Obed Bima Wicandra
Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kesetaraan Gender dalam Iklan-Iklan Televisi Indonesia Cherlita Christanti; Obed Bima Wicandra
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 18 No. 2 (2018): JULY 2018
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.673 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.18.2.66-73

Abstract

Iklan terkadang bias gender saat mempromosikan suatu produk. Perempuan sering menjadi objek yang seolah-olah hanyalah pelengkap tayangan iklan. Perempuan hanya diposisikan sebagai objek sensualitas maupun jenis kelamin kedua yang tak memiliki andil dalam pengambilan keputusan. Hal ini ditambah lagi dengan pandang umum dari masyarakat terkait perempuan. Konstruksi sosial menempatkan perempuan lebih lemah dan lebih tidak produktif daripada laki-laki dalam menyelesaikan pekerjaan, sehingga perempuan selalu diposisikan dalam wilayah domestik saja. Namun dalam perkembangannya, seiring dengan kritik sosial terhadap iklan, maka iklan kini mulai menempatkan kesadaran gender dalam konsep dan strategi periklanan. Mulai tumbuh iklan yang menempatkan perempuan setara dengan laki-laki, utamanya tidak saja menempatkan perempuan dalam tubuh yang sensual. Artikel ini mendeskripsikan dua iklan televisi, yaitu “Fair and Lovely” versi Nikah atau S2 dan iklan “Anlene Movemax” versi Karena Kita Lebih. Analisis menggunakan teori Simone de Beauvoire mengenai mitos dalam gender dengan menggunakan perangkat semiologi Roland Barthes. Simpulan dalam artikel ini adalah iklan televisi memiliki peran untuk mengubah stereotip mengenai perempuan, sehingga perlu adanya kepekaan dan perencanaan matang dalam membuat pesan komunikasi agar dapat mencapai target audiens dan berdampak pada perubahan sosial. Iklan-iklan dapat ditampilkan dalam berbagai sudut pandang: dari perempuannya sendiri, maupun dari sudut pandang orang ketiga agar pemirsa memahami bahwa perempuan memiliki posisi yang setara dengan laki-laki perihal peran sosialnya.
Interpretasi pada Gambar Anak Usia 8-12 Tahun yang Mengalami Stres Ringan Priscilla Maharani; Obed Bima Wicandra; Rebbeca Milka
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 19 No. 1 (2019): JANUARY 2019
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.744 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.19.1.13-32

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan gambar anak usia 8-12 tahun yang mengalami stres ringan yang disebabkan oleh rasa marah, takut, dan bosan dan mengetahui gambar seperti apa yang dihasilkan. Penelitian ini berguna bagi para orang tua, guru, maupun peneliti lainnya agar bisa lebih memahami penggunaan elemen desain yang digunakan oleh anak untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui media visual berupa gambar. Metode penelitian yang digunakan adalah grounded research. Sumber teori yang utama adalah data dari informan dan didukung teori-teori lainnya. Kesimpulannya adalah bahwa setiap elemen desain yang berkaitan dengan stres ringan memiliki peranan yang berbeda-beda. Dalam menginterpretasikan elemen desain, teori yang digunakan adalah interpretasi menurut Terry Barrett yang diperkuat dengan semiologi Roland Barthes.
Iklan Go-Jek Versi “Munculnya Gozali” dalam Kajian Poskolonialisme Cynthia Caroline; Obed Bima Wicandra; Asthararianty Asthararianty
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 19 No. 2 (2019): JULY 2019
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.629 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.19.2.109-116

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan visual figur dan bahasa hibrid dalam iklan GO-JEK versi “Munculnya Gozali” yang diunggah ke sosial media GO-JEK pada April 2018. Visual figur dan bahasa hibrid yang ada di dalam iklan GO-JEK ini menggunakan campuran antara unsur budaya Jepang dan Indonesia. Akan tetapi di dalam hal ini unsur budaya Jepang yang digunakan adalah unsur dari serial televisi superhero dan kaijyuu. Hal tersebut dapat dilihat dari tokoh, setting, dialog, subtitle, alur cerita, dan lain sebagainya yang merupakan obyek penelitian. Dalam proses penelitian ini akan digunakan teori semiotika pertelevisian oleh John Fiske sebagai instrumen pertama dari proses penelitian. Kemudian, obyek penelitian yang ada akan dianalisis dengan menggunakan teori hibriditas dan mimikri dalam kajian poskolonialisme oleh Homi K. Bhabha. Di mana kedua teori tersebut bekerja secara bersamaan dan sangat kompleks di dalam iklan. Sehingga melalui bentuk visual iklan demikian dapat dimaknai sebagai penggambaran rasa kurang percaya diri masyarakat Indonesia berkaitan dengan kemampuan anak-anak bangsa. Meskipun sebenarnya apa yang dihasilkan oleh anak-anak bangsa lebih menjawab masalah yang ada dan sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.
Perancangan Ilustrasi sebagai Edukasi tentang Polusi Akibat Limbah Cair Produksi Fashion Annetta Dewi Wijaya; Obed Bima Wicandra; Asthararianty Asthararianty
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 20 No. 2 (2020): JULY 2020
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.765 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.20.2.62-71

Abstract

Meski dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, fashion sebagai sebuah industri memiliki dampak yang sangat buruk pada lingkungan. Khususnya tahapan produksi fashion yaitu dyeing menghasilkan banyak sekali limbah cair yang mencemari perairan, sehingga berdampak buruk pada hewan dan tanaman, dan juga bisa menimbulkan penyakit pada manusia. Tapi masyarakat masih kurang tahu dan tidak peduli terhadap masalah ini sehingga mengonsumsi fashion tanpa dipikirkan dahulu. Perancangan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat sehingga mendorong mereka untuk mengubah kebiasaan konsumsi fashion-nya.