Abdul Kholiq
UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MODEL KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF KEPALA MADRASAH Abdul Kholiq
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 17 No 1 (2017): Manarul Qur'an
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/mq.v17i1.922

Abstract

Model Kepemimpinan transformasional adalah pola pemimpin yangmempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-caratertentu. Bawahan merasa percaya, kagum, loyal dan hormat terhadappimpinan. Bawahan termotivasi untuk berbuat lebih banyak dari apa yangbiasa dilakukan dan diharapkannya. Model kepemimpinan transformatifkepala madrasah merupakan bagian esensial dari suatu organisasipendidikan, bahkan merupakan hal yang sangat urgen dalam berjalannyaorganisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang bersifatinstitusional maupun nasional. Prinsip-prinsip kepemimpinan kepalamadrasah adalah kejujuran (amanah), adil, musyawarah (syura), etikatauhid dan amr ma’ruf nahi munkar. Pemimpin perlu memilikikemampuan untuk menentukan tindakan-tindakan yang perlu diambilguna mencapai tujuan kelompoknya. Untuk itu diperlukan suatupengertian mengenai tindakan-tindakan dari pemimpin tersebut agarberpengaruh kepada anggota-anggota kelompok dan pekerjaan yangbersangkutan. Akan tetapi kemampuan tersebut tidak hanya dalampengambilan keputusan saja. Perilaku kepemimpinan yang dibutuhkanseperti objektivitas terhadap hubungan dan perilaku manusia, mampuberkomunikasi, wibawa, kesadaran diri, dan mengajar.
PERAN PERGURUAN TINGGI DAN PEMBERANTASAN KORUPSI Abdul Kholiq
Manarul Qur'an: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol 16 No 1 (2016): Manarul Qur'an
Publisher : LP3M Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan bangsa Indonesia ini menuju bangsa yang maju dan beradab, yakni: Pertama, Perguruan Tinggi sebagai agen perubahan (agent of change); Perguruan tinggi sebagai satuan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi memiliki kedudukan penting dalam proses perubahan sosial karena perguruan tinggi mengemban fungsi sebagai agent of social change dalam melakukan transformasi kultural kearah kondisi masyarakat yang lebih maju. Dalam konteks ini, fungsi perguruan tinggi, yaitu; a) Sebagai penghasil tenaga kerja yang bermutu, b), sebagai lembaga pelatihan bagi karir peneliti, dan c), sebagai organisasi pengelola yang efisien. Perguruan tinggi di Indonesia menjalankan tiga fungsi tersebut dengan mempertimbangkan ciri khas nasional sesuai dengan latar belakang historis, sosio kultural dan idiologis. Kedua, Perguruan Tinggi sebagai pusat kebudayaan; Pendidikan sebagai prakarsa yang meliputi proses pengalihan pengetahuan dan keterampilan serentak dengan proses pengalihan nilai-nilai budaya. Proses itu sekaligus menjamin terpeliharanya jalinan antar generasi dalam suatu masyarakat.Orientasi pada nilai-nilai budaya pada gilirannya menjelmakan perilaku manusia sebagai anggota masyarakat dengan peradabannya yang khas. Sejauh mana masyarakat itu berorientasi pada nilai-nilai budayanya, menentukan tangguh-rapuhnya ketahanan budaya masyarakat yang bersangkutan, terutama terukur melalui apa yang terjadi dalam pelbagai pertemuan antar budaya. Ketiga; Perguruan Tinggi sebagai Moral Force Pemberantasan Korupsi. Keterlibatan civitas akademika dalam upaya pemberantasan korupsi tentu tidak pada upaya penindakan yang merupakan kewenangan institusi penegak hukum.Peran aktif segenap civitas akademik pada perguruan tinggi diharapkan lebih difokuskan pada upaya pencegahan korupsi dengan ikut membangun budaya anti korupsi di masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat berperan sebagai agen perubahan dan motor penggerak gerakan anti korupsi di masyarakat. Untuk dapat berperan aktif mahasiswa perlu dibekali dengan pendidikan anti korupsi dan pengetahuan yang cukup tentang seluk beluk korupsi dan upaya pemberantasan. Dan yang tidak kalah penting, untuk dapat berperan aktif mahasiswa harus dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari.