Ana Lestari Uriptiningsih
Sekolah Tinggi Teologi KADESI Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

STUDI EKSPLANATORI DAN KONFIRMATORI TENTANG PENYEMBAH YANG BENAR BERDASARKAN YOHANES 4:1-26 DI KALANGAN JEMAAT ARAS GEREJA NASIONAL SE-KOTA JEMBER Yudi Handoko; Ana Lestari Uriptiningsih
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.147

Abstract

By and large, human beings are worshiping creatures (homo adorance). Hence, there is a need for human beings to worship an entity greater and more prominent than themselves. The need is more apparent in religious communities. Religious persons identify such an entity as GOD/ALLAH. However, in its development, practices of worship are no longer centered on GOD/ALLAH. For example, the essence of worship does not conform to the will of God as written in John 4:1-26. This study will analyze the implementation of true worship according to John 4:1-26 in mainstream churches in Jember. It will use explanatory and confirmatory survey methods, which combine the literature survey and interpretation of 150 samples. The result highly suggests that the mainstream churches in Jember have been implementing the worship in spirit and truth. Out of two dimensions implied by John 4:1-26, the most effective one is worship in spirit. In addition, the most significant category influencing true worship is service. Secara umum, manusia adalah makhluk penyembah (homo adorance).  Dalam diri manusia secara universal terdapat kebutuhan untuk menyembah sesuatu yang diyakini lebih besar dan tinggi dari dirinya.  Kebutuhan ini semakin nyata dalam diri umat beragama.  Manusia beragama menyebut sosok atau oknum yang lebih besar dan tinggi dari dirinya sebagai TUHAN/ALLAH. Dalam perkembanganya, penyembahan melenceng dan tidak lagi berpusat pada TUHAN/ALLAH. Hakikat ibadah pun tidak lagi sesuai dengan yang dikehendaki Allah dalam Yohanes 4:1-26. Studi ini akan meneliti implementasi penyembahan yang benar berdasarkan Yoh. 4:1-26 di Aras Gereja Nasional se-kota Jember. Penelitian ini akan menggunakan metode survei eksplanatori dan konfirmatori melalui studi kepustakaan sebagai landasan teori dan angket pernyataan terhadap 150 sampel dari kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-Kota Jember. Hasilnya, ditemukan bahwa Gereja Nasional se-kota Jember telah melakukan penyembahan dalam roh dan kebenaran dengan perolehan angka yang tinggi. Dari dua dimensi yang termaktub dalam Yohanes 4:1-26 diperoleh bahwa dimensi yang paling memengaruhi tingkat implementasi penyembah yang benar di kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-kota Jember adalah “Penyembah Dalam Roh” dan kategori yang paling berpengaruh terhadap tingkat implementasi penyembah yang benar berdasarkan Yohanes 4:1-26 di kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-kota Jember adalah kategori latar belakang “Jenis Pelayanan”.
Teacher Competence Based on the Gospel of Matthew Ana Lestari Uriptiningsih; Muner Daliman
Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.837 KB) | DOI: 10.52489/jupak.v2i2.72

Abstract

Christian education is part of many types of ministry that are essential in all Christ-centered learning activities. But there are still some Christian Education teachers who consider teaching in this field only done because of the work obligation factor. Matthew 28:20 puts pressure on the word "teach." That means that the church must be someone ready to educate every believer. The purpose of the study was to find out the Teaching Competence of Teachers Based on the Gospel of Matthew. The results found state that Jesus Christ has a Teacher Competency that must be exemplified by all teachers, especially Teachers of Christian Education so that all learners become persons who have character and are ready to serve.
Penerapan PAIKEM GEMBROT BERDASI Sebagai Alternatif Model Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Pada Masa Pandemi Covid -19 Di Sekolah Dasar Thomas Prajnamitra; Ana Lestari Uriptiningsih
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 2 (2021): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Oktober 2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.146 KB) | DOI: 10.52879/didasko.v1i2.19

Abstract

Transformation is an inevitable thing in the world of education, especially during the Covid-19 pandemic, which requires students to study from home. Many parties are proven not ready to face this change, one of which is the elementary school level. It becomes a homework for elementary school teachers in general to innovate in providing effective and innovative learning related to the implementation of distance learning so that students do not feel overwhelmed and bored. Considering the age of primary school, most students do not yet have their own cellphones (Mobile) and still rely on their parents' cellphones and the age of elementary school children still needs parental assistance in understanding lessons. Especially in Christian religious education learning which tends not only to fulfill students' cognitive abilities but also in shaping the character and personality of students who fear God. Therefore, one of the approaches that teachers can take in implementing learning is to be oriented toward the PAIKEM GEMBROT BERDASI. PAIKEM GEMBROT BERDASI is Active, Innovative, Creative, Effective, Fun, Joyful and Weighted Online Learning and Collaboration. Through the PAIKEM GEMBROT BERDASI approach, the teacher can explore Christian religious education subjects that are usually carried out at school to the maximum because the teacher makes an approach that links and integrates based on activities that students meet and do in everyday life through collaboration with people. parents of students as educational facilitators at home in the implementation of online learning.AbstrakTransformasi merupakan hal yang tidak terelakkan dalam dunia pendidikan terutama disaat pandemi covid-19 yang mewajibkan siswa belajar dari rumah. Banyak pihak terbukti belum siap dalam menghadapi perubahan ini salah satunya adalah jenjang Sekolah Dasar. Menjadi suatu pekerjaan rumah bagi guru sekolah dasar secara umum untuk berinovasi dalam menyediakan pembelajaran yang efektif dan inovatif terkait penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh agar siswa tidak merasa terbebani dan jenuh. Mengingat usia sekolah dasar kebanyakan siswa belum memiliki HP ( Handphone ) sendiri dan masih mengandalkan HP orang tua mereka serta usia anak sekolah dasar masih butuh pendampingan orang tua dalam memahami pelajaran. Apalagi dalam pembelajaran pendidikan Agama Kristen yang bukan hanya bertendensi pada pemenuhan koginitif siswa saja tetapi juga dalam pembentukan karakter dan kepribadian siswa yang takut akan Tuhan. oleh sebab itu salah satu pendekatan yang bisa dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah dengan berorientasi PAIKEM GEMBROT BERDASI. PAIKEM  GEMBROT  BERDASI  adalah Pembelajaran  Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot Berbasis Daring dan kolaborasi. Melalui pendekatan PAIKEM GEMBROT BERDASI guru dapat mengeksplorasi mata pelajaran pendidikan agama Kristen yang biasa dilakukan di sekolah dapat dilakukan  di rumah dengan maksimal karena guru membuat suatu pendekatan yang mengaitkan dan mengintegrasikan yang berbasis kegiatan yang siswa temui dan lakukan dalam kehidupan sehari-hari melalui kolaborasi dengan orang tua siswa sebagai fasilitator pendidikan di rumah dalam pelaksanaan pembelajaran daring.
Fenomena Tren Perceraian dan Perkawinan Kembali Menjelang Kedatangan Anak Manusia Stefanus Yulli Sapto Ajie; Ana Lestari Uriptiningsih; Tri Endah Astuti
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.219 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i5.6696

Abstract

Fenomena meningkatnya tren perceraian yang diikuti dengan perkawinan kembali terhadap jemaat kristen sekarang ini, jumlahnya semakin bertambah banyak. Dari tahun ke tahun, perceraian bukannya berkurang, tetapi justru semakin menunjukkan peningkatan. Indonesia termasuk Negara dengan jumlah perceraian tertinggi di dunia. Kasus perceraian di Indonesia kembali melonjak. Menurut laporan Statistik Indonesia, jumlah kasus perceraian di Tanah Air mencapai 447.743 kasus pada 2021, meningkat 53,50% dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 291.677 kasus. Laporan ini menunjukkan kalangan istri lebih banyak menggugat cerai ketimbang suami. Sebanyak 337.343 kasus atau 75,34% perceraian terjadi karena cerai gugat, yakni perkara yang gugatannya diajukan oleh pihak istri yang telah diputus oleh Pengadilan. Bahkan kejadian perceraian dan perkawinan kembali tidak hanya terjadi pada kalangan jemaat Tuhan tetapi juga melibatkan para hamba Tuhan, yang berdampak menghalangi Kekristenan dalam memenuhi perannya sebagai terang dan garam dunia. Pemahaman pernikahan dalam kekristenan masa kini telah mengalami pergeseran makna dan telah dipersempit dengan berbagai-bagai pemahaman yang tidak sesuai dengan hakikat dan pengertian pernikahan dalam Alkitab. Padahal pernikahan adalah kehendak dan inisiatif Allah. Allah menciptakan laki-laki yakni Adam dan melihat bahwa tidak baik manusia itu seorang diri, sehingga di ciptakan-Nya seorang perempuan sebagai penolong bagi Adam, yakni Hawa. Kejadian Pasal 3 telah merubah segalanya, sebagai akibat manusia jatuh kedalam dosa, segala konsep kehendak Allah pada diri manusia menjadi rusak, manusia cenderung mengikuti kehendak bebas hatinya, bukan kehendak bebas yang dikehendaki oleh Allah, sebagai akibatnya banyak kalangan orang kristen bahkan seorang pemimpin gereja atau hamba Tuhan yang melakukan praktek perceraian dan perkawinan kembali. Sekalipun dalam Matius 19, difirmankan tentang larangan perceraian dan pernikahan kembali. Kasus perceraian membuat kehidupan iman Kristen tidak bisa menjadi teladan.