W Widiyaningsih
STIKes Karya Husada Semarang

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penggunaan Baju ANT-VGAR untuk Rasa Nyaman Pasien pada Pemeriksaan Eleltrokardiogram (EKG) Yunani Yunani; Tegar Wisnu Prasetyo; Amrih Widiati; Widiyaningsih Widiyaningsih
Jurnal Smart Keperawatan Vol 8, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/jskp.v8i1.451

Abstract

Elektrokardiogram (EKG) merupakan suatu sinyal yang terbentuk sebagai hasil dari aktivitas listrik jantung, sinyal ekg mempunyai bentuk spesifik sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan kondisi kesehatan jantung. Pemeriksaan EKG pasien diharuskan membuka baju, di mana hal ini mengakibatkan pasien kurang nyaman. Hasil wawancara terhadap pasien yang akan dilakukan EKG, semua responden mengalami rasa malu atau kurang nyaman ketika pemasangan EKG terutama pasien perempuan karena daerah dada dibuka. Salah satu tindakan untuk meningkatkan rasa nyaman dengan menggunakan baju ANT-VGAR yang digunakan untuk menutupi area dada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh baju ANT-VGAR terhadap rasa nyaman pasien pada pemeriksaan EKG. Penelitian ini menggunakan desain quasy exsperimen dengan pendekatan intact group comparison. Sampel penelitian ini adalah pasien yang akan dilakukan pemeriksaan EKG dengan teknik purposive sampling sebanyak 30 responden yang dibagi dua kelompok, 15 responden kelompok intervensi dan 15 responden kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan adalah Standar prosedur Operasional  (SPO) baju ANT-VGAR dan kuesioner rasa nyaman untuk mengukur kenyamanan responden saat pemeriksaan EKG. Hasil penelitian didapatkan nilai rerata rasa nyaman pasien pada kelompok intervensi 22,53 dan pada kelompok kontrol 19,86. Hasil uji Man Whitney didapatkan perbedaan yang signifikan rerata rasa nyaman pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dengan p-value (0,023). Baju ANT-VGAR meningkatkan rasa nyaman  pasien pada pemeriksaan EKG. Kata Kunci : rasa nyaman; baju ANT-VGAR; pemeriksaan EKG ANT-VGAR CLOTHING FOR PATIENTS’ COMFORT ON ELECTROCARDIOGRAM EXAMINATION ABSTRACT Electrocardiogram (ECG) is a signal that is formed as a result of electrical activity of the heart; ECG signal has a specific shape so that it can be used as a reference to determine the condition of heart health. ECG examination requires the patient to undress that’s causing the patient feel less comfortable. The results of interviews with the patients who would have an ECG examination showed that all respondents feel embarrassed or uncomfortable when installing an ECG, especially female patients because the chest area is opened. Using ANT-VGA cloth to cover chest area was an effort to reducing uncomfort feeling for patients. The aim of this study was to determine the effect of ANT-VGAR clothing on the comfort of the patient during the examination.This study used quasy exsperiment with an intact group comparison approach. The respondents used in this research were the patients of ECG examination with purposive sampling . A total of 30 respondents were divided into two groups, 15 respondents in the intervention group and 15 respondents in the control group. The instrument used was the Standart Operational Prosedure (SOP) ANT-VGAR shirt used during the ECG examination and a comfort questionnaire to measure the respondents' comfort during the ECG examination. The mean value of comfort in the intervention group was 22.53 and in the control group were 19.86. Whitney Man test results obtained significant differences in the average comfort in the control group and the intervention group with p-value (0.023). The results of this study concluded that there is an influence of the ANT-VGAR shirt on the comfort of the patient during the ECG examination. Keywords: patient comfort; ANT-VGAR shirt; ECG examination
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap Pengunjung Terhadap Kepuasan Tentang Klinik Wisata di Water Blaster Semarang widiyaningsih widiyaningsih; Eni Kusyati; Hilmi Aziz Yusma
Jurnal Smart Keperawatan Vol 4, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.887 KB) | DOI: 10.34310/jskp.v4i1.89

Abstract

Water Blaster merupakan wahana permainan air yang pertama kali berdiri di Semarang dan menjadi andalan rekreasi keluarga warga kota Semarang. Setiap tahunnya jumlah pengunjung yang berkunjung ke Water Blaster selalu mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah wisatawan tersebut akan diikuti peningkatan resiko kesehatan dikarenakan aktifitas kepariwisataan merupakan aktifitas yang dapat menimbulkan resiko kecelakaan, sehingga dibutuhkan adanya fasilitas klinik wisata. Sehubungan dengan hal diatas maka telah tersedia fasilitas pelayanan kesehatan khusus menangani masalah kesehatan pada wisatawan di kawasan wisata yang dikenal dengan nama klinik wisata.Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap pengunjung terhadap kepuasan tentang klinik wisata di Water Blaster Semarang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross section.Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner.Jumlah responden sebanyak 51orang dengan teknik Purposive sampling.Data yang diperoleh diolah secara statistic menggunakan rumus chi-square.Hasil penelitian didapatkan data pengunjung di Water Blaster Semarang yang mempunyai pengetahuan cukup sebanyak 25 responden (49,0%). Pengunjung di Water Blaster Semarang yang mempunyai sikap positif sebanyak 29 responden (56,9%). Pengunjung di Water Blaster Semarang yang mempunyai kepuasan puas sebanyak 28 responden (54,9%). Simpulan Ada  hubungan yang  signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap pengunjung terhadap kepuasan tentang klinik wisata di Water Blaster Semarang.
HUBUNGAN PELAKSANAAN SURGICAL SAFETY CHECKLIST DAN KEJADIAN INFEKSI POST OPERASI MAYOR Widiyaningsih Widiyaningsih; Eni Kusyati; Amri Hidayat
Journal Of Health Science (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol 2 No 1 (2017): JOURNAL OF HEALTH SCIENCE (JURNAL ILMU KESEHATAN)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.9 KB) | DOI: 10.24929/jik.v2i1.394

Abstract

Background: wound postoperative infection (ILO) are infections caused by pathogenic microorganisms that contaminate the wound area during surgery or after surgery. The data from survey by World Health Organization (WHO) found that about ILO cuased infection as 5% - 34% of total nosocomial infections. The data from Centers for Disease Control and Prevention cited that annually there was 500,000 surgical site infections (SSI) and that caused 3% surgical mortality, prolonged length of stay in hospital, and increased medical costs. Objective: to know the correlation of Surgical Safety Checlist Implementation and post operative infection. Research method: the method was quantitative method with cohort analytic survey design. The population were all patients with major surgery at Public Hospital of Tugurejo Semarang periode December 2016 - January 2017 as many as 99 patients. Result:the result of this study were major surgery mostly have implementation of surgical safety checklist either 81 respondent (81,8%) and have no infection incidence were 84 responden (84,8%). There was no significant correlation between surgical safety checklist implementation and postoperative infection.
Peningkatan Fleksibilitas Sendi pada Pasien Stroke dengan Terapi Tali Temali M. Jamaluddin; Widiyaningsih Widiyaningsih; Zulfatun Nadhifah
Journal Of Health Science (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol 5 No 2 (2020): JOURNAL OF HEALTH SCIENCE (JURNAL ILMU KESEHATAN)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/jik.v5i2.1076

Abstract

Latar belakang : Stroke merupakan gangguan fungsi sistem saraf yang terjadi secara mendadak dan disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak. Menurut WHO sekitar 15 juta orang menderita serangan stroke pertama setiap tahun, dengan sepertiga dari kasus ini dapat mengakibatkan kematian. Masalah yang dialami penderita stroke adalah gangguan gerak. Maka perlu dilakukan terapi non farmakologis berupa terapi tali temali. Bersifat meningkatkan panjang dan elastisitas otot dan jaringan sekitar sendi karena dengan menggerakan sendi dapat melancarkan peredaran darah untuk mengurangi kekakuan fleksibilitas sendi. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui peningkatan fleksibilitas sendi pada pasien stroke dengan terapi tali temali Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan Pre Experimental Design. Populasi penelitian ini adalah pasien penderita gejala post stroke non hemoragik di Poliklinik Saraf RSUD Ungaran dengan sampel sebanyak 20 orang. Teknik sampling pada penelitian ini adalah Purposive Sampling Hasil penelitian : Uji normalitas menggunakan Uji Sapiro Wilk didapatkan hasil sebelum terapi 0,062 (> 0,05) dan didapatkan hasil setelah terapi 0,068 (> 0,05). Uji statistik menggunakan Uji Paired T-Test menunjukan p-value 0.000 atau < 0,05 maka dapat disimpulkan ada pengaruh terapi tali temali terhadap fleksibilitas sendi. Kesimpulan: Ada pengaruh terapi tali temali terhadap fleksibilitas sendi pada pasien stroke di RSUD Ungaran.
TERAPI KECEMASAN DENGAN ANIMAL ASSISTED TEHRAPY W Widiyaningsih; Y Yunani; M Jamaluddin
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.512 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.420

Abstract

Data litbang Save Our Soccer (SOS) selama 2017 terdapat korban meninggal sebanyak 65 orang dari kericuhan sepak bola Indonesia serta kerusakan dari infrastruktur yang ada di stadion. Pengontrolan kecemasan pada atlet sepakbola anak dapat diterapi dengan menggunakan pendekatan non farmakologi yang minimal efek samping. Pengelolaan kecemasan yang baik dapat menstabilkan fungsi fisik dan psikis sebelum permainan di lapangan. Manfaat sosial lain adalah terkontrol sportivitas selama di lapangan dan mengurangi angka kejadian kekerasan misal tawuran dalam suatu pertandingan sepakbola. Ikan cupang merupakan salah satu hewan yang dapat dimanfaatkan sebagai animal assisted therapy untuk mengatasi kecemasan. Tujuan penelitian ini menganalisa pengaruh animal assisted therapy ikan cupang terhadap kecemasan pada atlet sepak bola anak. Metode penelitian menggunakan quasy experiment with one group pre and post test design. Penelitian ini menggunakan 30 responden atlet sepak bola anak yang terdaftar di sekolah sepak bola anak di Semarang menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian untuk mengukur kecemasan menggunakan Kuesioner Depression Anxiety Stres Scale (DASS) 42. Pengambilan data dilakukan 30 menit sebelum pertandingan sepakbola dimulai. Pertama peneliti mengambil data pretest untuk mengukur kecemasan. Setelah itu peneliti memberikan intervensi animal assisted therapy dengan ikan cupang selama 15 menit dengan cara memberikan kesempatan pada responden untuk melihat dan memberikan makan pada ikan cupang yang ditaruh dalam akuarium ikan. Posttest pengukuran kecemasan dilakukan setelah pemberian intervensi AAT ikan cupang. Intervensi diulang selama tiga kali pertandingan. Analisa data dengan dengan menggunakan uji wilcoxon didapatkan p value 0.000 sehingga disimpulkan terdapat pengaruh animal assisted therapy terhadap kecemasan pada atlet sepakbola anak. Save Our Soccer (SOS) R & D data during 2017 there were 65 people died from the chaos of Indonesian football and damage to the infrastructure in the stadium. Controlling anxiety in children's soccer athletes can be treated using a non-pharmacological approach that minimizes side effects. Good anxiety management can stabilize physical and psychological functions before playing in the field. Other social benefits are controlled sportsmanship while on the field and reduce the number of violent events such as brawls in a soccer match. Betta fish is one animal that can be used as animal assisted therapy to overcome anxiety. The purpose of this study was to analyze the effect of animal assisted therapy in betta fish on anxiety in children's soccer athletes. Research method was quasy experiment with one group pre and post test design This study used 30 respondents of children's soccer athletes enrolled in children's soccer schools in Semarang using purposive sampling. The research instrument for measuring anxiety used the Depression Anxiety Stress Scale (DASS) Questionnaire 42. Data was collected 30 minutes before the soccer match begins. First the researchers took the pretest data to measure anxiety. After that the researchers gave animal assisted therapy intervention with betta fish for 15 minutes by giving respondents the opportunity to see and feed the betta fish placed in a fish aquarium. Posttest measurement of anxiety was done after the administration of betta AAT intervention. The intervention was repeated for three matches. Data analysis used Wilcoxon test obtained p value 0,000 so that it was concluded there was an influence of animal assisted therapy on anxiety in children's soccer athletes.
SENAM AEROBIC UNTUK MENGATASI NYERI MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN AL ISHLAH SEMARANG Witri Hastuti; W Widiyaningsih
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 11 No. 1, Januari 2020
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.266 KB) | DOI: 10.34035/jk.v11i1.421

Abstract

Dismenore merupakan nyeri yang biasanya bersifat kram dan berpusat pada perut bagian bawah yang terasa selama menstruasi, terkadang sampai parah sehingga mengganggu aktivitas. Prevalensi nyeri menstruasi pada remaja di Indonesia berkisar antara 43% hingga 93%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh olahraga senam aerobic terhadap nyeri dismenorea pada remaja puteri di Pondok Pesantren Al Ishlah Semarang. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimental Two groups Pre Test dan Post Test with control. Instrumen nyeri yang digunakan adalah Numeric rating Scale (NRS), dengan skala 0-10. Penelitian dilakukan pada 50 remaja putri yang mengalami nyeri menstruasi. Remaja yang memenuhi kriteria pada skrining diberikan latihan fisik berupa aerobik pada kelompok perlakuan dan jogging pada kelompok kontrol. Latihan fisik dilakukan 2 kali terjadwal dalam seminggu, masing-masing minimal 30 menit selama 3 siklus menstruasi. Rata-rata nyeri dismenore sebelum dilakukan tindakan adalah 3.24+0.523 dan setelah intervensi 1.08+0.277. Hasil uji dengan Mann Whitney didapatkan senam aerobic lebih efektif untuk mengurangi nyeri dibandingkan jogging dengan mean rank sebesar 20,96 dan nilai p value 0.000. Olahraga mampu meningkatkan produksi endorphin (penghilang rasa sakit alami tubuh) sehingga menghilangkan nyeri ketika menstruasi. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan pasokan darah ke organ reproduksi sehingga memperlancar peredaran darah. Diharapkan remaja putri dapat rutin melakukan olahraga senam aerobic minimal 1 kali dalam seminggu untuk mengurangi nyeri menstruasi. Dysmenorrhea is pain usually cramping and centered on the lower abdomen that is felt during menstruation, sometimes to severe so that it interferes with activity. The prevalence of menstrual pain in adolescents in Indonesia ranges from 43% to 93%. The purpose of this study was to determine the effect of jogging on dysmenorrhoea pain in young girls at Al Ishlah Islamic Boarding School in Semarang. This study used an experimental design of Two groups Pre Test and Post Test with control. The pain instrument used was the Numeric rating Scale (NRS), with a scale of 0-10. The study was conducted on 50 young women who experience menstrual pain. Adolescents who met the screening criteria were given physical exercise in the form of aerobics in the treatment group and jogging in the control group. Physical exercise was scheduled twice a week, each with a minimum of 30 minutes for 3 menstrual cycles. The mean pain of dysmenorrhea before the action was 3.24 + 0.523 and after the intervention 1.08 + 0.277. Aerobic exercise was more effective in reducing pain than jogging with a p value of 0,000. Exercise could increase endorphin production (the body's natural pain reliever) so that pain relief during menstruation. In addition, exercise could increase blood supply to the reproductive organs thereby improving blood circulation. It was expected that young women can routinely exercise at least once a week to reduce menstrual pain.