Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Konservasi Sumberdaya Air Tanah di Wilayah Ngaglik Sleman Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 16, No 2 (2018): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.442 KB) | DOI: 10.21831/gm.v16i2.25202

Abstract

Penelitian ini berlatar tentang masalah berkurangnya air tanah di banyak lokasi permukiman padat di wilayah urban Kota Yogyakarta maupun Sleman yang berbatasan dengan kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui perubahan penggunaan lahan dalam kurun waktu 10 tahun dari tahun 2001 hingga 2011, (2) mengetahui wilayah yang memiliki kedalaman air tanah bebas yang relatif dalam, (3) memberi saran kepada pemerintah untuk membuat pembatasan wilayah konservasi dengan membangun resapan buatan yang mungkin dibangun. Subyek penelitian ini adalah semua lahan di Kecamatan Ngaglik.  Data perubahan lahan dikumpulkan berdasarkan analisis peta 2001 dan 2011, dan data kedalaman muka sumur diperoleh berdasarkan sumur terbuka penduduk. Penelitian ini menggunakan instrumen tali, meteran, untuk mengukur kedalaman muka air sumur, dan formulir isian data.  Data sekunder yang dikumpulkan adalah data temperatur. Analisis wilayah resapan air dilakukan dengan standar Imhoff dan Riedell. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan penduduk di Kecamatan Ngaglik cukup tinggi, bertambah 24% dalam waktu 10 tahun. Pertambahan penduduk diikuti pertambahan kepala keluarga (KK) hingga 54%, yang selanjutnya mempengaruhi pertambahan permukiman. Luas permukiman bertambah pesat 460 ha, menjadi 1395 ha dari 935 ha pada tahun 2001. Perluasan lahan permukiman berdampak pada berkurangnya lahan peresapan air hujan yang berakibat berkurangnya volume air tanah. Oleh karena itu beberapa wilayah telah mengalami kekeringan lebih awal, terutama wilayah padat permukiman di wilayah perkotaan dan pinggiran. Konservasi air tanah dapat dilakukan dengan dengan membangun resapan buatan yang hendaknya dirancang di wilayah yang memiliki daya serap tinggi dan relatif dalam sehingga efektivitas peresapan air hujan relatif tinggi.Penelitian ini berlatar tentang masalah berkurangnya air tanah di banyak lokasi permukiman padat di wilayah urban Kota Yogyakarta maupun Sleman yang berbatasan dengan kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui perubahan penggunaan lahan dalam kurun waktu 10 tahun dari tahun 2001 hingga 2011, (2) mengetahui wilayah yang memiliki kedalaman air tanah bebas yang relatif dalam, (3) memberi saran kepada pemerintah untuk membuat pembatasan wilayah konservasi dengan membangun resapan buatan yang mungkin dibangun. Subyek penelitian ini adalah semua lahan di Kecamatan Ngaglik.  Data perubahan lahan dikumpulkan berdasarkan analisis peta 2001 dan 2011, dan data kedalaman muka sumur diperoleh berdasarkan sumur terbuka penduduk. Penelitian ini menggunakan instrumen tali, meteran, untuk mengukur kedalaman muka air sumur, dan formulir isian data.  Data sekunder yang dikumpulkan adalah data temperatur. Analisis wilayah resapan air dilakukan dengan standar Imhoff dan Riedell. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan penduduk di Kecamatan Ngaglik cukup tinggi, bertambah 24% dalam waktu 10 tahun. Pertambahan penduduk diikuti pertambahan kepala keluarga (KK) hingga 54%, yang selanjutnya mempengaruhi pertambahan permukiman. Luas permukiman bertambah pesat 460 ha, menjadi 1395 ha dari 935 ha pada tahun 2001. Perluasan lahan permukiman berdampak pada berkurangnya lahan peresapan air hujan yang berakibat berkurangnya volume air tanah. Oleh karena itu beberapa wilayah telah mengalami kekeringan lebih awal, terutama wilayah padat permukiman di wilayah perkotaan dan pinggiran. Konservasi air tanah dapat dilakukan dengan dengan membangun resapan buatan yang hendaknya dirancang di wilayah yang memiliki daya serap tinggi dan relatif dalam sehingga efektivitas peresapan air hujan relatif tinggi. 
SULITNYA MEMBANGUN DISIPLIN MASYARAKAT (HOW DIFFICULTY TO DEVELOP PEOPLE DISCOPLINE) suhadi Purwantara
Informasi Vol 36, No 2 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.984 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v2i2.6200

Abstract

Discipline is the basic character toward success. Some people in this country too much do not discipline. It causes some problems are disadvantage till the killing. Some cases about accident in highway, air crash, explosion of gas, etc are the evident of indiscipline  of people. So that is all be responsibility of educational institutional.
KAITAN FENOMENA EL NINO DENGAN BADAI DAN GELOMBANG PASANG Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 7, No 2 (2009): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.664 KB) | DOI: 10.21831/gm.v7i2.19079

Abstract

Artikel ini membahas kaitan  Fenomena El Nino dengan badai atau gelombang pasang yang terjadi di beberapa wilayah dunia maupun di Indonesia. Dalam tulisan ini disajikan alasan-alasan penamaan badai yang ada di wilayah dunia, serta nama-nama badai baru yang ada di Indonesia. Kajian artikel ini dilengkapi dengan  data  berupa tabel,  grafik, dan peta.    Kata kunci: Badai, Gelombang, El Nino.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PENENTUAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI WILAYAH KARTAMANTUL Dimas Sustanugraha; Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 14, No 2 (2016): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.616 KB) | DOI: 10.21831/gm.v14i2.13821

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengetahui: (1) Timbulan sampah pada wilayah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul (Kartamantul). (2) Lokasi potensial untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di wilayah Kartamantul sesuai SNI nomor 19- 3241:1994. Populasi dalam penelitian ini adalah satuan unit lahan, dengan variabel kondisi geologis, kondisi hidrogeologis, kemiringan lereng, jarak dengan lapangan terbang, dan daerah lindung/cagar alam dan banjir, iklim, utilitas, kondisi tanah, lingkungan biologis, bau, kebisingan, estetika, dan ekonomi. Teknik pengumpulan data dengan observasi dan dokumentasi. Teknik pengolahan data yang digunakan analisis AND dan teknik pengharkatan (scoring). Hasil penelitian: (1) Total timbulan sampah di  wilayah Kartamantul sebesar 7.257,36 m3/hari. (2) Telah dihasilkan 15 zona daerah layak untuk TPA tahap regional. Agar mendapatkan koordinat yang lebih tepat, peta zona layak di-overlay-kan dengan peta tataguna lahan wilayah Kartamantul, dan menghasilkan 9 lokasi layak untuk TPA pada wilayah Kartamantul. (3) Pada tahap penyisih terdapat wilayah yang termasuk tingkat kesesuaian lahan kelas I (sangat sesuai) dan tingkat kesesuaian lahan II (sesuai). Kata kunci: Sistem Informasi Geografis, Wilayah Kartamantul, Pemilihan Lokasi TPA
PENGEMBANGAN LIFE SKlLLS EDUCATION PADA KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI ILMU SOSIAL suhadi Purwantara
Informasi Vol 29, No 1 (2003): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3305.343 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.7176

Abstract

Hasil pembelajaran yang dirasakan selama ini untuk siswa dinilai kurang memberikan bekal hidup para lulusan, baik SD, SLTP, maupun SMU. Peserta didik lebih disibukkan pada kemampuan aspek kognitif saja. Guru juga hanya terpaku memberikan bekal pengetahuan, karena memang materi yang digariskan . dalam kurikulum sangat padat. Akibatnya banyak siswa setelah mendapat pelajaran hanya hafal dan tahu, tetapi tidak terampilmenerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak SD tahu betul ten tang ciri-ciri anak soleh, tetapi kurang dapat menerapkan dalam kehidupan sehari­hari. ltu sekedar contoh gamlang yang dapat dilihat setiap hari. Untuk itu Kurikulum Berbasis Kompetensi diharapkan dapat menjawab kegalauan masyarakat dengan membekali peserta didik dengan life skills education atau pendidikan kecapakan hidup.
RESAPAN BUATAN, SOLUSI MENGATASI PROBLEMA AIR Purwantara, Suhadi
Informasi Vol 39, No 2 (2013): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.641 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v0i2.4443

Abstract

Air secara kuantitas menjadi bermasalah ketika jumlahnya lebih, atau kurang. Kelebihan air dapat berdampak pada penggenangan, sedangkan kekurangan air berakibat pada terbatasnya suplai air untuk kecukupan kebutuhan air. Yang pertama berkaitan dengan bahaya banjir, dan yang kedua berkaitan dengan bahaya kekeringan. Banyak penelitian para pakar di dunia menyimpulkan bahwa solusi mengurangi dua masalah tersebut, banjir dan kekeringan, adalah dengan pembuatan resapan buatan. Tulisan ini menyajikan berbagai masalah banjir dan kekeringan hasil penelitian di berbagai belahan benua tentang pentingnya resapan buatan. Kata kunci: air tanah, banjir, resapan buatan
MENGENAL PULAU HONSU DAN PERKEMBANGANNYA Suhadi Purwantara; Udia Haris Hadori
Informasi Vol 26, No 1 (1998): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3255.043 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6759

Abstract

Untuk dapat lebih jauh belajar mengenai geografi regional suatu ne­gara, perlujuga membandingkan dengan negeri lain. Tulisan ini meny aji­kan tentang Pulau Honsu, salah satu pulau besar yang ada di Jepang, Hal yang disajikan berupa kondisi geografi fisis, demografis dan perkemban­gannya. Untuk memberikan gambaran Pulau Honsu, dalam setiap pemba­hasan sub topiknya, dalam tulisan ini selalu dibandingkan dengan Pulau Jawa. Tulisan ini diangkat berdasarkan permasalahan bahwa kepadatan penduduk di kedua pulau, lain negara tersebut hampir sama, tetapi dalam perkembangan kemajuannya jauh berbeda. Apa saja persamaan perbe­daannya dapat dibaca pada sajian berikut.
KIPRAH SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM MENYIKAPI FENOMENA ALAM Purwantara, Suhadi
Informasi Vol 31, No 1 (2005): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2386.838 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.6742

Abstract

Fenomena alam seperti gempa bumi, tsunami, badai, sering terjadi akhir-akhir ini. Informasi dapat diketahui masyarakat dunia dengan sangat cepat. Bahkan fen omena alam seperti hujan dan badai pun dapat diprediksi relative tepat baik lokasi maupun waktunya seperti hujan, badai, bahkan tsunami. Hal ini sangat penting untuk diketahui karena akan mengurangi korban bencana alam. Banyaknya korban bencana alam di NAD merupakan contoh betapa sedikitnya pengetahuan masyarakat tentang tsu­nami. Artikel ini memberikan gambaran mengenai prediksi bencana alam badai dan kemanfaatan Sistem Informasi Geografis.
POTENSI MATA AIR CERME UNTUK KEBUTUHAN IRIGASI Suhadi Purwantara
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 2, No 2 (1997): 1997
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.929 KB) | DOI: 10.21831/hum.v2i2.7316

Abstract

Abstrak Mata air Cerme yang terletak di Dusun Srunggu Desa Selopamioro Kecamatan Imogiri, Bantul menjadi salah satu sumber daya air bagi sebagian penduduk Desa Selopamioro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi air mata air,kebutuhan air irigasi serta pengelolaan yang telah dilakukan. Teknik penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengukuran langsung debit mata air dilanjurkan dengan analisis deskriptif berdasarkan peta dantabel data primer maupun sekunder.Pada musim kemarau, air mata air Cerme hanya dapat mengairi sebagian lahan pertanian di daerah penelitian. Debit mata air sangat variatif berkisar dari 20 liter tiap detik hingga ratusan lt/dt bahkan pada saat setelah hujan pernah mancapai lebih dari 5000lt/dt pada musim penghujan, dan sebalknya pada akhir musim kemarau debit minimumhanya kurang dari 2lt/dt.Besarnya kebutuhan air dalam penelitian ini didekati dengan dua cara, yaitu pendekatan kebutuhanair potensial dan cara perhitungan langsung dilapangan berdasarkan wawancara dengan petani dan pengamatan. Dengan dua cara tersebut hasilnya jauh berbeda. Pada musim kemarau kebutuhan air irigasi potensial mencapai 98,5 lt/dt, sedangkan dengan perhitungan langsung besar air yang diusahakan petani rata-rata hanya 16,30 liter per detik. Hal ini karena pada perhitungan kebutuhan air irigasi potensial, kebutuhan air yang dimaksud adalah kebutuhan air tanaman maksimal, sedangkan perhitungan cara langsung yang dihitung hanya pemenuhan kebutuhan air minmum agartanaman tetap hidup.Volume air mataair Cerme yang terbuang pada musim penghujan sebesar 2,5 juta m3. Air yang terbuang tersebut apabila ditampung dapat mencukupi kebutuhan air irigasi musim kemarau, baik kebutuhan air iriagasi minimum sebesar kurang dari 275.000 m3 maupun kebutuhan air irigasi potensian sebesar hamper 1,7 juta m3.
UPAYA KONSERVASI LAHAN POTENSIAL KRITIS DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI JENES KABUPATEN KULONPROGO Hermawan Kuswantoko; Suhadi Purwantara
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 14, No 1 (2016): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.72 KB) | DOI: 10.21831/gm.v14i1.13781

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengetahui: (1) Kemampuan lahan di Sub DAS Jenes; (2) Upaya konservasi untuk mencegah timbulnya lahan kritis berdasarkan kelas kemampuan lahan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh satuan lahan di Sub DAS Jenes dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi dan uji laboratorium. Analisis data menggunakan analisis SIG dengan cara overlay dan analisis pencocokan (matching) menggunakan software LCLP. Hasil penelitian: (1) Terdapat 3 kelas kemampuan lahan, dengan sub kelas kemampuan lahan III–e, III–s, III–e,s, IV–s, dan V–s; (2) Konservasi pada Kelas III–e, III–s dan III–e,s untuk pertanian ekstensif dengan tingkat konservasi sedang berupa penanaman menurut strip, pergiliran tanaman dan pembuatan teras tangga dengan tanaman berseling, Kelas IV–s untuk pertanian marginal dengan tingkat konservasi berat berupa agroforestry, teras bangku, teras tangga dan sistem drainase, Kelas V–s tidak dapat diolah dan membutuhkan konservasi berat berupa terasering dan penanaman vegetasi penahan tanah. Kata kunci: konservasi, kemampuan lahan, Sub DAS Jenes