Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemetaan Ground Acceleration Menggunakan Metode Probabilistic Seismic Hazard Analysis Di Propinsi Nusa Tenggara BaratPada Zona Megathrust. Riski Kurniawan
SENATIK STT Adisutjipto Vol 3 (2017): Dukungan Teknologi Untuk Pengembangan Industri Dirgantara Indonesia
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/senatik.v3i0.114

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kawasan rawan resiko bencana gempabumi di Propinsi NTB menggunakan metode PSHA untuk mendapatkan peta probabilitas peak ground acceleration secara periodik berdasarkan data gempa terbaru di zona megathrust dan zona background sebagai salah satu upaya mitigasi bencana gempabumi. Penelitian ini didasarkan pada data kejadian gempabumi di Propinsi NTB dan sekitarnya selama 116 tahun yang diolah menggunakan software Ez-Frisk 7.52. Kerangka kerja menggunakan metode PSHA dimulai dari tahapan pengumpulan data gempabumi selama 116 tahun pada koordinat -6,33° LS sampai  -11,33° LS dan 112,45° BT sampai 119,83°BT diperoleh dari katalog gempabumi USGS, ISC dan ANSS. Selanjutnya melakukan konversi magnitudo kedalam skala magnitudo momen sebelum dilakukan identifikasi gempabumi menggunakan kriteria Gardner dan Knopoof untuk mendapatkan parameter a-b. Penentuan fungsi atenuasi berdasarkan pemodelan sumber gempa yang ditentukan oleh peneliti, yaitu sumber gempa subduksi interface (megathrust) dan sumber gempa subduksi intraslab (deep background). Perhitungan nilai peak ground acceleration menggunakan dasar teori probabilitas total yang telah dikembangkan oleh Cornell. Hasil percepatan spektra akibat sumber gempa subduksi di Propinsi Nusa Tenggara Barat berdasarkan analisis probabilistik berkisar antara 0.04 g – 0.1 g untuk periode ulang 500 tahun, sedangkan untuk periode ulang 2500 tahun adalah 0.08 g – 0.3 g. Untuk sumber gempa shallow background berkisar antara 0.1 g – 0.3 g untuk periode ulang 500 tahun, sedangkan untuk periode ulang 2500 tahun adalah 0.2 g – 0.5 g. Sedangakan untuk sumber gempa deep background berkisar antara 0.2 g – 0.3 g untuk periode ulang 500 tahun, sedangkan untuk periode ulang 2500 tahun adalah 0.3 g – 0.4 g. 
Analisis Kerusakan APU Fuel System Pada Pesawat B737-500 Dengan Metode Fault Tree Analysis Arif Pambekti; Riski Kurniawan; Agung Prakoso; Cyrilus Sukaca Budiono; Indro Lukito; Hisyam Musyaffa Arazi
SENATIK STT Adisutjipto Vol 7 (2022): Generation Z's Participation in Aerospace
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/senatik.v7i0.457

Abstract

APU Fuel System merupakan sistem bahan bakar APU yang secara otomatis memonitor laju aliran bahan bakar untuk mejaga APU pada kecepatan konstan untuk kondisi yang berbeda. Sistem APU Fuel System terpenting pada pesawat saat terbang guna mendistribusi fuel selama melakukan penerbangan. Dalam penelitian ini, metode observasi langsung dan metode fault tree analysis digunakan untuk mengamati dan menganalisis penyebab kegagalan dari APU Fuel System Boeing 737-500 Sriwijaya Air. Hasil dari penelitian tentang permasalahan APU Fuel System Boeing 737-500 Sriwijaya Air adalah terjadi permasalahan pada Fuel Control Unit dengan 14 basic event.
Analisis Kegagalan Fungsi Traffic Alert and Collision Avoidance System Boeing 737-800 Next Garuda Indonesia dan Indentifikasi Penyebab Kegagalan Dengan Metode Fault Tree Indro Lukito; Arif Pambekti; Cyrilus Sukaca Budiono; Riski Kurniawan; Agung Prakoso; Fathkul Mizan
SENATIK STT Adisutjipto Vol 7 (2022): Generation Z's Participation in Aerospace
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/senatik.v7i0.459

Abstract

Traffic Alert and Collision Avoidance Systems (TCAS) pada pesawat Boeing 737-800 NG memiliki fungsi utama untuk menghindari dan memberi peringatan dari suatu potensi tabrakan antar pesawat di udara. Dengan menganalisis berbagai input dari sinyal balasan pesawat lain dan kemudian memberikan peringatan visual dan/atau aural kepada crew berdasarkan perintah TA maupun TA/RA yang dipilih. Dengan demikian crew bisa mengambil suatu tindakan sehingga potensi kecelakaan bisa dihindari. Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk penelitian adalah dengan melakukan observasi langsung dan melakukan penanganan kegagalan kerusakan pesawat Boeing 737-800 NG Garuda Indonesia di Hanggar 2 PT. GMF AeroAsia. Selain itu dilakukan analisis kegagalan pesawat dengan menggunakan metode fault tree analysis. Hasil  troubleshooting dan  fault  tree analysis  ditemukan kegagalan pada TCAS antenna, coaxial cable dan REU yang berpengaruh pada navigasi pesawat. Proses troubleshooting TCAS mengacu pada FIM Boeing 737-800 NG chapter 34-45 task 803 dan 804 dan juga FIM B737-800 NG chapter 23-51 task 803.
Anti-Icing Engine Damage Analysis Boeing 737 - 800 Ng With Fault Tree Analysis Method Arif Pambekti; Indro Lukito; Cyrilus Sukaca Budiono; Riski Kurniawan
Journal of Business, Social and Technology (Bustechno) Vol. 3 No. 1 (2022): Journal of Business, Social and Technology (Bustechno)
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jbt.v3i1.65

Abstract

An Anti-icing system is a system that aims to prevent the formation of ice when the plane is in the air. The formation of ice in aircraft is of great concern because an airplane flight will pass through the atmosphere, which will experience the formation of the ice at a certain altitude. The formation of such ice will cause a hazard to the aircraft. So that the ice protection system, namely the anti-icing system, is very concerned so that it is always in a serviceable condition. In this study, direct observation and fault tree analysis were used to determine the cause of failure of the Boeing 737-800 NG anti-ice system engine and anti-icing cowl inlet. The results of the analysis using the fault tree analysis method obtained essential events, namely: actuator fails, electrical connector disconnected, Control Selenoid Trouble, Regulator Trouble, Sense Line Connector Trouble, Engine Fault, Engine Control Trouble, Engine Duct Trouble, Panel Buttom Problem, EICAS Module Problem, No Source Electricity, Negative Electrical Source, Wiring Problem.