer, either cytoreduction or neoadjuvant chemotherapy.The design of this study is cross sectional that is by examining patients suspected of ovarian malignancy, checking for their preoperative IL-6 and CA-125 levels and their resectability. Data analysis done by univariat and bivariate. For categorical data tested by chi-square test or Exact Fisher test, significance test used unpaired T test or Mann Whitney test. Analysis of numerical variables by numerical using Pearson correlation analysis or Spearman correlation analysis as well as correlation between numerical variables with nominal variables using Eta Correlation test. The data obtained is recorded in a special form and then processed with SPSS version 24.0 for WindowsPatients collected during the study period were 54, where only 36 people met the inclusion and exclusion criteria. It was found that most subjects were aged 40-64 years (77.8%), mean value of CA-125 for suboptimal cytoreduction group was higher than optimal cytoreduction (1099,75 + 1242,555 vs 311,23 + 160,165), which is statistically significant, p = 0,000 (p value <0,05), CA 125 cut off point in this research was 432 with sensitivity value of 72,2% and specificity value of 77,88%. The mean value of IL-6 for the suboptimal cytoreduced group was greater than the optimized cytoreduction (137.72 + 107.658 VS 62.20 + 66.330), which is statistically significant, p = 0.009 (p value <0.05), IL-6 cut off point at this study was 64.9 with a sensitivity of 72.2% and a specificity of 72.2 %. There was a positive correlation with a strong correlation strength between CA-125 levels and the operating outcome, p = 0.012 (p <0.05), there was a positive correlation with a small correlation strength between IL-6 levels and the outcome of surgery, p = 0,016 (p <0,05) and there was correlation between IL-6 and CA-125 presurgery with operating outcome (suboptimal and optimal cytoreduction) with cut off point 418,5 with sensitivity value 88.9% and specificity value 72,2% .Conclusion: There is a correlation between the levels of IL-6 and CA-125 and ovarian cancer resectability. ABSTRAKKeberhasilan terapi kanker ovarium  ditentukan oleh optimalnya sitoreduksi yang dilakukan sebelum pemberian kemoterapi. Maksimal residual tumor setelah sitoreduksi dan sebelum kemoterapi sangat penting untuk prognosis. Faktor -faktor yang mempengaruhi resektabilitas massa tumor adalah operator, lokasi massa,  asites lebih dari 1000 mL, karsinomatosis, massa di limfa lebih dari 1 cm, massa diparenkim hati, massa yang besar sampai ke diafragma dan kadar CA-125 pre-operatif > 500 mIU/L akan meningkatkan kemungkinan sitoreduksi suboptimal. IL-6 dan CA-125 berperan peran dalam terjadinya faktor – faktor tersebut, sehingga pemeriksaan kedua-duanya diharapkan dapat meningkatkan prediksi resektabilitas sitoreduksi dan menentukan pilihan tatalaksana kanker ovarium yang tepat yaitu sitoreduksi atau kemoterapi neoajuvan.Rancangan penelitian ini adalah cross sectional yaitu dengan melakukan pemeriksaan kadar IL-6 dan CA-125 prabedah  penderita tersangka keganasan ovarium kemudian dilihat resektabilitasnya.. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariate. Untuk data kategorik diuji dengan uji chi-square atau uji Exact Fisher , Uji kemaknaan  digunakan uji T tidak berpasangan atau uji Mann Whitney. Analisis variabel numerik dengan numerik menggunakan analisis korelasi Pearson atau analisis korelasi Spearman serta korelasi antara variabel numerik dengan variabel nominal menggunakan uji Korelasi Eta. Data yang diperoleh dicatat dalam formulir khusus kemudian diolah dengan program SPSS versi 24.0 forWindowsPasien yang berhasil dikumpulkan selama periode penelitian sebanyak 54 orang, yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi hanya 36 orang. diperoleh data bahwa subjek terbanyak adalah usia 40 – 64 tahun (77,8%), Nilai rerata CA-125 untuk kelompok sitoreduksi suboptimal lebih besar dibandingkan dengan sitoreduksi optimal (1099,75 + 1242,555  VS 311,23 + 160,165 ) bermakna secara statistik     p = 0,000 (nilai p < 0,05), cut off point  CA 125 pada penelitian ini adalah 432 dengan nilai sensitivitas 72,2% dan nilai spesifisitas 77,88%. Nilai rerata IL-6 untuk kelompok sitoreduksi suboptimal lebih besar dibandingkan dengan sitoreduksi optimal (137,72 + 107,658 VS 62,20 + 66,330) bermakna secara statistik p = 0,009 (nilai p < 0,05), cut off point  IL-6 pada penelitian ini adalah 64,9 dengan  sensitivitas 72,2% dan  spesifisitas 72,2%%. Terdapat korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang cukup kuat antara kadar CA-125 dengan luaran operasi p = 0,012 (p < 0,05), terdapat korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang kecil (tidak erat) antara kadar IL-6 dengan luaran operasi, p = 0,016 (p < 0,05) dan terdapat korelasi antara kadar IL-6 dan CA-125 prabedah dengan luaran operasi (sitoreduksi suboptimal dan optimal ) dengan cut off point 418,5 dengan nilai sensitivitas 88.9% dan nilai spesifisitas 72,2%.Simpulan : Terdapat korelasi antara kadar IL-6 dan CA-125 prabedah dengan resektabilitas  kanker ovarium
The Effect Referral Barriers to Barriers Delay in Perinatal Mortality in Karawang Armini, Luh Nik; Susanto, Herman; Hilmanto, Dany
Journal of Global Research in Public Health Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Stikes Surya mitra Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jgrph.v3i2.57

Abstract

Perinatal mortality is the biggest contributor to the death of infant mortality. Most of the causes of perinatal mortality can be prevented that the factors of patients, health professionals, referral and availability of health care facilities. Obstacles in the references often found in the delay in recognizing the danger, decision-making by women because it is influenced cultural issues, difficulty gaining access to health services because of problems with the distance. Karawang regency is part of West Java Province perinatal death must be completed. The purpose of this study is the referral process constraints that caused the delay referral perinatal mortality in Karawang. The study design using the sequential explanatory mixed method. Quantitative data were taken through Perinatal Maternal Audit document was tested with Fisher Exact, whereas qualitative research conducted by Focus Group Discussion and interview. The study showed no association with late referral process bottleneck references (p&gt; 0.05 The results of the qualitative research shows that the delay in the referral is more due to the limitations of the tools for referral and indirect costs (meals, round trip hospital costs) causing late picking decision
The Effect Referral Barriers to Barriers Delay in Perinatal Mortality in Karawang Armini, Luh Nik; Susanto, Herman; Hilmanto, Dany
Journal of Global Research in Public Health Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Stikes Surya mitra Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jgrph.v3i2.57

Abstract

Perinatal mortality is the biggest contributor to the death of infant mortality. Most of the causes of perinatal mortality can be prevented that the factors of patients, health professionals, referral and availability of health care facilities. Obstacles in the references often found in the delay in recognizing the danger, decision-making by women because it is influenced cultural issues, difficulty gaining access to health services because of problems with the distance. Karawang regency is part of West Java Province perinatal death must be completed. The purpose of this study is the referral process constraints that caused the delay referral perinatal mortality in Karawang. The study design using the sequential explanatory mixed method. Quantitative data were taken through Perinatal Maternal Audit document was tested with Fisher Exact, whereas qualitative research conducted by Focus Group Discussion and interview. The study showed no association with late referral process bottleneck references (p&gt; 0.05 The results of the qualitative research shows that the delay in the referral is more due to the limitations of the tools for referral and indirect costs (meals, round trip hospital costs) causing late picking decision
STATUS SOSIAL EKONOMI DENGAN LAMA MENYUSUI Islami, Islami; Susanto, Herman; Rahayuningsih, Sri Endah
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 4, No 1 (2013): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : STIKES Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status sosial ekonomi merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada status kesehatan seseorang. Masyarakat dengan pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah cenderung tidak memprioritaskan perilaku sehat seperti perilaku pencegahan penyakit, perilaku pemeliharaan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan, termasuk perilaku pemberian ASI. Penelitia ini bertujuan untuk mengetahui korelasi status sosial ekonomi dengan lama menyusui. Metode penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan observasional cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu menyusui di kecamatan Kaliwungu, Kota, Dawe, Jekulo dan Undaan Kabupaten Kudus yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik pengambilan sampel gugus bertahap dan diperoleh 140 responden. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2012. Data yang telah dikumpulkan dianalisis statistik univariabel, bivariabel dengan uji korelasi Lambda. Penghasilan dinilai berdasarakan jumlah biaya pengeluaran per bulan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat korelasi antara penghasilan dengan lama menyusui (r =0.393  p= <0.001), tidak terdapat korelasi antara pendidikan  dengan lama menyusui (r = 0.075 p= 0.180) dan tidak terdapat korelasi antara pekerjaan dengan lama menyusui ( r = 0.047 p= 0.249). Simpulan dalam penelitian ini adalah  tingkat pendidikan dan pekerjaan tidak memengaruhi lama menyusui, sedangkan penghasilan yang tinggi membuat ibu tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menyusui.
ANALISIS PENYEBAB KEMATIAN PERINATAL DI KABUPATEN GARUT (STUDI EPIDEMIOLOGI DALAM UPAYA MENURUNKAN KEMATIAN PERINATAL DI PROVINSI JAWA BARAT) Fitriah, Iin Prima; Hilmanto, Dany; Susanto, Herman; Susiarno, Hadi; Fadlyana, Eddy; Panantro, Gustomo
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 10, No 1 (2019): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : STIKES Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v10i1.533

Abstract

Kematian perinatal berhubungan dengan peristiwa obstetri seperti lahir mati dan kematian neonatal dini. Kasus kematian bayi di Kabupaten Garut menduduki peringkat kedua tertinggi kematian bayi di Jawa Barat. Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan kasus kematian perinatal namun, belum memperlihatkan hasil maksimal. Tujuan penelitian adalah menganalisis penyebab kematian perinatal yang dapat dicegah. Rancangan penelitian ini adalah Sequential Explanatory Mixed Method. Tahap pertama melakukan teknik  kuantitatif dengan studi dokumentasi terhadap dokumen Otopsi Verbal Perinatal (OVP) berjumlah 78 kasus. Uji statistik menggunakan fisher exact. Tahap kedua dengan teknik kualitatif dengan indepth interview pada empat orang keluarga bayi yang meninggal, dua orang petugas kesehatan dan dua orang penanggungjawab pencatatan dan pelaporan dan Focus Group Discussion (FGD) pada satu orang kepala seksi kesehatan keluarga Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dan empat orang bidan koordinator puskesmas. Penelitian dilaksanakan bulan Oktober sampai November 2016. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan jarak kelahiran, penyakit penyerta, ketersediaan fasilitas dan rujukan dengan kematian perinatal yang dapat dicegah (p<0,05). Jarak kelahiran dan penyakit penyerta masih berkontribusi terhadap kematian perinatal yang dapat dicegah terkait dengan keterbatasan pengetahuan ibu dan juga deteksi dini baik tingkat keluarga maupun tenaga kesehatan, sedangkan ketersediaan fasilitas kesehatan terkait dengan keterbatasan alat dan sumber daya manusia kesehatan. Sebagian besar kematian perinatal dapat dicegah. Perlu kerjasama semua elemen masyarakat maupun pemerintah dalam upaya menurunkan kematian perinatal yang dapat dicegah.