Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal Agriovet

PENGARUH PERSENTASE PENGGUNAAN MALAM LEBAH (BEESWAX) TERHADAP MUTU POMADE PROPOLIS Guruh Prasetyo; Moch. Junus; Rifa’i Rifa’i
Jurnal Agriovet Vol. 4 No. 2 (2022): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v4i2.732

Abstract

 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek lilin lebah terhadapkualitas organoleptik propolis pomade. Bahan penelitian yang digunakanadalah malam lebah (beeswax) yang diperoleh dari peternak lebah serta tokoonline di kota Surabaya. Ekstrak propolis dihasilkan dari extraksi saranglebah tanpa sengat yang didapatkan dari peternak lebah pak Tarsa’iPasuruan. Minyak herbal yang diperoleh dari toko online yang berlokasi diJakarta, dan protaleum jelly yang diperoleh di toko bahan kimia Bromo KotaMalang. Alat-alat yang digunakan adalah kompor LPG, panci double boiling, spatula, timbangan, pipet tetes, gelas ukur, dan jar aluminiu /pot pomade.Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen menggunakanRancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuandalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Penggunaan lebah malam(beeswax) 10%, 15% dan 20% volume pomade. Data yang diperoleh daripenelitian ini akan dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of variance).Jika ada efek yang signifikan, dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil(BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan malam lebah telahmemberikan efek yang berbeda pada warna dan bau kualitas propolis pomade(T <0,05). Sedangkan pada kualitas tekstur memberikan pengaruh yangberbeda nyata (T> 0,05). Kesimpulannya adalah penggunaan lilin lebah telahmemberikan efek yang berbeda pada pomade propolis organoleptikberkualitas. Berdasarkan hasil penelitian disarankan bahwa penggunaan lilinlebah dapat menjadi alternatif sebagai pengisi dalam pembuatan propolispomade.Kata Kunci : lilin lebah, lebah madu, pomade, propolis   The purpose of this research was to find the effect of beeswax to thepropolis pomade organoleptic quality. The research material usedbeeswax obtained from beekeepers in Surabaya. The propolis was fromthe Tarsai beekeeper in Pasuruan, herbs oil obtained from the JakartaOptima shop, and the protaleum jelly obtained at the Bromo chemicalstore. The tools used are LPG stoves, double boiling pans, spatulas,scales, drop pipettes, measuring cups, and aluminum pomade jar. Theresearch method used was an experiment using a ompletelyrandomized design with 3 treatments and 5 repetitions. The treatmentsin this study are as follows: Use beeswax 10%, 15% and 20% ofpomade volume Data obtained from this study will be analyzed usingANOVA (Analysis of variance). If there was significant effect,continue by Least Significant Different (LSD). The results showed ofthat the use of beeswax has give different effects on the colour andsmell quality of propolis pomade (T<0.05). While on texture qualitydid give different significant effect (T>0.05). The conclusion was theuse of beeswax has give different effects on the organoleptic qualitypropolis pomade. Based on the results of the study it was suggestedthat used of beeswax can bee an alternative as a filler in makingpomade propolis.Key words: Beeswax, honey bee, pomade, propolis
BOBOT LAHIR ANAK KAMBING PERANAKAN ETAWA (PE) DAN SENDURO DI KECAMATAN SINGOSARI KABUPATEN MALANG Rifa'i Rifa'i; Dian Afikasari; Rico Anggriawan
Jurnal Agriovet Vol. 3 No. 2 (2021): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v3i2.448

Abstract

Ternak kambing PE dan kambing Senduro merupakan ternak yang sedang dan terus dikembangkan saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bobot lahir anak kambing PE dan Kambing Senduro. Metode penelitian menggunakan studi kasus di Unit Pelaksana Teknis Pembibitan Ternak dan Hijuan Makanan Ternak (UPT PT dan HMT) Singosari, Kabupaten Malang. Materi yang digunakan adalah kambing PE dan kambing Senduro bunting tua masing-masing sebanyak 30 ekor, yang kemudian dilakukan pengamatan saat fase partus untuk mengetahui bobot lahir anak yang dihasilkan. Bobot lahir anak kambing PE tipe kelahiran kembar lebih tinggi dibandingkan tipe kelahiran tunggal 3,8726 ± 0,3874 > 3,7754 ± 0,6859, sedangkan bobot lahir anak kambing Senduro menunjukkan tipe kelahiran kembar lebih tinggi dibandingkan tipe kelahiran tunggal 3,7198 ± 0,4234 > 3,4230 ± 0,3252. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa bobot lahir pada anak kambing PE dan kambing Senduro tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kata Kunci : Anak kambing, Bobot lahir, kambing PE dan kambing Senduro
EVALUASI KARAKTERISTIK PETERNAK TERHADAP PRODUKSI SAPI BALI DI KABUPATEN BELU, NUSA TENGGARA TIMUR Edelnia Kristina Bere; Rifa’i Rifa’i
Jurnal Agriovet Vol. 3 No. 2 (2021): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v3i2.474

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuanmasyarakat tentang manajemen pemeliharaan sapi Bali. Penelitian inidilaksanakan di kecamatan Tasifeto Timur dan Tasifeto Barat diKabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur pada bulan Oktober-Desember2018. Permasalahan yang ingin diketahui adalah bagaimanakarakteristik peternak terhadap produksi sapi Bali. Metode penelitiandengan melakukan wawancara kepada 50 orang responden peternak.Teknik purposive sampling digunakan dalam penelitian ini danvariabel yang diamati antara lain: tingkat pendidikan, umur beternakdan lama beternak terhadap produksi sapi Bali. Analisis statistikdeskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik peternak.Hasil dari penelitian adalah karakteristik peternak sapi Bali dikecamatan Tasifeto Timur dan Tasifeto Barat Kabupaten Beluberdasarkan tingkat pendidikan sebagian besar hanya mengayomipendidikan Sekolah Dasar sebanyak 27 orang atau 54%, umur beternakrata-rata 25-54 tahun atau 58% dan berdasarkan lama beternak 88%rata-rata >10 tahun dan jumlah pakan 100% menggunakan limbah sisapertanian. Kata Kunci : Karakteristik Peternak, Sapi Bali
TINGKAT MOTIVASI PETERNAK DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN HIDUP KELUARGA (Studi Kasus Kelompok Ternak Jaya Bersama Kelurahan Massepe Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidenreng Rappang) Angga Nugraha; Armayani Armayani; Muhammad Rais Rahmat Razak; Rifa’i Rifa’i
Jurnal Agriovet Vol. 3 No. 2 (2021): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v3i2.545

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pada tingkatan mana motivasi peternak dalam beternak sapi potong dengan mengukur kebutuhan hidup keluarga. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2020 pada kelompok ternak Jaya Bersama dengan total responden 30 anggota kelompok ternak dengan mengambil seluruh jumlah populasi peternak yang berada dalam kelompok ternak jaya Bersama. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi frequensi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan di Kelurahan Massepe Kab. Sidenreng Rappang yaitu mendapatkan skoring 89, berada pada kategori Sedang. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa pemeliharaan sapi potong bukanlah pekerjaan pokok peternak melainkan hanya bersifat sampingan karena jika mengandalkan dari usaha pertanian yang merupakan usaha pokok tidaklah cukup. Usaha tani komoditi pertanian yang dikombinasikan dengan sistem usaha bagi hasil ternak sapi potong dapat menambah pendapatan petani/peternak sehingga kesejahteraannya dapat meningkat. Kata Kunci : Motivasi, peternak, sapi potong, kelompok ternak, kebutuhan
PRODUKSI KOLOSTRUM SAPI PERAH FRIESIAN HOLSTEIN (FH) PADA PERIODE LAKTASI YANG BERBEDA Puguh Surjowardojo; Tri Eko Susilorini; Rifa’i Rifa’i
Jurnal Agriovet Vol. 4 No. 1 (2021): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v4i1.574

Abstract

Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui produksikolostrum pada sapi perah FH dengan periode laktasi yang berbeda.Metode penelitian menggunakan studi kasus di Koperasi PeternakanSapi Perah (KPSP) Setia Kawan, Nongkojajar, Kecamatan Tutur,Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur sebagai tempatpemeliharaan sapi perah FH laktasi. Materi yang digunakan dipenilitian adalah sapi perah FH laktasi sebanyak 37 ekor. Pengambilansampel dilakukan secara purposive sampling. Hasil penelitianmenunjukkan produksi kolostrum pada periode laktasi 2,3,4, dan 5masing-masing dalam satuan liter/ekor/hari yaitu 7.72 ± 2.64, 9.09 ±1.89, 10.80 ± 1.28, 9.04 ± 2.61 liter/ekor/hari Kesimpulan daripenelitian tren produksi kolostrum pada sapi perah FH meningkat dariperiode laktasi ke 2 sampai periode laktasi ke 4, setelahnya trenproduksi kolostrum mengalami penurunan.Kata Kunci : Kolostrum, Sapi perah, Produksi
Trichoderma viride PADA FERMENTASI LIMBAH GARUT TERHADAP KADAR PROTEIN KASAR (PK) DAN SERAT KASAR (SK) Badat Muwakhid; Djoko Subagyo; Rifa’i Rifa’i
Jurnal Agriovet Vol. 4 No. 1 (2021): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v4i1.596

Abstract

Konsentrasi penggunaan Trichoderma viride yang terkandung dalamprotein kasar (PK) dan serat kasar (SK) pada proses fermentasi limbahgarut memiliki pengaruh sehingga perlu dilakukan penelitian untukmengetahui tingkat konsentrasi yang digunakan. Dalam hal ini metodepenelitian yang sesuai yaitu metode percobaan Rancangan AcakLengkap dengan Pola Faktoral : 3 x 3 dengan 4 ulangan. Variabel yangdiamati dan dilakukan pengukuran merupakan zat yang terkandungyakni protein kasar dan serat kasar dengan menggunakan analisaproksimat. Data hasil pada penelitian ini dapat dilihat bahwa rataankandungan serat kasar (SK) dan protein kasar (PK) limbah garutpada masing masing perlakuan konsentrasi K1 protein kasar 3,50 %dan serat kasar 8,68 %, K2 protein kasar 3,75 % dan serat kasar 8,52%, K3 protein kasar 3,82 % dan serat kasar 8,34 %. Kesimpulanfermentasi limbah garut menggunakan inoculum Trichoderma viridekandungan protein kasar meningkat dan kandungan serat kasarmengalami penurunan.Kata Kunci : Fermentasi, Limbah garut, Trichoderma viride
KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH FRIESIEN HOLSTEIN (FH) DENGAN UMUR KOLOSTRUM YANG BERBEDA DITINJAU DARI KADAR LEMAK Puguh Surjowardojo; Hanum Muarifah; Rifa’i Rifa’i; Ike Mawarni Handayani
Jurnal Agriovet Vol. 5 No. 1 (2022): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui kadar lemak kolostrum sapi FH pada umur kolostrum yang berbeda yang dipelihara secara intensif di Peternakan Rakyat Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) yang berlokasi di Kecamatan Tutur, Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Materi yang digunakana dalam penelitian ini adalah kolostrum dari induk 37 sapi perah FH yang laktasi, sampel yang diambil meliputi hari pemerahan ke 1, ke 2, ke 3 dan ke 4 dengan waktu pemerahan pagi dan sore. Data penelitian dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian menunjukkan rata-rata kadar lemak kolostrum sapi perah FH pada periode laktasi 1,2,3 dan 4 hasil pemerahan pagi berkisar antara 6,49 - 8,56%, sedangkan rataan kadar lemak hasil pemerahann sore berkisar antara 6,43 – 9,35%. Hubungan antara hari pemerahan dengan kadar lemak  kolostrum pagi sapi perah dari persamaan regresi Y= 9,217 + (-0,719)X dan persamaan regresi Y= 10,287 + (-0,822)X pada sore hari yang artinya setiap peningkatan 1 hari pemerahan, maka nilai kadar lemak menurun sebesar 0,719 pada pagi hari dan nilai kadar lemak menurun sebesar 0,822 pada sore hari. Sedangkan nilai koefisien relasi (r) pagi diperoleh 0,267 dan nilai koefisien relasi (r) sore diperoleh 0.325, menunjukan adanya hubungan positif yang rendah antara hari pemerahan dengan kadar lemak kolostrum pada pagi dan sore hari. Nilai koefisien determinasi (R2) pada pagi hari sebesar 7,1% dan 10,6% pada sore hari, artinya hari pemerahan berpengaruh hanya 7,1% (pagi) dan 10,6% (sore) terhadap kadar lemak kolostrum serta 92,9% (pagi) dan 89,4 % (sore) ditentukan oleh faktor lain.   Abstract This study was conducted with the aim of knowing the colostrum fat content of FH cows at different ages of colostrum that were intensively reared at the Dairy Cattle Farming Cooperative People's Farm (KPSP) located in Tutur District, Nongkojajar, Pasuruan Regency, East Java Province, Indonesia. The material used in this study was colostrum from 37 lactating FH dairy cows. The samples taken included the 1st, 2nd, 3rd, and 4th day of milking with morning and afternoon milking. The research data was analyzed using simple linear regression. The results of the study showed that the average fat content of colostrum of FH dairy cows in the lactation period of 1, 2, 3, and 4 in the morning milking ranged from 6.49–8.56%, while the average fat content in the afternoon milking ranged from 6.43–9.35%. The relationship between the day of milking and the fat content of colostrum in the morning of dairy cows from the regression equation Y = 9,217 + (-0,719)X and the regression equation Y = 10,287 + (-0,822)X in the afternoon, which means that for every 1 day increase in milking, the fat content value decreased by 0.719 in the morning and the value of fat content decreased by 0.822 in the afternoon. The value of the correlation coefficient (r) in the morning was 0.267 and the value of the relation coefficient (r) in the afternoon was 0.325, indicating a low positive relationship between milking days and colostrum fat levels in the morning and evening. The value of the coefficient of determination (R2) in the morning is 7.1% and 10.6% in the afternoon, meaning that the day of milking only affects 7.1% (morning) and 10.6% (evening) of colostrum fat content and 92.9% (morning) and 89.4% (afternoon) were determined by other factors.