Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

POROSITAS KAYU JATI KLON CEPU DAN MADIUN UMUR 7 TAHUN Andi Detti Yunianti
PERENNIAL Vol. 8 No. 2 (2012)
Publisher : Forestry Faculty of Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v8i2.219

Abstract

This study was aimed at determining the pore characteristic (type, dimension and frequency of vessel) of teak from different clones (Cloned Cepu and Madiun). For the purpose of the study, teak wood samples with the age of 7 years were taken from research site number 22a of RPH Banaran, BKPH Playen, Gunung Kidul, in Watu Sipat Forests, Biotechnology and Forest Tree Improvement Research Facilities in Yogyakarta at different planting distances (3 m x 3 m and 2 m x 6 m). Results show that the type of pores is diffuse-porous until the 3th growth ring and after that; it becomes semi ring-porous. The variation of diameter, length and frequency of vessels from cloned Cepu and spacing 3 m x 3 m are comparatively uniform compared to that of cloned Madiun and spacing 2 m x 6 m. Key words: Cloned teak, pores, planting distance, Cepu, Madiun
STRATEGI PEMASARAN, PENGEMASAN DAN PEMANENAN PRODUK UNGGULAN DI KTH MALLAPAOWE, KECAMATAN LILI RIAJA, KABUPATEN SOPPENG, SULAWESI SELATAN Andi Detti Yunianti; Sitti Nuraeni; . Suhasman; Ira Taskirawati; . Agussalim
Jurnal Dinamika Pengabdian (JDP) Vol. 4 (2018): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 4 NO. (EDISI KHUSUS) NOVEMBER 2018
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v4iK.5446

Abstract

Salah satu kecamatan di Kabupaten Soppeng adalah Kecamatan Lili Riaja. Kecamatan ini memiliki tujuh Kelompok Tani Hutan (KTH) yang aktif memanfaatkan sumberdaya alam di sekitar hutan. Salah satu KTH yang menjadi mitra pada kegiatan pengabdian ini adalah KTH Mallapaowe. Permasalahan yang dihadapi mitra, produk mereka memiliki daya saing dan nilai jual yang sangat rendah. Produk yang menjadi andalan KTH Mallapaowe adalah “coin kalua” dan gula semut dari pohon aren. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah transfer ilmu pengetahuan dan teknologi guna meningkatkan nilai jual produk para anggota KTH serta strategi pemasaran untuk meningkatkan daya saing produk dalam bentuk ceramah dan Focus Group Discussion (FGD) serta Pelatihan. Selain itu dilakukan pre test dan post test untuk mengukur tingkat keberhasilan kegiatan kami. Kegiatan ini diharapkan dapat dilaksanakan dan dikembangkan oleh anggota KTH guna meningkatkan daya jual dan daya saing produk mereka. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatnya pengetahuan anggota KTH terkait cara pengemasan dan pemanenan madu dari lebah Trigona sp sebesar 37% dari sebelum hingga setelah kegiatan pengabdian ini. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah Ceramah dan FGD mengenai: 1). Strategi pemasaran produk; 2). Berbagai cara pemanenan madu; dan 3). Berbagai contoh kemasan produk. Pelatihan yang diberikan kepada anggota KTH antara lain pembuatan kertas daur ulang untuk bahan pengemasan, cara pengemasan dengan menggunakan mesin fortable “Seal and Vacuum”, membuat berbagai macam contoh kemasan produk yang menarik serta cara pemanenan madu lebah Trigona sp dengan Metode Sedot Madu dengan Spoit/Pipet. Kata Kunci: Kelompok Tani Hutan Mallapaowe, pengemasan, coin kalua, gula semut, Trigona sp.        
TEKNOLOGI TEPAT GUNA PENINGKATAN KETAHANAN KAYU TERHADAP ORGANISME PERUSAK KAYU UNTUK BAHAN BAKU KERAJINAN BERKUALITAS Andi Detti Yunianti; Ira Taskirawati; . Bakri; Musrizal Muin; Djamal Sanusi; . Suhasman; . Agussalim
Jurnal Dinamika Pengabdian (JDP) Vol. 3 No. 1 (2017): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 3 NO. 1 OKTOBER 2017
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v3i1.2965

Abstract

Kendala dari kegiatan pengabdian yang telah dilakukan sebelumnya adalah cepatnya produk kerajinan yang dibuat terserang organisme perusak kayu. Sehingga, diperlukan suatu pengetahuan mengenai metode pengawetan kayu terhadap bahan baku kerajinan. Metode yang dipilih adalah metode sederhana yang sebenarnya sudah sering dilakukan oleh masyarakat desa. Metode pengawetan dengan menggunakan pengasapan dan perendaman. Metode pengasapan dilakukan dengan menggunakan drum dan oven, sedangkan metode perendaman dengan menggunakan serbuk kayu yang tergolong awet yaitu kayu jati dan kayu bayam. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian ini adalah peserta memperoleh pengetahuan tambahan mengenai teknologi tepat guna dalam peningkatan ketahanan kayu terhadap serangan organisme perusak dan pengetahuan dalam mengenali dan mengidentifikasi sumberdaya hutan yang potensial digunakan sebagai bahan pengawet dan praktik langsung pengawetan bahan baku untuk produk kerajinan. Kata kunci: pengawetan kayu, bahan baku, kerajinan
SIFAT FISIK BATANG DAN CABANG KAYU MAKADAMIA Andi Detti Yunianti
PERENNIAL Vol. 2 No. 1 (2006)
Publisher : Forestry Faculty of Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v2i1.149

Abstract

Since there have been a big difference between wood production and industrial need, wood diversification plays an important role in handling wood deficiencies. Wood raw material diversification could developed and increased throughout the use of whole parts of the tree including branch. The current study was aimed at understanding stem and branch physical properties (basic density, air-dry specific gravity, air-dry moisture content and shrinkage) of macadamia wood as quality indicators for efficient utilization in the future. For the purpose of the study, parts of stem and branch of the tree were taken from a macadamia tree. Test specimens of stem were cut 50 cm from the ground while that of branch were selected from the largest diameter at 10 cm distance from the main stem of the tree. All samples were tested for their physical properties according to ISO standards, 1975. Results showed that the basic density, air dry specific gravity and longitudinal shrinkage of the branchwood of macadamia were higher than those of the stem. The air-dry moisture content, radial and tangential shrinkage were low on the branchwood. Keywords : Wood Physical Properties, Branchwood , Macadamia Wood
SENTRA PENGEMBANGAN SUTERA, DESA PISING, KABUPATEN SOPPENG Andi Detti Yunianti; Sitti Nuraeni; Asmi Citra Malina; . Suhasman
Jurnal Dinamika Pengabdian (JDP) Vol. 5 No. 2 (2020): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 5 NO. 2 MEI 2020
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v5i2.10238

Abstract

Sabbeta Village ', Pising Village, Soppeng Regency is a pilot village for silk development in Soppeng Regency. Service activities undertaken are Focus Group Discussion (FGD) and training. Partners of this community service activity are the Sabbeta Village Farmers Group and the Mega Sutera Farmers Group. The purpose of the FGD is to examine the debates and challenges raised by silk farmers in developing women's relations in Pising Village. From the results of the FGD chose a number of problems to make training materials as a solution for farmers. In general, topics related to farmers are silk related to marketing, low productivity and eco print on silk fabrics. Monopoly-producing marketing makes the price of yarn produced very low. Until now, silk farmers in Soppeng Regency only produce silk yarn, while silk fabric production is in Wajo District. Low productivity because it is related to the importance and the product, especially the yarn produced, is not standard. In addition, women-only societies develop eco-print techniques on silk fabrics. The FGD was closed with a visit to the houses of the people which were used as caterpillars, seed gardens, spinning and souvenir galleries. Based on a review of the FGD results, the activities carried out were training on entrepreneurship, silkworm maintenance and eco print. The business of silkworm maintenance can be optimal if carried out in accordance with the procedure so as to produce threads that meet the standards. The maintenance of silkworms by farmers is very conventional, not in accordance with standard procedures. The results of the eco print technique were not satisfactory because the coloring was not optimal. The training provided is expected to increase their knowledge, so that it becomes a solution to the problem so far.Keywords: Sabbeta Village, Pising Village, silkworm maintenance, eco print. ABSTRAKKampung Sabbeta’, Desa Pising, Kabupaten Soppeng merupakan kampung percontohan untuk pengembangan sutera di Kabupaten Soppeng. Kegiatan pengabdian yang dilakukan adalah Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan. Mitra dari kegiatan pengabdian ini, yaitu Kelompok Tani Kampung Sabbeta’ dan Kelompok Tani Mega Sutera. Tujuan dari FGD untuk mengkaji permasalahan dan kendala yang dihadapi para petani sutera dalam mengembang-kan persuteraan di Desa Pising. Dari hasil FGD dipilih beberapa masalah untuk dijadikan bahan pelatihan sebagai solusi dari permasalahan para petani. Secara umum, permasalahan yang dihadapi petani sutera terkait pemasaran, produktifitas yang rendah dan eco print di kain sutera. Pemasaran yang bersifat monopoli membuat harga benang yang dihasilkan sangat rendah. Sampai saat ini, petani-petani sutera di Kabupaten Soppeng hanya menghasilkan benang sutera, sedangkan produksi kain sutera ada di Kabupaten Wajo. Produktifitas yang rendah disebabkan karena ketergantungan akan bibit impor dan produk, khususnya benang yang dihasilkan, tidak standar. Selain itu, masyarakat khususnya para wanita mengem-bangkan teknik eco print di kain sutera. Kegiatan FGD ditutup dengan kunjungan ke rumah-rumah penduduk yang dijadikan tempat pemeliharaan ulat, kebun benih, pemintalan, dan galeri souvenir. Berdasarkan kajian dari hasil FGD, kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan yaitu kewirausahaan, pemeliharaan ulat sutera dan eco print. Usaha pemeliharaan ulat sutera dapat optimal jika dilakukan sesuai dengan prosedur sehingga menghasilkan benang yang memenuhi standar. Pemeliharaan ulat sutera yang dilakukan petani sangat konvensional, tidak sesuai dengan prosedur standar. Hasil teknik eco print yang dikerjakan kurang memuaskan karena pewarnaan belum maksimal. Pelatihan yang diberikan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mereka, sehingga menjadi solusi dari permasalahan selama ini. Kata kunci: Kampung Sabbeta’, Desa Pising, pemeliharaan ulat sutera, eco print.