Paulus Sugeng Widjaja
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Apakah Aku Penjaga Saudaraku?: Mencari Etika Ekologis Kristiani yang Panentheistik dan Berkeadilan Widjaja, Paulus Sugeng
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 3 No 2 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2018.32.395

Abstract

Abstract The damage caused by humankind to nature is an undebatable fact. This article challenges the discriminative attitude that has allowed humans to place ourselves apart from nature and to claim a higher dignity over nature. The belief that humankind is imago Dei who has the right to dominate nature for the sake of their interests has worsened the situation. Faced by the problems, this article proposes a panentheistic and just Christian ecological ethics. It starts from the belief that the universe is one union coherent with and in Christ, in creation, in its history, and in its continuous transformation toward the fullness of that union with and in Christ. Incarnation is not mainly God’s salvific work to save humans, but God’s ethical act embracing and being embraced by nature. In incarnation God is not only present in the world, but is also united in and for the material world in the form of an embodied human, Jesus Christ. Hence human identity is always a perichoresis within which the existence of humans and the existence of nature mutually permeate each other. Neither is ontologically higher than the other, even though each has different function, because the two are sisters/brothers. In this light, a just relationship between humankind and nature must be worked out. Abstrak Kerusakan alam adalah fakta tak terbantahkan. Tulisan ini mengkritisi sikap diskriminatif yang menyebabkan manusia menempatkan dirinya terpisah dari alam dan merasa memiliki derajat lebih tinggi. Pandangan tentang manusia sebagai imago Dei yang dipahami sebagai pemberian hak kepada manusia untuk mendominasi alam demi kepentingan manusia memperparah situasinya. Berhadapan dengan persoalan tersebut maka tulisan ini menawarkan etika ekologis Kristiani yang panentheistik dan berkeadilan. Alam semesta dipahami sebagai satu-kesatuan yang koheren dengan dan di dalam Kristus pada saat penciptaan, dalam perjalanan sejarahnya, dan dalam transformasinya menuju kepenuhan kemanunggalan dengan dan di dalam Kristus. Inkarnasi bukanlah terutama karya penyelamatan Allah atas manusia, melainkan tindakan etis Allah untuk merengkuh dan direngkuh oleh alam. Dalam inkarnasi Allah tidak hanya hadir di dunia, tetapi juga manunggal dengan dan bagi dunia material di dalam diri manusia yang mewujud, Yesus Kristus. Identitas manusia dengan demikian merupakan identitas perichoresis di mana keberadaan manusia dan keberadaan alam saling merasuki satu ke dalam yang lain. Tidak ada yang derajatnya secara ontologis lebih tinggi dari yang lain, meskipun masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, karena keduanya bersaudara. Dalam terang ini, maka relasi yang berkeadilan antara manusia dan alam harus diupayakan.
Politik Identitas dan Religiusitas Perdamaian Berbasis Pancasila di Ruang Publik Widjaja, Paulus Sugeng; Wibowo, Djoko Prasetyo Adi; Geovasky, Imanuel
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol 6 No 1 (2021): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2021.61.658

Abstract

AbstractThis research analyzes the impact of identity politics and Pancasila based peace religiosity on the behavior of religious people in the Special Region of Yogyakarta. Identity politics is used in relation to its negative understanding, while Pancasila-based peace religiosity is understood positively, to contract the two. Using a quantitative approach that involved 635 respondents, the research fi nds that the level in which the behavior of the respondents is indicative of identity politics to be as much as 29.6% and by Pancasila-based peace religiosity, as much as 51.1%. In all this, age and the level of education do not moderate theimpact. However, if the number of respondents who chose to answer one way or another is considered, it is clear that in some cases the majority of respondents affirm identity politics. Thus, even though identity politics do not strongly impact the respondents, the trend to affirm identity politics is spread broadly among them. The respondents are hesitant toaffirmatively stay away from identity politics. This potentially creates problems in society when religious people live with others in public sphere. AbstrakPenelitian ini mengkaji dampak Politik Identitas dan Religiusitas Perdamaian Berbasis Pancasila terhadap perilaku umat beragama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam penelitian ini Politik Identitas sengaja dipahami secara negatif dan Religiusitas Perdamaian Berbasis Pancasila sebagai sesuatu yang positif untuk mengkontraskan keduanya. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif atas 635 orang responden, penelitian ini menemukan bahwa perilaku para responden terdampak oleh Politik Identitas sebesar 29,6% dan oleh Religiusitas Perdamaian Berbasis Pancasila sebesar 51,1%. Dalam semua itu, usia dan tingkat pendidikan responden tidak memoderasi dampak keduanya. Namun, jika jumlah responden yang memilih untuk menjawab satu atau lain hal diperhitungkan, maka ditemukan bahwa dalam beberapa kasus mayoritas responden sebenarnyamengafirmasi Politik Identitas. Jadi meskipun Politik Identitas tidak membawa dampak kuat dalam diri para responden, tetapi kecenderungan mengafi rmasi Politik Identitas menyebar sangat luas di antara mereka. Juga jelas bahwa para responden bersikap ragu-ragu untuk menolak perilaku terkait Politik Identitas. Hal ini potensial menimbulkan masalah dalam kehidupan di masyarakat ketika umat beragama hidup bersama dengan umat beragama lain di ruang publik.