Thamrin Wikanta
Centre Research for Product Processing and Biotechnology Marine & Fisheries, Jl. K.S. Tubun VI, Jakarta 10260

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

EXTRACTION OF POLYPHENOL FROM Sargassum sp. AND ITS ENTRAPMENT IN THE NANOCHITOSAN Wikanta, Thamrin; ', Baihakki; ', Feliatra
Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan Vol 2, No 1 (2015): Wisuda Februari Tahun 2015
Publisher : Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seaweed is substantial in bioactive compounds of polyphenols that can scavengefree radicals. The aim of this study was to determine the total content of polyphenoliccompounds in the Sargassum sp and its aktivities by using DPPH and FRAP methods.DPPH methods resulting the value of IC50 (Inhibition concentration) and FRAPmethods resulting the total of Fe3+ reduced to Fe2+. Entrapment of Sargassum sp. extractusing nanoparticle chitosan-based was to protect the active compounds in the extract tokeep well the activity of the polyphenol of extraction. Results showed that totalpolyphenol contents of Sargassum polycistum and S. hystrix at 10 mg/ml were 108,64μg/mL and 65,5 μg/mL respectively. IC50 value on DPPH test of S. polycistum and S.hystrix were 667,234 μg/mL and 2861,49 μg/mL, respectively. The reasults of FRAPtest of S. polycistum extracts at concentrations of 100, 500, and 1000 μg/mL were 67,00;127,14; and 214,59 μmol/μg, respectively, while the S. hystrix extract was 48,47; 62,48;80,22μmol/μg extract. Loading capacity of chitosan-STPP and chitosan-carrageenan onpolyphenol were 0,45 and 0,34%, respectively, and entrapment efficiency of Chitosan-STPP and Chitosan-carrageenan were 21,96% and 39,62%, respectively.Keywords: Polyphenol, Sargassum sp, antioxidant , and nanochitosan
SYNTHESIS OF POLYVINYL ALCOHOL-CHITOSAN HYDROGEL AND STUDY OF ITS SWELLING AND ANTIBACTERIAL PROPERTIES Wikanta, Thamrin; Erizal, Mr; Tjahyono, Mr; Sugiyono, Mr
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 1 (2012): May 2012
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v7i1.10

Abstract

The aim of this research was to synthesize a hydrogel for wound dressing by mixing of polyvinyl alcohol (PVA) and chitosan (CTS) and processed by combination technique of freezing-thawing and irradiation by gamma ray, and to study of its properties. PVA aqueous solution 10% (w/v) was mixed with 2% (w/v) chitosan (CTS) solution and homogenized. The PVA-CTS mixture was processed by freezing-thawing up to 3 cycles, and then irradiated by gamma rays at the doseranged of 20-50 kGy  (dose rate was 10 kGy/hour). Result showed that PVA-CTS hydrogel with the gel fraction of 83%, 87%, 90%, and 83% were obtained at the irradiation dose of 20 kGy, 30 kGy, 40 kGy, and 50 kGy, respectively. Increasing of irradiation dose caused increasing of water absorption of hydrogel, i.e. 1.700 %, 1.715 %, 1.913 %, and 2.036 %, respectively, and the hydrogel reached the equilibrium in 25 hours. The hydrogel showed very slow water evaporation rate (~ 2%) at the initial time (1 hour) and then increased very fast (up ~50 %) at 24 h, i.e. 43%, 39.13%, 44%, and 53%, respectively. The elongation at break of hydrogels were obtained 245%, 322%, 322%, and 205% with the maximum value were obtained at irradiation dose ranged of 30-40 kGy. The presence of chitosan in the PVA hydrogel made it having higher antibacterial properties with the inhibitionzone value of 8 mm at irradiation dose of 30-40 kGy compared to PVA hydrogel as a negative control (6 mm) and to chloramphenicol as a positive control (8 mm).
Correlation between fucoxanthin contents in Turbinaria sp.and sea water nutrients at Binuangeun and Krakal Coasts Januar, Hedi Indra; Wikanta, Thamrin
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): May 2011
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v6i1.57

Abstract

Fucoxanthin pigment is a potential compound in nutraceutical. It is commonly found in algaesuch as in Turbinaria sp.,a very abundant species in Indonesian coastal. To maximize theproduction of fucoxanthin for the development of nutraceutical industry in the coastal area, it isimportant to identify the optimal environmental parameters for its biosynthesis. It has been reportedthat nitrogen and or phosphate nutrients affect the growth of algae. Therefore, this paper aimed toobtain an optimal environment for Turbinaria sp. to produce fucoxanthin based on correlationanalysis. Correlated data were fucoxanthin isolated from Turbinaria sp.that was collected fromKrakal (Yogyakarta) and Binuangeun (Banten) coasts. Fucoxanthin contents in each sample werecompared based on the peak areas in chromatogram after 1 mg injection of n-hexane extract ofT. decurrrens in the HPLC system. The analysis results showed that the peak areas of fucoxanthinwere significantly different among sampling locations (P = 7.99 x 10-6), sampling periods (P = 6 x10-3) and interaction of both (P = 3 x 10-3). Whereas the correlation analysis revealed that interactionbetween phosphate and temperature could be a predictor that strongly (R = 0.986) and significantlycorrelated (P = 1.09 x 10-7) with the peak areas of fucoxanthin (R2= 96.5%). These results were inline with growth limiting factor in seawater and the function of fucoxanthin as ultraviolet protector.Based on these results, it is suggested that the suitable location for fucoxanthin production is in thearea of agricultural run-off that contains an elevated concentration of dissolved phosphate.
Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan dari Rumput Laut Halymenia harveyana dan Eucheuma cottonii Suryaningrum, Theresia Dwi; Wikanta, thamrin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i1.231

Abstract

Penelitian uji aktivitas senyawa antioksidan dari rumput laut Halymenia harveyanadanEucheuma cottoniitelah dilakukan. Aktivitas antioksidan dan uji toksisitasnya diamati terhadapekstrak kasar, fraksi n-heksana, dan fraksi metanol dari rumput laut segar dan kering, sertaidentifikasi senyawa aktif menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitasantioksidan ekstrak rumput laut segar lebih tinggi dari pada ekstrak rumput laut kering. Ekstrakfraksi metanol dari Halymenia harveyanasegar memiliki aktivitas antioksidan yang paling poten.Pada kedua jenis rumput laut tersebut, toksisitas ekstrak dari sampel kering lebih tinggidibandingk an dengan ekstrak dari rumput laut segarnya. Ekstrak Halymenia harveyanamengandung senyawa-senyawa antioksidan mirip BHT (butil hidroksi toluen), ester danhidrokarbon aromatis, demikian pula ekstrak Eucheuma cottoniibanyak mengandung antioksidan tetapi mempunyai toksisitas yang tinggi terhadap Artemia salina.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Turbinaria decurrens Terhadap Perbaikan Kerusakan Hati Tikus Putih Wikanta, Thamrin; Rahayu, Lestari; Fajarningsih, Nurrahmi Dewi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.423

Abstract

Turbinaria decurrens mengandung pigmen karoten yang berfungsi sebagai antioksidan sehingga mampu meredam radikal bebas. Kerusakan sel hati akibat radikal bebas terdeteksi dari peningkatan kadar malondialdehid (MDA) dan aktivitas glutamat-piruvat transaminase (GPT) dalam serum darah. Pengujian toksisitas akut dari ekstrak etanol T. decurrens dilakukan dengan menggunakan mencit secara intraperitonial, sedangkan pengaruh pemberian ekstrak tersebut terhadap perbaikan kerusakan liver menggunakan tikus secara oral. Pengaruh pemberian ekstrak tersebut terhadap perbaikan kerusakan hati diamati menggunakan 6 kelompok tikus yaitu: KI (kelompok normal yang hanya diberi air suling), KII (kelompok kontrol negatif yang diberi air suling), KIII (kelompok perlakuan yang diberi ekstrak dengan dosis 0,2 g/200 g BB (Bobot Badan)), KIV (kelompok perlakuan yang diberi ekstrak dengan dosis 0,4 g/200 g BB), KV (kelompok perlakuan yang diberi ekstrak dengan dosis 0,8 g/200 g BB), dan KVI (kelompok kontrol positif yang diberi vitamin E dosis 5,4 mg/200 g BB). Kelompok II, III, IV, V, dan VI diberi perlakuan selama 12 hari berturut-turut, setelah dua jam pemberian perlakuan yang terakhir tikus diberi CCl 40,11 g/200 g BB, 24 jam kemudian tikus diambil darahnya untuk pengukuran kadar MDA, aktivitas GPT, serta pengambilan organ hati untuk penentuan rasio bobot hati/bobot badan serta pembuatan sediaan histopatologi hati. Hasil riset menunjukkan bahwa ekstrak etanol T. decurrenstermasuk dalam kategori toksisitas rendah dan ekstrak memiliki aktivitas antioksidan dan potensi hepatoprotektor sehingga dapat membantu perbaikan kerusakan hati.
Bioprospeksi Spons, Karang Lunak dan Ascidian Asal Taman Nasional Laut Kepulauan Wakatobi: Antitumor dan Antioksidan Fajarningsih, Nurrahmi Dewi; Nursid, Muhammad; Januar, Hedi Indra; Wikanta, Thamrin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i2.60

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi manfaat (bioprospeksi) spons, karanglunak, dan ascidian asal Taman Nasional Laut (TNL) Kepulauan Wakatobi sebagai antitumor dan antioksidan. Sampel makroinvertebrata laut diambil dengan menggunakan scuba diving di empat stasiun pengambilan di perairan TNL Kep. Wakatobi. Sebanyak 74 sampel diuji aktivitas antitumornya terhadap 3 jenis sel lestari tumor (HeLa, MCF7, SKOV3) dengan metode Thiazolyl Blue Tetrazolium Blue (MTT) dan diuji pula aktivitas antioksidannya dengan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl pikryl hidrazil). Sampel yang dapat menghambat >50% sel lestari tumor pada konsentrasi 20 µg/ml dikategorikan sebagai sampel aktif antitumor. Sampel yang memiliki aktivitas penghambatan radikal bebas >50% pada konsentrasi 100 µg/ml dalam uji DPPH dikategorikan sebagai sampel yang aktif antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 sampel (ascidian W0208; spons W2408 dan W2508) yang aktif terhadap tiga jenis sel lestari tumor, 11 sampel aktif terhadap dua jenis sel lestari tumor dan 22 sampel aktif terhadap satu jenis sel lestari tumor. Dari 74 sampel yang diuji aktivitas antioksidannya, terdapat 8 sampel yang tergolong aktif (7 sampel spons dan 1 sampel karang lunak).
Uji Aktivitas Antioksidan, Toksisitas, The Assays of The Antioxidative Activity, Toxicity, and Cytotoxicity of The Red Algae. Wikanta, Thamrin; Januar, Hedi Indra; Nursid, Muhammad
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i4.475

Abstract

Riset tentang aktivitas antioksidan, toksisitas dan sitotoksisitas ekstrak Rhodymenia palmata telah dilaksanakan. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1‑ difenil‑2­pikrilhidrazil).Uji toksisitas terhadap Artemia salina dilakukan dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Uji sitotoksisitas terhadap sel lestari tumor HeLa ditentukan dengan metode MTT (3‑(4,5‑dimetilthiazol‑2yi)‑2,5‑difeniI tetrazolium bromida). Hasil uji menunjukkan bahwa ekstralk kasar metanol memiliki aktivitas antioksidan rendah (IC .0~464,89 ppm). Fraksi etil asetat memiliki toksisitas paling tinggi (L C50 =5,36 ppm), dan fraksi n‑heksana memiliki toksisitas rendah (LC 0=55,20 ppm), sedangkan fraksi metanol termasuk kelompok tidak toksik (LC 50=39012,95 ppm). Uji sitotoksisitas terhadap sel lestari tumor HeLa menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki sitotolksisitas rendah (LC 5,=432,43 ppm), sedangkan fraksi n‑heksana memiliki sitotoksisitas tinggi (LC 5,=29,68 ppm).