Mumu Sutisna
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERBAIKAN KUALITAS AIR LIMBAH INDUSTRI FARMASI MENGGUNAKAN KOAGULAN BIJI KELOR (Moringa oleifera Lam) DAN PAC (Poly Alumunium Chloride) Hartati, Etih; Sutisna, Mumu; Nursandi S., Windi
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 3 (2008): JUNI 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.812 KB)

Abstract

Improvement of Pharmacy Industrial Wastewater Quality using Coagulant Kelor Seed and PAC. One of the chemical treatments of waste water is coagulation-flocculation process. In general, coagulation-flocculation process uses synthetic and natural coagulant material. This research was to compare the use of coagulant kelor seed and of PAC in wastewater treatment from pharmacy industry by coagulation-flocculation process. The result of comparison to the standard quality of wastewater, it was known that characteristic of pH; COD; BOD; TSS; total nitrogen; and phenol within wastewater still exceed the standard quality of wastewater. But the treatment was able to reduce: colors 99,67 %, turbidity 98,85 %, COD 78,25 %, BOD 81,96 %, TSS 96 %, total nitrogen 59,68 %, and phenol 88,71%.  Abstract in Bahasa Indonesia:  Salah satu cara pengolahan limbah secara kimia adalah melalui proses koagulasi-flokulasi. Proses koagulasi-flokulasi dapat menggunakan bahan koagulan sintetis dan alami. Pada penelitian ini dilakukan pengolahan air limbah yang berasal dari industri farmasi melalui proses koagulasi-flokulasi dengan menggunakan koagulan biji kelor dan PAC. Proses pengolahan dilakukan secara bertahap, pengolahan pertama menggunakan biji kelor kemudian dilanjutkan dengan menggunakan PAC. Berdasarkan hasil perbandingan terhadap baku mutu limbah cair untuk kegiatan industri, karakteristik akhir air limbah yang telah diolah melalui dua tahap pengolahan tersebut masih melebihi standar baku mutu yang ditetapkan. Namun, pengolahan sudah dapat mengurangi warna 99,67 %, kekeruhan 98,85 %, COD 78,25 %, BOD 81,96 %, TSS 96 %, nitrogen total 59,68 %, dan fenol 88,71 % terhadap karakteristik awal air limbah.
Evaluasi Pemanfaatan Abu Terbang (Fly Ash) Batubara Sebagai Campuran Media Tanam pada Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) Wardhani, Eka; Sutisna, Mumu; Dewi, Anggi Herlina
JURNAL ITENAS REKAYASA Vol 16, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal ITENAS Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2087.775 KB)

Abstract

ABSTRAKSebagai dampak dari kenaikan harga minyak bumi maka pemakaian batubara di industri mengalami peningkatan, akibatnya limbah batubara berupa fly ash dan bottom ash menjadi sangat melimpah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manfaat dari fly ash batubara sebagai media tanam, yang berlokasi di Laboratorium Teknik Lingkungan Institut Teknologi Nasional Bandung. Penelitian dilakukan untuk menganalisis penggunaan fly ash sebagai media tanam menggunakan tanaman tomat dengan mengamati tinggi tanaman tomat serta menganalisis jumlah klorofil dengan menggunakan metode Knudson. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah kandungan tembaga (Cu) pada abu batubara telah melebih bakumutu PP 18/1999 Jo PP 85/1999 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun sehingga abu batubara ini termasuk limbah bahan berbahaya dan beracun. Abu batubara bersifat polazoik sehingga perlu ditambahkan pupuk organik pada media tanam untuk menghindarkan pengerasan lahan. Pada hari ke-15, tanaman tomat dengan perlakuan tanah lembang 75% + abu batu bara 25% melebihi kontrol dan perlakuan lain.Hal ini disimpulkan karena kandungan Cu yang terdapat pada abu batubara mencukupi kebutuhan unsur hara mikro tanaman tomat. Pada konsentrasi abu batubara 100% terjadi perlambatan pertumbuhan, atau gejala toksifikasi. Hal ini diakibatkan kandungan Cu yang berlebih yang mempengaruhi tanaman tomat karena kandungan Cu yang dibutuhkan tanaman tomat dalam jumlah yang sedikit. Penggunaan abu batubara yang tinggi akan meningkatkan sintesis klorofil yang akan mempercepat proses degradasi sehingga menyebabkan daun mudah gugur.Kata kunci: Abu batubara, tanaman tomat, unsur hara, klorofil. ABSTRACTAs the impact of rising oil prices, the coal consumption in industry has increased, a consequence of coal waste in the form of fly ash and bottom ash to be very abundant. This research was conducted to determine the benefits of fly ash as planting media. The research was located of the Environmental Engineering Laboratory of National Institute of Technology Bandung. The study was conducted to analyze fly ash use as a media for tomato plant, for observe growth of plant and analyzed with Knudson method of chlorophyll amount. The results of this study is the content of Cu in coal ash has been exceeded of standard by PP 18/1999 Jo PP 85/1999 about Hazardous and Toxic Waste Management so that this coal ash including hazardous and toxic waste. Coal ash had polazoik character, so it need to add organic substant in the media to avoid hardening of the soil. On the 15th day, tomato plants grew on with TL (Lembang Soil) 75% + ABB (Fly ash) 25% more on the control and the other treatment. it is concluded that the content of Cu as micro-nutrients is on ideal concentration for tomato plant. While 100% concentration of coal ash is slowdown in growth. It showed the toxicity symptoms, by the excess of Cu Concentration. The higher of coal ash will increase of chlorophyll concentration on the leave but it will to easy the degradation of leave.Keywords: coal ash, tomato plants, nutrients, chlorophyll.
Pengolahan Limbah Cair Hotel Aston Braga City Walk dengan Proses Fitoremediasi menggunakan Tumbuhan Eceng Gondok SITOMPUL, DEBORA FRANSISKA; SUTISNA, MUMU; PHARMAWATI, KANCITRA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.012 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i2.105-114

Abstract

ABSTRAKStatus kota Bandung sebagai kota wisata menyebabkan peningkatan jumlah hotel yang memberi dampak terhadap timbulan limbah cair. Limbah cair dari hasil kegiatan perhotelan dapat diolah secara fisika, kimia maupun biologi. Dari ketiga jenis pengolahan ini, pengolahan biologi merupakan cara pengolahan yang paling ekonomis. Pengolahan biologi yang dapat diterapkan dalam kegiatan perhotelan adalah fitoremediasi. Fitoremediasi merupakan proses dimana tumbuhan dan mikroorganisme yang hidup di akar tumbuhan bermutualisme dan melakukan pengolahan terhadap parameter-parameter yang terdapat pada limbah cair. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah BOD, COD, TSS, pH, bau, dan kekeruhan.  Pada penelitian ini diterapkan tiga jenis perlakuan yaitu perlakuan I (limbah saja), perlakuan II (limbah+ 1 eceng gondok), dan perlakuan III (limbah + 2 eceng gondok).  Waktu kontak yang digunakan adalah 0, 2, 4, 6 dan 8 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perlakuan memiliki nilai efisiensi yang tinggi untuk mengolah parameter BOD, TSS dan kekeruhan dengan waktu kontak optimum selama 6 hari, dan secara umum perlakuan III merupakan perlakuan terbaik yang memiliki nilai efisiensi sebesar 84,48 % untuk penyisihan BOD,  89,95% untuk penyisihan TSS, dan 87,76 % untuk penyisihan kekeruhan. Kata kunci : limbah cair hotel, fitoremediasi,eceng gondok
Fitoremediasi Phospat dengan menggunakan Tumbuhan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) pada Limbah Cair Industri kecil Pencucian Pakaian (Laundry) STEFHANY, CUT ANANDA; SUTISNA, MUMU; PHARMAWATI, KANCITRA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.773 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i1.13-23

Abstract

ABSTRAKPeningkatan industri pencucian pakaian dapat menimbulkan pencemaran air yang mengakibatkan eutrofikasi, Hal ini disebabkan oleh fosfat yang merupakan bahan penyusun utama dalam deterjen, sehingga perlu dilakukan alternatif pengolahan dan pengaplikasian yang efektif untuk mengolah limbah ini, salah satunya dengan menggunakan fitoremediasi. Fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, menstabilkan atau menghancurkan bahan pencemar baik senyawa organik maupun anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan tumbuhan Eceng gondok dalam menurunkan fosfat pada limbah pencucian pakaian dengan 3 perlakuan yaitu kontrol, 3 tumbuhan Eceng gondok, dan 3 tumbuhan Eceng gondok bebas bakteri aktif rhizosfer dengan pengamatan waktu kontak 0, 5, 10, 15, dan 20 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan konsentrasi fosfat oleh Eceng gondok yang paling optimum adalah pada perlakuan 2 dan perlakuan 3 pada hari ke-5 dengan konsentrasi fosfat <0.01 mg/L. Sedangkan efisiensi penyerapan dan akumulasi fosfat optimum pada Eceng gondok selama 20 hari didapat pada perlakuan 3 yaitu akumulasi pada akar sebesar 14.90 % dan tangkai daun 20.05 %.Kata kunci : Eceng gondok , Fitoremediasi, fosfatABSTRACTThe laundry industries may effective water pollution resulting in eutrophication. This was caused by phosphate which is the main substance in detergents, it need alternative technology for laundry waste water treatment. Phytoremediation is the use of plant to deprive, stabilize or destroying material contaminant organic compounds and inorganic. The aims of the research was know ability of Eichhornia crassipes  to absorp phosphate, in the methodology were use three treatment first as a control, three Eichhornia crassipes, and three Eichhornia crassipes  free bacteria active rhizosfer with the observation time contact 0, 5, 10, 15, and 20 days. The result showed that the optimum phosphate concentration decreased by Eichhornia crassipes with second treatment and third treatment in a fifth day, with concentration phosphate <0.01 mg/L. The efficiency while absorption and accumulation of phosphate optimum  Eichhornia crassipes for twenty days was in third treatment at accumulated with 14.90 % in roots and 20.05 % in petiole.Key words : Eichhornia crassipes, Phytoremediation, phosphate
Pengolahan Limbah Domestik dengan menggunakan Biokoagulan Biji Moringa oleifera Lam. dan Saringan Pasir cepat H. ARITONANG, DODY OCTAVIANUS; SUTISNA, MUMU; SURURI, M RANGGA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.031 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i2.69-80

Abstract

AbstrakPertumbuhan penduduk di Indonesia yang pesat khususnya di kota-kota besar telah mendorong peningkatan jumlah air limbah domestik (Supradata, 2005). Pada tahun 2013 jumlah penduduk di kota X mencapai  3.351.048 jiwa dan menghasilkan timbulan air limbah domestik sebanyak 351.860 m3/hari. IPAL X menggunakan kolam stabilisasi pada proses pengolahan air limbah secara biologi memerlukan waktu pengolahan selama 10 hari. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap debit limbah domestik yang akan diolah. Kolam stabilisasi memiliki kapasitas pengolahan air limbah sebesar ±243.000 m3 dan belum dapat mengolah secara menyeluruh air limbah domestik di kota X. Permasalahan waktu pengolahan yang lama diharapkan dapat diselesaikan dengan hasil penelitian pengolahan limbah domestik dengan menggunakan biokoagulan biji Moringa oleifera Lam. dan saringan pasir cepat. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium (volume percobaan 1 liter). Penelitian ini terlebih dahulu dilakukan dengan menentukan kondisi optimum biokoagulan dengan melakukan variasi pH dan dosis  biokoagulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter yang efektif disisihkan biokoagulan adalah BOD 79,15%, TSS 99,99994%, minyak dan lemak 86,53%. Kombinasi biokoagulan dan saringan pasir cepat selain mampu menyisihkan BOD, TSS, minyak dan lemak juga mampu menyisihkan fosfat sebesar 89,74%. Kondisi optimum biokoagulan yang diperoleh adalah pH optimum 7 dengan dosis optimum 1500 ppm, serta waktu pengendapan yang diperlukan adalah 420 detik. Kata kunci: air limbah domestik, biokoagulan Moringa oleifera Lam., saringan pasir cepat.
Fitoremediasi Limbah Cair Tapioka dengan menggunakan Tumbuhan Kangkung Air (Ipomoea aquatica) NURKEMALASARI, RIKA; SUTISNA, MUMU; WARDHANI, EKA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.925 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i2.81-92

Abstract

AbstrakIndustri tapioka menimbulkan pencemaran air yang mengakibatkan penurunan kualitas air. Suatu teknologi seperti fitoremediasi diperlukan untuk menurunkan parameter pencemar limbah cair tapioka. Pada fitoremediasi mikroorganisme bekerjasama dengan tumbuhan untuk mendegradasi parameter pencemar. Penelitian fitoremediasi ini menggunakan Ipomoea aquatica yang bertujuan untuk mengetahui perlakuan optimum dalam menurunkan parameter BOD5, COD, TSS dan sianida pada limbah cair tapioka sehingga tidak melebihi baku mutu SK Gub Jabar no. 6 tahun 1999. Penelitian pendahuluan diperoleh hasil Ipomoea aquatica dapat tumbuh pada limbah cair tapioka 25%. Penelitan utama dilakukan 16 hari dengan tiga perlakuan (kontrol, Ipomoea aquatica 100 gram dan Ipomoea aquatica 200 gram). Perlakuan optimum menggunakan Ipomoea aquatica 200 gram yaitu BOD5 81,13% hari ke 16, COD 78,57% hari ke 16, TSS 59,29% hari ke 12 dan sianida 50% hari ke 4. Pertumbuhan biomassa kangkung air yang paling cepat terdapat pada Ipomoea aquatica 200 gram dengan laju pertumbuhan 67,05%. Setelah 16 hari Ipomoea aquatica dapat mengakumulasi sianida dan masih memenuhi standar baku mutu FAO yaitu 10 mg/kg.Kata kunci: limbah cair tapioka, fitoremediasi, Ipomoea aquatica.
Penyisihan Parameter Pencemar Lingkungan pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta Pemanfaatannya MUNAWAROH, ULUM; SUTISNA, MUMU; PHARMAWATI, KANCITRA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.84 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v1i2.93-104

Abstract

AbstrakLimbah cair tahu mengandung berbagai jenis pencemar lingkungan, misalnya BOD5, COD, TSS dan pH. Pembuangan limbah cair tahu ke badan air tanpa proses penanganan yang baik akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan suatu pengolahan limbah cair, salah satunya dengan EM4. Penelitian ini menggunakan prinsip reaktor batch dengan cara mencampurkan reaktan dalam suatu reaktor selama waktu tertentu. Reaktor yang digunakan berkapasitas 8 Liter dengan volume operasional 6 Liter. Variasi perlakuan pada penelitian ini yaitu tanpa EM4 (P1), menggunakan EM4 sebanyak 300 mL (P2) dan 600 mL EM4 (P3). Parameter yang diukur BOD5, COD, TSS, pH, N, P, dan K dengan waktu kontak selama 20 hari. Hasil penelitian P2 menunjukan pengolahan limbah cair tahu menggunakan EM4 mampu menurunkan nilai BOD5 97%, COD 96% di hari ke-5, P 0,001231% di hari ke-20, serta meningkatkan pH menjadi 7,26 di hari ke-15, TSS 1.545 mg/L di hari ke-20, N 1,12% di hari ke-20 dan K2O 0,2% di hari ke 20. Selain itu hasil uji terhadap Capsicum frutescens L menunjukan P2 berpotensi sebagai nutrisi tanaman dengan laju pertumbuhan 25,3%  dan tumbuhnya bakal cabang dalam waktu kontak 12 hari.Kata kunci: Limbah Cair Tahu, EM4, Sistem Batch.