Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Ekstrak Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) Terhadap Kadar Malondialdehid dan Aktivitas Katalase Tikus yang Terpapar Karbon Tetraklorida Zuraida Zuraida; Eti Yerizel; Eliza Anas
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i3.366

Abstract

Abstrak Pemberian rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) diharapkan melindung hepar tikus dari kerusakkan akibat stres oksidatif pada keracunan karbon tetraklorida (CCl 4). Senyawa yang sering dijadikan petunjuk adanya kerusakan tersebut adalah malondialdehid (MDA). Rosella mengandung vitamin C, flavonoid, polifenol dan beta karoten. Tujuanpenelitian ini adalah menentukan pengaruh pemberian ekstrak rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) terhadap MDA dan aktivitas katalase tikus yang terpapar CCl 4. Ini adalah penelitian eksperimental dengan desain Post test Only Control Group Design. Sampel 24 ekor tikus Strain Wistar berumur 2-3 bulan, berat 150-200 gr. Sampel diambil secara acakdan dibagi 4 kelompok terdiri dari kelompok kontrol negatif, kontrol positif (CCl 4), perlakuan 1 (CCl 4 dan ekstrak rosella 250 mg/kg bb) dan perlakuan 2 (CCl4  dan ekstrak rosella 500 mg/kg bb). Pemberian CCl 4secara oral dosis tunggal, setelah 24 jam kemudian diberi ekstrak rosella secara oral selama 14 hari. Data dianalisis dengan uji Anova, tingkatkepercayaan 95%.Pemberian ekstrak rosella secara statistik didapatkan perbedaan yang signifikan rerata kadar MDA dan katalase antar kelompok (p < 0,05). Disimpulkan bahwa ekstrak rosella dapat menurunkan kadar MDA dan meningkatkan aktivitas katalase tikus yang terpapar CCl 4. Kata kunci: karbon tetraklorida, MDA, katalase, rosella Abstract Administering roselle (Hibiscus sabdariffa Linn) is expected to protect rat liver from damage caused by oxidative stress in CCl4 poisoning. Rosella contains vitamin C, flavonoids, polyphenol and beta carotene. Compounds which was often used as marker of the damage caused by free radicals wa MDA. The objective of this study was to determine the effect of extracts of roselle (Hibiscus sabdariffa Linn) on MDA and catalase activity of rats exposed to CCl4. Experimental research design with Post test Only Control Group Design. Samples of 24 male Wistar Strain rats were 2-3 months old. weighing 150-200 gr. Samples were taken at random and divided into 4 groups consisting of a negative control group, positive control (CCl4), treatment 1 (CCl4 and roselle extract 250 mg / kg bw) and treatment 2 (CCl4 and roselle extract 500 mg / kg bw). CCl4 was given a single dose orally, after 24 hours, the subjects were given rosella extract orally for 14 days. Data were analyzed by ANOVA with a confidence level of 95%. Rosella extract obtained statistically significant differences of MDA and catalase levels among groups (p <0.05). It can be concluded that the rosella extract can reduce levels of MDA and increase the activity of catalase mice exposed to CCl4. From the research it can be concluded that the rosella extract can reduce levels of MDA and increas the activity of catalase mice exposed to CCl4. It is needed further research on the toxicity of extracts of rosella and organ damage caused.Keywords: carbon tetrachloride, MDA, catalase, rosella
PENGARUH EKSTRAK MENGKUDU TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID DARAH DAN AKTIVITAS KATALASE TIKUS DM YANG DIINDUKSI ALOKSAN Rauza Sukma Rita; Eti Yerizel; Nursal Asbiran; Husnil Kadri
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 1: April 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.126 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i1.p%p.2009

Abstract

AbstrakPenelitian yang menyimpulkan bahwa stres oksidatif meningkat pada penyakit diabetes mellitus telah cukup banyak. Stres oksidatif tersebut dapat diartikan sebagai suatu ketidakseimbangan antara prooksidan (radikal bebas) dengan antioksidan, karena antioksidan tidak mampu meredam peningkatan prooksidan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh asupan ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia linn) yang berfungsi sebagai antioksidan terhadap kadar malondialdehid (penanda prooksidan) dan enzim katalase (penanda antioksidan) pada tikus diabetes karena induksi aloksan.Penelitian eksperimental ini dilakukan pada 12 ekor tikus putih dengan berat badan 200-250 gram yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (hanya diberi makan dan minum), kelompok kontrol positif (makan dan minum,serta diinduksi aloksan), kelompok perlakuan (makan dan minum, diinduksi aloksan, dan diberi ekstrak mengkudu (500 mg/kg BB/hari) selama 12 hari. Data yang diperoleh dianalisa secara statistik dengan uji Anova dengan derajat kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antar kelompok (p<0,05), dimana rerata kadar MDA darah kelompok kontrol negatif (4,2610,427 nmol/ml), kelompok kontrol positif (5,6050,391 nmol/ml), kelompok perlakuan (4,2610,427 nmol/ml) dan rerata aktivitas katalase kelompok kontrol negatif (6,5800,277 unit/mg), kelompok kontrol positif (4,9540,485 unit/mg), kelompok perlakuan (6,3140,651 unit/mg).Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ekstrak mengkudu dapat menu-runkan kadar MDA darah dan meningkatkan aktivitas enzim katalase tikus DM yang diinduksi aloksan.Kata kunci: ekstrak mengkudu – kadar MDA – aktivitas katalase – aloksan – tikus diabetesAbstractThere were so many study concluded that oxidative stress increased in diabetes mellitus. Oxidative stress can be defined as an imbalance between prooxidants and antioxidants, because antioxidants could not quench overARTIKEL PENELITIAN55production of prooxidants. This study investigated the effect of mengkudu extract (Morinda citrifolia linn) as antioxidant on malondialdehyde (MDA) level (prooxidant marker) and catalase (antioxidant marker) in alloxan induced diabetic rats.This experimental study had been carried out to 12 rats with 200-250 gram weight which divided into three group of four rats each, i.e. negative control, positive control (alloxan induced), and the group was treated by alloxan induced which followed by mengkudu extract oral (500mg/weight/day) for 12 days. The result was analyzed by using one way Anova with confidence interval 95%.There were significantly different in groups (p<0,05). The MDA level in negative control group is 4,2610,427 nmol/ml, positive control group is 5,6050,391 nmol/ml, and the group was treated by alloxan induced which followed by mengkudu extract oral is 4,2610,427 nmol/ml. Catalase activity in negative control group is 6,5800,277 unit/mg, positive control group is 4,9540,485 unit/mg, and the last group is 6,3140,651 unit/mg.The conclusion is mengkudu extract has capability to quench MDA level and increasing catalase activity in alloxan induced diabetic rats.Keywords : mengkudu extract – MDA level – catalase activity – aloksan – diabetic rats
Hubungan Kadar FT4 dan TSH Serum dengan Profil Lipid Darah pada Pasien Hipertiroid yang Dirawat Inap di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2009 - 2013 Aga Pratama; Eti Yerizel; Rudy Afriant
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i1.19

Abstract

AbstrakHipertiroid merupakan sindroma klinis yang terjadi bila jaringan terpajan dengan jumlah hormon tiroid yang berlebihan karena hiperaktivitas kelenjar tiroid. Hal tersebut akan memberikan efek spesifik terhadap metabolisme sel, termasuk metabolisme lipid. Perubahan metabolisme lipid pada hipertiroid akan menimbulkan manifestasi klinis seperti gangguan mood, peningkatan perilaku depresi, dan peningkatan perilaku agresif. Dalam diagnosis pasien hipertiroid, pemeriksaan kadar FT4 dan TSH serum menjadi tes fungsi tiroid yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan antara kadar FT4 dan TSH serum dengan profil lipid darah pada pasien hipertiroid. Penelitian ini menggunakan data deskriptif di Instalasi Rekam Medis RSUP dr. M. Djamil Padang pada bulan Februari 2013 sampai Juli 2013. Data yang dikumpulkan berasal dari catatan rekam medik pasien hipertiroid yang dirawat inap berjumlah 21 orang dengan teknik total sampling. Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara kadar FT4 dan TSH serum dengan profil lipid darah. Dari sampel yang ada diperoleh data rerata profil lipid, yakni: 143,33 mg/dl (kolesterol darah total); 42,06 mg/dl (HDL); 85,45 mg/dl (LDL); dan 77,19 mg/dl (trigliserida). Berdasarkan uji korelasi regresi, terdapat korelasi negatif antara kadar FT4 dengan kadar kolesterol darah total, HDL, dan LDL, tetapi tidak terdapat korelasi antara kadar FT4 dengan trigliserida. Hubungan antara kadar TSH serum dengan kolesterol darah total dan LDL mempunyai korelasi positif, tetapi tidak terdapat korelasi antara kadar TSH serum dengan HDL dan trigliserida. Penelitian ini memperlihatkan bahwa sebagian besar profil lipid darah mempunyai korelasi dengan kadar FT4 dan TSH serum, kecuali trigliserida.Kata kunci: kadar FT4 dan TSH serum, profil lipid darah, hipertiroidAbstractHyperthyroidism is a clinical syndrome that occurs when tissues are exposed by excessive amount of thyroid hormones due to thyroid gland hiperactivity. It has spesific effects on cell metabolism, including lipid metabolism.L ipid metabolism disorder in hyperthyroid will inflict clinical manifestation; such as mood disorders, depression, and increased aggressive behavior. In diagnose patient with hyperthyrodism, FT4 and TSH serum level test are the appropriate thyroid function test. The objective of this study was to determine relationship between FT4 and TSH serum level with blood lipid profile in patient with hyperthyrodism. This studies got the descriptive data in Medical Records Departement of RSUP dr. M. Djamil Padang from February 2013 to July 2013. Data of 21 hyperthyrodism patient were got with total sampling technique. Bivariat analysis is used to examine the relationship between FT4 and TSH serum level with blood lipid profile. From the sampel was obtained data of profile lipid average, that is 143,33 mg/dl (total cholesterol); 42,06 mg/dl (HDL); 85,45 mg/dl (LDL); dan 77,19 mg/dl (triglycerides). Based on the regression test, there was negative correlation between FT4 level with total cholesterol, HDL, and LDL, but, there wasn’t correlation between FT4 level with triglycerides. The relationship between TSH serum level with total cholesterol and LDL had positive correlation. But, there isn’t evidence of correlation between TSH serum level with HDL and triglycerides. This study shows that the most of blood lipid profile has correlation with FT4 and TSH serum level, except triglycerides.Keywords: FT4 and TSH serum level, blood lipid profile, hyperthyrodism
Gambaran Profil Lipid pada Pasien Sindrom Koroner Akut di Rumah Sakit Khusus Jantung Sumatera Barat Tahun 2011-2012 Fitri Zahara; Masrul Syafri; Eti Yerizel
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.74

Abstract

AbstrakPenyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian nomor satu secara global. Salah satu penyakit kardiovaskuler itu adalah Sindrom Koroner Akut (SKA) yang merupakan keadaan gawat darurat dari Penyakit Jantung Koroner (PJK). Salah satu faktor risiko SKA adalah perubahan dari kadar fraksi lipid yaitu kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida yang dikaitkan dengan pembentukan plak aterosklerosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil lipid pada pasien SKA di rumah sakit khusus jantung Sumatera Barat tahun 2011-2012. Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan bentuk cross sectional study dan pendekatan retrospective menggunakan data rekam medik mengenai hasil pemeriksaan profil lipid (kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida) di rumah sakit khusus jantung Sumatera Barat untuk mengetahui gambaran profil lipid pada pasien SKA tahun 2011-2012. Hasil penelitian ini menemukan 98 kasus SKA. hasil ini menunjukkan bahwa pasien SKA dengan kadar kolesterol total tinggi adalah 44 orang (44,9%) dan normal sebanyak 54 orang (55,1%), pasien SKA dengan kadar kolesterol HDL rendah adalah 63 orang (64,3%) dan normal sebanyak 35 orang (35,6%), pasien SKA dengan kadar kolesterol LDL tinggi adalah 44 orang (44,9%) dan normal sebanyak 54 orang (55,1%), dan pasien SKA dengan kadar trigliserida tinggi adalah 21 orang (21,4%) dan normal sebanyak 77 orang (78,6%). Kejadian SKA terbanyak adalah STEMI sebanyak 51 kasus (52%), kemudian NSTEMI sebanyak 24 kasus (24,5%) dan yang paling sedikit adalah angina pektoris tak stabil sebanyak 23 kasus (23,5%) frekuensi umur terbanyak dari pasien SKA adalah 40-59 tahun, jenis kelamin terbanyak dari pasien SKA adalah laki-laki sekitar 74,5%. Penelitian menunjukkan jumlah bahwa pasien SKA yang memiliki kadar kolesterol total yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kadar kolesterol HDL yang rendah lebih banyak daripada yang normal, kadar kolesterol LDL yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kadar trigliserida yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kasus SKA terbanyaKata kunci: Sindrom Koroner Akut, kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, trigliseridaAbstractCardiovascular diseases are the number one cause of death globally. One of the cardiovascular disease is Acute Coronary Syndrome (ACS) which is a state of emergency from Coronary Heart Disease (CHD). One of the risk factors for ACS is a change in the levels of lipid fractions such as total cholesterol, LDL Cholesterol, HDL Cholesterol and triglycerides which are associated with the formation of atherosclerotic plaque. This study aims to determine description of lipid profile in patients with acute coronary syndrome at the heart hospital of west sumatera 2011-2012. Descriptive research has been conducted with a a cross-sectional study and a retrospective approach using medical record about the result of lipid profile test (total cholesterol, HDL, LDL, and triglycerides) at the heart hospital of West Sumatera to describe the lipid profile in patients with ACS in 2011-2012. The results of this study found 98 cases of ACS. It showed that ACS patients with high total cholesterol levels are 44 people (44,9%) and normal are 54 people (55,1%), acute coronary syndrome patients with low levels of HDL cholesterol are 63 people (64,3%) and normal are 35 people (35,6%), acute coronary syndrome patients with high levels of LDL cholesterol are 44 people (44,9%) and normal are 54 people (55,1%), acute coronary syndrome patients with high levels of triglyceride are 21 people (21,4%) and normal are 77 people (78,6%), the highest incidence of SKA is STEMI with 51 cases (52%), then NSTEMI with 24 cases (24,5%) and the lowest incidence is unstable angina pectoris with 23 cases (23,5%), most age of the patients of ACS are 40-59 years old, the most gender of ACS are male about 74,5%. Research shows that the number of ACS patients who have a high level of total cholesterol are less than normal, low levels of HDL cholesterol are more than normal, high level of LDL cholesterol are less than normal, high level of triglyceride are less than normal, most incidens of ACS is STEMI then NSTEMI and the lowest is unstable angina pectoris, most age of ACS patients are 40-59 years, and most of gender are men.Keywords:acute myocardial infarction, total cholesterol, LDL cholesterol, HDL cholesterol, triglyceride
Pengaruh Pemberian Aspartam terhadap Kadar Low-Density Lipoprotein dan High-Density Lipoprotein pada Tikus Wistar Diabetes Melitus Diinduksi Aloksan Revivo Rinda Pratama; Eti Yerizel; Rahmatini Rahmatini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.172

Abstract

AbstrakAspartam telah disetujui oleh FDA untuk dikonsumsi. Konsumsi pemanis buatan ini menggunakan dosis ADI (Acceptable Daily Intake) yaitu 50 mg/kgBB. Individu dengan diabetes melitus kemungkinan menjadi antusias terhadap adanya aspartam. Aspartam dapat mempengaruhi metabolisme profil lipid. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian aspartam terhadap kadar LDL dan HDL tikus diabetes melitus diinduksi aloksan. Ini merupakan penelitian eksperimental dengan randomized post test only control group design. Subjek penelitian adalah 15 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok terdiri dari lima (5) ekor tikus. Pemberian aspartam (dosis 315 mg/kgBB tikus) diberikan kepada kelompok perlakuan selama empat (4) minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian aspartam pada tikus diabetes melitus diinduksi aloksan berpengaruh terhadap penurunan kadar LDL dan peningkatan kadar HDL. Kadar LDL pada kelompok kontrol positif adalah 30 ± 2 mg/dl, pada kelompok perlakuan adalah 24 ± 2 mg/dl. Sedangkan kadar HDL pada kelompok kontrol positif adalah 19 ± 1 mg/dl, pada kelompok perlakuan adalah 22 ± 1 mg/dl. Terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar LDL dan HDL antara kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah pemberian aspartam pada tikus diabetes melitus diinduksi aloksan berpengaruh terhadap penurunan kadar LDL dan peningkatan kadar HDL.Kata kunci: aspartam, diabetes melitus, LDL, HDLAbstractAspartame has been approved by the FDA for consumption. Consumption of artificial sweeteners is using ADI (Acceptable Daily Intake) dose which is 50 mg/kg. Individuals with diabetes mellitus would likely be enthusiastic consumers of aspartame. Aspartame can influence the metabolism of lipid profile. The purpose of this study was to determine the effect of aspartame on levels of LDL and HDL at rats with diabetes mellitus induced by alloxan. The research is experimental research with randomized post test only control group design. The subjects were 15 male Wistar rats those were divided into three groups: a negative control group, a positive control group, and the treated group. Each group consists of five (5) male rats. Administration of aspartame (dose of 315 mg/kg rat) was administered to the treatment group for four (4) weeks. The results showed that administration of aspartame in rats with diabetes mellitus induced by alloxan was influenced the decreased in LDL levels and increased in HDL levels. The LDL levels in positive control group was 30 ± 2 mg/dl, in the treatment group was 24 ± 2 mg/dl. While the levels of HDL in positive control group was 19 ± 1 mg/dl, in the treatment group was 22 ± 1 mg/dl. There is a significant difference in the levels of LDL and HDL between the positive control group with the treatment group. The conclusion of this research are the administration of aspartame in rats with diabetes mellitus induced by alloxan influenced the decreased in LDL levels and increased in HDL levels.Keywords: aspartame, diabetes mellitus, LDL, HDL
ANALISIS KONSENTRASI LOW DENSITY LIPOPROTEIN TEROKSIDASI SERUM PADA TAHAPAN ATEROSKLEROSIS Yerizel, Eti; Yanwirasti, Yanwirasti; Oenzil, Fadil; Ismawati, Ismawati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 4 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.04.11

Abstract

Aterosklerosis merupakan proses yang terjadi secara bertahap meliputi tahap inisiasi, progresi dan komplikasi. Beberapa penelitian memperlihatkan kaitan antara stres oksidatif dengan aterosklerosis, tetapi belum ada penelitian yang menganalisis perbedaan stres oksidatif pada berbagai tahap aterosklerosis. Konsentrasi oxidized low density lipoprotein (oxLDL) menggambarkan stres oksidatif yang terjadi sehingga dikenal sebagai marker stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi oxLDL serum pada berbagai tahap aterosklerosis pada hewan coba. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran kadar oxLDL serum pada 24 ekor tikus yang terdiri dari kelompok normal, inisiasi, progresi dan komplikasi. Induksi aterosklerosis dilakukan dengan pemberian vitamin D3 (700.000 IU/kg) dan pakan tinggi lipid (kolesterol 2%, lemak kambing 5%, asam kolat 0,2%) masing-masing selama 2 hari, 4 hari dan 2 minggu. Konsentrasi oxLDL serum diukur dengan teknik Enzyme linked immunosorbent assays (ELISA). Data disajikan sebagai rata-rata±SD. Uji statistik yang digunakan adalah uji Anova. Konsentrasi oxLDL serum lebih tinggi pada inisiasi dibandingkan normal (2,17±0,26ng/mL versus 1,93±0,25ng/mL, p&gt;0,05) dan lebih tinggi lagi pada progresi dan komplikasi (2,75±0,25ng/mL dan 3,3±0,61ng/mL, p&lt;0,05) masing-masing terhadap normal dan inisiasi). Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi oxLDL pada berbagai tahap aterosklerosis dan konsentrasi paling tinggi pada tahap komplikasi. Hal ini membuka kemungkinan untuk mengembangkan oxLDL sebagai marker tahapan aterosklerosis.
Pengaruh Pemberian Aspartam terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Diabetes Melitus Diinduksi Aloksan Ega Purnamasari; Eti Yerizel; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.134

Abstract

AbstrakAspartam merupakan gula pengganti rendah kalori yang sering dikonsumsi oleh pengidap diabetes, tetapi keamanannya masih kontroversi. Intensitas rasa manis aspartam yang tinggi diduga dapat menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian lain menyebutkan hasil metabolisme aspartam berupa asam aspartat dan fenilalanin dapat menjadi prekursor glukosa melalui glukoneogenesis. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh pemberian aspartam terhadap kadar glukosa darah tikus diabetes melitus diinduksi aloksan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan post-test only control group design. Sampel penelitian ini terdiri dari 20 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi kelompok kontrol negatif (KN), kontrol positif (KP), perlakuan 1 (P1), perlakuan 2 (P2). Aloksan 150 mg/kgBB diinduksikan pada kelompok KP dan P2, aspartam 315 mg/kgBB diberikan pada kelompok P1 dan P2 selama 4 minggu. Kadar glukosa darah puasa diukur setelah 4 minggu menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian ini didapatkan rerata kadar glukosa darah puasa kelompok KN (88,39 mg/dL), KP (134,11 mg/dL), P1 (93,95 mg/dL), dan P2 (66,66 mg/dL). Analisis data dengan Uji ANOVA nilai p= 0,000 (p<0,05), terdapat perbedaan kadar glukosa darah puasa yang bermakna pada semua kelompok. Keimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian aspartam terhadap penurunan kadar glukosa darah puasa tikus diabetes melitus diinduksi aloksan.Kata kunci: aspartam, kadar glukosa darah, diabetes melitus, aloksanAbstractAspartame is a low-calorie sugar substitute that is often consumed by people with diabetes, but the safety of aspartame is still controversial. The high intensity of aspartame sweetness could be expected to lower blood glucose levels. Other study said the results of the metabolism of aspartame such aspartic acids and phenylalanine which can be a precursor of glucose through gluconeogenesis. The purpose of this study was to determine the effect of aspartame on blood glucose levels of alloxan induced diabetic rats. This study is an experimental study with a post-test only control group design. Twenty male Wistar rats were divided into 4 groups: negative control (KN), positive control (KP), treatment 1 (P1), treatment 2 (P2). Alloxan 150 mg/kg body weight induced in KP and P2 groups, aspartame 315 mg/kg body weight administered on P1 and P2 groups for 4 weeks. Fasting blood glucose levels were measured after 4 weeks using a spectrophotometer. The results of this study, the mean fasting blood glucose levels KN group (88.39 mg/dL), KP (134.11 mg/dL), P1 (93.95 mg/dL), and P2 (66.66 mg/dL). Data were analyzed using ANOVA test, p-value=0.000 ( p<0.05 ), there are differences in fasting blood glucose levels were significant in all groups. The conclusions of this study is the provision of aspartame in alloxan induced diabetic rats can cause a decrease in blood glucose levels significantly.Keywords: aspartame, blood glucose levels, diabetes mellitus, alloxan
Efek Pemberian Vitamin C Terhadap Aktifitas Katalase Hati Tikus Galur Wistar yang Terpapar Ion Pb Elmatris Sy; Husnil Kadri; Eti Yerizel
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.235

Abstract

AbstrakAkumulasi logam berat dapat meningkatkan senyawa oksigen reaktif dan menekan kadar antioksidan esensial dalam tubuh. Vitamin C merupakan antioksidan non enzimatis, senyawa alami yang bersifat antioksidan kuat dan pengikat radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efek Pemberian Vitamin C Terhadap Aktifitas Katalase Hati Tikus Galur Wistar Yang Terpapar Ion Pb, dilakukan di laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi dan Biokimia Fakultas Kedokteran Unand Penelitian dilakukan terhadap tikus galur wistar, berumur tiga bulan, berat badan + 200 gram, yang berjumlah 28 ekor. Didapatkan bahwa pemaparan ion Pb 0,05 mg/g BB/hari selama empat minggu dapat menurunkan aktifitas katalase hati tikus galur wistar. Penambahan vitamin C 0,05mg/g BB/hari dan 0,075 mg/g BB/hari pada tikus yang terpapar ion Pb menunjukan peningkatan aktifitas katalase hati tikus galur wistar. Berdasarkan uji T berpasangan terdapat perbedaan yang signifikan antara aktifitas katalase hati tikus galur wistar yang tidak terpapar ion Pb dengan terpapar ion Pb (p = 0,005 atau p < 0,05). Pemberian vitamin C pada tikus galur wistar yang terpapar ion Pb secara statistik dengan uji one way Anova tidak terdapat pengaruh yang signifikansi (p = 0,143 atau p > 0,05). Namun pada post hocx test terdapat pengaruh pemberian vitamin C 0,075 mg/g BB/hari pada tikus yang terpapar ion Pb, dengan p = 0,053 atau p = 0,05.Kata kunci: Aktifitas Katalase, Vitamin C, Ion PbAbstractThe presence of heavy metals such as Pb can produce a free radical, it will also be able to decrease the availability of the body's antioxidants. Vitamin C is a non-enzymatic antioxidants, natural compounds that are strong antioxidants and free radical binding. This study to determine the Effect of Vitamin C to catalase activity of rat-wistar strain-liver. The purpose of which Exposed Pb ions, carried out in the laboratory of Pharmacology of the Faculty of Pharmacy and Biochemistry Faculty of Medicine Unand. Research conducted on wistar strain rats, three months old, weight + 200 grams, which totaling 28 tails. The result was exposure of Pb ions 0.05 mg / g BW / day for four weeks decreases catalase activity rat’s-wistar-strain liver. The addition of vitamin C 0,05mg / g BW / day and 0.075 mg / g bw / day in exposed rats to Pb ions showed increased levels of catalase activity rat’s-wistar-strain liver. The result of the paired t test there was difference significantly between liver catalase activity rat’s-wistar-strain liver were not exposed to Pb ions (p = 0.005 or p < 0.05). Administration of vitamin C were exposed to Pb ion statistically by one-way ANOVA test there was no significant effect ( p = 0.143 or p > 0.05 ) . But in the post hocx test the effect of vitamin C contained 0.075 mg / g bw / day in rats exposed to Pb ions, with p = 0.053 or p = 0.05Keywords: Catalase Activity, Vitamin C, Pb ions.
Hubungan IMT (Indeks Massa Tubuh) dengan Ketahanan (Endurance) Kardiorespirasi pada Mahasiswa Pendidikan Dokter Unand 2009-2012 Reny Jayusfani; Afriwardi Afriwardi; Eti Yerizel
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.263

Abstract

AbstrakSaat ini terjadi peningkatan kelebihan berat badan terutama pada generasi muda disebabkan oleh diet yang tidak tepat dan gaya hidup yang tidak aktif. Peningkatan berat badan ini akan berakibat pada penurunan daya tahan kardiorespirasi hingga berdampak pada kapasitas kerja fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan ketahanan kardiorespirasi pada mahasiswa FK Unand. Penelitian dilakukan pada mahasiswa FK Unand Padang dari Desember 2012 sampai Februari 2013. Studi observasional analitik ini menggunakan desain cross sectional study dengan jumlah subjek 30 orang. Ketahanan kardiorespirasi didapat dengan menghitung nilai VO2maks menggunakan tes ergometer sepeda metode Astrand 6 minute cycle test. Dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan. Analisis statistik yang digunakan adalah uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menemukan bahwa rerata IMT 23,2 ± 5,1 dan rerata volume oksigen maksimal 39,5 ± 12,1. Uji regresi linear menunjukkan terdapat hubungan antara IMT dengan ketahanan kardiorespirasi dengan tingkat hubungan sedang (r=0,567, p<0,05) dengan pengaruh sebesar 32,1% (R2=0,321) dan persamaan regresi yang didapat adalah Y=70,827 – 1,349X. Kesimpulan hasil studi ini adalah semakin tinggi indeks massa tubuh semakin rendah ketahanan kardiorespirasi.Kata kunci: volume oksigen maksimal, indeks massa tubuh, ketahanan kardiorespirasi AbstractNowadays, there are many cases about increasing the weight of body, especially at younger generation. It is caused by anappropriate diet and inactive lifestyle. Increasing of weight will cause declining of cardiorespiratory endurance. So that, it will impact on physical work capacity. The objective of this study was to determine the relationship between cardiorespiratory with Body Mass Index (BMI) in medical student of Andalas University.The research was done on medical student of Andalas University Padang in December 2012 until February 2012. This research used observational study with cross sectional design study. The subject of this research were 30 people. Cardiorespiratory endurance was obtained by calculate the value of VO2max. This measurement used ergometer bicycle with the method was using Astrand 6 minute cycle test. This test measured the weight and height body. Statistical analysis was simple linear regression. The result found that the average of BMI is 23.2 ± 5.1 and an average maximum oxygen volume is 39.5 ± 12.1. Linear regression found that there is a moderate significant effect between BMI and cardiorespiratory endurance (r=0.567, p <0.05) with the effect about 32.1% (R2 = 0.321) and the regression equation was Y = 70.827 to 1.349 X.In conclusion, the subjects have average cardiorespiratory endurance level and normal body mass index. If the body of mass index is higher, the cardiorespiratory endurance
1,25 dihydroxyvitamin D dan kalsium pada akseptor depot medroxyprogesteron asetat (DMPA) berdasarkan lama pemakaian Simanjuntak, Netti Meilani; Yerizel, Eti; Yusrawati, Yusrawati
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 15, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.34845

Abstract

Background: Long – term usage of depot medroxyprogesterone acetate (DMPA) may suppress estrogen levels causing the body to undergo hypoestrogenic. The hormone estrogen affects the metabolism of calcium and 1,25 dihydroxy vitamin D in the body. Calcium and 1,25 dihydroxy vitamin D are bone-forming vitamin and minerals.Objective: This study aimed to analyze the relationship between 1,25 dihydroxy vitamin D and calcium on the accelerate of DMPA based on long usage.Method: This is an observational study with cross-sectional design. A total of 70 acceporates sample was chosen by consecutive sampling and divided into 2 groups. 35 acceporates received DMPA for 1-2 years (group 1) and 35 acceporates received DMPA for 2-4 years (group 2). Serum 1,25 dihydroxy vitamin D levels examined by enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA) method and serum calcium was quantified using the Calcium Arsenazo method. The research was conducted in Puskesmas Andalas and Lubuk Buaya Kota Padang between July 2017 and September 2017. The data normality was checked using Kolmogorov Smirnov and then the data were analyzed using the Spearman test.Results: The average of 1,25 dihydroxy vitamin D in group 1 is 351.16 pg/ml and in group 2 is 289.84 pg/ml. The median concentration of calcium on samples in group 1 is 9.30 mg/dl and in Group 2 is 9.13 mg/dl.Conclusion: There were negative significant correlations between 1,25 dihydroxy vitamin D and calcium in group 1 and group 2.