Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Asymmetric Addition Reaction of Reformatsky Type Reagent to Nitrones: An Intermediate for Synthesis of Physiologically Active Substances Deana Wahyuningrum
Jurnal Matematika & Sains Vol 9, No 4 (2004)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asymmetric addition reaction of Reformatsky type reagent, which was generated in situ from diethylzinc and iodoacetic ester, to carbon-nitrogen double bond in nitrones utilizing (R,R)-DIPT as a chiral auxiliary agent showed fairly moderate to high enantioselective products in fairly high chemical yields. Nitrones were known as one of potentially intermediate nitrogen-containing compounds for synthesizing/physiologically active substances, such as pharmaceutical and agrochemical substances. The best results of this type of reaction were achieved from the asymmetric addition to nitrone, 6,7-dimethoxy-3,4-dihydroisoquinoline N-oxide (73% ee) and N-phenyl-α-(dibenzylcarbamoyl)methanimine N-oxide (21% ee) with fairly high chemical yields. The use of additive in asymmetric addition reaction to 6,7-dimethoxy-3,4-dihydroisoquinoline N-oxide was found to be crucial in improving the enantioselectivity of reaction, since the best results mentioned were achieved in the presence of isoquinoline-N-oxide or pyridine-N-oxide (0.5 molar equivalent) as additive. The difference in stereo-structure between 6,7-dimethoxy-3,4-dihydroisoquinoline N-oxide and N-phenyl-α-(dibenzylcarbamoyl)methanimine N-oxide caused the effect of (R,R)-DIPT as chiral auxiliary agent, additives and slow charge addition method towards the course of reaction resulting different products with different enantioselectivity.
Efektivitas Asam Glutamat Sebagai Inhibitor Korosi pada Baja Karbon dalam Larutan NaCl 1% Ni Ketut Ketis; Deana Wahyuningrum; Sadijah Achmad; Bunbun Bundjali
Jurnal Matematika & Sains Vol 15, No 1 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Corrosion towards the inner parts of oilfield pipelines is one of most disturbing problems in oil and gas industries.  Amino acid and its derivatives have potent as corrosion inhibitor, including glutamic acid, which has been studied within this research project.  The effectivity of glutamic acid as corrosion inhibitor towards carbon steel in 1% (w/v) NaCl solution saturated by CO2 has been determined utilizing Tafel method with the optimization of glutamic acid concentration, pH, and temperature of tested medium.  Glutamic acid showed the highest corrosion inhibition efficiency at room temperature (26oC), which is 48.19% at the concentration of 8 ppm in 1% NaCl solution and pH 6.5.  The presence of acetate buffer solution in the medium that was being tested and at the temperature higher than room temperature has caused glutamic acid at the concentration of 8 ppm became ineffective to be applied as corrosion inhibitor.
Model Matematika Pada Mekanisme Laju Korosi Logam Baja Karbon dengan Penambahan Inhibitor Deana Wahyuningrum; Nuning Nuraini; Novriana Sumarti
Jurnal Matematika & Sains Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi pada logam, yang disebabkan reaksi dengan lingkungannya, merupakan proses pelarutan logam membentuk senyawanya dalam lingkungan korosif seperti adanya air, gas oksigen dan karbondioksida.  Korosi tidak dapat dihilangkan, namun dapat dikendalikan atau dicegah. Salah satu cara untuk mengatasi korosi, terutama yang terjadi pada permukaan bagian dalam suatu pipa logam, adalah dengan penambahan suatu inhibitor korosi.  Dengan melihat proses terjadinya korosi dari sudut pandang berkurangnya logam persatuan waktu, diturunkanlah suatu model matematika yang memperlihatkan pengaruh senyawa inhibitor korosi terhadap logam, khususnya baja karbon dalam larutan NaCl 1%.  Model yang diperoleh, yang merupakan pengembangan dari model sebelumnya, menggambarkan penambahan senyawa inhibitor dengan 2 cara, yaitu pada saat awal saja dan cara penambahan secara kontinu. Hasil yang didapat menunjukkan beberapa nilai konsentrasi dari inhibitor memberikan pengaruh pada mekanisme laju korosi secara efisien untuk menghentikan proses korosi. Kata kunci: Baja karbon, Inhibitor korosi, Laju korosi, Model matematika.   Mathematical Model on Corrosion Rate Mechanism of Carbon Steel by Inhibitor Addition Abstract Corrosion is the deterioration of a material due to interaction with its environment. It is the dissolution process of metal in which metallic atoms are oxidized to form its compounds in the presence of water and gases, such as oxygen and carbon dioxide. Even though this corrosion cannot be eliminated, it can be controlled or prevented.  One way to control corrosion, especially corrosion that occurred at the inner parts of metallic pipelines, is by addition of corrosion inhibitor. If the corrosion process was assumed as the rate of decaying process of metal per times unit, then the mathematic model can be derived to describe the effect of addition of inhibitor towards corrosion rate of metal, especially carbon steel in 1% NaCl solution. The result show that several values of inhibitor concentration provide the efficient effect on the corrosion rate mechanism to stop the corrosion process. Keywords: Carbon steel, Corrosion inhibitor, Corrosion rate, Mathematical model.
PREPARATION AND CHARACTERIZATION OF BIOPOLYMER ELECTROLYTE MEMBRANES BASED ON LICLO4-COMPLEXED METHYL CELLULOSE AS LITHIUM-ION BATTERY SEPARATOR Ndruru, Sun Theo Constan Lotebulo; Wahyuningrum, Deana; Bundjali, Bunbun; Arcana, I Made
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol 52, No 1 (2020)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The polymer electrolyte membrane is a main component of lithium-ion batteries (LiBs), serving as separator and electrolyte. In this work, we prepared biopolymer electrolyte (BPE) membranes of lithium perchlorate (LiClO4)-complexed methyl cellulose (MC). Methyl cellulose (MC), a cellulose derivative, has attractive properties for use as biopolymer electrolyte. The bulkier anion size of lithium salt (LiClO4) significantly enhances the performance of biopolymer electrolyte (BPE) membranes. The fabricated biopolymer electrolyte (BPE) membranes were characterized by FTIR, EIS, tensile tester, XRD and TGA. Biopolymer electrolyte membranes with various weight percentages of LiClO4 salt (0%, 5%, 10%, 15%, and 20%) were prepared using a simple solution casting technique. Incorporation of 10% weight of LiClO4 into the MC-based host polymer was selected as optimum condition, because this yielded good conductivity (3.66 x 10-5 S cm-1), good mechanical properties (tensile strength 35.97 MPa and elongation at break 14.47%), good thermal stability (208.4 to 338.2 °C) as well as ease of preparation and low cost of production. Based on its characteristics it can be stated that the 10% LiClO4-complexed MC membrane meets the requirements as a candidate separator for lithium-ion battery application.
OPTIMASI PEMISAHAN LIGNIN AMPAS TEBU DENGAN MENGGUNAKAN NATRIUM HIDROKSIDA Rini Setiati; Deana Wahyuningrum; Septoratno Siregar; Taufan Marhaendrajana
ETHOS (Jurnal Penelitian dan Pengabdian) Vol 4 No.2 (Juni, 2016) Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian (Sains & Teknologi)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/ethos.v0i0.1970

Abstract

Lignin atau zat kayu adalah salah satu zat komponen penyusun tumbuhan. Komposisi bahan penyusun ini berbeda-beda bergantung jenisnya. Lignin terutama terakumulasi pada batang tumbuhan berbentuk pohon dan semak. Pada batang, lignin berfungsi sebagai bahan pengikat komponen penyusun lainnya, sehingga suatu pohon bisa berdiri tegak (seperti semen pada sebuah batang beton). Lignin merupakan bahan baku pembentuk Lignosulfonat. Lignosulfonat adalah salah satu jenis surfaktan anionik yang dapat digunakan sebagai bahan baku injeksi dalam metoda Injeksi Surfaktan untuk meningkatkan perolehan produksi minyak pada industri perminyakan. Ampas tebu adalah salah satu bahan limbah yang di dalamnya masih terdapat lignin. Ampas tebu  adalah hasil samping dari proses ekstraksi cairan tebu. Ampas tebu yang dipergunakan adalah ampas tebu yang telah mengalami proses penggilingan ke lima kali dari proses pembuatan gula. Selama ini ampas tebu digunakan sebagai bahan bakar pabrik gula dan  pakan ternak. Dengan proses pemisahan lignin dari ampas tebu ini dapat memberi nilai tambah pemanfaatan ampas tebu sekaligus sebagai alternatif pengolahan ampas tebu sebagai limbah pabrik gula. Salah satu metoda yang digunakan untuk memisahkan lignin dari ampas tebu adalah dengan menggunakan reagen Natrium Hidroksida. Dalam penelitian ini proses hidrolisis lignoselulosa dari ampas tebu menjadi lignin menggunakan variasi konsentrasi natrium hidroksida (NaOH) dan variasi ukuran serbuk ampas tebu. Hasil lignin yang terbentuk dikarakterisasi dengan metode spektroskopi FTIR untuk menentukan gugus-gugus fungsi khas yang terdapat pada struktur lignin dan dibandingkan dengan spektrum FTIR lignin komersial standar sehingga dapat diketahui optimasi pemisahan lignin tersebut.
Produksi dan Optimasi Biosurfaktan dari Bakteri Halofilik Chromohalobacter japonicus BK-AB18 Cut Yuliana; Rukman Hertadi; Deana Wahyuningrum
CHEESA: Chemical Engineering Research Articles Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/cheesa.v2i2.5410

Abstract

Perkembangan teknologi bioproses telah mendorong pendekatan ke arah produk surfaktan biologi (biosurfaktan) yang ramah lingkungan. Penelitian ini difokuskan pada optimasi produksi biosurfaktan dengan menggunakan variasi sumber karbon dan nitrogen. Tahap awal penelitian ini dilakukan dengan menguji potensi bakteri Chromohalobacter japonicus BK-AB18 penghasil biosurfaktan dengan  menggunakan metode uji hemolisis dimana hasil menunjukkan aktivitas hemolisis yang tinggi dengan  ukuran zona bening 3 cm pada media agar darah. Selanjutnya dilakukan produksi pada medium optimal dengan menambahkan 2% variasi sumber karbon terdiri dari minyak zaitun, minyak jagung, minyak kelapa sawit, minyak kacang kedelai dan minyak bunga matahari serta 0,3 % variasi nitrogen terdiri dari urea, NaNO3, NH4Cl, NH2(SO)4 and KNO3. Hasil penelitian menunjukkan produksi biosurfaktan dari Chromohalobacter japonicus BK-AB18 meningkat secara signifikan dengan menggunakan minyak zaitun sebagai sumber karbon dan urea sebagai sumber nitrogen dengan hasil penyebaran minyak 4,8 cm serta aktivitas biosurfaktan dengan nilai tegangan permukaan sebesar 34 dyne/cm, dan hasil uji emulsifikasi sebesar 76%.
Synthesis, Characterization and Antioxidant Activity of Kobalt (II)-Hydrazone Complex Yulyani Nur Azizah; Irma Mulyani; Deana Wahyuningrum; Damar Nurwahyu Bima
EduChemia (Jurnal Kimia dan Pendidikan) Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Department of Chemical Education Faculty of Teacher Training and Education Universitas Su

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.189 KB) | DOI: 10.30870/educhemia.v5i2.7987

Abstract

The potency of the first-row transition metal complexes with Schiff's base ligand as an antioxidant has been widely studied by researchers. In this study, hydrazone-type Schiff base compounds, salicylaldehyde-2,4-dinitrophenylhydrazone (SDPH), resulted from the condensation of salicylaldehyde (1.5 mmol) and 2,4-dinitrophenylhydrazine (1.5 mmol) were synthesized and characterized with 1H-NMR. The synthesized SDPH was used as ligands in the formation of Co(II) metal complexes. The Co(II)-SDPH complexes were synthesized with reflux reaction at 60oC for 6 hours in molar ratio 1:3. Triethylamine is used to synthesis Co(II)-SDPH, which serves to deprotonate SDPH ligands. ESI-MS analysis showed that the complex is a neutral dimeric complex.The complex has the chemical formula [Co2(SDPH)2[(Et)3N]2(acn)2(OH)2} ([M+Na]+ = 1061 g/ mol), shown on the ESI-MS spectrum. Coordinate bonds between Co (II) metal ions with ligands are observed in the presence of shifting of the C=N wave number, as well as the loss of the vibrating peaks of the O-H groups to the infrared spectra of complexes. The IR spectrum of complexes was suggested that SDPH behave as a bidentate ligand through the azomethine nitrogen atom and phenolic oxygen atom. The ligand and its Co(II) complex have been screened for antioxidant activity against DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazine). Based on the activity test results, the IC50 value of Co(II)-SDPH complex was lower than ligand. These results show that Co(II)-SDPH are potentials as antioxidants.
Hasil Studi Laboratorium Penentuan Karakteristik Alamiah Surfaktan Natrium Lignosulfonat Dari Ampas Tebu Sebagai Fluida Injeksi Di Reservoir Minyak Rini Setiati; Septoratno Siregar; Taufan Marhaendrajana; Deana Wahyuningrum
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v3i1.2483

Abstract

Surfaktan Natrium Lignosulfonat (NaLS) dari ampas tebu merupakan salah satu pengembangan surfaktan lignosulfonat yang dibuat dari limbah nabati, yaitu adalah ampas tebu. Pada studi ini telah diperoleh hasil sintesa ampas tebu menjadi surfaktan lignosulfonat yang jika dikembangkan akan dapat menjadi alternatif surfaktan sebagai fluida injesi di reservoir minyak. Dari hasil penelitian dan pengujian yang telah dilakukan, surfaktan NaLS ampas tebu ini mempunyai kesamaan komponen dengan surfaktan lignosulfonat standar yaitu terdiri dari gugus ulur alkena, gugus ulur sulfonat, gugus tekuk karboksilat dan gugus tekuk ester. Berdasarkan analisis spektrum NMR, molekul monomer lignosulfonat tersebut mempunyai atom C, O, H dan S di dalam dengan jumlah atom C = 11, O = 8, H = 16, dan S = 1, sehingga rumus empiris monomer lignosulfonat adalah (C11H16O8S)n, dengan massa molekul relatif 308,06. Berdasarkan struktur monomer lignosulfonat ampas tebu, maka gugus-gugus fungsi dalam strukturnya dapat dikelompokkan sebagai gugus hidrofil atau gugus hidrofob dan dapat dihitung nilai HLB (Hidrofil-lipofilik Balance) yang dimiliki oleh surfaktan NaLS ampas tebu tersebut yaitu sebesar 11,62. Dengan nilai HLB ini maka surfaktan NaLS ampas tebu ini sesuai penggunaannya sebagai sistem tipe emulsi O/W (oil in water), yang berarti surfaktan tersebut larut dalam air dan dapat digunakan sebagai fluida injeksi.
Hasil Studi Laboratorium Penentuan Karakteristik Alamiah Surfaktan Natrium Lignosulfonat Dari Ampas Tebu Sebagai Fluida Injeksi Di Reservoir Minyak Rini Setiati; Septoratno Siregar; Taufan Marhaendrajana; Deana Wahyuningrum
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.039 KB) | DOI: 10.25105/pdk.v3i1.2483

Abstract

Surfaktan Natrium Lignosulfonat (NaLS) dari ampas tebu merupakan salah satu pengembangan surfaktan lignosulfonat yang dibuat dari limbah nabati, yaitu adalah ampas tebu. Pada studi ini telah diperoleh hasil sintesa ampas tebu menjadi surfaktan lignosulfonat yang jika dikembangkan akan dapat menjadi alternatif surfaktan sebagai fluida injesi di reservoir minyak. Dari hasil penelitian dan pengujian yang telah dilakukan, surfaktan NaLS ampas tebu ini mempunyai kesamaan komponen dengan surfaktan lignosulfonat standar yaitu terdiri dari gugus ulur alkena, gugus ulur sulfonat, gugus tekuk karboksilat dan gugus tekuk ester. Berdasarkan analisis spektrum NMR, molekul monomer lignosulfonat tersebut mempunyai atom C, O, H dan S di dalam dengan jumlah atom C = 11, O = 8, H = 16, dan S = 1, sehingga rumus empiris monomer lignosulfonat adalah (C11H16O8S)n, dengan massa molekul relatif 308,06. Berdasarkan struktur monomer lignosulfonat ampas tebu, maka gugus-gugus fungsi dalam strukturnya dapat dikelompokkan sebagai gugus hidrofil atau gugus hidrofob dan dapat dihitung nilai HLB (Hidrofil-lipofilik Balance) yang dimiliki oleh surfaktan NaLS ampas tebu tersebut yaitu sebesar 11,62. Dengan nilai HLB ini maka surfaktan NaLS ampas tebu ini sesuai penggunaannya sebagai sistem tipe emulsi O/W (oil in water), yang berarti surfaktan tersebut larut dalam air dan dapat digunakan sebagai fluida injeksi.
ANALISA SPEKTRUM INFRA RED PADA PROSES SINTESA LIGNIN AMPAS TEBU MENJADI SURFAKTAN LIGNOSULFONAT Rini Setiati; Deana Wahyuningrum; Sugiatmo Kasmungin
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN Prosiding Seminar Nasional Cendekiawan 2016
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/semnas.v0i0.903

Abstract

Secara umum, lignin adalah salah satu komponen penyusun tumbuhan yang biasa terakumulasi pada batang tumbuhan berbentuk pohon dan semak. Ampas tebu adalah salah satu bahan limbah yang di dalamnya masih terdapat lignin. Ampas tebu adalah hasil samping dari proses ekstraksi cairan tebu. Ampas tebu yang dipergunakan adalah ampas tebu setelah proses penggilingan ke lima kali dari proses pembuatan gula. Selama ini ampas tebu digunakan sebagai bahan bakar pabrik gula dan pakan ternak. Dengan proses pemisahan lignin dari ampas tebu dapat memberi nilai tambah pemanfaatan ampas tebu sekaligus sebagai alternatif mendapatkan surfaktan nabati. Surfaktan komersial yang selama ini telah digunakan umumnya berbahan baku minyak bumi. Lignin merupakan bahan baku pembentuk Lignosulfonat sebagai salah satu jenis surfaktan anionik yang digunakan sebagai bahan baku pada Injeksi Surfaktan untuk meningkatkan perolehan produksi minyak. Salah satu metoda sintesa yang digunakan untuk memisahkan lignin dari ampas tebu adalah menggunakan Natrium Hidroksida. Hasil lignin yang terbentuk dikarakterisasi dengan metode spektroskopis Infra Red untuk mengetahui gugus-gugus fungsi khas yang terdapat pada struktur lignin dan dibandingkan dengan spektrum lignin komersial standar . Selanjutkan dilakukan proses sulfonasi untuk membentuk lignosulfonat yang hasilnya juga diuji dengan Infra Red dan dibandingkan dengan spektrum sulfonat komersial standar sehingga dapat diketahui komponen di dalamya.