Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PARADIGAMA PENDIDIKAN ISLAM PEMBEBASAN Syarif, Zainuddin
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 19, No 1 (2011): Islam, Budaya dan Pendidikan
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractLiberation- paradigmatic Islamic education tries to abdicate human from any threats. It is to grow the boldness to obey and submit Allah swt. Substantially, Islam is always in effort to appreciate human in equal degree, maintain the humanity, higly supports the values democration and justice, teaches telling the truth, and loves the poor and the oppressed. Kata-kata kuncipendidikan islam, pembebasan,
UPAYA ISLAM DALAM MEMBENDUNG BUDAYA KORUPSI Syarif, Zainuddin
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 17, No 1 (2010): Islam, Budaya dan Korupsi
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractCorruption is one of chronic diseases in Indonesia. A country that has majority population of Islam has the highest population level. The causes are the bad character of state apparatus and the damage of      political system and government That’s why Islam offers some solutions to solve corruption, such as proper salary, avoiding to receive a bribe and present, the counting of treasure in the first and the last of  position period, a good  model leader, equitable punishment and the most thing is  the controlling    from society.Kata-kata kunciKorupsi, koruptor, Islam, Sayyidina Umar bin al-Khattab
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF EPISTEMOLOGI ISLAM Syarif, Zainuddin
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 2, No 2 (2007)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Al-Qur’an sebagai sumber dasar epistemologi Islam tidak hanya menjadi sumber keimanan tetapi juga sumber ilmu pengetahuan. Kendati demikian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memerlukan penelitian dan eksperimen lebih lanjut. Hal inilah yang mengilhami para pemikir Islam tempo dulu mampu menerapkan sistem keilmuan terpadu. Ini menunjukkan hubungan ilmu dan agama tidak bertentangan. Iman dan rasionalitas cukup padu dalam Islam. Sains dan teknologi, ekonomi, sosial dan politik semuanya tercakup dalam ajaran Islam. Etika dan nilai-nilai Islam merupakan perpaduan yang meliputi seluruh aktivitas manusia. Maka dari itu, model arah pengembangan pendidikan yang lebih relevan adalah dititik­beratkan pada model interconnected entities bahwa masing-masing keilmuan sadar akan keterbatasannya dalam memecah­kan persoalan manusia, maka terbangunlah kerja sama setidaknya dalam hal yang menyentuh persoalan pendekatan (approach) dan metode berpikir dan penelitian (process dan procedure).
MITOS NILAI-NILAI KEPATUHAN SANTRI Syarif, Zainuddin
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 7, No 1 (2012)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang nuansa nilai kepatuhan santri tehadap kiai, khususnya dalam perilaku politik. Di mata santri, kiai diidentifikasi sebagai sosok figur kharismatik dan model (uswah) dari sikap dan tingkah laku, serta figus ideal sebagai penyambung silsilah keilmuan para ulama pewaris ilmu masa kejayaan Islam. Dari identifikasi tersebut melahirkan pola kepatuhan atau ketaatan santri terhadap kiai, yang terbagi pada tiga varian, yaitu: 1) kepatuhan mutlak; 2) kepatuhan semu; kedua perilaku ini ditunjukkan oleh santri aktif yang memiliki ikatan guru dan murid dengan kiai; dan 3) ketaatan prismatik yang ditunjukkan oleh santri alumni. Walaupun mereka masih memiliki ikatan guru dan murid, tetapi dalam perilaku politik berani berbeda dengan kiainya.
PENDIDIKAN PROFETIK DALAM MEMBENTUK BANGSA RELIGIUS Syarif, Zainuddin
JURNAL TADRIS STAIN PAMEKASAN Vol 9, No 1 (2014)
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh globalisasi dan modernisasi atau yang bersifat material positivistik. Namun, Indonesia tidak bisa juga menjadi bangsa yang hedon dan tanpa nilai, bangsa Indonesia ikut modernisasi tanpa meninggalkan ajaran agama. Untuk itu, dibutuhkan pendidikan profetik yang memiliki basis misi utama  kependidikan  Nabi, yakni pembentukan karakter yang bermula dari penanaman tauhid kepada Allah yang Maha  Esa, yang dibarengi  dengan  pembentukan  karakter positif lainnya sebagai basis untuk membangun pribadi yang kuat baik  secara akidah maupun mental. Pendidikan  profetik sejatinya  merupakan  proses  untuk memanusiakan  manusia, sehingga menjadi bangsa yang  berkarakter religius, yang tidak hanya berorientasi pada proses transformasi ilmu pengetahuan,  melainkan juga  harus diarahkan  pada  proses  transfer  nilai religius.
Post-truth and Islamophobia narration in the contemporary Indonesian political constellation Zainuddin Syarif; Syafiq A. Mughni; Abd Hannan
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 10, No 2 (2020): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v10i2.199-225

Abstract

This article discusses the phenomenon of post-truth politics, role, and its influence on the return of Islamophobic narratives in the dynamics of Indonesian political constellation. There are three main issues discussed in this study: post-truth, Islamophobia in Indonesia, and contemporary Indonesian political constellation. Using qualitative research and analysis of critical theory perspectives, this study found that the development of post-truth political practices indirectly evokes the narrative of Islamophobia in contemporary Indonesian political constellation. The return of the Islamophobia can be seen in three ways. First, the practice of post-truth politics which is rooted in the politicization of religion and ethnicity, it gives negative impact not only because of unhealthy process of leadership circulation in Indonesia, but has also faltered the reality of Indonesia's plurality as a pluralist state, both in terms of ethnicity and religion. Second, post-truth political practices in which contain propaganda, intimidation, lies and hate speech have stimulated the rise of sentiment towards religious social groups, as happened in the “212 Movement”. Third, the return of Islamophobic narratives due to political Post-truth appears to be increasing clashes and practices of religious intolerance in Indonesia, where intolerance is practiced by the majority against minority groups. Artikel ini mengkaji fenomena politik post-truth, peran dan pengaruhnya terhadap kembalinya narasi Islamophobia dalam dinamika konstelasi politik Indonesia kontemporer. Terdapat tiga permasalahan pokok yang dibahas dalam kajian ini: post-truth, Islamophobia, dan konstelasi politik Indonesia kontemporer. Dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif dan analisis perspektif teori kritis, studi ini mendapati temuan bahwa berkembangnya praktik politik post-truth, secara tidak langsung telah membangkitkan kembali narasi Islamophobia dalam konstelasi politik Indonesia kontemporer. Kembalinya narasi Islamophobia tersebut terlihat dalam tiga hal. Pertama, praktik politik post-truth yang berakar pada politisasi agama dan etnisitas, telah menimbulkan dampak negatif bukan saja pada tidak sehatnya proses sirkulasi kepemimpinan di Indonesia, namun juga telah membuat goyah realitas kemajemukan Indonesia sebagai negara pluralis, baik dari segi etnisitas maupun agama. Kedua, praktik politik post-truth yang di dalamnya berisikan propaganda, intimidasi, dan kebohongan, telah menstimulus bangkitnya sentimen terhadap kelompok-kelompok sosial keagamaan, seperti yang terjadi dalam gerakan Aksi Bela Islam 212. Ketiga, kembalinya narasi Islamophobia akibat politik post-truth nampak pada semakin meningkatnya benturan dan praktik intoleransi keagamaan di Indonesia, di mana intoleransi dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas.
RESPONSES OF PESANTRENS IN MADURA TOWARDS THE COVID-19 PANDEMIC Zainuddin Syarif; Syafiq A. Mughni; Abd Hannan
JOURNAL OF INDONESIAN ISLAM Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/JIIS.2021.15.1.47-74

Abstract

This study focuses on evaluating the socio-religious response of pesantren in Madura towards Covid-19 pandemic. Using qualitative research and analysis based on sociology of religion theory, this study found that pesantren in Madura present anticipatory response to curb the spread of Covid-19 by prioritizing aspects of personal safety and risk-avoiding, be it material or non-material. This responsive move is carried out by pesantren through a series of actions oriented towards protection and preservation principles. At the practical level, these principles are implemented in two approaches at once, structural and cultural. The structural approach refers to pesantren policies implementing health protocols in its vicinity, such as social and physical distancing, using hand sanitizer, temporarily stopping congregational worship activities, and postponing ceremonial religious activities that attract crowds. On the other hand, cultural approach refers to the involvement of pesantren in sounding religious calls to the general public to always abide by the health protocols and procedures for carrying out activities of worship amidst the Covid-19 pandemic crisis.
REKULTURASI PENDIDIKAN ISLAM DI TENGAH BUDAYA CAROK DI MADURA Syarif, Zainuddin
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Vol 22, No 1 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN PENDIDIKAN
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i1.544

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengungkap makna di balik fenomena pendidikan Islam ditengah-tengah budaya carok di desa Bujur. Desa ini rawan terjadi carok,meskipun lembaga pendidikan berbasiskan Islam menyebar di desa ini.Sayangnya, tradisi carok ternyata tidak bernading lurus dengan julah pendidikanIslam yang ada. Indikasi ini bisa dilihat dari fakta yang terjadi di lapanganbahwa kekerasan yang berwujud carok masih menjadi cara dalammenyelesaikan persoalan. Tulisan ini menunjukkan bahwa: pertama, ternyatapola pendidikan yang diterapkan dalam keluarga dan pola pendidikanmadrasah sangat dipengaruhi oleh kultur masyarakat yang keras, sehinggakekerasan terinstitusionalisasi dalam masyarakat. Oleh karena itu, rekulturasipendidikan Islam yang mengarah pada pola internalisasi nilai-nilai yangdemokratis mutlak dilakukan. Kedua, materi pendidikan Islam, baik di lembagapendidikan formal maupun yang non normal harus mempertimbangkankearifan lokal, di samping kurikulum nasional. Dalam kurikulum lokal,pembahasan tentang tradisi carok secara khusus, dan persoalan kekerasan searaumum, dalam pandangan Islam harus mendapat perhatian serius. Ketiga,pentingnya pembekalan pada guru agar menggunakan strategi dalam prosesbelajar mengajar sangat jarang sekali dilakukan, karena terkait dengan komposisiguru yang rata-rata bukan lulusan bidang kependidikan, dan otomatis kurangmemahami strategi dalam kegiatan belajar mengajar.
KONSEP PENDIDIKAN TÉNGKÂ (MORAL) MENURUT K.H. ABD HAMID BIN ISTBAT (1868-1933) BANYUANYAR PAMEKASAN (STUDI ANALISIS ATAS KITAB TARJÛMÂN) Syarif, Zainuddin
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol 15, No 1 (2018)
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.765 KB) | DOI: 10.19105/nuansa.v15i1.1915

Abstract

K.H. Abdul Hamid in the Tarjuman Kitab states that Moral Education (Tengka) is an education concept of the effort to grow the awareness of the students (santri) to make them a better person in the world and the life after. This concept is putting forward the ethics (Akhlaq) than the intellectual development. There are some points in emphasizing Moral Education (Tengka) of K.H. Abdul Hamid in the Tarjuman Kitab. First, this education concept using philosophical-anthropological paradigm. Here it states that human being is Abdul Allah (hamba) and Khalifah Allah (the substitutes in the world). In this book, there are many explanation about Ethics related to the relationship to Allah and relationship with human beings. Islam itself has set how they should keep their attitude well which will be useful for himself and his environment including for others. Secondly, this education is stressed more on internalizing the awareness of Tauhid to every student (santri) in the pesantren or school to make them know the pure characteristic of human being. The third, Moral Education (tengka) of K.H. Abdul hamid in the Tarjuman Kitab is obviously implemented in Pondok Pesantren Banyuanyar Pamekasan Madura. Fourth, Moral Education (tengka) K.H Abdul Hamid in the Tarjuman Kitab is still suitable with the Character based Education which is developed in Indonesia.
Fundamentalism and the Challenges of Religious Moderation in the New Normal Era Zainuddin Syarif; Abd Hannan
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 25, No 1 (2021): JUNE
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v25i1.4260

Abstract

This study examines the phenomenon of religious fundamentalism and its challenges of religious moderation in the midst the implementation of the new normal rules due to the Covid-19 pandemic. There are three focus research problems discussed in this study, namely; fundamentalism, moderation, and the new normal era. By using qualitative research and analysis based on the sociological theory of religion, this study finds a number of findings; first, one of the crucial issues in the midst of the implementation of the new normal Covid-19 policy is to promote the practice of fundamentalism in the name of religion. In many places, the problem of religious fundamentalism in the new normal era occurs in the form of crowd activities and religious crowds which do not follow the health protocol rules; second, the great danger of fundamentalism in the implementation of the new normal, it is not only because of their socio-religious activities which often violate health protocols, but also because their religious paradigm is identical to violence and anarchism, so that it often triggers socio-religious upheaval in society; third, the emergence of the phenomenon of religious fundamentalism in the new normal era today creates its own challenges for the future of moderation of religion throughout the world. The challenge lies in their religious paradigm, which often features fanatical, textual and exclusive attitudes, behaviors and ways of thinking. This attitude clearly contradicts moderation, which has always focused on universality values such as justice (al-adâlah), middle (al-tawassut), balance (al-tawâzun), and tolerance (al-tasâmuh). Studi ini mengkaji fenomena fundamentalisme agama dan problemnya terhadap moderasi beragama di tengah diterapkannya aturan new normal akibat pandemi Covid-19. Terdapat tiga fokus permasalahan penelitian yang dibahas dalam kajian ini, yaitu; fundamentalisme, moderatisme, dan era new normal. Dengan mempergunakan jenis penelitian kualitatif dan analisa berdasarkan teori sosiologi agama, studi ini mendapati sejumlah temuan; pertama, salah satu persoalan krusial di tengah pemberlakuan kebijakan new normal Covid-19 adalah mengemukanya praktik fundamentalisme atas nama agama. Di banyak tempat, problem fundamentalisme agama di era new normal terjadi dalam bentuk aktivitas keramaian dan kerumunan keagamaan yang dalam pelaksananya tidak mengikuti aturan protokol kesehatan; kedua, bahaya besar praktik fundamentalisme di tengah penerapan new normal, itu bukan saja karena aktivitas sosial keagamaan mereka yang seringkali melangar protokol kesehatan, namun juga karena paradigma keagamaan mereka yang identik dengan kekerasan dan anarkisme, sehingga tak jarang memicu gejolak sosial keagamaan di tengah masyarakat; ketiga, munculnya fenomena fundamentalisme agama di era new normal saat ini melahirkan tantangan tersendiri bagi masa depan moderasi agama di seluruh dunia. Tantangan tersebut ada pada paradigma keagamaan mereka yang seringkali menonjolkan sikap, perilaku, dan cara berpikir yang fanatik, tekstual, dan eksklusif. Sikap ini jelas jauh bersebrangan dengan moderatisme yang selama ini senantiasa menitikberatkan pada nilai keadilan universalitas seperti (al- adâlah), tengah-tengah (al-tawassut),  keseimbangan (al-tawâzun), dan toleran (al-tasâmuh).