Dedy Pradesa
STID Al-Hadid

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MANAJEMEN STRATEGI DAKWAH NABI MUHAMMAD PADA MASA AWAL MADINAH Dedy Pradesa
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 8 No 2 (2018): Jurnal Kajian & Pengembangan Manajemen Dakwah
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.612 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v8i2.151

Abstract

Studi ini berangkat dari keprihatinan pengelolaan organisasi dakwah yang masih tradisional, tidak didasari ilmu, salah satunya adalah ilmu manajemen strategi. Manajemen strategi telah terbukti menjadi alat yang efektif bagi keberhasilan organisasi. Termasuk dakwah Nabi Muhammad dalam salah satu periodenya, yaitu pada masa awal di Madinah. Periode tersebut dipilih karena terdapat serangkaian kebijakan dan implementasinya yang itu mengindikasikan penerapan prinsip-prinsip manajemen strategi yang tepat dan terbukti berhasil. Tujuan studi ini adalah untuk memberikan gambaran manajemen strategi dakwah Nabi Muhammad pada masa awal di Madinah. Manfaatnya diharapkan organsasi dakwah dapat mengambil contoh dan pelajaran dari hasil studi ini. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif historis pustaka dan expost facto. Data dikumpulkan dari sumber literatur sejarah terkait. Analisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif historis. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam setiap pengambilan keputusan-keputusan strategisnya, pijakan pembacaan dan analisis lingkungan sangat dominan dilakukan oleh Nabi Muhammad. Demikian pula dalam implementasi dan evaluasi strategi. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara substansi dalam pengembangan organisasi dakwahnya Nabi Muhammad menggunakan perangkat keilmuan manajemen strategi.
Mengelola Energi Spiritual Bagi Dai': Belajar dari nabi Ibrahim Ahmad Hidayat; Dedy Pradesa
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 3 No 1 (2021)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.523 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v3i1.142

Abstract

Spiritual energy is a driving force behind all of someone’s activities to perform strongly held values, to reach non-self-interest goals, including da’wah activities. It is essential for a dai, the one conducting da’wah, to have good spiritual energy management method, which are: (1) having techniques to improve spiritual energy so that it reaches high capacity; (2) abilities to use it efficiently; and; (3) having its renewal system. Learning from the Prophet Ibrahim as a dai, we can discover three techniques of spiritual energy management. It is based on Jim Loehr and Tony Schwartz’s spiritual energy management. It uses literature study. It indicates : (1) the Prophet Ibrahim gradually expanded his spiritual energy capacity through conducting obligation of da’wah challenging his safety; (2) the Prophet Ibrahim did not hate and feel resentful by refusals on his da’wah mission. On the contrary, he continuously applied scientific approach, did not insist, and prayed for the safety of the ones refusing his da’wah. Therefore, his spiritual energy was not wastefully spent for disappointment or frustration; (3) The Prophet Ibrahim took a break and utilized his spiritual energy for remembering Allah’s greatness, compassion, and justice. He also utilized to conduct da’wah ethically, scientifically and without coercion
Landasan Dakwah Multikultural: Studi Kasus Fatwa MUI tentang Pengharaman Pluralisme Agama Aris Kristianto; Dedy Pradesa
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 2 No 1 (2020)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.964 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v2i1.96

Abstract

Studi ini berangkat dari gagasan dakwah multikultural yang relevan dengan konteks Indonesia. Sebagai sebuah pendekatan dakwah berbasis multikultural perlu memiliki landasan yang tepat dalam pelaksanaannya, karena konsep multikultural bersinggungan dengan konsep pluralisme teologis yang ternyata maknanya tidak tunggal. Sisi lain MUI sebagai Lembaga yang mengeluarkan fatwa Nomor 7 Tahun 2005 tentang keharaman pluralisme. Di sinilah perlunya pengkajian fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme teologis sebagai landasan dakwah multikultural. Studi ini berfokus pada menelaah fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme agama dan keabsahan makna khusus pluralisme agama, serta implikasi fatwa tersebut bagi pelaksanaan dakwah multikultural. Metodologi studi secara kualitatif deskriptif dengan pendekatan kepustakaan. Analisis berpijak pada konsep pluralisme, karakteristik dakwah multikultural, serta kelembagaan MUI dan fatwanya. Hasil studi menunjukkan bahwa pemaknaan pluralisme yang digagas MUI absah sebab berangkat dari pengertian awal pemahaman masyarakat, sehingga fatwa tersebut dapat diterima kebenarannya. Implikasi fatwa tersebut terletak pada tiga hal, yaitu perlunya pengembangan materi antipluralisme dan promultikultural, pengembangan strategi dakwah berbasis kultural dan mengedepankan kerukunan, penyikapan perbedaan dengan dialog dan toleransi aktif untuk hidup Bersama.