Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penentuan kondisi proses pengeringan temu lawak untuk menghasilkan simplisia standar Manalu, Lamhot P.; Tambunan, Armansyah H.; Nelwan, Leopold O.
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 23, No 2 (2012): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3157.131 KB)

Abstract

The purpose of this research was to study the effect of drying conditions on the simplicia quality of java turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) and determine the best conditions to make standardized simplicia. There are some criteria such as the conditions which can reach the standard moisture content of 10%, drying time is relatively fast, the result of dried simplicia still contains high level of curcumin, optimum shrinkage and good visual appearance. The results showed that the final moisture content can not reach 10% at the drying temperatures below 50 °C and RH above 40%. The average surface area shrinkage during the drying process crude ginger was 66.2%. There is a tendency of the lower temperatures and higher RH drying the higher levels of curcumin. Drying condition for Java turmeric recommended by this research is at a temperature of 50 °C and 30% RH.Keywords : Curcumin, drying, java turmeric, quality standardAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kondisi proses pengeringan terhadap mutu simplisia temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dan menentukan kondisi proses pengeringan terbaik untuk menghasilkan simplisia standar. Kriteria kondisi tersebut adalah yang dapat memenuhi kadar air standar 10%, waktu pengeringan yang relatif cepat, hasil pengeringannya masih mengandung kadar kurkumin yang tinggi dan penyusutan serta tampilan visual yang optimal. Hasil studi menunjukkan bahwa pada kondisi pengeringan di bawah suhu 50 oC dan RH diatas 40% kadar air akhir temu lawak tidak dapat mencapai kadar air standar. Rata-rata penyusutan luas permukaan simplisia temu lawak selama proses pengeringan adalah 66,2%. Terdapat kecenderungan semakin rendah suhu dan semakin tinggi RH pengeringan maka semakin tinggi kadar kurkumin simplisia temu lawak. Kondisi proses pengeringan simplisia temu lawak yang direkomendasikan adalah pada suhu 50 oC dan RH 30%.Kata kunci : Kurkumin, mutu, pengeringan, standar, temu lawak
ANALISIS ENERGI DAN EKSERGI PENGERINGAN LAPISAN TIPIS TEMU PUTIH Manalu, Lamhot P.; Tambunan, Armansyah H.; Nelwan, Leopold O.; Hoetman, Agus R.
185P -3466
Publisher : Agency for the Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.478 KB)

Abstract

This paper is concerned with the energy and exergy analyses of the thin layer drying process of temu putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Rosc) at three different air temperatures (40, 50 and 60 oC) and air relative humidities (RH 20%, 40% and 60%) using a laboratory dryer. Using the first law of thermodynamics, energy analysis was carried to estimate the amounts of energy gained from air drying and the ratios of energy utilization. However, exergy analysis was accomplished to determine exergy losses and exergy efficiencies during the  drying process by applying the second law of thermodynamics. The values of energy and exergy efficiencies were found to be in the range of 23.5 - 49.1% and 3.8-14.1% from 40 to 60 oC, respectively,  while from RH 20% to 60% its values are 48.4-62.8% and 13.6-14.6%, respectively.
Kondisi Optimum Produksi Bioetanol Dari Rumput Laut Coklat (Sargassum duplicatum) Menggunakan trichoderma Viride dan Pichia angophorae Sari, Rodiah Nurbaya; Bandol Utomo, Bagus Sediadi; Tambunan, Armansyah H.
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i2.105

Abstract

Rumput laut coklat Sargassum duplicatum selain banyak digunakan untuk industri makananminuman, kosmetik, dan farmasi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produksi bioetanol karena kandungan selulosanya tinggi dan ligninnya rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimum hidrolisis enzimatis untuk produksi bioetanol dari rumput laut coklat S. duplicatum dengan menggunakan kapang Trichoderma viride dan kondisi optimum untuk fermentasi menggunakan khamir Pichia angophorae sehingga diperoleh rendemen etanol yang tinggi. Metode yang digunakan terdiri dari beberapa tahap yaitu karakterisasi S. duplicatum, hidrolisis enzimatis dengan menggunakan T. viride, dan fermentasi dengan P. angophorae. Etanol kasar (crude) yang dihasilkan berdasarkan waktu optimum dari hidrolisis enzimatis dan fermentasi kemudian didistilasi untuk meningkatkan kadar etanolnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimum untuk hidrolisis enzimatis adalah selama 4 hari pada suhu 28 oC dan pH 5,77 dengan aktivitas enzim CMCase 3,48 IU/ml yang menghasilkan gula total 3,01 g/L dan gula pereduksi total 4,26 mg/L. Sedangkan waktu optimum untuk fermentasi adalah selama 3 hari pada suhu 29 oC dan pH 4,17 dengan tingkat pertumbuhan (OD 600) P.angophorae 0,48; oksigen terlarut 13,4%; konsentrasi CO2 440,33 mg/L yang menghasilkan kadar etanol kasar 0,04 g/L. Proses distilasi dapat meningkatkan kadar etanol menjadi 10,50 g/L.
ANALISIS ENERGI DAN EKSERGI PENGERINGAN LAPISAN TIPIS TEMU PUTIH Manalu, Lamhot P.; Tambunan, Armansyah H.; Nelwan, Leopold O.; Hoetman, Agus R.
185P -3466
Publisher : Agency for the Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.478 KB)

Abstract

This paper is concerned with the energy and exergy analyses of the thin layer drying process of temu putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Rosc) at three different air temperatures (40, 50 and 60 oC) and air relative humidities (RH 20%, 40% and 60%) using a laboratory dryer. Using the first law of thermodynamics, energy analysis was carried to estimate the amounts of energy gained from air drying and the ratios of energy utilization. However, exergy analysis was accomplished to determine exergy losses and exergy efficiencies during the drying process by applying the second law of thermodynamics. The values of energy and exergy efficiencies were found to be in the range of 23.5 - 49.1% and 3.8-14.1% from 40 to 60 oC, respectively, while from RH 20% to 60% its values are 48.4-62.8% and 13.6-14.6%, respectively.