Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

ANALISIS BEBAN KERJA PADA PROSES PRODUKSI CRUDE PALM OIL (CPO) DI PABRIK MINYAK SAWIT DENGAN KAPASITAS 50 TON TBS/JAM M. Atta Bary, M. Faiz Syuaib dan Muchlis Rachmat TIP
Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. 23 No. 3 (2013): Jurnal Teknologi Industri Pertanian
Publisher : Department of Agroindustrial Technology, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi Crude Palm Oil (CPO) merupakan proses ekstraksi minyak yang dilakukan di Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PKS). Tahapan proses di PKS dibagi dalam stasiun pengolahan yaitu loading ramp, sterilizer, thresher, screw press, klarifikasi, pabrik biji, serta stasiun penyuplai energi yaitu ketel uap dan ruang mesin. Kegiatan pengolahan TBS di PKS berkapasitas 50 ton TBS/jam berlangsung selama 24 jam per hari. Pekerjaan relatif berat, kondisi lingkungan kerja yang bising, suhu panas dapat mengakibatkan resiko kelelahan ataupun kecelakaan kerja dan penurunan produktivitas kerja. Analisis beban kerja melalui melalui metode pengukuran denyut jantung secara langsung pada operator saat melakukan pekerjaan dapat menggambarkan kondisi beban kerja yang sebenarnya terjadi. Analisis denyut jantung dilakukan untuk mengetahui tingkat beban kerja yang dialami operator secara kualitatif dan kuantitatif. Indikator tingkat beban kerja (kualitatif) menggunakan istilah Increase Ratio of Heart Rate (IRHR). Laju konsumsi energi (beban kerja kuantitatif) menggunakan istilah Total Energi Cost (TEC) dalam satuan kkal per menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat beban kerja secara umum adalah ―ringan‖ sampai dengan ―sedang‖ dengan nilai IRHR antara 1,15 sampai 1,74. Tingkat beban kerja tertinggi terjadi pada stasiun ketel uap dengan IRHR 1,74. Tingkat konsumsi energi (tenaga kerja manusia) adalah 1,58 sampai 3,30 kkal/menit.Kata kunci: pabrik minyak sawit, beban kerja, pengolahan tandan buah segar
Business Model Development Strategy for Frozen Food Micro-Businesses in The New Normal Era (Case Study: CV XYZ) Ardelia Nadhilah Rosyad; Rizal Syarief; M. Faiz Syuaib
Indonesian Journal of Business and Entrepreneurship (IJBE) Vol. 8 No. 1 (2022): IJBE, Vol. 8 No. 1, January 2022
Publisher : School of Business, IPB University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/ijbe.8.1.93

Abstract

The limitation of community movement in the new normal era has changed consumer behaviour to frozen food products, and digital marketing has been used to carry out a transaction. CV XYZ, a company that produces frozen food, must optimize the existing opportunities and utilize its strengths. The high level of social hygiene and the increasing demand for food integrity has become a challenge the company is facing today. Other than that, the company is now facing several obstacles on product development and channel limitation. Therefore, this research is aimed to identify the business model available, develop an alternative business strategy and create a new business model innovation. The data sources are from primary and secondary data; the primary data are observation, interview, FGD with the research experts, businessmen, and consumer survey. The secondary data used are literature studies such as journals, thesis, dissertation, economic data, and textbooks. Data processing techniques are carried out by analyzing business model canvas, SWOT, internal factor evaluation, and external factor evaluation , grand strategy, and 360° business model innovation. The result of SWOT analysis maps the company in quadrant one, which indicates the company is in high market growth and strong competitive position, so the company needs to improve its business model through BMI 360° analysis model. This model is used to help see the business activity process from creating value in the upstream until it can become the core competition downstream of a business process. Keywords: 360° business model innovation, business model canvas, small and medium enterprise (SMEs), SWOT, value
Kinerja Rantai Pasok Beras di Kabupaten Karawang : Performance of Rice Supply Chains in Karawang District Ahmad Irfan Nurmahdy; Machfud Machfud; M. Faiz Syuaib Syuaib
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol. 6 No. 2 (2020): JABM Vol. 6 No. 2, Mei 2020
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.6.2.325

Abstract

Karawang Regency is an area of rice production center which will be a model for supply chain studies in this research. This study aims to determine the condition of the rice supply chain, determine the performance of the rice supply chain, and formulate efforts to improve the performance of the rice supply chain. The method used is the Food Supply Chain Network (FSCN) and Supply Chain Operation Network (SCOR) approaches. Based on the results of research members of the rice supply chain starts from farmers, traders, and rice mills. The value of performance metrics for farmers that are still not in line with expectations include the metric for orders delivered in full, perfect conditions, production costs, ranges of debt and receivables payments. Obtained several factors causing ineffective and inefficient performance of the rice supply chain in Karawang regency in each supply chain actor. Factors affecting farmers are the high cost of farming and the long range of payment of receivables can be overcome by increasing knowledge and application of technological developments and agricultural machinery, and strengthening the function of farmer groups. Factors affecting collecting traders are the low value of suitability of procurement flexibility. Factors affecting the low performance of rice milling are procurement flexibility and shipping flexibility. Keywords: effort to improve the performance, paddy, performance measurement, SCOR, supply chain
Studi Ergonomi Pada Penyiapan Lahan Sawah Lebak Menggunakan Alat Tradisional Tajak di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Indya Dewi; M. Faiz Syuaib; Tineke Mandang
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 2 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.702 KB) | DOI: 10.19028/jtep.025.2.%p

Abstract

Abstract Traditional local farmers in South Kalimantan conventionally do the field preparation by using a traditional tool named “tajak”. This typical traditional tool is very appropriate for land preparation in marshland field which is enabling to cultivate without raising the pirit (FeS2) layer. However, it is quite difficult, hard and dangerous to operate tajak, and it’s difficult to learn by a novis operator as well. Therefore, ergonomics study will be beneficial to develop more convenient, safe and effective tajak.  The result of workload analysis revealed that tajak operation is an “extremey hard” workload, whichs the avarage of IRHR is 2.14.  The workload level of tajak operation is indicatively by workload intencity and swing elevation.  Regarding the Total energy cost per weight (TEC’) and hours of work (JOK), the tajak operation consumes  5.36 kcal/kg.hour and need 61.07 hour/ha in average.  Anthropometri and motion study analysed revealed that the dimentional suitability of tajak tool is strongly related to shoulders and waist heightly, arms length, and hands grips diameter.  Based on the result of tajak anthropometri and motion analyses, for better design of  tajak’s handle was recommended 75.70 cm. Keywords: tajak, marshland field, ergonomic, work load, motion analysis, anthropometri Abstrak "Tajak" adalah alat yang lazim digunakan untuk penyiapan lahanoleh umumnya petani padi rawa/lebak tradisional di Kalimantan Selatan. Alat ini sangat tepat dan sesuai untuk penyiapan lahan di area sawah lebak (rawa), di mana diperlukan suatu cara pengolahan dan penyiapan lahan yang tidak mengakibatkan naiknya lapisan pirit (FeS2) ke area perakaran tanaman. Cara penggunaan tajak relatif sulit, berat, dan berbahaya, bagi petani yang sudah berpengalaman sekalipun. Terlebih untuk para pemula, pengoperasian tajak sangat sulit dipelajari. Oleh karena itu, studi ergonomi ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengembangan desain serta cara penggunaan tajak yang lebih aman, nyaman dan efektif. Hasil analisis beban kerja mengindikasikan bahwa pengoperasian tajak tergolong pekerjaan "luar biasa berat", dengan nilai IRHR rata-rata 2.14. Tingginya tingkat beban kerja (IRHR) tersebut sangat ditentukan oleh dua indikator kerja, yaitu intensitas dan tinggi ayunan tajak. Laju konsusmsi energi kerja tajak adalah 5.36 kkal/jam.kg-bb (kilokalori per jam per berat badan operator), sedangkan rata-rata kebutuhan waktu kerja efektif adalah 61.07 jam/ha. Analisis antropometri dan gerak mengindikasikan bahwa tinggi bahu, tinggi pinggang, panjang lengan dan diameter genggaman tangan merupakan parameter terpenting untuk kesesuaian dimensional tajak terhadap operator penggunanya. Sesuai dengan antropometri petani setempat, panjang tangkai tajak ideal yang direkomendasikan adalah 75.70 cm. Kata kunci: tajak, lahan sawah lebak, ergonomi, beban kerja, analisis gerak, antropometri Diterima; 08 April 2011 ; Disetujui: 09 Agustus 2011    
Studi Waktu (Time Study) pada Aktivitas Pemanenan Kelapa Sawit di Perkebunan Sari Lembah Subur, Riau Kurnia Ayu Putranti; Sam Herodian; M. Faiz Syuaib
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 26 No. 2 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.691 KB) | DOI: 10.19028/jtep.026.2.%p

Abstract

ABSTRAK Optimasi produktivitas kerja merupakan hal yang diinginkan oleh perusahaan. Produk yang optimum dan berkualitas akan meningkatkan profit perusahaan. Peningkatan produktivitas yaitu dengan metode atau cara kerja, studi terhadap waktu (time study) dan gaji atau upah. Metode atau cara kerja perlu dipelajari agar produktivitas kerja dapat dicapai. Kelelahan kerja dapat dikurangi sehingga waktu yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk menjadi semakin singkat. Tujuan penelitian ini adalah menentukan elemen-elemen kerja pada aktivitas pemanenan kelapa sawit berdasarkan pola keseragaman kerja, menentukan waktu baku pada sejumlah elemen kerja yang terlibat dalam aktivitas pemanenan kelapa sawit. Waktu baku untuk mengidentifikasi tandan (Ve) pada topografi teras (T)- lahan kering (K)- ketinggian pohon kurang dari 3 meter (H1) sebesar 3.21detik, Ve pada T-K-ketinggian pohon 3-6 meter (H2) sebesar 2.39 detik, Ve pada topografi flat (F)-K-H1 sebesar 3.45 detik, Ve pada F-K-H2 sebesar 4.59 detik, Ve pada F-lahan basah (B)-H1sebesar 4.27 detik. Waktu baku untuk menyiapkan alat panen (Pr) sebesar 6.45 detik. Waktu baku untuk memotong tandan dan pelepah (Cu) pada T-K-Dodos (D) sebesar 29.86 detik, Cu pada T-K-E1 (egrek) sebesar 38.47 detik, Cu pada T-K-E2 sebesar 57.91 detik, Cu pada F-K-D sebesar 14.19 detik, Cu pada F-K-E1 sebesar 25.88 detik, C F-K-E2 sebesar 21.06 detik, Cu pada F-B-D sebesar 21.13 detik. Waktu baku untuk mencacah dan memindahkan pelepah (Ba) sebesar 9.53 detik. Waktu baku untuk membuang sisa tangkai TBS (Ck) sebesar 1.74 detik. Waktu baku untuk memungut brondolan (Br) pada T-K-H1 sebesar 51.48 detik, Br pada T-K-H2 sebesar 20.32 detik, Br pada F-K-H1 sebesar 37.03 detik, Br pada F-K-H2 sebesar 51.75 detik, Br pada F-B-H1 sebesar 29.67 detik. Waktu baku untuk memuat tandan ke angkong (Lo) sebesar 3.75 detik. Waktu baku untuk perpindahan dengan membawa angkong kosong (UDA) sebesar 9.39 detik, perpindahan dengan membawa tandan (MoT) sebesar 8.68 detik, perpindahan dengan membawa angkong dan tandan (MoAT) sebesar 13.52 detik, dan perpindahan tanpa membawa apapun (UDK) sebesar 15.07 detik. Waktu baku untuk membongkar dan merapihkan tandan di TPH (Un) sebesar 6.56 detik. Waktu baku untuk kelambatan yang dapat dihindarkan (AD) sebesar 10.83 detik.   Kata Kunci  :Pemanenan, Kelapa Sawit, Waktu Baku ABSTRACT Optimization of work productivity is needed  by  company. Optimum products will increase the company's profit. Productivity can be improved by method of working, time study, and salary. Working methods need to be studied in order to reduce fatigue of work so the time needed to produce a product becoming decreased. The aim of the research is to determine elements of work on oil palm harvesting activities based on patterns of working time, determination time standard on elements of the work in activity of oil palm harvesting. Research stage in oil  palm harvesting activities were introduction, data collecting, data  processing, and  improvement. Standar time for verify the maturity of fruit (Ve) on terrace topography (T)- dry land (K)-the height of trees 0-3 m (H1) is 3.21 second, Ve on T-K- the height of trees 3-6 m (H2) is 2.39 second, Ve on flat topography (F)-K-H1 is 3.45 second, Ve on F-K-H2 is 4.59 second, Ve on F-wet land (B)-H1 is 4.27 second. Standar time for prepare harvesting tool (Pr) is 6.45 second. Standar time of cutting the fruit and stem of (Cu) on the T-K-D is 29.86 second, Cu on T-K-E1 is 38.47 second, Cu on T-K-E2 is 57.91 second, Cu on F-K-D is 14.19 second, Cu on F-K-E1 is 25.88 second, Cu on F-K-E2 is 21.06 second, Cu on F-B-D is 21.13 second. Standar time for moving the stem (Ba) is 9.53 second. Standar time for cutting the stalks (Ck) is 1.74 second. Standar time picking up the fallen fruits “brondolan” (Br) on T-K-H1 is 51.48 second, Br on T-K-H2 is 20.32 second, Br on F-K-H1 is 37.03 second, Br on F-K-H2 is 51.75 second, Br on F-B-H1 is 29.67 second. Standar time for loading fruit (Lo) is 3.75 second. Standar time for moving by carrying empty “angkong” (UDA) of 9.39 second, moving by carrying fruit (MoT) is 8.68 second, moving by carrying  fruits and “angkong” (MoAT) is 13.52 second, moving (UDK) is 15.07 second. Standart time for unloading (Un) is 6.56 second. Standar time for avoidable delay is 10.83 second. Keywords : harvesting, oil palm, standar time
Desain Model Diagnostik Resiko Ergonomi pada Kelapa Sawit Secara Manual Nugraha Sani Dewi; M. Faiz Syuaib; Lenny Saulia
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 3 No. 1 (2015): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1110.755 KB) | DOI: 10.19028/jtep.03.1.%p

Abstract

AbstractOil palm harvesting activity is mostly done by ‘human power’ manual handling, therefore the activity may cause work safety and health problems.This research is deal with anthropometry, motion study andbiomechanic to find out the risk of manual handling and to develop ergonomic assessment model of oil palm harvesting. This model was designed in the aims to find out better work motion, good procedure and better design of harvesting tool, so the manual harvesting can be done in more safe, efficient and productive. The formula for the appropriate distance between harvester’s position and the tree and the length of egrek show that oil palm harvesting for more than 16 m bunches’s height is not safe with ‘egrek’. Critical load for neck, shoulder and forearm are 21.85 N, 1091.96 N and 1634.31 N. Ergonomic risk assesment’s tool of oil palmmanual harvesting was designed with the parameter: appropriate distance (dt), the length of egrek (lp), critical range of motion (CRM) and critical load (CL) for neck, shoulder and forearm.Keywords: biomechanic, ergonomic, motion study, manual harvesting, oil palm.AbstrakPemanenan kelapa sawit secara manual berpotensi menimbulkan permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan biomekanik, studi gerak dan antropometri untuk mendesain model diagnostik resiko ergonomi pada pemanenan kelapa sawit secara manual. Model ini didesain untuk menghasilkan gerak kerja pemanenan dan prosedur pemanenan yang lebih baik serta rekomendasi panjang egrek yang dibutuhkan sehingga kegiatan pemanenan dapat dilakukan secara aman, efektif dan produktif. Hasil simulasi pemanenan menghasilkan formulasi jarak aman dt (m) dan formulasi panjang egrek yang dibutuhkan lp (m). Berdasarkan formula tersebut, pemanenan kelapa sawit dengan tinggi target pohon lebih dari 16 m sudah tidak aman untuk dilakukan dengan menggunakan egrek. Batas beban (critical load) yaitu 21.85 N untuk otot leher, 1,091.96 N untuk otot deltoid bahu dan 1,634.31 N untuk otot branchioradialis lengan bawah. Model diagnostik resiko ergonomi pada pemanenan kelapa sawit telah dirancang dengan parameternya adalah jarak aman (dt), panjang batang egrek yang dibutuhkan (lp), critical range of motion (CRM) dan critical load (CL) pada leher, bahu dan lengan bawah.Kata kunci: ergonomika, studi gerak, biomekanik, kelapa sawit, pemanenan.Diterima: 28 Oktober 2014; Disetujui: 20 Januari 2015
Studi Gerak Kerja Pemanenan Kelapa Sawit Secara Manual M. Faiz Syuaib; Nugrahaning Sani Dewi; Tri Novita Sari
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 3 No. 1 (2015): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1841.501 KB) | DOI: 10.19028/jtep.03.1.%p

Abstract

AbstractGood harvesting technique and timing is necessary to result good productivity in oil-palm industies. The harvesting activity is mostly conducted by ‘human powered’ manual handling which quite arduous and risky in term of work safety and musculoskeletal disorders (MSD). This research deals with anthropometry and motion study to analyse manual harvesting activity in oil palm plantation so the activity can be done in more safety, efficient and productive. Motion study using Natural Range of Motion (ROM) is applied to know the level of motion risk based on ROM indeks and appropriate antropometry. Manual harvesting tasks by usingconventional tools named ‘dodos’ and ‘egrek’ were studied in this research. The aims of this research is to know the pattern and risks distribution of the work motions, and then to determine a good harvestingprocedure to minimize the risk. The anthropometry result show that the harvester posture is ideal and uniform. The ‘cutting with egrek (CuE)’ was found as the most risky work element in the manual harvestingtask, and the MSD risks occur on the neck, shoulder, forearm, back and ankle.Such work procedures should be designed and appropriate working distance and length of tool are required to prevent the risks. Work motion simulation revealed that 1.5, 2.5, 5.5, and 8.5 mare suitable working distance to harvest 3, 6, 12 dan 18 mheight of targeted bunches, respectively.Keywords: ergonomic, manual harvesting, oil palm, motion study, anthropometryAbstrakTeknik dan waktu pemanenan yang tepat diperlukan untuk mencapai produktivitas yang baik di industri kelapa sawit. Kegiatan panen sawit secara umum masih dilakukan secara manual mengandalkan tenagamanusia yang tergolong cukup sulit dan beresiko tinggi dalam hal keselamatan kerja dan gangguan muskuloskeletal (MSD). Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisis kegiatan panen-muat kelapa sawit di beberapa perkebunan sawit dengan pendekatan ergonomi dan mekanisme kerja yang optimal, baik dari sudut pandang efektivitas maupun keselamatan kerja. Lingkup yang dikaji dalam kajian ini adalahberfokus pada analisis antropometri serta gerak kerja pemanenan dengan pendekatan selang gerak alami (natural Range of Motion: ROM). Kajian ini juga meliputi dua metode dan alat panen yang lazim digunakan, yaitu ‘dodos’ dan ‘egrek’. Hasil analisis antropometri secara umum menunjukkan bahwa pemanen di ketiga lokasi memiliki karakteristik postur tubuh yang relatif sama. Analisis gerak membuktikan bahwa elemen kerja yang terkait pemotongan tandan buah segar (TBS) memiliki resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan elemen kerja yang terkait dengan evakuasi dan pengumpulan TBS. Elemen kerja ‘cutting egrek(CuE)’ teridentifikasi sebagai pekerjaan paling beresiko, dimana segmen tubuh yang paling beresiko adalah leher, bahu, punggung-pinggang, lengan hingga pergelangan kaki. Desain ergonomis terkait prosedur danjarak kerja diperlukan untuk meminimasi resiko tersebut, dan hasil simulasi menunjukkan bahwa jarak kerja yang ideal dan aman untuk ketinggian target potong (TBS) 3, 6, 12 dan 18 m berturut-turut adalah 1,5, 2,5, 5,5 dan 8,5 m.Kata Kunci : ergonomika, pemanenan manual, kelapa sawit, studi gerak, antropometriDiterima: 02 Desember 2014 ; Disetujui: 24 Februari 2015
Pengembangan Model Pendugaan Kadar Hara Tanah Melalui Pengukuran Daya Hantar Listrik Tanah Hasbi Mubarok Suud; M. Faiz Syuaib; I Wayan Astika
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 3 No. 2 (2015): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1460.707 KB) | DOI: 10.19028/jtep.03.2.%p

Abstract

The key of precision farming is the right decision in terms of time, quality, quantity, and specific location in the farming activities. Soil electrical conductivity (EC) is a variable that is both practical and efficient to implement precision farming. Several methods of EC measurement for precision farming have been developed and applied in precision farming, but inaccuracy on the interpretation of measurement result frequently encountered due to complexity of soil conditions and various geospatial condition. This paper presents a study on EC interpretation by focusing on interaction between moisture content, soil density, and soil N, P, K ratio which affect soil EC measurement. Soil samples of various levels of water, compaction, and N, P, K ratio are measured using a soil box resistivity. The levels of moisture contents were devided into low moisture content that have moisture content less then 20% and high moisture content that have moisture content more than 20%, while the levels of soil compaction were devided into high density condition and low density condition. Regression equations for N, P, and K ratio prediction have been generated and the coefficient of determination (R2) were obtained ranging between 0.6 and 0.89 for low moisture content and
Studi Waktu dan Beban Kerja untuk Penentuan Kebutuhan dan Distribusi Pekerja pada Alur Produksi Nanas Kaleng Arnal Novistiara; Muhammad Faiz Syuaib
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 5 No. 1 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2081.322 KB) | DOI: 10.19028/jtep.05.1.%p

Abstract

AbstractErgonomic considerations are important approach in determining the optimal number of worker on suchan industrial production line. Ergonomical approach may assess suitability of labor characteristic to the condition of the task, hence the optimum results will be achieved on minimum risk and maximum productivity. The aim of this study was to determine the work elements and production flow, standard time, workload and energy consumption rate on production processes of caned pineapple. With the ergonomic parametersobtained, optimum number and distribution of workers for sequencial work elements to meet company's production targets were designed. The results revealed that a line production of canned pineapple consist 22 work elements. The standard time to produce 420 gram (A2-size) canned pineapple was 27.608 s consumed 0.714 kcal equivalent of work energy cost. Based on the analysis of standard time and workloadit was 383 workers required to produce 250000 canned pineapple in the production line.AbstrakPertimbangan ergonomika merupakan pendekatan penting dalam menentukan jumlah tenaga kerja optimal dalam suatu alur produksi sebuah industri. Dengan melakukan pendekatan ergonomika dapat mengevaluasi kesesuaian antara tenaga kerja dengan kondisi pekerjaan sehingga hasil optimal akandicapai pada resiko pekerjaan yang minimal dan produktivitas yang maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan elemen kerja dan alur proses, waktu baku, beban kerja dan laju konsumsi energi dalam kegiatan produksi nanas kaleng. Berdasarkan parameter-parameter ergonomika yang telahdiperoleh, kebutuhan tenaga kerja dan distribusinya yang optimal pada setiap sekuensial elemen kerja untuk mencapai target produksi perusahaan dapat didesain. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 22 elemen kerja dalam proses produksi nanas kaleng. Waktu baku untuk memproduksi satu buah kaleng nanas 420 gram (ukuran A2) adalah 27.608 detik dengan energi yang dibutuhkan sebesar 0.714 kkal setara dengan energi untuk bekerja. Berdasarkan analisis waktu baku dan beban kerja tersebut menunjukkan bahwa dibutuhkan 383 tenaga kerja untuk menghasilkan 25000 nanas kaleng pada proses produksi nanas kaleng.
Desain Ergonomis Sistem Penggandengan Trailer pada Traktor Roda Dua Muhammad Dhafir; Tineke Mandang; Wawan Hermawan; Muhammad Faiz Syuaib
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1106.322 KB) | DOI: 10.19028/jtep.07.1.99-106

Abstract

AbstractThe existing hitch system which pulled trailer on the two-wheel tractor had disadvantages when turning it, the tractor handlebar moved away from operator control, consequently the handlebar position is already beyond the operator control range so the operator had to bend. For a larger radius turning, the operator had to descend from operator seat. The purpose of this study was to design an ergonomic trailer hitching system for Indonesian operator. Prototype tests carried out include performance and functional testing. The pivot type trailer hitching system was the most superiortype compare to the other concept. With the design of this system the operator's position is fixed to the handlebars of the two-wheeled tractor, both in straight and turn operations, so that theoperator can fully control the two-wheeled tractor along with all the control levers. The ideal dimension of the operator seat were seat height of 410 mm, backrest distance of 1700 mm, seat length of 320 mm, and seat width of 300 mm. Two-wheel tractor with pivot type trailer hitching system has a turning radius of 2.18 m - 2.82 m better than existing system of 3.72 m - 4.03 m.AbstrakSistem penggandengan konvensional untuk menarik trailer pada traktor roda dua memiliki kelemahan pada saat berbelok, stang traktor bergerak menjauh dari posisi kendali operator, akibatnya posisi stang sudahberada di luar kendali jangkauan operator sehingga operator harus membungkuk. Untuk belokan dengan sudut yang lebih besar operator harus turun dari tempat duduk operator untuk dapat mengendalikan traktor. Tujuan penelitian adalah untuk mendesain sistem penggandengan trailer yang ergonomis untuk operator Indonesia.Pengujian-pengujian prototipe yang dilakukan meliputi pengujian kinerja dan fungsional. Sistem penggandengan trailer tipe pivot merupakan yang paling unggul dibandingkan dengan konsep-konsep lainnya. Dengan desain sistem ini posisi operator adalah tetap terhadap alat-alat kendali traktor, baik dalam keadaan berjalan lurus maupun berbelok, sehingga operator dapat sepenuhnya mengendalikan traktor roda dua beserta semua tuastuas kendalinya. Dimensi-dimensi ideal tempat duduk operator (seat) adalah tinggi tempat duduk (Td) 410 mm, jarak sandaran duduk (Jd) 1700 mm, panjang tempat duduk (Pd) 320 mm, dan lebar tempat duduk (Ld) 300 mm. Traktor roda dua dengan sistem penggandengan tipe pivot memiliki radius putar 2.18 m – 2.82 m, lebih baik dibandingkan sistem konvensional yaitu 3.72 m – 4.03 m.