Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

STUDY OF DIKE EFFECTS TO CONTROL SEDIMENTATION PROCESS ON PATIMBAN'S PORT PLAN USING COMPUTATION MODELING Wibowo, Mardi; Kongko, Widjo
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1704.903 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v12i2.2567

Abstract

The development of the international port of Patimban in Subang is very urgent. The port is expected to support the Tanjung Priok port in Jakarta which is unable to meet the loading and unloading needs of business operators, especially in West Java. In port development planning one of the main problems of physical chemical aspects is sedimentation and erosion process. The purpose of this modeling is to know the sedimentation and erosion pattern around the location plan of port development. The result of modeling is expected to be the initial consideration in designing the Patimban Port. Modeling of sediment transport is done by using MIKE21 Sand Transport module software by entering geophysical data of field survey result such as bathymetry, sea level, river flow and characteristic of existing sediment. Modeling is done both in west season and east season for 1 year (October 2016-September 2017). Based on the result of point extraction on the modeling result, it is known that the influence of dike significantly reduces the bed level change in the harbor channel about 46.45 - 82.28% (for dike 2 m) and about 55.01 - 88.94% (for dike 4 m). While, based on the result of the area extraction, it is known that the influence of the dike on the bed level change in the harbor channel is significant, that is to decrease the average of bed level change by 77.58% (for dike 2m) and 81.02% (for dike 4m).
Kajian Dampak Rencana Pembangunan Kawasan Wisata Marina di Pesisir Kabupaten Belitung terhadap Kualitas Lingkungan Sekitarnya Wibowo, Mardi
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 15, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.787 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v15i1.11-24

Abstract

Pada dasarnya semua kegiatan pembangunan khususnya di kawasan pesisir akan menimbulkan perubahan terhadap lingkungan sekitarnya baik yang positif maupun negatif. Tidak terkecuali rencana pembangunan kawasan marina di pantai Tanjungpendam Kabupaten Belitung pasti akan menimbulkan dampak terhadap kualitas lingkungan perairan di sekitarnya. Metode yang dipakai dalam kajian ini adalah kompilasi dan analisis data sekunder, melakukan tinjauan dan observasi lapangan, analisis data sekunder yang ada, analisis desain kawasan marina yang akan dibangun, memperkirakan dampak  lingkungan serta menyusun usulan untuk pengelolaan dan pemantauan dampak yang mungkin terjadi. Pada tahap konstruksi dan operasional kawasan marina, dampak terhadap lingkungan yang mungkin terjadi adalah menurunnya kualitas perairan laut, kualitas udara, terjadinya perubahan pola arus, abrasi dan sedimentasi serta terganggunya kehidupan biota yang ada di sekitar dermaga. Dampak-dampak lingkungan yang ditimbulkan umumnya dikategorikan sebagai dampak negatif dan bersifat terus menerus. Untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin timbul diperlukan adanya upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan.
KONSEP POLA SPASIAL PENGEMBANGAN KONEKTIVITAS DAN INFRASTRUKTUR PANTAI SERTA KAJIAN ASPEK DINAMIKA PANTAI UNTUK PENANGANAN PERMASALAHAN DI TELUK SEMARANG = CONCEPT OF SPATIAL PATTERN OF CONNECTIVITY AND INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT AND STUDY OF ASPECTS OF COASTAL DYNAMICS OF THE BEACH FOR HANDLING PROBLEMS IN BAY OF SEMARANG Murtiaji, Cahyarsi; Wibowo, Mardi; Ifrani, M; Al Hakim, Buddin; Gumbira, Gugum
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2678.859 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v9i1.93

Abstract

AbstractSemarang Gulf coast is currently experiencing rapid growth as a major economic growth in Central Java. On the other hand, the current Gulf coast Semarang also experiencing very complex issues, such as tidal flooding, land subsidence, as well as damage due to coastal erosion and sedimentation. In accordance with the duties, functions and competence as well as one of the BPDP BPPT roles, namely assessment and solutions in the field of technology, the Research Center for Coastal Dynamics (BPDP)- BPPT conduct a study to produce a concept of spatial patterns of connectivity and infrastructure management issues Semarang Gulf and numerical modeling to determine changes pattern of coastal hydrodynamics and the environment in the Gulf of Semarang, which includes hydrodynamic modeling, modeling of water quality and sediment transport modeling. AbstrakPesisir Teluk Semarang saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat karena merupakan pusat pertumbuhan ekonomi utama di Jawa Tengah. Di sisi lain, saat ini pula pesisir Teluk Semarang mengalami berbagai permasalahan yang sangat kompleks, seperti banjir rob, penurunan muka tanah (land subsidence), serta kerusakan pantai akibat abrasi dan sedimentasi. Sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan kompetensi BPDP serta salah satu peran BPPT, yaitu pengkajian dan solusi di bidang teknologi, maka Balai Pengkajian Dinamika Pantai – BPPT melakukan kajian untuk menghasilkan konsep pola spasial konektivitas dan infrastruktur penanganan permasalahan Teluk Semarang serta pemodelan numerik untuk mengetahui perubahan pola hidrodinamika pantai dan lingkungan di Teluk Semarang, yang meliputi pemodelan hidrodinamika, pemodelan kualitas perairan dan pemodelan transport sedimen.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) UNTUK PENATAAN KAWASAN PANTAI Wibowo, Mardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.868 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i2.209

Abstract

Kawasan pantai merupakan suatu kawasan yang spesifik, dinamik, unik dansangat kaya akan habitat baik laut maupun darat. Kawasan ini banyak sekali manfaatnya baik bagi masyarakat, swasta maupun pemerintah dan semakin lama semakin banyak yang membutuhkan padahal luasnya sangat terbatas, sehingga di kawasan ini sering terjadi konflik kepntingan antar sector seperti yang terjadi di Pantai Parangtritis dan sekitarnya. Oleh karena itulah perlu adanya penataan ruang yang baik di kawasan Pantai Parangtritis dan sekitarnya.Suatu perencanaan, penataan dan pengembangan wilayah yang baik memerlukan data spasial dan jnon-spasial yang kompleks dan sanga banyak, sehingga perlu adanya alat yang dapat menghubungkan, mengelola, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan data serta informasi secara baik. Salah satu alat tersebut adalah Teknologi SIG yang saat ini telah berkembang dengan sangat pesat.Penataan kawasan Pantai Parangtritis dapat dilihat pada Gambar 4 dan Tabel 3.Berdasarkan hal diatas maka pemanfaatan lahan di Pantai Parang tritis dansekitarnya adalah : untuk kawasan lindung hutan wisata (1,234 km2), kawasan lindung budaya (0,659 km2), hutan pantai (0,623 km2), kawasan lindung gumuk pasir (1,311 km2), sempadan pantai (1,533 km2), pertanian lahan basah (13,141 km2), pertanian lahan kering (7,563 km2), perikanan darat (1,272 km2), perikanan laut (0,652 km2) dan untuk pengembangan kawasan pemukiman (11,882 km2) serta pengembangan fasilitas wisata (1,006 km2).
PEMODELAN VULNERABILITAS AIR TANAH DANGKAL DI PANTAI SELATAN KABUPATEN BANTUL - YOGYAKARTA Wibowo, Mardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 7 No. 2 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v7i2.376

Abstract

Groundwater quality, espicially shallow groundwater is very vulnerable topollution from residence, urban, agriculture, and industrial activity. All ofthe activity, to result waste and pollutant potentially, that can degradegroundwater quality, like as in southern coast of Bantul Resisence-Yogyakarta. So, it’s need modeling of vulnerability of shallow groundwaterin unconfined aquifer. Based on natural condition of southern coast ofBantul Residence, parameters are used in development this model aredepth of groundwater level, surface geological condition, soil condition, andaquifer media.Based on this model, vulnerability of southern coast in Bantul Residence, is: abaut 27,86 km (47,52%) is classified in vulnerable class, 16,23 km (27,69%) is very vulnerable, 5,49 km (9,37% is, poor vulnerable and 9,04 km (15,42%) is not vulnerable. Generally, groundwater vulnerability is degrade toward land.
ANALISIS PERATURAN PERUNDANGAN TENTANG DAERAH RESAPAN AIR DI DAS CITARUM HULU Wibowo, Mardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 2 (2002): JURNAL TEKNIK LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.557 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v3i2.248

Abstract

Pada skala nasional DAS Citarum tergolong DAS super prioritas. Khusus DASCitarum Hulu mempunyai fungsi utama sebagai perlindungan tata air tetapi dalamperkembangannya mempunyai fungsi ekonomi yang sangat strategis.Perkembangan kota dan jumlah penduduk di dalam DAS Citarum Hulumenyebabkan kebutuhan akan air bersih meningkat sangat tajam. Sebagian besarkebutuhan tersebut diambil dari air tanah. Dengan semakin meningkatnyakebutuhan (pengambilan) air tanah dan di lain pihak kualitas ruang hidrologinyasemakin menurun, akan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antarapengambilan dengan pemasokan (imbuhan) air tanah. Akibat ketidakseimbangantersebut antara lain adalah turunnya muka air tanah, turunnya produksi sumur bor,frekuensi banjir di musim hujan dan frekuensi kekeringan di musim kemarausemakin besar. Oleh karena itu diperlukan adanya konservasi daerah resapan airdi DAS Citarum Hulu dari desakan perkembangan kawasan urban. Salah satuupaya untuk mendukung konservasi daerah resapan air tersebut adalah dengandikeluarkannya berbagai peraturan perundangan baik tingkat nasional maupunkabupaten. Beberapa hal penting berkaitan dengan perauran perundanganmengenai daerah resapan air di DAS Citarum Hulu adalah : a) Sebenarnyaperaturan atau kebijaksanaan untuk mempertahankan fungsi ekologi daerahresapan air sudah memadai, tetapi sering informasi dan batasannya kurang jelasdan rinci; b) Kurang terkendalinya pembangunan pemukiman oleh perorangankarena umumnya peraturan diberlakukan untuk pembangunan pemukiman dalamskala besar oleh pengembang (developer) serta peraturan/ kebijaksanaan yangdibuat sering belum dilengkapi peta yang representatif dan applicable;c)Kurangnya pranata (sistem) yang baik dan kuat, kuantitas dan kualitassumberdaya manusia yang terbatas, serta biaya dan waktu yang terbatas pulasehingga dalam proses pelaksanaan dan pengawasannya sering terjadipenyimpangan.
TEKNOLOGI KONSERVASI UNTUK PENANGANAN KAWASAN RESAPAN AIR DALAM SUATU DAERAH ALIRAN SUNGAI Wibowo, Mardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v4i1.266

Abstract

Perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat mengakibatkan kebutuhan akan air juga akan meningkat. Kebutuhan air bersih saat ini umumnya dipenuhi dari air tanah, padahal jumlah air tanah relatif tetap dan cenderung menurun karena berkurangnya resapan air ke dalam air tanah, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pemasukan dengan pengambilan air tanah. Untuk itulah perlu dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan pemasukan (recharge) air tanah. Salah satu cara yang umum dilakukan adalah dengan menetapkan kawasan-kawasan resapan air sebagai kawasan lindung selain itu perlu dikembangkan pula berbagai macam teknologi konservasi yang lebih pro- aktif baik yang bersifat vegetatif maupun non-vegetatif. Beberapa alternatif teknologi konservasi untuk meningkatkan imbuhan/resapan air ke dalam tanah adalah :1. Melakukan upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah baik secara vegetatif seperti : reboisasi, hutan kemasyarakatan, strip cropping system, tumpangsari, dll; maupun secara mekanis/teknis seperti : terasering, saluran/parit jebakan, bangunan bendung penahan, dll2. Melakukan imbuhan buatan, dengan cara sistem imbas, injeksi, ditch and forrow dan spreading recharge.3. Pembuatan sistem peresapan air hujan seperti sumur resapan atau parit resapan.
POTENSI SUMBERDAYA AIR TANAH DI SURABAYA BERDASARKAN SURVEI GEOLISTRIK TAHANAN JENIS Wibowo, Mardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.777 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i1.197

Abstract

Surabaya merupakan salah satau kota terbesar di Indonesia dan sebagai pusat kegiatan (baik kegiatan industri, kependudukan, ekonomi maupun pemerintahan) di Jawa Timur khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya. Seiring dengan hal tersebut maka Surabaya menghadapi banyak permasalahan khususnya yang berkaitan dengan air tanah. Akibat ketidakseimbangan antara pengisian (recharge) dengan pengambilan (discharge) air tanah akan menurunkan tinggi muka air tanah yang pada gilirannya mengakibatkan intrusi air laut, amblesan tanah dan kekurangan air bersih bagi masyarakat. Geometri, distribusi dan kedalaman akifer harus diketahui untuk dapat memecahkan permasalahn sumberdaya air tanah. Salah satu cara untuk mengetahui karakteristik akifer adalah dengan surve geolistrik tahanan jenis. Metode ini pada dasarnya adalah mengukur tahanan jenis material yang ada di bawah tanah dengan melewatkan arus listrik tertentu kedalam tanah dan kemudian mengukur perbedaan potensial antara dua titik. Berdasarkan survei ini, kondisi bawah tanah Surabaya terdiri dari 4 jenis batuan yaitu lapisan tanah (soil), batulempung,batulempung pasiran, dan batupasir. Akifer di Surabaya terbagi menjadi akifer dangkal/ akifer bebas (< 20 m) yang terdiri dari endapan alluvial dan akifer dalam/akifer tertekan (> 60 m) yang terdiri dari batupasir.Akifer ini tersebar merata di seluruh Surabaya hanya ketebalannya yang berbeda.
PEMODELAN STATISTIK HUBUNGAN DEBIT DAN KANDUNGAN SEDIMEN SUNGAI Contoh Kasus di Das Citarum – Nanjung Wibowo, Mardi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.684 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i3.220

Abstract

Kandungan sedimen menunjukkan konsentrasi zat padat yang tersuspensi dalam air. Untuk mengukur kandungan sedimen diperlukan peralatan khusus, relatif sulit, lama dan perlu biaya, sedangkan data debit sungai jauh lebih mudah diukur dan merupakan data yang selalu tersedia di tiap aliran sungai. Oleh karena itulah perlu dicari hubungan antara debit air sungai dengan kandungan sedimen dalam air sungai. Sehingga dengan adanya data pengukuran debit sungai tanpa ada pengukuran kandungan sedimen dapat diperkirakan kandungan sedimen dalam air sungai tersebut dengan cepat dan murah.Hubungan antara debit dengan kandungan sedimen untuk data DAS Citarum - Nanjung pada bulan Maret 1998 adalah : dengan analisis regresi eksponensial : Y = 0.7379 e0.0332 X dengan : koefisien korelasi (R) = 0.978 dan kesalahan baku perkiraan (SEY) = + 1.25 juta m3/hari; dengan analisis regresi berpangkat : Y = 6.7655.10-4 X2.2644 dengan : koefisien korelasi (R) = 0.985 dan kesalahan baku perkiraan (SEY) = + 1.20 juta m3/hari.Berdasarkan nilai koefisien korelasi dan nilai kesalahan baku perkiraan, maka analisis regresi berpangkat lebih sesuai dibandingkan dengan analisis regresi eksponensial untuk data kasus hubungan debit dan kandungan sedimen di DAS Citarum - Nanjung, Maret 1998.
KAJIAN KUALITAS AIR DAN SEDIMEN DASAR SUNGAI KUTAI LAMA-KAB. KUTAI KARTANEGARA SEBAGAI PERTIMBANGAN AWAL RENCANA PENGERUKAN Wibowo, Mardi
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 14, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.553 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v14i1.24-29

Abstract

Rona lingkungan awal kualitas air sungai dan sedimen dasar sangat diperlukan sebelum dilakukan pengerukan sebagai bahan untuk memperkirakan dampak lingkungan yang muncul akibat kegiatan pengerukan. Pengambilan sampel air dilakukan dengan mengikuti Standard Method dari APHA-AWWA (1995) dan dianalisis di laboratorium dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Berdasarkan hasil analisis dan kajian ini diketahui bahwa kualitas air sungai di Kutai Lama masih tergolong baik (berdasarkan baku mutu air Kelas I PeraturanPemerintah No. 82 Tahun 2001). Beberapa parameter yang melebihi baku mutu air Kelas I PP No. 82 Tahun 2001 adalah BOD, COD, DO, Besi (Fe), deterjen sebagai MBAS. Khusus untuk kandungan logam berat semuanya masih memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Kualitas sedimen dasar: konsentrasi logam mangan (Mn) sangat tinggi jika dibandingkan dengan konsentrasi logam-logam lainnya. Konsentrasi logam berat yang ditemukan dalam jumlah besar berikutnya adalah besi (Fe), seng (Zn), tembaga (Cu) dan yang terkecil adalah timbal (Pb).Berdasarkan standar baku mutu sedimen yang dibuat oleh United State Environmental Protection Agency (USEPA) dan Kementerian Lingkungan Kanada, semua konsentrasi logam-logam berat di daerah kajian termasuk dalam kategori tercemar berat.