Ujang Habibi
STID Mohammad Natsir

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ILMU SEBAGAI SUBSTANSI DA’WAH DALAM ISLAM Ujang Habibi
Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam STID Mohammad Natsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38214/jurnaldawahstidnatsir.v4i01.96

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kedudukan ilmu sebagai substansi da’wah dalam Islam. Metode penelitian menggunakan kualitatif. Hasil dalam artikel ini menunjukkan bahwa Islam menjunjung tinggi ilmu, baik ilmu itu sendiri maupun orang-orang yang menekuni ilmu, mengerahkan tenaga dan waktunya untuk menggali ilmu. Karena begitu pentingnya ilmu sehingga Allah menyebutkan kata ini sampai beratus-ratus kali. Bagi Islam, sumber ilmu yang paling benar adalah dari al-Qur’an dan hadits yang shahih, sehingga bagi seorang muslim pun harus menyandarkan ilmu nya kepada keduanya dan melandasinya dengan konsep aqidah atau tauhid yang kokoh kepada Allah sebagai sumber ilmu yang absolut.
METODE KOMUNIKASI DA’WAH PERSUASIF BUYA MAS’OED ABIDIN DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI ISLAM TERHADAP MASYARAKAT TAILELEU-MENTAWAI Mery Oktavia; Ujang Habibi
Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan Vol. 2 No. 02 (2019): Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam STID Mohammad Natsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38214/jurnaldawahstidnatsir.v2i02.55

Abstract

Untuk Mengetahui Metode Komunikasi Da’wah Persuasif Buya Mas’oed Abidin dalam Menanamkan Nilai-Nilai Islam Terhadap Masyarakat Terdalam Taileleu, Mentawai. Metode Penelitian: Kualitatif. Hasil dan Kesimpulan Penelitian: Buya Mas’oed Abidin adalah termasuk diantara orang yang awal pertama-tama menyiarkan Islam di Mentawai atas tugas dari Bapak. Mohammad Natsir pada tahun 1974. Beliau telah mensyahadatkan lebih kurang 700-an orang Mentawai. Diantara metode yang beliau gunakan dalam da’wahnya terhadap masyarakat Mentawai adalah: Pertama: Metode komunikasi integrasi dalam langkah awalnya, yaitu dengan mempelajari adat-budaya Mentawai sebelum menda’wahi mereka, dengan mempelajari adat mereka beliau menempatkan dirinya seperti bagian dari mereka. Kedua,Metode asosiasi dalam da’wahnya dengan menda’wahi tokoh masyarakat. Ketiga, Metode ganjaran dalam da’wahnya dengan memberikan hadiah. Keempat, Metode ta’atan dalam da’wahnya dengan tutur katanya yang lemah lembut.Kelima,Buya menggunakan individual differences theory yaitu beliau menda’wahi masyarakat Mentawai diantaranya dengan tema-tema yang sesuai dengan kepentingan dan nilai-nilai mereka. Itulah yang beliau lakukan dengan menjadikan adat-budaya Mentawai sebagai sarana da’wah. Keenam, Buya menggunakan metode komunikasi nonverbal (nonverbal cammunication) dalam da’wahnya dengan qudwah hasanah. Ketujuh, Buya menggunakan metodeemotional appeal dalam da’wahnya menyekolahkan anak asli Mentawai dan memberikan hadiah kepada mad’unya.
PERAN AKUN TWITTER PUBLIC FIGURE INDONESIA DALAM MEMBENTUK OPINI PUBLIK TENTANG CITRA POSITIF ATAS KEMENANGAN TALIBAN-AFGANISTAN Ujang Habibi; Hardinal Pratama
Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan Vol. 4 No. 2 (2021): Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam STID Mohammad Natsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38214/jurnaldawahstidnatsir.v4i2.110

Abstract

Tujuan Penelitian: untuk mengetahui peran media sosial Twitter melalui opini public figure dalam membentuk citra positif tentang Taliban. Metode Penelitian: Kualitatif. Hasil Penelitian: Hasil dari analisis data yang telah dideskripsikan diatas menunjukan bahwa adanya opini public yang ingin disampaikan dari beberapa narasumber tersebut agar terbentuknya sebuah citra positif di masyarakat khususnya di Indonesia. Hal ini dilihat dari cara mereka menanggapi memandang suatu isu dengan pendapatnya sendiri, penelitian ini menggunakan landasan teori Robert N. Entman yaitu, framing adalah seleksi realitas yang membuat realitas tertentu lebih menonjol dalam teks komunikasi dengan menekankan definisi dari sebuah masalah, penyebab masalah, membuat keputusan modal dan merekomendasikan penyelesaian tertentu. Kesimpulan: Dari pemaparan di atas maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa opini public itu terbentuk dengan menggunakan 3 pola yaitu: pertama menciptakan isu (agenda setting); membuat banyak pemberitaan tentang Taliban terkait citra positifnya. kedua melakukan pembingkaian (framing), dengan menyajikan teks pandangan opini. ketiga adalah mengarahkan pandangan publik (priming); yakni dengan membuat postingan terkait isu yang sedang terjadi sehingga pandangan tersebut terbentuk ditengah-tengah masyarakat. Pada akun twitter Fadli Zond an Hidayat Nur Wahid juga dibentuk opini bahwa pemerintahan Taliban di Afghanistan bukanlah termasuk organisasi teroris, tetapi murni sebagai sebuah negara Islam dank arena itu masyarakat diajak untuk tidak phobia terhadap Islam.
ISLAMIC DA'WAH BROADCASTING METHOD ON ISMAIL RADIO 774 AM PONDOK GEDE BEKASI Ujang Habibi; Alwan Faisal Rosyad
Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Da'wah: Risalah Merintis, Da'wah Melanjutkan
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam STID Mohammad Natsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38214/jurnaldawahstidnatsir.v5i2.137

Abstract

Research purpose: How the Islamic Da'wah Broadcasting method on the Ismail Radio 774 AM. Conclusion: Two methods applied by Ismail Radio774 AM. The first is the adlibitum method, namely the method of delivering broadcasts through conversation, relaxed. Broadcasters do so without text or script by using fluent, clear, firm and uncomplicated speech. The scond method is script reading, the method is a broadcast while reading the text, either the text is made by yourself or someone else's. In this case, the reading of the text needs to be done as if you are not reading a script, as if it was read ad libitum without a tone of reading.