Widyatuti Widyatuti
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Karakteristik Individu yang Berhubungan dengan Perilaku Kekerasan pada Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di Jakarta Timur Widyatuti Widyatuti; Budi Anna Keliat; Budiharto Budiharto
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 7, No 2 (2003): September
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v7i2.136

Abstract

AbstrakPerilaku kekerasan menjadi masalah di berbagai negara seperti Amerika, Australia dan negara maju lainnya. Indonesiapun memiliki masalah yang sama terutama di kota-kota besar khususnya Jakarta. Perilaku kekerasan banyak dilakukan oleh anak mulai berusia 10-17 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik individu yang berhubungan dengan perilaku kekerasan pada siswa sekolah lanjutan tingkat atas di Jakarta Timur. Metoda penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Berdasarkan rumus perhitungan sampel Lemeshow didapatkan jumlah sampel sebanyak 370. Instrumen perilaku kekerasan dikembangkan dari penelitian Morrison (1993), sedangkan instrumen lain (karakteristik individu, karakteristik psikologis, sosial dan spiritual) dikembangkan oleh peneliti. Analisis data dengan univariat, bivariat: analisis korelasi dan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukan karakteristik siswa sekolah yang melakukan kekerasan berusia 15-17 tahun 68,5%, jenis kelamin laki-laki 97%, dengan jumlah anak terbanyak di dalam keluarga 3 orang, umumnya pernah mengalami riwayat kekerasan dengan tingkat kekerasan terbanyak katagori berat (fisik), dan pelaku kekerasan terbanyak yang dialami oleh anak sekolah dilakukan oleh orangtua, guru, teman tidak sekelompok, masyarakat disekitar rumah, teman sekelompok, saudara dan masyarakat dilingkungan sekolah. Tidak ada hubungan bermakna antara umur, jenis kelamin, jumlah anak dalam keluarga, riwayat mengalami kekerasan, dan kondisi spiritual dengan perilaku kekerasan. Terdapat hubungan bermakna dalam karakteristik individu berupa pengalaman jenis kekerasan yang dialami (p value 0,0001), pengalaman sebagai pelaku kekerasan (p value 0,0001), aspek psikologis (p value 0,0001), dan aspek sosial (p value 0,026) dengan perilaku kekerasan yang dilakukan anak sekolah lanjutan tingkat atas di Jakarta Timur. AbstractViolence has become a problem in many countries such as America, Australia, and other developed countries. In Indonesia, the same problem also encountered, especially at big cities like Jakarta. Many violence was done by children at the age of 10-17 years old. The purpose of this study is to identify individual characteristics of violence among the high school students at East Jakarta. The cross sectional approach was applied in this study. The member of sample was 370. Instrument of violence was developed from Morrison study (1993). While other instruments were developed by researcher. Data analysis used univariat, bivariat namely correlation analysis and simple regression. The study found that the characteristic of students who have done violence mostly at the age of 17, boy, have 2 brothers/sisters, experienced physical violence from parents, teacher, friends from other group, society, friends from the same group, and people around schools. There is not a significant correlation between age, sex, number of children in family, experience physical violence, and spiritual aspect with violence. There is a significant correlation individual characteristics cover experienced to violence (p value 0,0001), violence subjects (p value 0,0001), psychological aspect (p value 0,0001), and social aspect (p value 0,026).
Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Widyatuti Widyatuti
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12, No 1 (2008): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v12i1.200

Abstract

AbstrakTerapi komplementer akhir-akhir ini menjadi isu di banyak negara. Masyarakat menggunakan terapi ini dengan alasan keyakinan, keuangan, reaksi obat kimia dan tingkat kesembuhan. Perawat mempunyai peluang terlibat dalam terapi ini, tetapi memerlukan dukungan hasil-hasil penelitian (evidence-based practice). Pada dasarnya terapi komplementer telah didukung berbagai teori, seperti teori Nightingale, Roger, Leininger, dan teori lainnya. Terapi komplementer dapat digunakan di berbagai level pencegahan. Perawat dapat berperan sesuai kebutuhan klien. AbstractComplementary therapy has emerged as a common health issue in the countries worldwide. People choose the complementary therapy based on many reasons such as belief, financial, avoiding the chemical reaction from medicine, and positive healing outcome. Nurse has great opportunity to deliver and develop complementary therapy supported by scientific evidences. Basically, the complementary therapy theoretical justification has been established by several nursing theory, as the Nightingale’s, Roger’s, Leininger’s and many others. Complementary therapy can be delivered in various prevention level. In accordance to the purpose, nurse should perform his/her role based on particular client’s needs.
Uji Coba Model Pendeteksian Terhadap Penganiayaan Usia Lanjut di Keluarga Etty Rekawati; Widyatuti Widyatuti; Poppy Fitriyani
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 11, No 1 (2007): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v11i1.181

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah tersusunnya model pendeteksian terhadap penganiayaan usia lanjut di keluarga. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah riset operasional, yang pelaksanaannya pada tahap I desain yang digunakan adalah eksploratif, pada tahap II menggunakan desain konfirmatif dan tahap III pengambilan data untuk mengidentifikasi masalah penganiayaan usia lanjut di keluarga. Sampel yang digunakan 11 petugas kesehatan dan 44 usia lanjut yang tinggal di keluarga yang dipilih secara acak di Kecamatan X di wilayah Jakarta Timur. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil: instrumen yang digunakan pada penelitian ini didapatkan nilai kevalidan sebesar 0,6900 – 0,7378 yang merupakan nilai lebih dari nilai r tabel (r = 0,288), ini menyatakan bahwa hubungan antar pertanyaan dengan nilai keseluruhan instrument cukup baik, dengan realibilitas (menggunakan α-cronbah) sebesar 0,7275. Masalah penganiayaan yang ditemukan adalah sebesar 18,18% usia lanjut di keluarga mengalami penganiayaan fisik, 97,73% penganiayaan emosi, 13,64% penganiayaan seksual, 31,82% penganiayaan ekonomi/finansial, 61,36% pengabaian dan 29,55% mengalami penelantaran. Usia lanjut yang sering mengalami penganiayaan yaitu yang berumur 60 – 75 tahun, berjenis kelamin perempuan, bersuku bangsa Jawa, Agama Islam, tingkat pendidikan SD dan sudah berstatus janda/duda. Model ini dapat digunakan pendeteksian terhadap penganiayaan usia lanjut secara dini sehingga bagi usia lanjut yang sudah terdeteksi dianiaya oleh keluarga dapat dilakukan penanganan secepatnya. AbstractThe purpose of the study was to arrange detection model of elderly abuse in family. This study used operational research that first stage use eksploratif, second stage use confirmative design, and third stage was data collection to identify elderly abuse in family. Sample that was taken are 11 health staff and 44 elderlies who live in family and randomly chosen. The area of this study was in X district, East Jakarta. The result of this study indicated that validity value is 0,6900-0,7378 (r table = 0,288) with reability (use -cronbah) is 0,7275. This study showed that 18,18% of elderly have physical abuse, 97,73% have emotional abuse, 13,64% have sexual abuse, 31,82% have economic/ financial abuse, 61,36% neglect and 29,55% abandon. The elderly that tend to be abused ranges about 60-75 years old, women, Javanese, Islamic, level of education background is primary school, widow/widower. This study can be used to detect elderly abuse as early as possible to improve elderly welfare in community.
Dimensi Spiritual dalam Asuhan Keperawatan Widyatuti Widyatuti
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 2, No 7 (1999): September
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v2i7.301

Abstract

Perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan manusia di era modernisasi dan globalisasi dapat menyebabkan kekecewaan dan keputusasaan pada manusia baik yang sehat maupun sakit. Manusia yang terdiri dari dimensi fisik, emosi, intelektual, social, dan spiritual dimana setiap dimensi harus dipenuhi kebutuhannya. Dari berbagai penelitian menunjukkan dimensi spiritual mempengaruhi penyembuhan pada klien yang sakit. Perawat yang bekerja digaris terdepan harus mampu memnuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai cara perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan keyakinannya. Dalam memenuhi kebutuhan spiritual tersebut perawat memperhatikan tahap perkembangannya, sehingga asuhan yang diberikan dapat terpenuhi sebagaimana mestinya. Abstract  The development of aspects in human life in the area of globalization may lead to disappointment and frustration for either healthy people or for people who suffered from illness. A man composed of physical, emotional, social and spiritual dimension. An individual needs to fulfil every dimension to maintain an equilibrium in his/her life. Studies show that spiritual dimension influenced the healing process of the sick person. Nurses as the front-line staff should help the clients to meet their needs including their spiritual need. There are many ways to meet the client’s needs, such as assisting them to understand the meaning in life spiritually and the purpose of spiritual needs; facilitating the clients to express their religiosity. In order to meet the spiritual need, nurses should consider the developmental tasks of their clients, so the nursing care given will achieve the goal of nursing care.Keywords: Spirit, spiritual, development tasks, nurse’s roles.
Meningkatkan Status Gizi Balita Melalui Asuhan Keperawatan Keluarga di Wilayah Kelurahan Rawa Bunga Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur Widyatuti Widyatuti
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 5, No 2 (2001): September
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v5i2.110

Abstract

Kasus kurang gizi pada balita di Indonesia merupakan masalah kesehatan yang belum teratasi secara tuntas sampai saat ini. Terjadinya krisis moneter sejak 1997 semakin memicu peningkatan kasus tersebut. Salah satu media televisi pada bulan Februari 2000 menyebutkan bahwa lebih dari 2000 balita mengalami gizi buruk bahkan sampai menimbulkan kematian. Keadaan ini merupakan masalah bagi masyarakat Indonesia karena dapat kehilangan satu generasi. Selama ini pemberdayaan keluarga belum dioptimalkan, maka direncanakan penerapan asuhan keperawatan keluaga untuk mengatasi masalah kurang gizi di masyarakat. Penelitian ini sebagai salah satu contoh untuk mengatasi masalah tersebut, bertujuan untuk melihat apakah ada penigkatan status gizi balita di RW 05 Kelurahan Rawa Bunga Kecamatan Jatinegara melalui asuhan keperawatan keluaraga. Hasil penelitian dengan intervensi selama 4 bulan terhadap balita kurang gizi terjadi peningkatan sebesar 13,98% yang menurut analisa statistic uji Wilcoxon bermakna. Malnutrition for children under five years in Indonesia is one of health problems that has not solved yet. Monetary crisis since 1997 in Indonesia became the trigger of malnutrition case. One of TV in February 2000 informed that more than 2000 children has poor nutrition status sometimes become cause of death. This situation will become danger for Indonesia society cause we may loose one generation. Family empowerment has not prepared optimally in giving family care. Because of that it was planned an implementation of family nursing care to solve malnutrition cases in the community. This study is an example for solving malnutrition problem, which purpose to see whether there is an increasing level of children under five years nutrition status through family nursing care at RW 05 Sub District Rawa Bunga District Jatinegara. The study increasing nutritional status of under five years children t0 13,98 after 4 months intervention regarding to Wilcoxon statistical analysis.
Pengaruh Brisk Walking Exercise terhadap Penurunan Tekanan Darah: Systematic Review Rizky Rachmatullah; Widyatuti Widyatuti; Sukihananto Sukihananto
Faletehan Health Journal Vol 9 No 01 (2022): Faletehan Health Journal, Maret 2022
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v9i01.388

Abstract

Brisk walking exercise is an intervention that can lower blood pressure in hypertensive patients. It is very effective to stimulate muscle contraction, increase heart rate and oxygen in the tissues and break down glycogen. This exercise can reduce the process of plaque formation through increased glucose and fat utilization. The research objective was to determine the effectiveness of brisk walking exercise on lowering blood pressure of hypertensive patients. This study was a systematic review. The articles were obtained from online database, namely Science Direct, Scopus, Wiley Online, Oxford Journal, Research Gate, and Google Scholar from 2010 to 2020. The search obtained 10 articles which showed that brisk walking exercise had a significant effect on lowering blood pressure in hypertensive patients. Brisk walking exercise should be developed as a clinical intervention of lowering blood pressure in health services such as hospitals and public health centers.