Moh Jufriyadi Sholeh
Institut Dirosat Islamiyah al-Amien Prenduan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat

HAKIKAT GUNUNG BERJALAN DALAM AL-QUR’AN (STUDI KOMPARATIF ATAS PENAFSIRAN SURAH AN-NAML AYAT: 88 DALAM KITAB MAFATIH AL-GHAIB KARYA FAKHRUDDIN AL-RAZI DAN TAFSIR AL-AZHAR KARYA BUYA HAMKA) Moh Muhlis; Moh Jufriyadi Sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.781 KB) | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v3i1.485

Abstract

Aktifitas penafsiran tidak pernah henti sejak masa Rasulullah hingga sekarang. Tidak jarang penafsiran tersebut dipengaruhi oleh sebuah kepentingan dan perkembangan ilmu pengetahun dan tekhnologi. Seperti halnya penelitian ini yang didorong oleh adanya perbedaan tafsir oleh mufassir klasik dan modern, tentang hakikat gunung berjalan dalam al-Qur’an. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah metode komparasi mengenai tema ini, dalam rangka  menciptakan perspektif yang seimbang antara tafsir klasik yang dalam penelitian ini diwakili oleh Fakhruddîn ar-Râzî dan tafsir modern yang diwakili oleh Buya Hamka. Fokus penelitian ini adalah bagaimana gunung berjalan menurut Fakhruddîn ar-Râzî dan Buya Hamka, serta bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran keduanya. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif pustaka. Sementara sifat dari penelitian ini adalah deskriptif-analitis-komparatif. Deskriptif terdiri dari pengumpulan serta penguraian data. Adapun Analitis digunakan dalam rangka menganalisa data. Sedangkan komparatif digunakan untuk melihat perbedaan dan pesamaan antara penafsiran kedua tokoh tersebut terhadap penafsiran Q.S Al-Naml: 88. Dalam ayat tersebut, Fakhruddîn ar-Râzî menafsirkan bahwa gunung berjalan itu adalah salah satu tanda berdirinya hari kiamat yang ketiga. Beliau mengkaitkan hakikat gunung berjalan dengan konteks ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang peristiwa ditiupnya sangkakala. Serta ayat sesudahnya yang menjelaskan tentang balasan amal baik dan buruk kelak di akhirat. Dimana gunung berjalan tersebut disebabkan karena diterbangkan oleh Allah sehingga seperti bulu domba yang berhamburan ditiup angin. Sedangkan menurut Buya Hamka> berjalannya gunung adalah sebuah hakikat yang terjadi saat sekarang (di dunia), dan berjalannya gunung tersebut disebabkan karena adanya pergerakan lempeng yang menyebabkan bumi bergerak. Sehingga karena gunung merupakan bagian dari bumi maka gunung itu ikut bergerak. Perbedaan di antara kedua mufassir tersebut terdapat pada argumen-argumen yang mereka kemukakan berkaitan tentang waktu terjadinya hakikat gunung berjalan dan penyebab terjadinya gunung berjalan. Sedangkan dalam hal fakta Fenoemena gunung berjalan mereka sepakat bahwa hakikat tersebut betul-betul terjadi.
KONSEP TERPISAHNYA LANGIT DAN BUMI (STUDI ANALISIS ATAS PENAFSIRAN FAKHRUDDIN AR-RAZI DALAM MAFATIH AL-GHAIB TERHADAP Q.S AL-ANBIYA' AYAT 30) Moh Jufriyadi Sholeh; Ramadhan Ramadhan
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v4i1.593

Abstract

Penelitian ini berangkat dari tingginya frekuensi interpretasi ayat al-Qur’an dengan mengkorelasi-relevansikannya kepada ilmu sains modern yang kemudian dikenal dengan istilah Tafsi>r ‘Ilmi>. Dalam hal ini, teori penciptaan alam semesta dan Q.S al-Anbiya>  ayat 30 yang menjelaskan tentang konsep terpisahnya langit dan bumi yang dulu pernah menyatu menjadi tema menarik sekaligus penting untuk dikaji baik di era klasik maupun modern. Hal ini sekaligus menjelaskan pentingnya metode komparasi dalam upaya menciptakan perspektif yang berimbang antara tafsir klasik-ilmi yang dalam penelitian ini diwakili oleh Fakhruddi>n ar-Ra>zi>, dan tafsir modern-ilmi yang diwakili oleh T{ant}a>wi> Jauhari>. Fokus penelitian ini adalah bagaimana konsep terpisahnya langit dan bumi menurut Fakhruddi>n ar-Ra>zi> dan T{ant}a>wi> Jauhari>, serta bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran keduanya. Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian kualitatif pustaka, di mana sumber datanya terdiri dari dua macam, yaitu sumber data primer dan sekunder. Sementara sifat dari penelitian ini adalah deskriptif-analitis-komparatif. Deskriptif berkaitan dengan pengumpulan serta penguraian data. Analitis digunakan dalam kerangka analisis data. Sedangkan komparatif digunakan untuk melihat perbedaan dan pesamaan antara penafsiran kedua tokoh tersebut  terhadap penafsiran Q.S Al-Anbiya> ayat 30. Menurut Fakhruddi>n ar-Ra>zi>, terpisahnya langit dan bumi berawal dari Allah menciptakan angin dan meletakkan diantara keduanya, sehingga terpisahnya langit dan bumi. Setelah keduanya terpisah, Allah mengangkat langit ke atas dan bumi tetap pada tempatnya, dan menjadikan langit tujuh tingkatan dan bumi tujuh tingkatan. Hal ini menurut Fakhruddi>n ar-Ra>zi> adalah petunjuk bahwa penciptaan bumi lebih dahulu daripada langit. Selain itu, sebelum Allah memisah langit dan bumi keadaan waktu itu mengandung kemashlahatan bagi para malaikat, dan setelah Allah memisah keduanya juga mengandung kemashlahatan bagi makhluk-Nya. Langit yang awalnya tidak menurunkan hujan akhirnya menurunkan hujan. Bumi yang tidak menumbuhkan tanaman, akhirnya menumbuhkan tanaman serta pepohonan.