Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Visualisasi Identitas Islam Dalam Komunitas Virtual Palanta Urang Awak Minangkabau Franzia, Elda; Piliang, Yasraf Amir; Saidi, Acep Iwan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 31 No. 2 (2016): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i2.26

Abstract

Palanta Urang Awak Minangkabau merupakan salah satu komunitas virtual masyarakat etnis Minangkabau yang terbentuk di jejaring sosial Facebook. Komunitas virtual ini terbentuk sehagai ruang berkumpul dan bercakap di dunia maya, yang diperuntukkan untuk memupuk persaudaraan bagi masyarakat Minangkabau di mana pun berada. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah atau adat yang berlandaskan agama Islam dan Al Qur’an dideklarasikan sebagai identitas etnis masyarakat Minangkabau. Sebagai identitas etnis, nilai-nilai Islami menjadi landasan kehidupan pribadi dan sosial. Penelitian ini clilakukan untuk memahami bentuk-bentuk visualisasi identitas Islam yang terwujud di ruang virtual khususnya dalam komunitas Palanta UrangAwak Minangkabau. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan cultural studies dan metode analisis semiotik. Penggunaan tanda-tanda visual menjadi wujud visualisasi identitas Islam dalam ruang virtual jejaring sosial. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi virtual foto profil anggota komunitas Palanta Urung Awak Minangkabau, untuk mengidentifikasi identitas Islam yang muncul di dalam komunitas virtual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan ragam tanda visual yang digunakan untuk membentuk identitas Islam melalui foto profil anggota komunitas virtual Palant Urang Awak Minangkabau di jejaring sosial Facebook.
Dimensi Ruang Dalam Karya Rupa (Studi Interdisiplin Terhadap Seni Instalasi Oksigen Jawa Karya Hanafi) Saidi, Acep Iwan; TH Siregar, Aminudin
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 31 No. 2 (2016): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i2.34

Abstract

Penelitian ini bertajuk Dimensi Ruang dalam Karya Rupa: Studi Interdisiplin Terhadap Seni Instalasi Oksigen Jawa karya Hanafi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kebudayaan dan metode interdisiplin. Cara kerja pendekatan dan metode tersebut adalah dengan memosisikan karya rupa (objek riset) sebagai artefak kebudayaan yang bersifat keseharian, yakni sebagai ekspresi yang renik dan kompleks. Berdasarkan sikap ini, objek dianalisis dengan menempatkan disiplin seni rupa dan desain sebagai basis ontologis yang didukung oleh berbagai disiliplin lain yang relevan. Dari model kerja demikian dapat ditemukan sebentuk rumusan yang menarik, antara lain, bahwa Oksigen Jawa adalah karya rupa multiperspektif yang dengan demikian juga menjadi multikode. Karya ini menjadi representasi dari upaya seniman untuk merangkai kembali narasi kebudayaan dan kemanusiaan yang sejauh ini telah terputus karena spesialisasi disiplin, Karya semacam ini tercipta dari seorang seniman yang memiliki kesadaran tentang sejarah, Sejarah dipahami sebagai kausalitas yang dengan begitu menjadi akar peradaban. Kehidupan manusia tidak pernah keluar dari benang merah sejarah sedemikian. Bonus demografidi masa depan, yang menjadi motivasi tematik penciptaan Oksigen Jawa, hanya akan tercapai jika pembangunan manusia hari ini dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai dan karakteristik masyarakat yang telah mengakar dari sejarah sebagai basis identitas.
Pergeseran Bentuk Siluet Kostum Tari Jaipongan Tahun 1980-2010 Marlianti, Mira; Saidi, Acep Iwan; Destiarmand, Achmad Haldani
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.233

Abstract

ABSTRACKThis article is aimed at identifying the shift in silhouette of Jaipongan costume from its first appearance (in 1980) until thirty years later (2010). The silhouette of Jaipongan costume keeps changing at present, and is believed to become trends followed by other costume designers in different areas. Since it has never been studied by other researchers, the study result is expected to be the reference for future studiesthat focus on Jaipongan. The approach used in this study is aesthetics of form. The result shows that the aesthetics shift in silhouette of Jaipongan costume took place because the designers hadopportunities and freedom to be more expressive in designing Jaipongan dance costumes appropriate to current trends of the era and of the show. The shifts includesilhouette of blouse that entirely appears in silhouette fited and silhouette of skirt from slim line to fit and flare line. While the silhoutte cutting has shifted from amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette toextra redingote silhouette.Keywords: shift, silhouette, Jaipongan costume periode 1980-2010ABSTRAKTampilan kostum Jaipongan sejak awal kemunculannya hingga kini semakin bervariasi, sehingga memungkinkan terjadinya pergeseran dalam hal siluet kostumnya. Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan tahun 1980-2010 di wilayah Bandung. Persoalan ini penting dikaji karena kajian terhadap bentuk siluet kostum Jaipongan belum pernah dilakukan oleh peneliti lain dan kostum Jaipongan di Bandung disinyalir menjadi trend senter yang banyak ditiru para penata kostum di wilayah lainnya.Tahun 1980-2010 dipilih karena untuk melihat pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan dari awal kemunculannya hingga genap tiga puluh tahun keterkinian-nya yang masih terus berkembang hingga kini. Pendekatan yang digunakan untuk kepentingan tersebut adalah estetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan terjadi karena bermunculanya kreativitas-kreativitas baru yang lebih bebas dan lebih ekspresif dalam hal perancangan desain kostum tari Jaipongan, sebagai upaya menyeimbangan akan tuntutan jaman dan tuntutan pertunjukan. Pergeseran tersebut meliputi siluet kostum atasan yang seluruhnya tampil dalam silhouette fited, dan bentuk siluet kostum bawahan yang berawal dari slim line menjadi fit and flare line. Adapun potongan silhouette diawali amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette, dan diakhiri ekstra redingote silhouette.Kata Kunci: pergeseran, bentuk siluet, kostum Jaipongan rentang tahun 1980-2010 
Representasi Identitas Melalui Komunikasi Visual Dalam Komunitas Virtual Palanta Urang Awak Minangkabau Franzia, Elda; Pialang, Yasraf Amir; Saidi, Acep Iwan
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.45

Abstract

ABSTRACTIn virtual community, identity represented through various form. A person as community member is appearing through profile picture and doing communication activity between members in virtual community. The communication held actively in verbal and visual communication form consists of message exchange and meaning through symbols that understand thoroughly based on culture and custom with certain characteristic differ to each ethnic groups. Palanta Urang Awak Minangkabau is one of the virtual communities in Facebook social network. As an active virtual community, the communication is ongoing intensely between members. Conversation and interac- tion are often beginning with image posting by member. This research is aim to explain the variety of visual communication form in this certain virtual community as part of virtual identity con- struction of Minangkabau ethnic group. The method is virtual observation and documentation, with semiotic method analysis in cultural studies approach. This research gave the understanding of image typology and cultural symbolism in Minangkabau culture, especially in the context of virtual community in Facebook.Keywords: identity, communication, visual, Minangkabau, Facebook ABSTRAKDalam komunitas virtual, identitas direpresentasikan melalui berbagai bentuk. Individu yang menjadi anggota komunitas dihadirkan melalui foto profil dan melakukan aktivitas komunikasi antar individu dalam ruang komunitas virtual tersebut. Komunikasi berlangsung secara aktif meliputi tukar menukar pesan dan pemaknaan secara verbal dan visual melalui simbol-simbol penandaan yang dipahami bersama, dengan berbasis budaya dan adat dengan karakteristik tertentu yang berbeda antara etnis satu dengan yang lain. Palanta Urang Awak Minangkabau merupakan salah satu komunitas virtual di jejaring sosial Facebook. Sebagai komunitas virtual yang aktif, komunikasi berlangsung secara intens antar anggotanya. Percakapan dan interaksi sering kali dimulai dengan gambar yang dipaparkan oleh anggota komunitas. Kajian ini bertujuan untuk memaparkan ragam bentuk dan cara penyampaian komunikasi visual di dalam komunitas virtual ini sebagai bagian dari konstruksi identitas virtual etnis Minangkabau. Metode yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi virtual, melalui analisis semiotik dengan pendekatan cultural studies. Kajian ini memberi pemahaman terhadap tipologi gambar dan simbol-simbol budaya yang berlaku dalam adat Minangkabau, khususnya dalam konteks komunitas vir- tual di Facebook.Kata kunci: identitas, komunikasi, visual, Minangkabau, Facebook
Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan Dalam Film Animasi Planes (Ke Arah Pembentukan Mitos Baru) Saidi, Acep Iwan; Budiwaspada, Agung Eko
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.41

Abstract

ABSTRACTThis research is entitled “Visualization and Transformation of Embodiment in the Film of Planes Animation”. As an animation film, Planes is interesting because it is using inanimate objects, in this case the planes, as characters. This fact indicates that the character transformation is done by an animator, from the character of inanimate objects in to live character. By using the methods of structural and semiotic analysis, found that the transformation is done not only for personification (it is made as if the inanimate objects becomes alive). In the Planes, “the living things” not only exist in the mind as imagination, but it is exist out of the mind, as an autonomous reality. Based on that, Planes is the animation film which opens space for creating a new myth in the history of culture. Like the fable as a myth in the tradition of primary orality, Planes allows the formation of myth in digital oral tradition.Key Words: Transformation, visualization, embodiment, personification, metaphor, tradition, myth ABSTRAKPenelitian ini bertajuk “Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan dalam Film Animasi Planes”.Sebagai film animasi, Planes menarik karena menggunakan benda-benda mati, dalam hal ini pesawat, sebagai tokoh cerita. Fakta ini mengindikasikan dilakukannya transformasi karakte r ole h animator, yakni dari karakte r “yang mati” ke “yang hidup”.Dengan menggunakan metode analisis structural dan semiotik, ditemukan bahwa transformasi tersebut dilakukan melampaui sarana retorika personifikasi (membuatseolah- olah yang mati menjadi hidup).Di dalam Planes, “yang hidup” itu tidak berada di dalam pikiran dan imajinasi apresiator sebagai yang seolah-olah, melainkan hadir di luar pikiran, berdiri sendiri sebagai realita sotonom. Berdasarkan hal itu, Planes merupakan film animasi yang membuka ruang bagi terciptanya mitos baru dalam sejarah cerita. Jika fable merupakan mitos dalam tradisi kelisanan primer, Planes memungkinkan terbentuknya mitos dalam tradisi lisan digital.Kata kunci: transformasi, visualisasi, kebertubuhan, personifikasi, metafora, tradisi, mitos.
Kritik sastra Indonesia: Pokok-Soal yang tak kunjung tercerahkan Saidi, Acep Iwan
Wacana Vol 2, No 1 (2000): Kebudayaan dan Perubahan
Publisher : Faculty of Humanities, University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6108.933 KB) | DOI: 10.17510/wjhi.v2i1.275

Abstract

-
‘Gerak’ Pada Film Sebagai Kode Budaya Studi Kasus Film ‘Setan Jawa’ Karya Garin Nugroho: Studi Kasus Film 'Setan Jawa' Karya Garin Nugroho Dewi, Agustina Kusuma; Piliang, Yasraf Amir; Irfansyah, Irfansyah; Saidi, Acep Iwan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol. 35 No. 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.826

Abstract

‘Gerak’ adalah proses perpindahan dari satu tempat ke tempat lain untuk mencapai tujuan. Tranposisi kreatif ‘gerak’ pada film sebagai wahana diskursus budaya mengkonstruksi makna dengan modifikasi luas menjadi proses intersemiosis kebudayaan menjadi kode dan elemen nonlinguistik. Film ‘Setan Jawa’ karya Garin Nugroho (2016) yang menjadi studi kasus merupakan film sine-orkestra yang memunculkan dialektika di luar konvensi film dengan memisahkan bunyi menjadi berada di luar film memunculkan kode-kode kultural mencakup mitos, teologi primitif yang ditampilkan dalam wujud sebuah tatanan dunia yang dibayangkan sebuah masyarakat Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah transposisi identitas kultural dalam film ‘Setan Jawa’ melalui ‘gerak’ pada film, sebagai satu media diskursus budaya yang menurut psikoanalisis dapat memunculkan hipnotik massal kebudayaan. ‘Gerak’ menjadi kode kultural yang secara visual menawarkan paradigma baru bagi film sebagai sebuah karya seni. Metode penelitian menggunakan uji respon estetik sebagai bentuk tanggapan atas sebuah karya seni, konstruksi respon estetik sebagai indikator penelitian dikembangkan dari penelitian H. Hoege (1984), Roger Long (1979), Erving Goffman (1959); sebagai bentuk pengujian konsep ‘gerak’ atau dinamika dalam film ‘Setan Jawa’ yang merupakan unsur yang membangkitkan atau merangsang perasaan (emosi). Hasil pengujian kemudian didiskusikan menggunakan metode Focus Group, menghasilkan temuan bahwa ‘gerak’ dapat berperan sebagai kode yang bersifat intensional, sebuah kode kultural yang mengomunikasikan identitas kultural sekaligus juga menawarkan estetika lain dalam paradigma postmodern bagi penciptaan film sebagai karya seni (dan desain) di era Revolusi 4.0.
UNSUR-UNSUR GOTIK DALAM NOVEL PENUNGGU JENAZAH KARYA ABDULLAH HARAHAP (Gothic Elements in the Novel Penunggu Jenazah by Abdullah Harahap) Darmawan, Adam; Priyatna, Aquarini; Saidi, Acep Iwan
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.161-178

Abstract

Tulisan ini mengkaji unsur-unsur gotik yang terdapat dalam novel Penunggu Jenazah karya Abdullah Harahap. Novel yang dikaji menunjukkan keterkaitan  unsur-unsur gotik sebagai pembangun cerita, yaitu hal-hal supernatural, bentuk-bentuk transgresi, latar yang menyeramkan, bentuk-bentuk monstrositas, excess dan fetis. Kajian ini dilandasi dengan menggunakan teori gotik. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur gotik dalam novel Penunggu Jenazah saling tumpang tindih. Hal-hal supernatural digunakan sebagai sumber konflik dan bentuk transgresi. Transgresi sebagai unsur gotik menggunakan pelanggaran terhadap tabu yang melibatkan transgresi terhadap seksualitas, tubuh, dan kematian. Latar yang menyeramkan, bentuk-bentuk monstrositas dan excess dihadirkan sebagai unsur gotik yang menggangu tatanan norma dan normalitas. Fetis yang muncul dalam Penunggu Jenazah adalah fetis terhadap tubuh perempuan dengan kecenderungan sadomasokis. Novel disajikan dengan mencampurkan semua unsur gotik dengan unsur supernatural, transgresi dan monstrositas sebagai unsur gotik yang dominan. Oleh sebab itu, penelitian ini saya fokuskan untuk mengungkap cara gotik ditampilkan dalam karya Harahap.Abstract: This paper examines the gothic elements in the novel entitled Penunggu Jenazah written by Abdullah Harahap. The novel shows that the gothic elements are supernatural, forms of transgression, scary setting, forms of monstrosity, excess and fetish. This study uses gothic theories. Furthermore, the results of the analysis also show that the gothic elements are overlapping. Transgression as the gothic element is using violation of taboo of sexuality, body and death. The scary setting, the forms of monstrosity and excess are representing to disturb norms and normality. The fetish in the Penunggu Jenazah novel is the fetish of a woman body with a tendency to sadomasochism. Gothic is represented by blending all gothic elements with the supernatural, transgression and monstrosity as the majority elements. Moreover, this study is focused on the way gothic represented.
Pergeseran Bentuk Siluet Kostum Tari Jaipongan Tahun 1980-2010 Marlianti, Mira; Saidi, Acep Iwan; Destiarmand, Achmad Haldani
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.283 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.233

Abstract

ABSTRACKThis article is aimed at identifying the shift in silhouette of Jaipongan costume from its first appearance (in 1980) until thirty years later (2010). The silhouette of Jaipongan costume keeps changing at present, and is believed to become trends followed by other costume designers in different areas. Since it has never been studied by other researchers, the study result is expected to be the reference for future studiesthat focus on Jaipongan. The approach used in this study is aesthetics of form. The result shows that the aesthetics shift in silhouette of Jaipongan costume took place because the designers hadopportunities and freedom to be more expressive in designing Jaipongan dance costumes appropriate to current trends of the era and of the show. The shifts includesilhouette of blouse that entirely appears in silhouette fited and silhouette of skirt from slim line to fit and flare line. While the silhoutte cutting has shifted from amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette toextra redingote silhouette.Keywords: shift, silhouette, Jaipongan costume periode 1980-2010ABSTRAKTampilan kostum Jaipongan sejak awal kemunculannya hingga kini semakin bervariasi, sehingga memungkinkan terjadinya pergeseran dalam hal siluet kostumnya. Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan tahun 1980-2010 di wilayah Bandung. Persoalan ini penting dikaji karena kajian terhadap bentuk siluet kostum Jaipongan belum pernah dilakukan oleh peneliti lain dan kostum Jaipongan di Bandung disinyalir menjadi trend senter yang banyak ditiru para penata kostum di wilayah lainnya.Tahun 1980-2010 dipilih karena untuk melihat pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan dari awal kemunculannya hingga genap tiga puluh tahun keterkinian-nya yang masih terus berkembang hingga kini. Pendekatan yang digunakan untuk kepentingan tersebut adalah estetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan terjadi karena bermunculanya kreativitas-kreativitas baru yang lebih bebas dan lebih ekspresif dalam hal perancangan desain kostum tari Jaipongan, sebagai upaya menyeimbangan akan tuntutan jaman dan tuntutan pertunjukan. Pergeseran tersebut meliputi siluet kostum atasan yang seluruhnya tampil dalam silhouette fited, dan bentuk siluet kostum bawahan yang berawal dari slim line menjadi fit and flare line. Adapun potongan silhouette diawali amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette, dan diakhiri ekstra redingote silhouette.Kata Kunci: pergeseran, bentuk siluet, kostum Jaipongan rentang tahun 1980-2010 
Representasi Idntitas Budya Sunda pada Perkakas Memasak Dan Perangkat Makan Tradisional Berbahan Bambu (Studi Kasus Desa Linggajaya Di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat) Aisyah, Lani Siti Noor; Saidi, Acep Iwan; Hutama, Krishna
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Seni & Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jsrr.v1i1.3886

Abstract

AbstractLocal artifacts as the assets of cultural heritage has a big contribution in establishing national identity. As well as sundanese traditional bamboos cookware and tableware which had been living in their tradition for a very long time until postmodern era. It can be said that besides as functional objects, the traditional cookware and tableware also able to afford the system of meaning, ideology and beliefs of the local society.the purpose of this research is to learn sundanese visual culture on traditional bamboos cookware and tableware, such as aseupan and seeng, and boboko, till they were able to transform into an identity of sundanese itself. This research is using interpretivism paradigm with qualitative-inductive approach. Analysis method applied was ethnography and semiotics based on charles sanders pierce’s theory which shown on descriptive form. AbstrakArtefak budaya lokal sebagai kekayaan budaya nusantara memiliki peran besar dalam membentuk identitas bangsa. Salah satu contoh, perkakas memasak dan perangkat makan tradisional sunda suku berbahan bambu yang hidup dalam tradisi masyarakatnya sejak lama. Bisa dikatakan bahwa perkakas memasak dan perangkat makan tradisional ini disamping sebagai objek fungsional, juga mampu mengakomodasi sistem makna, ideologi serta kepercayaan yang dianut masyarakatnya. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari budaya visual suku sunda pada perkakas memasak dan perangkat makan tradisional berbahan bambu diantaranya aseupan dan seeng, serta boboko, hingga mampu mewujud sebagai identitas dari suku sunda itu sendiri. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretivisme dengan pendekatan kualitatif-induktif. Metode analisis yang diterapkan adalah etnografi dan semiotika berdasarkan teori charles sanders pierce yang disajikan dalam bentuk deskriptif.Kata kunci : identitas, sunda, tradisional, alat makan.