Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

THEME ANALYSIS THE FALL OF THE HOUSE OF USHER Vika Hanjani Putri, Putu; Tika, I Ketut; Winaya, I Made
Humanis Volume 16. No. 2. Agustus 2016
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umumnya, sastra dapat didefinisikan sebagai ekspresi individu manusia yang berasal dari pengalaman, perasaan pikiran, ide, semangat, dan keyakinan dalam bentuk deskripsi konkrit yang diekspresikan dengan menggunakan bahasa. Sebuah karya sastra mengembangkan unsur menghibur yang memberikan kesenangan bagi setiap orang yang membacanya, dan itu dianggap menarik karena menyajikan banyak hal tentang kehidupan nyata. Forster dalam Aspeks of Novel menyatakan kita bisa mengetahui keadaan seseorang dengan tepat. Dalam hal ini fiksi lebih benar dibandingkan sejarah, karena fiksi diceritakan berdasarkan kejadian-kejadian (1974: 70). Dan ini didukung oleh teori Kenney dalam bukunya How to Analyse Fiction. Dia menjelaskan bahwa paling sedikit, kita mengartikan bahwa sebuah karya fiksi memuat peristiwa-peristiwa yang terjadi yang diceritakan satu demi satu secara berurutan. Ini juga didukung oleh teori Wellek dan Warren dalam Theory of Literature (1973:39) yang menyatakan bahwa karya sastra itu sendiri membenarkan semua kepentingan kita dalam kehidupan seorang penulis, dalam lingkungan sosial dan seluruh proses sastra yang dibuat berdasarkan imajinasi penulis dan umumnya mencerminkan kondisi sosial, yang menggunakan lingkungan sosial di sekitarnya sebagai dasar. Dalam studi ini, cerita berjudul The Fall of the House of Usher dipilih untuk dianalisis. Si pembawa cerita diundang oleh teman masa kecilnya Roderick Usher untuk mengunjungi purinya ketika ia dalam kondisi tekanan emosional. Ia menemukan bahwa Roderick juga memiliki saudara kembar yang bernama Madeline yang juga dalam keadaan sakit. Karena sakit Madeline bertambah memburuk tak lama kemudian ia meninggal, dan Roderick dengan meminta bantuan si pembawa cerita mengubur Madeline di sebuah makam di dalam puri tersebut. Mereka kemudian merasa ngeri karena menemukan, bahwa mereka telah memakamkan Madeline dalam keadaan masih hidup. Madeline dengan cakarnya berusaha keluar dari kuburnya, lalu mendatangi Roderick untuk membunuhnya. Akhirnya Roderick meninggal dalam ketakutan. Cerita ini secara psikologi bercampur kepercayaan tahyul menyoroti tokoh dalam sudut doppelganger, atau karakter ganda atau ghost double yaitu mitra hantu orang hidup.
Taboo Words In The Movies “Easy A” And “The Change-Up” Yaditya Ariesta Primananda, Dewa Ayu; Tika, I Ketut; Sudana, I Gede Putu
Humanis Volume 17. No. 1. Oktober 2016
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata Tabu merupakan fenomena yang terdapat dalam bahasa, karena kata tabu merupakan yang vulgar dan dapat menyinggung orang lain dalam percakapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis, menjelaskanf ungsi dan menampilkan jenis kata-kata tabu yang mendominasi film Easy A dan The Change-Up. Jenis kata-kata tabu dapat diklasifikasikan dalam 10 jenis berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Jay (1992) dan fungsi kata-kata tabu berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Holmes (1992). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan dari kedua film, yaitu terdapat 10 jenis kata tabu, 5 fungsi kata tabu dan jenis Insult & Slurs yang mendominasi film Easy A. Sedangkan dalam film The Change-Up hanya terdapat 8 jenis kata tabu, 5 fungsi kata tabu dan jenis Vulgarity yang mendominasi film tersebut.
The Grammatical Cohesion with Reference to Short Stories Entitled “The Twelve Dancing Princesses” by Brothers Grimm And “The Whale Sound” by Roger Dean Kiser Meri Sudani, Ni Kadek; Tika, I Ketut
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Skripsi ini berjudul “gramatikal cohesi dengan referensi cerita pendek berjudul “The Twelve Dancing Princesses” oleh Brothers Grimm dan “The Whale Sound” oleh Roger Dean Kiser. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tipe gramatikal cohesi yang digunakan di dalam cerita dan menemukan tipe gramatikal cohesi yang banyak digunakan di dalam cerita. Data dianalisis menggunakan metoda deskriptif kwalitatif berdasarkan teori cohesi oleh Halliday dan Hasan (1976) dan teori pendukung oleh Nunan (1993). Sumber data penelitian ini diambil dari internet dalam cerita fiksi berjudul “The Twelve Dancing Princesses” oleh Brothers Grimm dan cerita nonfiksi berjudul “The Whale Sound” oleh Roger Dean Kiser. Berdasarkan hasil analisis tersebut empat tipe gramatical cohesi ditemukan di dalam cerita pertama seperti : reference, substitution, ellipsis, dan conjuction. Ada dua tipe gramatikal cohesi ditemukan di dalam cerita kedua seperti: reference dan conjunction. Diantara semua cohesi gramatikal yang ditemukan di kedua cerita tersebut, tipe cohesi gramatikal yang paling banyak digunakan adalah reference.
Verbal And Non Verbal Signs In The “Divergent” And “The Fault In Our Stars” Movies Widhyani Dewi Jayanti, Ni Putu; Budiasa, Made; Tika, I Ketut
Humanis Volume 17. No. 1. Oktober 2016
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul “Verbal and Non Verbal Signs in The ‘Divergent’ and ‘The Fault in Our Stars’ Movies” ini bertujuan untuk memaparkan dan menjelaskan tipe-tipe tanda dan arti dari tanda-tanda yang muncul di kedua film tersebut. Metode kualitatif dan dokumentasi dipakai dalam penelitian ini. Ada beberapa teori yang diterapkan dalam penelitian ini diantaranya, teori Taxonomy of Signs oleh Peirce (1938) yang membagi tipe-tipe tanda menjadi tiga, teori Semiotic Triangle oleh Ogden dan Richard (1923) yang menjelaskan mengenai hubungan diantara tiga komponen dalam diagram segitiga (“Thought of reference”,”Symbol” dan “Referent ) disetiap tanda dan teori warna oleh Wierzbicka (1996) yang menjelaskan arti warna yang terkait dengan budaya, dimana warna tersebut merupakan salah satu bagian dari tanda visual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga tipe tanda yang muncul dalam film yaitu “Symbol”, “Index”, dan “Icon”. Penjelasan untuk setiap tanda ini kemudian dijabarkan menggunakan diagram segitiga, dimana setiap bagian dari segitiga tersebut menunjukan hubungan antarkomponen yaitu “Thought of Reference, “Symbol” dan “Referant”, sehingga membentuk sebuah arti pada tanda tersebut. Penjelasan ini dilengkapi dengan arti dari warna yang mendukung pembentukan arti sebuah tanda secara keseluruhan.
Figurative Language in the Song Lyrics of 5 Seconds of Summerand One Direction’s Albums Dina Sinjiardita, Ni Putu; Tika, I Ketut
Humanis Vol 22 No 3 (2018)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i03.p18

Abstract

Abstract This study is entitled Figurative Language in The Song Lyrics of 5 Seconds of Summer and One Direction’s Albums. This study is aimed to identify figurative language and explain the meaning of those types of figurative language found in the song lyrics of 5 Seconds of Summer’s album entitled “Sounds Good Feels Good” and One Direction’s album entitled “Midnight Memories”. The data were collected using the documentation research method. After the required data were collected, they were analyzed using qualitative method. The analysis of the data were presented in a descriptive way to give clear explanation. The findings show that in 5 Seconds of Summer’s album five types of figurative language found in the data; they are: personification, irony, simile, metaphor and hyperbole. While from One Direction’s album four types of figurative language were found; they are: personification, simile, metaphor and hyperbole. There were two types of meaning found in the data; they are: conceptual meaning and connotative meaning. It can be concluded that in the rock band’s album Sounds Good Feels Good irony was found; however, in pop band’s album Midnight Memories irony was not found. Both in those two albums conceptual meaning was more frequently used.
PENGENALAN ETIKA BERBAHASA INGGRIS KELOMPOK SADAR WISATA DI DESA BONGKASA, KABUPATEN BADUNG. RAJEG, I MADE; LAKSMINY, LP.; TIKA, I KETUT; SUDIPA, I NENGAH
Buletin Udayana Mengabdi Vol 5 No 1 (2006): Volume 5 No.1 – April 2006
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7.338 KB)

Abstract

ABSTRACT This community services took place in the Village of Bongkasa-Badung regency involving 29 participants of Tourism Awareness Group (Pokdarwis) in that village. The topic of this services is about the English Ethic using the appropriate English constructions in communication with English speaking tourists. Apart from being able to use English grammatically, the participants are also introduced by the appropriate ways of using communicative English in order that they feel more confident in interacting with the tourists.
Error In Verb Forms By The Students Of SMAN 1 Kuta Selatan Irma Anggun Arisandi, Kadek; Tika, I Ketut; Sudana, I Gede Putu
Humanis Volume 16. No. 3. September 2016
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa kesalahan dihasilkan oleh murid ketika mereka berada dalam proses pembelajaran atau dalam berlatih bahasa Inggris mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kesalahan bentuk kata kerja yang dilakukan oleh murid XII IPA 1 Sman 1 Kuta Selatan dalam bahasa tulis dan bahasa lisan dan menjelaskan faktor penyebab terjadinya kesalahan tersebut. Jenis kesalahan dalam penggunaan kata kerja oleh para murid diklasifikasikan ke dalam empat kategori menurut teori yang dikemukakan oleh Dulay (1982) dalam bukunya berjudul “Language Two” dan faktor penyebab terjadinya kesalahan menurut teori yang dicetuskan oleh Richards (1974) dalam bukunya yang berjudul “Error Analysis: Perspective on Second Language Acquisition”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa analisis penggunaan kata kerja dengan topik hobby, holiday, family, future goal, close friends, dan memorable experience “omission” ialah jenis kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh para respondents dalam bahasa tulis dan lisan, dan “incomplete application of rule” ialah faktor yang terbanyak yang menyebabkan para responden melakukan kesalahan penggunaan kata kerja dalam hal tulisan maupun lisan.
Ellipsis in English Coordinated Clauses in the Novel Entitled 44 Scotland Street by Alexander McCall Smith Sandy Wangi, Kadek; Tika, I Ketut; Budiarsa, I Made
Humanis Vol 22 No 2 (2018)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JH.2018.v22.i02.p02

Abstract

The title of this undergraduate thesis is Ellipsis in English Coordinated Clauses in the Novel Entitled 44 Scotland Street by Alexander McCall Smith. The aims of the study are to classify the types of ellipsis and to analyze the position of ellipsis in coordinated clauses. The data of this study were in the form of the English coordinated clauses with coordinating conjunction and, or, and but which were found in a novel entitled 44 Scotland Street by Alexander McCall Smith. The data were collected by using documentation method which was done by close reading on the data source, taking note, and continued by classification. This study used the theory of ellipsis proposed by Quirk, et al (1972) presented by using qualitative method in analyzing the data. The collected data were identified according to the categories of the types and the occurrence of ellipsis in coordinated clauses. This study used descriptive method in presenting the data. The result of this study shows that the types of ellipsis in coordinated are divided into six major namely: ellipsis of subject, ellipsis of auxiliary, ellipsis of subject and auxiliary, ellipsis of predication, ellipsis of head of noun phrase, and ellipsis of subject complement. Ellipsis of subject is the most frequently used type of ellipsis that occur in the data. The ellipsis can occur in the first and in the subsequent clauses in coordinated clauses. However, the ellipsis in the data is mostly anaphoric with the realized items in the first of a series of the clauses.
Lexical Ambiguity in English Advertisement Slogans of Unilever Products Dharmayanti, I Gusti Ayu Dwi; Tika, I Ketut
Humanis Vol 19 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skripsi ini berjudul Ambiguitas Leksikal dalam Slogan Iklan Berbahasa Inggris dari Produk-Produk Unilever. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna yang paling sesuai dari ungkapan ambigu dalam slogan iklan berbahasa inggris dari produk-produk Unilever dan menemukan faktor leksikal yang dapat menyebabkan ambiguitas leksikal. Sumber data penelitian ini diambil dari situs terkenal Unilever yang dimuat dalam situs https://www.unilever.com/brands. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dan data penelitian ini dianalisis menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini menerapkan Teori Makna oleh Geoffrey Leech (1974: 10-22) untuk menemukan makna yang paling sesuai untuk kata-kata ambigu dan juga didukung dengan Kamus Oxford Advanced Learner untuk menentukan makna leksikal dari kata ambigu. Teori lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Ambiguitas leksikal oleh Ullmann (1977: 158) untuk menganalisis faktor-faktor leksikal yang dapat menyebabkan ambiguitas leksikal. Temuan menunjukkan bahwa pada bagian pertama diantara 13 merek global dari Unilever yang dianalisis, 10 slogan berisi kata-kata ambigu yang mana dari kata-kata ambigu tersebut dikategorikan sebagai makna Konseptual dan makna dari kata-kata ambigu pada 3 slogan lainnya dikategorikan sebagai makna Konotatif. Sedangkan, pada bagian kedua ditemukan bahwa faktor leksikal yang menyebabkan ambiguitas leksikal pada 7 slogan merek adalah Polysemi dan faktor leksikal yang menyebabkan ambiguitas leksikal pada 6 slogan merek lainnya adalahHomonimi. Hal ini berarti bahwa ambiguitas leksikal bisa terjadi dalam slogan produk-produk merek terkenal Unilever. Tidak dapat dipungkiri bahwa ambiguitas semakin membuat produk-produk Unilever menjadi terkenal dan siapapun yang melihat iklan-iklan tersebut akan tertarik khususnya pada produk-produk tersebut.
Pengembangan Modul Fisika Kontekstual Interaktif Berbasis Web Untuk Siswa Kelas Sujanem, Rai; Suwindra, I Nyoman Putu; Tika, I Ketut
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol 42, No 2 Jul (2009)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.069 KB) | DOI: 10.23887/jppundiksha.v42i2 Jul.1743

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyusun dan mengembangkan (1) Modul Fisika kontekstual interaktif berbasis web, dan (2) pedoman guru tentang penerapan Modul Fisika kontekstual inter-aktif berbasis web untuk kelas I SMA. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian pe-ngembangan produk Modul Fisika kontekstual interaktif berbasis web. Pengembangan produk menggunakan desain model Dick dan Carey. Proses pengembangan menggunakan instrumen-instrumen: tes pemahaman konsep, angket fasilitas pendukung pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), angket kompetensi guru dan siswa dalam TIK, angket ahli isi, angket ahli media, angket siswa perorangan, angket siswa kelompok kecil, dan angket respon implementasi pada pembelajaran. Instrumen-instrumen tersebut memenuhi persyaratan validitas isi. Studi pendahulu-an melibatkan 440 siswa kelas I SMA di kota Singaraja, 12 orang guru TIK, dan 34 guru Fisika. Proses uji formatif melibatkan 3 ahli isi dan media pembelajaran, 3 ahli desain, 6 siswa perorangan, 12 siswa kelompok kecil, dan 4 orang guru. Uji sumatif melibatkan 60 siswa kelas I SMA. Ana-lisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dan uji- t. Berdasarkan hasil analisis data, ditemu-kan hasil-hasil penelitian seperti berikut. Pertama, telah berhasil dikembangkan (1) enam Modul Fisika kontekstual interaktif berbasis web, dan (2) panduan Guru tentang penerapan Modul Fisika kontekstual interaktif berbasis web. Kedua, hasil evaluasi.Kata kunci : Modul Fisika kontekstual – interaktif – web.