Wahya Wahya
Fakultas Sastra Universitas Padjajaran Bandung

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERUBAHAN BUNYI VOKAL PADA KATA SERAPAN BAHASA ARAB DALAM BAHASA INGGRIS Rohbiah, Tatu Siti; Nur, Tajudin; Wahya, Wahya; Gunardi, Gugun
Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : English Department FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1508.306 KB) | DOI: 10.24036/ld.v13i2.104200

Abstract

This research aims to analyze and formulate rules of change that occur in Arabic borrowings in English phonologically. Thus research can describes vocal sound changes in Arabic borrowings in English. This research is to answer the question such as how are the process of monophthong and diphthong vowel changes in Arabic borrowings in English. This research is a qualitative type which is analyzed and written descriptively to answer how the process of changing phonologically with a method consisting of three stages, namely: (1) data codification method, (2) data analysis method, and (3) method of presenting the results of data analysis and the data source used by researcher froms Oxford Advanced Learners Dictionary and Al-Maurid: A Modern Arabic-English Dictionary, and also from magazines such as Time, Bloomberg Business Week, and News Scientist. The result findings are 103 words in Arabic borrowings in English that were analyzed, it was found phonological changes on monophthong and diphthong vowel sounds caused by the unavailability of the type of Arabic sound in English and the influence of sound falling before and after it.
Toponimi Nama Tempat Berbahasa Sunda di Kabupaten Banyumas Sobarna, Cece -; Gunardi, Gugun; Wahya, Wahya
PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i2.426

Abstract

ABSTRACT The continuous changes of society have brought some impacts to the name of a place. Even though it is only a name, it actually deals with the cultural perspective of the surrounding communities. Currently, toponym becomes important for society as a part of identity formation processes including for the Sundanese. Beside spoken in West Java and Banten, Sundanese language is also spoken by Central Java communities who live in western areas such as Cilacap, Brebes, and Banyumas regencies. In Cilacap and Brebes regencies, Sundanese language is still an effective language for daily communication. However, in Banyumas regency, this language undergo changes. In fact, the Sundanese language in Banyumas is a quite unique since the archaic words such as pineuh  (sleeping) and teoh (below) are still found. This area still keeps its oral tradition such as the story about the history of the place names. The study of the place name is an effort to strengthen an identity as the place name can be understood as a symbol rooted on the history of the place in its local culture. This tradition contributes toward a sustainability of the place name along with their cultural values.Key words: place names, local wisdom, identity   ABSTRAK       Perubahan masyarakat yang terus-menerus berpengaruh pada perubahan penamaaan tempat di suatu daerah.Tidak hanya sekadar nama, dalam penamaan sebuah tempat terkandung pandangan  masyarakat pemiliknya. Saat ini, toponimi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari proses pembentukan identitas. Selain di wilayah Jawa Barat dan Banten, bahasa Sunda digunakan pula oleh sebagian masyarakat Jawa Tengah yang berada di bagian barat, seperti Kabupaten Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di wilayah Kabupaten Cilacap dan Brebes bahasa Sunda sampai sekarang masih digunakan. Namun, di wilayah Kabupaten Banyumas, bahasa Sunda mengalami penyusutan. Padahal, bahasa Sunda di wilayah tersebut cukup menarik, yakni masih ditemukan kata-kata arkais, seperti pineuh ‘tidur’ dan teoh ‘bawah’. Wilayah ini juga masih menyimpan banyak tradisi lisan, di antaranya adalah ihwal cerita terjadinya nama tempat.  Pengkajian nama tempat merupakan sebuah upaya yang strategis dalam rangka penguatan jati diri bangsa karena nama tempat dapat dipahami sebagai tanda yang mengacu pada cerita dan sejarah yang berakar pada budaya lokal. Tradisi ini berkontribusi terhadap kelanggengan nama berikut nilai-nilai budaya di dalamnya.Kata kunci: nama tempat, kearifan lokal, jati diri
PILIHAN BAHASA DWIBAHASAWAN SUNDA-INDONESIA BERBAHASA PERTAMA SUNDA DI KABUPATEN BANDUNG Wagiati, Wagiati; Wahya, Wahya; Riyanto, Sugeng
Lingua Vol 14, No 1 (2018): January 2018
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan pemilihan bahasa (language choice) oleh dwibahasawan Sunda-Indonesia berbahasa pertama Sunda di Kabupaten Bandung.Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis data deskriptif.Analisis dibagi menjadi penggunaan bahasa (Sunda dan Indonesia) pada enam ranah komunikasi, yaitu ranah kekeluargaan, ketetanggaan, kekariban, pendidikan, transaksi, dan pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Sunda digunakan oleh dwibahasawan Sunda-Indonesia berbahasa pertama Sundadi Kabupaten Bandung pada hampir pada semua ranah komunikasi.Dari enam ranah komunikasi yang diteliti, pada empat ranah komunikasi, yaitu kekeluargaan, kekariban, ketetanggaan, dan transaksi, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasinya. Dengan skor 20 untuk selalu, skor 10 untuk kadang-kadang, dan skor 0 untuk tidak pernah, skor yang didapat pada empat ranah tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Sunda hampir selalu digunakan, yaitu skor 17,55 untuk ranah kekeluargaan, 18,81 untuk ranah kekariban, 17,46 untuk ranah ketetanggaan, dan 16,84 untuk ranah transaksi. Adapun pada ranah pendidikan, sebagian besar dari responden lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasinya. Penggunaan bahasa Sunda pada ranah ini hanya mencapai skor 6,87. Sementara itu, pada ranah pemerintahan, bahasa Sunda dan bahasa Indonesia digunakan dengan intensitas yang hampir seimbang, yaitu dengan skor 11,71 untuk bahasa Sunda.This research describes language choice by Sundanese-Indonesian bilinguals with Sundanese first language in Bandung Regency. The method used is qualitative method with descriptive data analysis. The analysis is divided into the use of language (Sundanese and Indonesian) in the six domains of communication, namely the domain of kinship, neighborhood, closeness, education, transactions, and government. The results show that Sundanese is used by Sundanese-Indonesian bilinguals with Sundanese first language in Bandung Regency in almost all communications spheres. Of the six communication domains studied, in the four domains of communication, namely kinship, closeness, neighborhood, and transactions, they prefer to use Sundanese as the language of their communication. With a score of 20 for always, a score of 10 for sometimes, and a score of 0 for never, the score obtained in these four domains shows that Sundanese is almost always used, namely the score of 17.55 for the familial sphere, 18.81 for the domain of the closeness, 17.46 for neighboring domains, and 16.84 for the transaction domain. As for education, most of respondents prefer to use Indonesian language as its communication language. The use of Sundanese in this domain only reached a score of 6.87. Meanwhile, in the domainof government, Sundanese and Indonesian languages are used with almost equal intensity, i.e. with a score of 11.71 for the Sundanese language.
Dimensi Sintaksis dan Semantik Partikel Euy dalam Novel Budak Teuneung Karya Samseodi Wahya, Wahya
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22875

Abstract

Partikel euy merupakan salah satu partikel fatis dalam bahasa Sunda. Partikel ini, sebagaimana partikel fatis lain, tidak memiliki fungsi sintaksis dalam kalimat, yakni sebagai unsur ekstraposisi dalam kalimat. Tulisan ini yang berjudul  “Dimensi Sintaksis dan Semantik Partikel Euy dalam Novel Budak Teuneung”membahas perilaku sintaksis partikel euy, yaitu keberadaannnya dalam jenis kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya, dan makna gramatikal partikel euy dalam lingkungan kalimat deklaratif, interogatif, imperatif, dan eksklamatif. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dengan teknk catat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode agih atau distribusional. Sumber data yang digunakan adalah novel anak-anak yang berjudul Budak Teuneung (2018) karya Samsoedi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 46 data kalimat yang memuat partikel euy. Berdasarkan analisis terhadap 46 data tersebut dengan pendekatan sintaksis dan semantik, dapat disimpulkan bahwa partikel euy  dapat berposisi di awal, di tengah, atau di akhir kalimat deklaratif, tetapi dominan berposisi di tengah kailimat. Partikel euy hanya berposisi di tengah dan di akhir kalimat interogatif, tidak ada yang berposisi di awal kalimat. Partikel euy dapat berposisi di awal, di tengah, dan di akhir kalimat imperatif, tetapi dominan berposisi di akhir kalimat. Partikel euy hanya berposisi di awal dan di akhir kalimat eksklamatif, tidak ada yang berposisi di tengah kalimat. Secara semantik, partikel euy bersama jenis kalimat yang memuatnya memiliki keragaman makna gramatikal. Secara umum dapat dikatakan partikel euy beserta unsur lingusitik yang mendampinginya dalam kalimat deklaratif memiliki makna ‘meberitahukan atau menyatakan sesuatu’; dalam kalimat interogatif, memiliki makna ‘meminta sesuatu’; dalam kalimat imperatif, memiliki makna ‘meminta sesuatu’ atau ‘memerintahkan sesuatu’; dalam kalimat  eksklamataif. memiliki makna ‘mengungkapkan atau menyampaikan sesuatu’.Particle euy is just one-structured particles in the Sundanese language. This  particle, as another particles phatic, does  not have the syntactic function in the sentence, namely as an element in extraposition sentence. This article entitled "Dimensions of Syntax and Semantics of the Euy Particle in Novel of Budak Teuneung" discuses the behavior of particles in syntax dimension, namely it’s distribution in the type of sentence based on syntactic and grammatical meaning of particles in the environment, namely in declarative sentences, interrogative, imperative, and exclamative ones. This research method is descriptive qualitative. Data collected by using observation techniques to record. Furthermore, the data were analyzed using distributional method. Source data used is a children's novel titled Budak Teuneung (2018) written by Samsoedi. Based on the results of the study, found that 46 data sentence contains particles here. Based on an analysis of 46 data with the approach of syntax and semantics, it can be concluded that the particle euy can be positioned at the beginning, in the middle, or at the end of a declarative sentence, but a dominant position in the middle; particle euy simply positioned in the middle and at the end of interrogative sentences, no position early in the sentence; particle euy can be positioned at the beginning, in the middle, and at the end of the imperative sentence, but a dominant position in the end of the sentence; particle euy only just plays in the beginning and at the end of the exclamative  sentence, no position in the middle of a sentence. Semantically, particle euy with the kind of sentences  contain a variety of grammatical meaning. Generally speaking, the particle with linguistic elements that accompany the declarative sentences have meaning 'report missing or declared something'; interrogative sentences have  meaning 'ask anything';  imperative sentences have meaning 'ask anything' or 'ordered something';  exclamative sentences have  meaning 'reveal or convey something'. 
Model Penjelasan Lema Kosakata Dialek dalam Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata Wahya, Wahya
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20693

Abstract

AbstrakTidak semua kamus suatu bahasa memuat kosakata dialek, dalam hal ini, dialekgeografis. Hal ini terjadi karena penyusunan kamus memiliki tujuan tertentu. Kamusyang memuat kosakata dialek merupakan kamus yang penyusunannya secara internalbertujuan mendokumenkan kekayaan kosakata dialek bahasa yang bersangkutansehingga pembaca mendapatkan informasi lebih dibandingkan dengan kamus yangtidak memuat kosakata dialek. Kamus yang memuat kosakata dialek secara leksikografistergolong kamus khusus. Kamus ini secara dialektologi merupakan sumber dokumenkekayaan dialek di samping dokumen kekayaan bahasa. Kosakata dialek di dalam kamussecara akademik dapat dijadikan bahan penelitian bagi mereka yang berminat terhadapkajian dialektologi, lebih-lebih bagi mahasiswa dari fakultas budaya, bahasa, atau sastra.Bagaimana pemuatan kosakata dialek dalam kamus bahasa Sunda? Tidak semua kamusbahasa Sunda memuat kosakata dialek. Salah satu kamus yang muat kosakata dialekadalah Kamus Basa Sunda yang disusun R.A. Danadibrata (2009). Kamus ini memuatlebih dari 180 kosakata dialek. Lema dialek ini berasal dari berbagai daerah berbahasaSunda di Jawa Barat dan Banten dan memiliki beragam kategori kata. Penjelasan lemadialek ini dalam kamus tersebut memiliki tiga model, yakni (1) lema + bs (basa) + daerahpakai, (2) lema + bs + wewengkon ‘daerah’ + daerah pakai, dan (3) lema + dialek + daerahpakai. Artikel ini akan menjelaskan lema apa saja yang diberi penjelasan seperti di atas,kemudian penjelasan apa yang ditambahkan. Metode penelitian yang digunakan bersifatdeskriptif dan sinkronis. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknikcatat. Dari hasil penelitian, model (2) lebih banyak digunakan daripada model (1) danmodel (3), selanjutnya model (1) lebih banyak digunakan daripada model (3). Setiap lemadialek tidak disertai penjelasan kategori katanya.Kata kunci: kosakata, dialek, kamus dialek, leksikografisAbstractNot all dictionaries contain a vocabulary of dialect words, in this case, geographicaldialects. This occurs because the making of a dictionary has a specific purpose. The dictionarywhich contains the vocabulary of dialect words is the dictionary which functions to document therichness of dialect words in a language so readers get more information from that than the dictionarywhich does not contain the vocabulary of dialect words. The dictionary which contains thevocabulary of dialect words lexicographically is classified as a custom dictionary. This dictionaryis dialectologically a source document that can show the richness of its vocabulary regarding thedialect words as well as the richness of the language itself. The vocabulary of dialect words in the dictionary can be used for academic research material for those who are interested in the study of dialectology, especially for students of the faculty of culture, language, or literature. How are the dialect words loaded in the Sundanese language dictionary? Not all dictionaries of Sundaneselanguage contain the vocabulary of dialect words. One that does is Sundanese Dictionary compiled by R.A. Danadibrata (2009). The dictionary contains more than 180 dialect words. Dialect entry is derived from a variety of local Sundanese of West Java and Banten, and has a variety of word class. The explanation of the dialect entry in this dictionary has three models, namely (1) entry + bs (basa) ‘language’ + local use, (2) entry + bs (basa) ‘language’+ regions + local use, and (3) entry + dialect + local use , This article explains what the entries are given as explanation above, then what explanation added to the entry. The research method used is descriptive and synchronic. Data collection methods refer to the technical note. The results of the research show that the model (2) is more widely used than the model (1) and model (3), the next model (1) is more widely used than the model (3). Each entry is accompanied by an explanation dialect word class.Keywords: vocabulary, dialect, dialect dictionaries, lexicographical
Naon ataukah Naon ‘Apa’ Inovasi Internal dalam Bahasa Sunda Wahya, Wahya
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23320

Abstract

Konsep ‘apa’ dalam bahasa Sunda diekspresikan dengan kata naᴐn. Secara geolinguistik kata naᴐn memiliki varian naön. Sebaran geografis kata naᴐn dan naön berbeda. Kata naᴐn  tersebar luas di wilayah Priangan, sedangkan naön  tersebar di daerah Banten dan Priangan Timur berbatasan dengan Jawa Tengah, juga di Brebes. Secara diakronis kata naᴐn berasal dari nahaon, sedangkan kata naön  berasal dari nahaön, yang masingmsing kehilangan suku kata ha  karena proses sinkop. Baik kata nahaon  maupun nahaön memiliki bentuk dasar naha  yang masing-masing ditambah suku kata on  dan ön. Dalam bahasa Sunda bentuk ön secara morfemis berstatus sufiks. Dengan demikian, kemungkinan besar kata nahaön merupakan kata polimorfemis yang berasal dari naha + - ön. Dari analisis di atas, kemungkinan besar kata nahaon  berasal dari nahaön. Sama halnya dengan kata naᴐn  berasal dari naön. Dengan demikian, kata naᴐn dan nahaᴐn masing-masing merupakan inovasi internal dari kata naön dan nahaön.