Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Remaja dalam Budaya Keluarga: Kontribusi Teori Urie Bronfenbrenner bagi Pelayanan Kaum Muda Ivan Christian
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i1.301

Abstract

Abstract: Understanding youth is a complex task. Youth ministers cannot base their understanding of adolescents on popular stereotypes that are biased. This paper will present Bronfenbrenner's theoretical framework to provide a better perspective for understanding adolescent development in relation to the network relationships surrounding them. In a network of relationships that adolescents have, the discussion in this paper will focus on adolescents who live in their family culture. This study uses qualitative  approach with library research method. This paper finds four main concepts in Bronfenbrenner's bioecological theory, namely process, person, time, and context. Based on Bronfenbrenner's theory, there are three implications for youth ministry, namely popular stereotypes about youth should not be the basis for understanding and building relationships with adolescents, youth ministry needs to understand youth development theologically, and youth ministers need to involve parents in youth ministry. Keywords: adolescents, family culture; bioecological theory, Urie Bronfenbrenner, youth Ministry Abstrak: Memahami remaja adalah sebuah tugas yang kompleks. Pelayan kaum muda tidak bisa mendasari pengenalannya tentang remaja berdasarkan stereotip populer yang bias. Tulisan ini akan menyajikan kerangka teori Bronfenbrenner yang dapat memberikan perspektif yang lebih baik untuk memahami perkembangan remaja dalam kaitan dengan jejaring relasi yang ada di sekitar mereka. Dalam jejaring relasi yang remaja miliki, pembahasan dalam tulisan ini akan fokus pada remaja yang hidup dalam budaya keluarganya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan. Tulisan ini menemukan bahwa terdapat empat konsep utama dalam teori bioekologi dari Bronfenbrenner, yaitu proses, person, waktu, dan konteks. Berdasarkan teori Bronfenbrenner tersebut, terdapat tiga implikasi bagi pelayanan kaum muda, yaitu stereotip populer tentang remaja tidak boleh menjadi dasar dalam memahami dan membangun relasi dengan remaja, pelayanan kaum muda perlu memahami perkembangan remaja secara teologis, dan pelayan pelayanan kaum muda perlu melibatkan orang tua dalam pelayanan kepada remaja. Kata Kunci: remaja, budaya keluarga, teori bioekologi,Urie Bronfenbrenner, pelayanan kaum muda
Ethics Of Responsibilities According To Emmanuel Levinas And Its Implications For Interfaith Dialogue: Christian Perspectives Yohanes Krismantyo Susanta; Yeremia Yordani Putra; Ivan Christian
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.389

Abstract

Based on the literature study, this paper reveals that the ethical concept of Emmanuel Levinas’s responsibility has implications in the context of interfaith dialogue. By carrying out the theory of responsibility, which is based on authentic friendship, interfaith dialogue is not just a formality but is evidently a part of daily life. The results of this study indicate that a human being has never had a single, complete identity. Having known the multifaceted realm of one’s own identity, it seems that we tend to assume that “there are strangers” who dwell within us. Therefore we are invited to treat others as fellow human beings for the sake of God’s pleasure as He is the Creator of this life. Dengan menggunakan studi pustaka, tulisan ini menunjukkan bahwa konsep etika tanggung jawab Emmanuel Levinas memiliki implikasi dalam konteks dialog antaragama. Dengan mengusung teori tanggung jawab yang dilandasi oleh persahabatan yang otentik, dialog antariman tak hanya sekadar formalitas tetapi sungguh-sungguh menjadi bagian dari hidup keseharian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seorang tidak pernah memiliki sebuah identitas tunggal di dalam dirinya. Dengan mengakui kemajemukan identitas yang ada pada diri, kita dipanggil untuk mengaku bahwa di dalam diri kita terdapat pula “wajah orang asing.” Itulah sebabnya sebagai pribadi kita diundang untuk memperlakukan “yang lain” sebagai sesama dan memperlakukan orang lain itu seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan, Sang Pencipta.