p-Index From 2017 - 2022
6.743
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Buletin PSP Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Jurnal Komunikasi Pembangunan Jurnal Penyuluhan Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah Jurnal Manajemen dan Agribisnis MAKARA of Social Sciences and Humanities Series Farmaka MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian JAM : Jurnal Aplikasi Manajemen Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Journal of Rural Indonesia SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan Indonesian Journal of Business and Entrepreneurship (IJBE) Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) E-Journal Jurnal PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan) Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen Jurnal Agribisnis Terpadu Albacore : Jurnal Penelitian Perikanan Laut Forest and Society Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Buletin Ilmiah Marina : Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan JURNAL PANGAN Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jurnal Ekonomi dan Bisnis Terapan JURNAL PUSTAKAWAN INDONESIA Journal Of Sustainability Perspectives Makara Human Behavior Studies in Asia
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Hubungan Tingkat Kerentanan Masyarakat Pesisir Terhadap Bencana dengan Upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Yolla Rahmi; Arif Satria
Jurnal Penyuluhan Vol. 9 No. 2 (2013): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.606 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v9i2.9907

Abstract

Vulnerability is a level lack of ability in a society to prevent, defuse, achieve readiness and response the impact of disaster hazards. The coastal area is indicated as one of areas that vulnerable to natural disasters such as earthquake and Tsunami. Every society has different levels of vulnerability to disasters. This research has three main objectives. The First is to identify the level of vulnerability of coastal communities. The level of vulnerability has four aspects, namely; sosio-cultural, economical, environmental, and institutional. The second is to identify efforts of disaster risk reduction by coastal communities. The Third is to analyze thecorrelation beetwen the level of vulnerability of coastal communities with the efforts of disaster risk reduction. The results show that socio-cultural aspect and institutional aspect are in the lowest level of vulnerability, whereas environmental aspect can be categorized to the middle level of vulnerability. On the other hand, on economic aspect using level of walfare as an indicator, 50% respondent show the lowest level of vulnerability and the rest is the highest level of vulnerability. There is significant correlation between the level of walfare with the efforts of disaster risk reduction to implementation of housing reconstruction. This research combined the quantitative and qualitative research approach.Keywords: vulnerability, disaster, disaster risk reduction, mitigation, construction, reconstruction
STRATEGI ADAPTASI NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN EKOLOGIS Alfian Helmi; Arif Satria
MAKARA of Social Sciences and Humanities Series Vol 16, No 1 (2012): Juli
Publisher : Directorate of Research and Public Service, Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sumberdaya pesisir di Indonesia dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan dihadapkan pada kondisi yang bersifat mendua. Kondisi pertama, ada banyak kawasan yang belum tersentuh sama sekali oleh aktivitas pembangunan, namun pada kondisi lainnya terdapat beberapa kawasan pesisir yang telah dimanfaatkan dengan massif. Akibatnya, terlihat indikasi telah terlampauinya daya dukung atau kapasitas berkelanjutan dari ekosistem pesisir dan lautan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh perubahan ekologis terhadap kehidupan nelayan dan strategi adaptasi yang dilakukan nelayan dalam menghadapi perubahan ekologis di kawasan pesisir Desa Pulau Panjang, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan ekologis di kawasan ini diakibatkan oleh berbagai bentuk pemanfaatan sumberdaya pesisir yang cenderung eksploitatif. Bentuk perubahan ekologis dilihat dari kerusakan mangrove dan terumbu karang. Strategi adaptasi yang diterapkan oleh rumah tangga nelayan berbeda-beda dan tidak hanya terbatas pada satu jenis adaptasi saja. Rumah tangga nelayan mengkombinasikan berbagai macam pilihan adaptasi sesuai sumberdaya yang dimilikinya. Berdasarkan hasil survai di lokasi penelitian, pilihan-pilihan adaptasi yang dilakukan oleh nelayan antara lain: menganekaragamkan sumber pendapatan, memanfaatkan hubungan sosial, memobilisasi anggota rumah tangga, melakukan penganekaragaman alat tangkap, dan melakukan perubahan daerah penangkapan serta melakukan strategi lainnya, yakni berupa penebangan hutan mangrove sacara ilegal dan mengandalkan bantuan-bantuan dari berbagai pihak. Key words: adaptation strategies, ecological change, fisherman, livelihood
ANALISIS HUKUM INTERNASIONAL DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN DI LAUT LEPAS UNTUK MEWUJUDKAN PERIKANAN BERKELANJUTAN Ady Candra; Budy Wiryawan; Mulyono S. Baskoro; Arif Satria
Buletin PSP Vol. 20 No. 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi perikanan dunia semakin menurun, sehingga beberapa hukum internasional dikeluarkan untuk mengatasi hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis landasan hukum pengelolaan perikanan di laut lepas; dan (2) memaparkan organisasiorganisasi sub-regional dan regional perikanan yang terbentuk di wilayah laut lepas yang berbatasan dengan perairan Indonesia. Metode dalam penelitian ini adalah analisis yuridis normatif melalui pendekatan yuridis historis dan yuridis  komparatif. Analisis hukum mengungkapkan terdapat lima hukum internasional yang mengatur pemberantasan IUU  Fishing, yaitu UNCLOS 1982, FAO Compliance Agreement 1993, UNIA 1995,CCRF 1995, danIPOA on IUU Fishing 2001. Sementara RFMO yang berbatasan dengan perairan Indonesia, adalah IOTC, WCPFC, dan CCSBT. Beberapa hal yang diperhatikan dalam kerjasama  RFMO, yaitu wilayah kewenangan, spesies ikan yang ditangkap, keanggotaan, dan kewajiban para pihak. Kata kunci: hukum internasional, laut lepas, perikanan,  RFMO
TRANSFORMASI PRANATA PATRONASE MASYARAKAT NELAYAN: DARI EKONOMI MORALITAS MENUJU EKONOMI PASAR Kusumastanto, Tridoyo; -, Saharuddin; Satria, Arif; -, Mirajiani; S.Wahyuni, Ekawati
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2950

Abstract

Masyarakat nelayan  mengalami transformasi sosial ekonomi akibat penetrasi pembangunan dan pasar. Transformasi sosial ekonomi yang terjadi membawa perubahan signifikan pranata ekonomi nelayan, karena nelayan harus mengkonstruksikan  pranata ekonomi baru yang dianggap dapat mempertahankan penghidupan nelayan pada kondisi survival dan sesuai dengan perubahan yang terjadi. Penelitian ini mendalami bagaimana  transformasi pranata patronase  yang terjadi dan keterkaitannya dengan keterjaminan ekonomi pada masyarakat nelayan di Pesisir  Ujung Kulon.  Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat nelayan di Pesisir Ujung Kulon mengalami transformasi pranata ekonomi dari patronase  berbasis moralitas menjadi berbasis norma ekonomi pasar. Di era ekonomi pasar, patronase  merupakan suatu alternatif pranata ekonomi nelayan yang dibangun  untuk tetap bertahan dengan situasi krisis dan ketidakpastian ekonomi serta mata pencaharian yang bersifat fluktuatif.  Ditinjau  dari keterjaminan ekonomi, pranata patronase moralitas di masa lalu lebih memberikan jaminan  ekonomi nelayan pada situasi krisis daripada pranata patronase berbasis norma ekonomi pasar.  Pada situasi di mana pranata patronase tidak bisa sepenuhnya berfungsi sebagai pranata jaminan ekonomi nelayan,  maka untuk tetap bertahan  pada situasi ekonomi yang kurang terjamin  nelayan mengandalkan relasi ekonomi alternatif yang disediakan pasar  di luar patronase. Fishing communities experiencing socio-economic transformation as a result of development and market penetration. Socio-economic transformation is followed by significant change in economic institutions, as fishermen have to construct a new economic institutions which are supposed to maintain the livelihood in survival conditions and in accordance with the changes. This research was to explore how economic institution transformation happens and its effect on  economic security in coastal fishing communities in Ujung Kulon. The method uses a qualitative approach and the type of research uses a case study research. Results of the research showed coastal fishing communities in Ujung Kulon transformed economic institutions of patronage based morality becomes the norm based market economy. In the era of market economy, patronage remains an alternative economic institutions built to survive the crisis and uncertainty and livelihood fluctuated. The fact is related to economic security, institutional patronage morality in the past to provide security over the fishing economy in crisis situations rather than norm -based patronage institutions of the market economy. In situations where the institution of patronage can not fully function as economic security institutions of fishermen, then to survive on less secure economic situation of fishermen rely on alternative economic relations are provided markets outside patronage
Political Ecology of Sasi Laut: Power Relation on Society-Based Coastal Management Mony, Ahmad; Satria, Arif; Kinseng, Rilus A
Journal of Rural Indonesia [JORI] Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Journal of Rural Indonesia [JORI]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The coastal resources management cannot be separated from the power relation of all stakeholders with their interest on beneficial aspects. Some stakeholders may have similar interests, and some others have the dif- ferent ones with their own strategies in terms of meeting their interests. This kind of relation may take place in some forms, such as direct confrontation, physical resistance, persuasion, or collaboration. It may also be in the form of single form, yet flexible and dynamic, depends on the local and national politic situation. The existence of sasi laut is included in power relation dynamics with its own effects. The result of the study shows that the effect of this power relation, both in internal and external levels, tends to weaken the sasi laut. The power relation in the form of confrontation and physical resistance decreased the society compliance as well delegitimized the authorized boards. In contrast, the collaborative relation with external stakeholder like non-governmental organizations, universities, and donor organizations not only strengthened the capacity of the NGO and their organizations, this relation also would result in such centralized figures and empow- erment capitalization in which weakens the sasi laut application.Keywords: coastal resources, sasi laut, power relation, centralized figures, empowerment capitalization
PERSEPSI PESANGGEM MENGENAI HUTAN MANGROVE DAN PARTISIPASI PESANGGEM DALAM PENGELOLAAN TAMBAK MANGROVE RAMAH LINGKUNGAN MODEL EMPANG PARIT Habibi Elhaq, Imam; Satria, Arif
SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.556 KB)

Abstract

This research was aimed to: (1) analyze perception of the pesanggem about mangrove forest; (2) analyze participation of the pesanggem in an Environmental Friendly Mangrove Embankment Empang-Parit Model Management; (3) analyze the correlation between perception and participation of pesanggem in mangrove embankment management. This research has been conducted by using survey method and supported by qualitative method with in-depth interview and observation. Qualitative method aimed to gain in-depth understanding related to the data which has been obtained from quantitative method. The result shows that most of the pesanggem has positif perception about mangrove forest ecosystem and ecology function of mangrove forest. Most of the pesanggem has negative perception about social-economy function of mangrove forest. Most of the pesanggem has low level participation in planning phase and monitoring phase. Most of the pesanggem has high level participation in implementation phase and benefitted phase.
MOBILITAS SOSIAL NELAYAN PASCA SEDIMENTASI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) (Studi Kasus: Desa Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah) Agusning Kuwandari, Septi; Satria, Arif
SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol 6, No 3 (2012)
Publisher : SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.556 KB)

Abstract

The interaction between human and nature will cause many ecological impacts, such as declining environment quality. The relationship between inland and sea can not be separated each other. The inland damaged will affect coastal areas. Sedimentation in Watershed (DAS) make  ec ol ogi cal  changes , i t’ s accordingly. It can greatly affect the socio-economic conditions of coastal communities. This situation leads the communities to develop strategies adaptation which finally change stratification system and social mobility. Keywords: coastal, sedimentation, social mobility, strategies adaptation, Watershed (DAS)
Konflik Nelayan Di Jawa Timur : Studi Kasus Perubahan Struktur Agraria dan Diferensiasi Kesejahteraan Komunitas Pekebun di Lebak, Banten Annisa, Luluk; Satria, Arif; A Kinseng, Rilus
SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.556 KB)

Abstract

Pada dasarnya, prinsip pengelolaan sumberdaya perikanan di Indonesia telah diatur jelas pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 (dikenal dengan sistem pengelolaan bersifat state property), sehingga sumberdaya perikanan di Indonesia bersifat quasi open access, dimana sumberdaya tidak sepenuhnya dapat diakses karena adanya peraturan yang mengatur. Namun, seringkali aturan dibuat tidak dengan cara partisipatif dan merupakan hasil pertimbangan dari pemerintah pusat tanpa memperhatikan aspek sosial ekonomi masyarakat setempat. Akibatnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan justru menimbulkan masalah-masalah baru karena masing-masing pihak memiliki kepentingan, keinginan dan prioritas yang berbeda-beda. Perbedaan kepentingan, keinginan dan prioritas yang ada merupakan sumber pemicu munculnya konflik . Konflik merupakan fenomena yang telah ada sejak dahulu, bahkan sebelum era otonomi daerah, khususnya konflik kenelayanan. Keleluasaan mengeksploitasi sumberdaya perikanan merupakan konsekuensi ciri kepemilikan yang bersifat open acces, maka tidak jarang pemanfaatannya menimbulkan masalah akibat perbedaan kepentingan. Berdasarkan hal tersebut, maka dibutuhkan pengelolaan sumberdaya perikanan yang dapat meredam dan mencegah konflik sebagai upaya pengelolaan konflik. Salah satu daerah yang mengalami konflik, yaitu di Kecamatan Lekok, Pasuruan, provinsi Jawa Timur. Lekok merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Pasuruan dengan jumlah nelayan terbanyak di Pasuruan. Karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan topik pengelolaan konflik, khususnya di daerah Pasuruan
Hak Ulayat Laut di Era Otonomi Daerah sebagai Solusi Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Kasus Awig-awig di Lombok Barat Solihin, Akhmad; Satria, Arif
SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.556 KB)

Abstract

Kebijakan pembangunan perikanan Indonesia di masa lalu banyak mengalami kegagalan, hal ini dikarenakan doktrin common property, sentralistik dan anti pluralisme hukum. Akibatnya, kebijakan seperti ini telah menciptakan permasalahan yang kompleks di masyarakat pesisir, seperti kerusakan ekologi pesisir dan laut, kemiskinan nelayan, konflik dan lain sebagainya.  Sementara itu, kehadiran Undang-Undang (UU) No 22/1999 dan UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang membuka akses dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan lebih luas telah menciptakan pembangunan kelautan dan perikanan berkelanjutan. Rekonstruksi peran hak ulayat laut yang ada di masyarakat Lombok Barat bagian Utara, seperti upacara adat sawen merupakan cikal bakal dari ketetapan bersama secara tertulis dalam mengelola sumberdaya perikanan, yaitu Awig-awig. Terbentuknya aturan ini dipengaruhi oleh faktor utama, yaitu konflik. Adapun konflik tersebut disebabkan oleh kondisi ekologi, demografi, lingkungan politik legal, proses distribusi pasar, mata pencaharian dan perubahan teknologi. Sedangkan, proses pembentukannya adalah melalui tahapan informal hingga formal. Sementara dalam tahap revitalisasi awig-awig mempunyai beberapa aturan, yaitu : (1) wilayah tangkapan sejauh 3 mil dari daratan hanya diperuntukan nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional (alat tangkap skala kecil); (2) unit sosial pemegang hak bersifat individual (terbuka); (3) sumber legalitasnya adalah dari upacara adat sawen dan kesadaran masyarakat akan kerusakan sumberdaya perikanan oleh aktivitas pengeboman dan pemotasan; dan (4) pelaksanaan awig-awig ditegakkan secara tegas oleh Lembaga Musyawarah Nelayan Lombok Utara (LMNLU) yang mempunyai sanksi, pertama denda meteri maksimal Rp 10.000.000,00; kedua pembakaran alat tangkap dan ketiga pemukulan massa namun tidak sampai mati. Pemberlakuan awig-awig sangat efektif dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di Lombok Barat bagian Utara, hal ini tercermin dari kian menurunnya kegiatan nelayan yang destruktif, seperti penggunaan bom, dinamit, potasium dan alat-alat yang merusak lainnya.
PROSES DAN PENDEKATAN REGENERASI PETANI MELALUI MULTISTRATEGI DI INDONESIA / Process and Approach to Farmer Regeneration Through Multi-strategy in Indonesia Oeng Anwarudin; Sumardjo Sumardjo; Arif Satria; Anna Fatchiya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p73-85

Abstract

The low share of young farmers in Indonesia must be a serious concern of the government in the future agricultural development program. The results of the agricultural census in 2013 showed that the portion of young farmers (<35 years) was 12.87%, far lower than the middle age (35-54 years) 54.37%, and the elderly (> 54 years) 32.76%. This situation encourages the importance of finding solutions to realize farmers’ regeneration. This paper describes the regeneration of farmers (processes, approaches, and strategies) through increasing the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. Regeneration has the same terms as the succession and inheritance of agricultural business, which is the process of presenting new actors in agricultural business. Farmer regeneration can be in the family environment which means that the management of agricultural businesses is inherited from parents to their children, and non-family regeneration, namely inheritance of agricultural businesses, is shifted to newcomers who have no family relations. The regeneration process can be planned that is driven by outsiders and without a plan that is driven by the community itself. Approaches and strategies for farmers’ regeneration processes can be through strengthening the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. The role of the family can be increased through the cultivation of respect, socialization, and inheritance of agricultural businesses. The role of agricultural extension workers as facilitators, communicators, motivators, consultants, and institutional development of young farmers can be strengthened. The role of the community through outreach, information transfer, and consultation can be intensified. Modernization of agriculture can be through the application of agricultural mechanization technology and smart farming or digital farming. Farmer corporations can be developed to attract the interest of the younger generation because they open opportunities for the availability of economically viable land, based on the specialization of expertise, the use of agricultural machinery, and improving the bargaining position of farmers.Keywords: Farmers, regeneration, corporation, agriculture, modernization AbstrakPorsi petani muda yang rendah di Indonesia harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam program pembangunan pertanian ke depan. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan porsi petani muda (<35 tahun) 12,87%, jauh lebih rendah dibanding usia menengah (35-54 tahun) 54,37% dan usia lanjut (>54 tahun) 32,76%. Keadaan ini mendorong pentingnya mencari solusi mewujudkan regenersi petani. Tulisan ini memaparkan regenerasi petani (proses, pendekatan dan strategi) melalui peningkatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Regenerasi memiliki istilah yang sama dengan suksesi dan pewarisan usaha pertanian, yaitu proses menghadirkan pelaku baru dalam usaha pertanian. Regenerasi petani dapat di lingkungan keluarga yang berarti pengelolaan usaha pertanian diwariskan dari orang tua kepada anaknya, dan regenerasi nonkeluarga yaitu pewarisan usaha pertanian beralih kepada pendatang baru yang tidak memiliki hubungan keluarga. Proses regenerasi dapat terencana yang digerakkan pihak luar dan tanpa rencana yang digerakkan masyarakat sendiri. Pendekatan dan strategi proses regenerasi petani dapat melalui penguatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Peranan keluarga dapat ditingkatkan melalui penanaman sikap respek, sosialisasi, dan pewarisan usaha pertanian. Peranan penyuluh pertanian sebagai fasilitator, komunikator, motivator, konsultan, dan penumbuhkembangan kelembagaan petani muda dapat dikuatkan. Peranan komunitas melalui sosialisasi, transfer informasi, dan konsultasi dapat diintensifkan. Modernisasi pertanian dapat melalui penerapan teknologi mekanisasi pertanian dan smart farming atau digital farming. Korporasi petani dapat dikembangkan sebagai penarik minat generasi muda karena membuka peluang tersedianya lahan yang layak secara ekonomi, berbasis spesialisasi keahlian, penggunaan alat-mesin pertanian dan meningkatkan posisi tawar petani.Kata kunci: Petani, regenerasi, korporasi, pertanian, modernisasi 
Co-Authors Abdul Haris Abdul Haris Aceng Hidayat Adrianto, Zaldy Ady Candra Ahmad Mony Akhmad Solihin Akhmad Solihin Alfian Helmi Alfian Helmi, Alfian Aminah Swarnawati Amir Mahmud Amir Mahmud Amir Mahmud Amiruddin Saleh Andini Regi Khania Anna Fatchiya Anna Fatchiya Anna Fatchiya Ardito Atmaka Aji Ari Purbayanto Ari Wibowo Arya Hadi Dharmawan Aryanto Husain Basita Ginting Basita Ginting Sugihen Budhi Hascaryo Iskandar Budi Hariono Budy Wiryawan Cindy Pricilla Muharara Citra Fidyani Dedi Budiman Hakim Deni Achmad Soeboer Deni Achmad Soeboer Dietrich G. Bengen Djuara P Lubis Dodik Ridho Nurrochmat Dodik Ridho Nurrochmat Edi H.S Sulistyo Edi H.S Sulistyo, Edi H.S Ekawati S.Wahyuni Ekawati S.Wahyuni Ekawati Sri Wahyuni Elva Lestari Endriatmo Soetarto Enik Afri Yanti Eriyatno Eriyatno Eva Royandi Eva Royandi Fatriyandi Nur Priyatna Fevi Rahma Dwi Putri Fevrina Leny Tampubolon Fini Lovita Gendut Suprayitno Gendut Suprayitno Gendut Suprayitno Gun Gumelar Somantri Hariadi Kartodihardjo Harnoli Rahman Hartoyo Hartoyo Hendra Kurniawan Heru Purwandari Humayra Secelia Muswar Humayra Secelia Muswar, Humayra I Gusti Agung Komang Diafari Djuni Hartawan Idqan Fahmi Iin Sulis Setyowati Ika Citra Sari Imam Habibi Elhaq Imam Teguh Saptono Indria Retna Mutiar Iwan Setiawan Khoirunnisak . Kirbrandoko Kirbrandoko Lala M Kolopaking Liky Ledoh Lilik Noor Yuliati Lilly Aprilya Pregiwati Luki Setyawan Luki Setyawan, Luki Lukman M. Baga Lukmi Ati Luluk Annisa Mi Sun Park Mirajiani - Mirajiani, Mirajiani Mochammad Faizal Arief Wibowo Mohamad Adiguna Mony, Ahmad Mony, Ahmad Muh. Asri Muharara, Cindy Pricilla Mulyono S. Baskoro Musa Hubeis Nendah Kurniasari Ninuk Purnaningsih Nur Aini Nur Aini Oeng Anwarudin Oeng Anwarudin Oeng Anwarudin Prabowo Tjitropranoto Pranata, Rici Tri Harpin Raditya Machdi Rachman Rahmat Hidayat Raissa Rahmaditya Rabilla Ratna Patriana Ratna Patriana Rehastidya Rahayu Ria Renita Abbas Riana Riana rici pranata Rilus Kinseng Riska Dwi Firmiyanti Rizaldi Boer Ruddy Suwandi Saharuddin - Saharuddin - Saharuddin Saharuddin Saharuddin Saharuddin Saharuddin Saharuddin Said Rusli Sambas Basuni SANJIV MENON A/L JOTHINATHAN Satyawan Sunito Septi Agusning Kuwandari Siti Aisa Lamane Soeryo Adiwibowo Suhendra Suhendra Sumardjo Sumardjo Susri Adeni Tabah Arif Rahmani Tevi Karuniawati Thita Mazya Tina Rahmawati Titania Aulia Titik Sumarti Tjahjo Tri Hartono Tridoyo Kusumastanto Wibowo, Mochammad Faizal Arief Wisnu Putra Prihantoro Yeni Marlina Yolla Rahmi Yoppie Christian Yossika Tantri Wandan Sari Yossika Tantri Wandan Sari, Yossika Yulius Hero Zulkarnain Zulkarnain