Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Maqȃṣid Syarī’ah Upaya Membentuk Peraturan Daerah: Pendekatan Sistem Perspektif Jasser Auda Mahfudz Junaedi
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 3 No 02 (2017): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v3i02.1152

Abstract

Islam sebagai agama yang memberi rahmat atau kebaikan bagi seluruh alam, sebagai muslim segala prilaku manusia harus mendasatkan pada Islam termasuk dalam masalah hukum. Konteks wilayah, daerah atau lokalitas dalam memahami hukum Islam perlu dilibatkan sehingga tujuan pembentukan hukum dapat tercapai yaitu untuk kemaslahatan bersama. Memahami hukum Islam dengan pendekatan maqâṣid syarî’ah dapat memberikan kontribusi pembentukan Perda sebagai bagian hukum guna menyelesaikan masalah-masalah kontemporer, dan khususnya dalam pembangunan hukum di Indonesia. Pembentukan hukum sebagai produk legislasi daerah harus memberikan tujuan untuk kemaslahatan baik berskala makro maupun mikro sesuai kearifan lokal daerah yakni peraturan daerah yang berkeadilan dan berkeadaban dalam rangka menuju keterbukaan dan pembaruan diri sebagaimana diharapkan hukum Islam melalui mekanisme pendekatan sistem pemikiran Jasser Auda. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis deskriptif analisis yang menguraikan secara lengkap, teratur dan teliti dalam mengelaborasi teori sistem Jasser Auda mengenai aktualisasi prinsip-prinsip maqâṣid syarî’ah dalam pembentukan Peaturan daerah sebagai objek penelitian. Berdasarkan hasil analisis, maka peran aktual maqâṣid syarî’ah melalui pendekatan sistem dalam pembentukan Perda harus mampu menyeleksi dan mengakomodasi ‘urf (tradisi atau adat kebiasaan) dengan mempertimbangkan nilai-nilai ajaran agama Islam yang bersifat universal, sehingga efektifitas maqashid syariah (tujuan hukum) itu tercapai demi kemaslahatan masyrakat dalam mengokohkan keberagaman.
Fenomena Perceraian dan Perubahan Sosial: Studi Kasus di Kabupaten Wonosobo Mahfudz Junaedi
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 4 No 01 (2018): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v4i01.1166

Abstract

In the midst of the social changes that continue to occur today, divorces at Wonosobo increased high enough, it can even be said to occur on a massive scale.In general, the incedence of divorce are the root causes of the economic factor isthe ability of the husband in the household that evolved conention and strife that never cease. Divorce is more dominant from wives becouse of economic factors and strife. Another factor is that a third party (cheating), and lack of maturity, while KUA’s role as an institution has not been optimalized. The phenomenon of divorce can be changed if there is a systematic effort through education and public awareness about the importance of nurturing the love (sakinah, mawaddah, rahmah) in domestic life, because the actual prototype is located in the domestic life that is based on relationships loving, tolerant, appreciate differences.
Fiqih Indonesia : Tinjuan Kritis Epistemologi Mahfudz Junaedi
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1121

Abstract

Kajian epistemologi hukum Islam (fiqih) membahas sumber, metode dan validitas atau tolok ukur atas kebenaran. Secara sosiologis dan kultural, fiqih adalah produk hukum yang menghalir dan mengurat akat pada budaya masyarakat. Fiqih hadir bersamaan dengan hadir ajaran Islam yang kemudian dipraktikan di masyarakat. Fiqih Indonesia sebagai hukum yang memiliki karakter dan ciri khas keindonesiaan, baik secara tertulis maupun tidak tertulis dalam kitab perundang-undangan. Sedangkan fiqih masih dilekatkan dengan trademark budaya dan tradisi Timur Tengah (Arab). Kondisi sosio-kultural dan setting sejarah Islam di Indonesia, memunculkan wacana dan pemikiran untuk membentuk fiqih Indonesia sebagai bentuk pribumisasi atau kontekstualisasi hukum Islam dengan menggunakan pola dan metode yang beragam. Tulisan ini mencoba memotret perjalanan wacana pribumisasi atau kontekstualisasi fiqih dengan kacamata epistemologi hukum Islam melalui pemikiran salah satu tokoh penggagas fiqih Indonesia, yaitu Hazairin dan kemudian pemikiran dan gagasannya dikritisi dan dikembangkan kembali oleh pemikir hukum Islam diIndonesia dengan menggunakan beragam metode dan tipologi sesuai dengan fokus kajian yang menjadi objek kajiannya dengan masih dalam bingkai fiqih Indonesia.
Multiculturalism: Indonesianism Discourse and Interpretation Mahfudz Junaedi
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 4 No 02 (2018): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v4i02.1171

Abstract

Multiculturalism has been a discourse and debate up until now, and has not been completed, particularly in the context of Indonesian-ness. Muslims see it is not monolithic but diverse, pluralistic Indonesian society split into two groups, those who reject multiculturalism and those who receive it. The group rejected the thought that the discourse and ideology of multiculturalism and its derivative, suchas democracy, human rights is a product of Western secular inconsistent with Islam. While the group received based on the ideas and basic pendangan that diversity asa fact and reality be natural and it is the will of God, even fighting stance within the framework of solidarity and equality in a beautiful building living systems and among fellow creatures of God. Both groups, ' an impressive glimpse the truth ofthe argument respectively. In this condition, the commentators also have diverse views in memahamai multiculturalism. This paper specifically explore multikuturalisme as a concept is still debated and discourse for Muslims; In the Al-Qur’an there are verses that support an impressive glimpse of the concept of multiculturalism and reject impression; The presence of the interpretation of the Al-Qur’an Indonesian context, such as Hamka and Quraish Shihab as an authoritative figure in the field of interpretation Indonesia, deserves to be a reference. Configuring a plural society or compound that has potential in the development of behavioral inclination conflict and disintegration among various groups, interethnic. In addition, there is a tendency of the presence of the integrative power as asource of social change dynamics and plurality of society, because most conflictsand violence in Indonesia 'religion' (interpretation of the sacred text) is consideredto be one of the factors that have contributed to the trigger. Religion and belief systems influence on the behavior and mindset of a person or people adherents, both positive and negative. Some theories, either grand theory, middle theory, and aplicative theory used as a knife analysis, including studies of sociological theory developed by Max Weber, that mindset, behavior, ethics and world view society is influenced by a belief system that believes. Thomas EO dea also argues that religionis not only contributing factor for the integration of society, but he also has thedivisive nature (disintegrative) as an initial cause of tension and conflict. The expected results, that the diversity of human identity, whatever it is, whether cultural, ethnic nationality and gender in view of the Quran is an equivalent, equal.