Salmiah Agus
Unknown Affiliation

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Penurunan Aktivitas Proliferasi Sel Adenokarsinoma Mamma Mencit C3H akibat Pemberian Ekstrak Etanol Lengkuas (Alpinia galanga) Susanto Winarko; Yanwirasti .; Aswiyanti Asri; Salmiah Agus
Majalah Patologi Indonesia Vol 23 No 2 (2014): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.318 KB)

Abstract

Background WHO data in 2011 showed that deaths from breast cancer in Indonesia reached 20,052 peoples of all deaths. This is partly due to the high cost of treatment, so that many people are turning to alternative therapies such as traditional plants. Lengkuas (Alpinia galanga (L) Wild is the traditional material that is cheap and easily available in Indonesia. Lengkuas-containing active substances I-acetoxychavicol acetate (ACA), and according to past research has anti-cancer properties by inhibiting the activity through the inhibition of cell proliferation pathways nuclear factor kappa B (NFƙB). To investigate the effect of ethanol extract of lengkuas against mammary adenocarcinoma cell prolifferation activities in C3H mice with various dose levels. Methods This study was an experimental study using C3H mice with post-test only research design controlled group design. Experimental animals consisted of 32 C3H mice were inoculated with tumor cells and then divided into 4 groups: control group (K) and three treatment groups (P1, P2 and P3) were given graded doses of ethanol extract of lengkuas 225 mg/kgBW/day, 450 mg/kgBW/day and 675 mg/kgBW/ day for 2 weeks. After all mice were terminated, examined the proliferative activity of tumor cells with Ki-67 antibody. Differences in proliferative activity between the groups were tested using one-way anova followed by post hoc Bonferroni test. Results There were significant differences in proliferative activities (p=0.000) among the four groups. By the post hoc Bonferroni analysis was found the significant differences in proliferative activities between the control group P1, with P2 controls, P3 control group, between P1 with P3 group, P2 with P3 group (p=
Hubungan Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dengan Derajat Diferensiasi dan Invasi Limfovaskular pada Karsinoma Urotelial Infiltratif Kandung Kemih Dini Andri Utami; Salmiah Agus; Yenita; Husna Yetti
Majalah Patologi Indonesia Vol 31 No 2 (2022): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.86 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v31i2.499

Abstract

Background Urothelial carcinoma is the most common malignancy in the bladder with an incidence up to 95% and 70-85% of them are bladder infiltrating urothelial carcinoma. To improve the management of bladder urothelial carcinoma, prognostic factors are required. One such factor is angiogenesis, which affects growth, development and metastasis. Vascular endothelial growth factor (VEGF) is the main pro-angiogenic factor to control angiogenesis. Expression of VEGF is correlated with progression of bladder infiltrating urothelial carcinoma, such as grade and lymphovascular invasion. The aim of this study was to determine the correlation of VEGF expression with grade of differentiation and lymphovascular invasion in bladder infiltrating urothelial carcinoma. Methods This research was a retrospective observational cross sectional study with 48 cases of bladder infiltrating urothelial carcinoma in four Anatomical Pathology Laboratory in West Sumatera 2018 and 2019. Samples were reevaluated of HE slide for grade of differentiation and lymphovascular invasion. VEGF expressions in tumor cell s were analyzed using immunohistochemistry staining. Bivariate statistical analysis used Fisher's Exact test and value p<0.05 was considered significant. Results Bladder infiltrating urothelial carcinoma high grade had more positive VEGF expression (91.7%), while low grade had more negative VEGF expression (58.3%). Lymphovascular invasion positive was mostly found with positive VEGF expression (75%). Statistical analysis showed significant correlation between VEGF expression with grade of differentiation (p=0.001) and lymphovascular invasion (p=0.004). Conclusion The conclusion was VEGF expression had significant correlation with grade of differentiation and lymphovascular invasion of bladder infiltrating urothelial carcinoma.
Hubungan Overekspresi HER-2/neu dengan Derajat Histopato-logik dan Kedalaman Invasi Adenokarsinoma Kolorektal Nurwiyeni Nurwiyeni; Salmiah Agus
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 3 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1238.965 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma kolorektal adalah tumor ganas epitel kolon dan rektum, yang merupakan penyebab kematian ke-empat kanker di seluruh dunia, baik pada wanita maupun pria. Angka ketahanan hidup penderita karsinoma kolorektal rendah namun insiden meningkat dengan cepat dalam beberapa dekade terakhir. HER-2/neu adalah antigen target terapi onkologi. Penelitian ekspresi HER-2/neu pada kedalaman invasi dan derajat histopatologik adenokarsinoma kolorektal menunjukkan hasil yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis overekspresi HER-2/neu pada kedalaman invasi dan derajat histopatologik adenokarsinoma kolorektal.MetodeSampel penelitian sebanyak 46 kasus adenokarsinoma kolorektal yang diperoleh dari hasil pengangkatan jaringan, dan telah didiagnosis di Laboratorium Patologi Anatomik wilayah kota Padang. Pulasan imunohistokimia HER-2/neu dilakukan untuk memeriksa derajat histopatologik dan kedalaman invasi. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan derajat histopatologik menggunakan modifikasi klasifikasi WHO/AJCC dan kedalaman invasi berdasarkan klasifikasi TNM. Overekspresi HER-2/neu dinilai secara imunohistokimia pada membran dan sitoplasma.HasilPemeriksaan ekspresi HER-2/neu pada kedalaman invasi menunjukkan hasil positif pada 22 kasus (47,8%), yaitu 6 kasus (27,3%) derajat 1, 9 kasus (40,9%) derajat 2, 7 kasus (31,8%) derajat 3. Pemeriksaan ekspresi HER-2/neu pada derajat histopatologik menunjukkan hasil positif pada 22 kasus (47,8%), yaitu 5 kasus (22,7%) pada membran dan 17 kasus (77,3%) pada sitoplasma. Uji chi-square antara kedalaman invasi dan derajat histopatologik adenoma kolorektal menunjukkan hubungan tidak bermakna (p>0,05).KesimpulanEkspresi HER-2/neu dapat digunakan untuk membedakan kedalaman invasi dan derajat histopatologik pada adenokarsinoma kolorektal.
Hubungan Ekspresi Ki-67 dan Tipe Stroma Peritumoral dengan Varian Histopatologik Karsinoma Sel Basal Silvi Yelitha; Salmiah Agus; Satya Wydya Yenny
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 1 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.723 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel basal (KSB) merupakan keganasan kulit tersering pada manusia. Walaupun jarang bermetastasis KSB terutama varian agresif bersifat destruksi lokal dan dapat terjadi kekambuhan. Mekanisme terjadinya varian KSB agresif dan non-agresif masih belum dimengerti, diduga tingginya tingkat proliferasi sel yang berperan dalam patogenesis tumor ini. Tingkat proliferasi sel dapat dinilai dengan ekspresi Ki-67. Sel tumor yang menginfiltrasi stroma akan menimbulkan reaksi sel stroma peritumoral. Belum diketahui secara pasti tipe stroma peritumoral yang berperan pada varian KSB.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat hubungan ekspresi Ki67 dan tipe stroma peritumoral dengan varian histopatologik KSB.MetodeSampel yang digunakan sebanyak 40 terdiri atas 20 sampel KSB agresif dan 20 sampel KSB non agresif. Sampel diwarnai dengan pewarnaan imunohistokima (IHK) Ki-67 dan histokimia (van Gieson dan Alcian Blue).HasilKSB agresif lebih banyak mengekspresikan Ki-67 tinggi (78,3%) dan memiliki stroma tipe desmoplasia (66,7%), sedangkan KSB non-agresif lebih banyak mengekspresikan Ki-67 rendah (88,2%) dan memiliki stroma tipe miksoid (70%).KesimpulanSecara klinikopatologik ekspresi Ki-67 dan tipe stroma peritumoral berperan untuk membedakan KSB varian agresif dengan non-agresif.
Hubungan Ekspresi Matriks Metaloproteinase-9 dengan Jenis Histopatologi Karsinoma Serviks dan Invasi Limfovaskular Meta Oktora; Salmiah Agus; Pelsi Sulaini
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 3 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.062 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangMetriks metaloproteinase 9 (MMP-9) merupakan enzim proteolitik yang diduga berperan penting dalamprogresivitas suatu keganasan khususnya pada serviks. Adanya invasi limfovaskular (LVI) dan ekspresi MMP-9yang tinggi akan menyebabkan proses degradasi jaringan serviks menjadi lebih cepat dan mempermudahproses metastasis. Jenis adenokarsinoma diduga memiliki prognostik yang buruk dibanding karsinoma selskuamosa (KSS). Penelitian ini bertujuan untuk melihat persentase ekspresi MMP-9 dan hubungannya denganjenis histopatologik karsinoma serviks dan invasi tumor limfovaskular.MetodePenelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang. Sampel pada penelitian ini sebanyak 36 kasus yangterdiri atas 18 sampel KSS dan 18 sampel adenokarsinoma. Sampel diperoleh dari blok parafin yang berasaldari tindakan operasi atau biopsi di laboratorium Patologi Anatomik yang berada di Sumatera Barat. Sediaan direview dan dinilai invasi tumor limfovaskular. Pewarnaan imunohistokimia dilakukan dengan antibodi primerMMP-9, kemudian ekspresinya dinilai pada stroma dan sitoplasma sel.HasilEkspresi MMP-9 ditemukan positif sebanyak 80,6% pada semua sampel, di mana 41,1% pada KSS dan 58,6%pada adenokarsinoma serviks. Rerata ekspresi MMP-9 pada KSS 17,4 dan pada adenokarsinoma 19,56.Ekspresi MMP-9 positif pada semua sampel dengan LVI.KesimpulanTidak terdapat hubungan ekspresi MMP-9 dengan jenis histopatologi karsinoma serviks (p=0,088) dan LVI(p=0,566). Rata-rata ekspresi MMP-9 tinggi pada jenis adenokarsinoma, tetapi secara statistik tidak terdapatperbedaan yang bermakna (p=0,563).
Pengaruh Cairan Cultur Filtrate Fibroblast (CFF) Terhadap Penyembuhan Luka; Penelitian eksperimental pada Rattus Norvegicus Galur Wistar Oky Masir; Menkher Manjas; Andani Eka Putra; Salmiah Agus
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i3.78

Abstract

AbstrakLatar belakang:Metode penyembuhan luka telah mengalami perkembangan, baik berupa suatu produk atau stimulan terhadap proses biologis tubuh dalam menkompensasi luka. Fibroblas merupakan salah satu komponen penyembuhan yang berperan penting dalam proses fibroplasia. Culture Filtrate Fibroblast (CFF) merupakan hasil kultur fibroblas yang akan dibuktikan efeknya terhadap proses percepatan penyembuhan luka pada penelitian ini. Metode. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan metode post test only control group design dan rancangan acak kelompok (RAK) dengan menggunakan tikus putih wistar. Hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 2 kelompok perlakuan yang diberikan CFF ke area eksisi luka dan kelompok kontrol yang diberikan larutan NaCl 0,9% ke area eksisi luka. Data diolah dengan SPSS 16.0. Data Kategori dianalisa dengan Chi-squared dan data numerik dengan Independent T-test. Hasil. Dari tingkat penyembuhan tidak ditemukan perbedaan pada kedua kelompok, namun perubahan restriksi jaringan lebih besar pada kelompok perlakuan. Pada skor pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru pada hari ke-3 tidak ditemukan perbedaan antara kedua kelompok. Namun pada pengamatan hari ke-7 memperlihatkan pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru lebih banyak pada kelompok perlakuan. Pada fibrosis hari ke-3 dan hari ke-7 memperlihatkan terjadinya fibrosis lebih banyak pada kelompok perlakuan dibanding kontrol. Pada pengamatan terjadinya infeksi hari ke-3 memperlihatkan infeksi lebih sedikit pada kelompok perlakuan dan terjadinya infeksi sama pada hari ke-7. Kesimpulan. CFF memberikan tingkat penyembuhan luka yang lebih baik dibanding NaCl.Kata kunci: CFF, NaCl 0,9 %, tingkat penyembuhan luka.Abstract Background: Wound healing methods have been developed, either a product or a stimulant to the body's biological processes in wound compensation. Fibroblasts is one component that plays an important role in the healing process of fibroplasia. Culture filtrat Fibroblast (CFF) is a result of fibroblast culture to be proven effect on the acceleration of wound healing in this study.Methods. This study used an experimental design method post test only control group design and randomized block design (RBD) by using wistar mice. Experimental animals were divided into 4 groups, the two groups of treatment given to the area of excision wound CFF and the control group were given 0.9% NaCl solution to the excision wound area. Data processed with SPSS 16.0. Data were analyzed with categories Chi squared and numerical data by the Independent T-test.Result. From degree of wound healing is not found differences in both groups, but the changes in the network restriction greater in the treatment group. The score formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation at 3rd day there was no difference between the two groups. However, the observation of 7th day shows the formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation more in the treatment group. On the 3rd day fibrosis and 7th day showed more fibrosis in the treatment group compared to controls. In observation of the 3rd day infection showed fewer infections in the treatment group and the same infection between the two group at 7th day.Conclusion. CFF give wound healing better than NaCl.Keywords:CFF, NaCl 0,9 %, degree of wound healing.
Hubungan Ekspresi Matriks Metaloproteinase-9 dan Tingkat Kedalaman Invasi Adenokarsinoma Kolorektal Invasif Ade Fakhri; Salmiah Agus
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 3 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.159 KB)

Abstract

Latar belakangMatriks metaloproteinase-9 (MMP-9) merupakan salah satu anggota enzim metaloproteinase yang sering ditemukan pada adenokarsinoma kolorektal. MMP-9 mampu menghancurkan protein membrana basalis dan matriks ekstraseluler yang berperan pada invasi sel tumor. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan ekspresi MMP-9 dan tingkat kedalaman invasi adenokarsinoma kolorektal invasif.MetodePenelitian menggunakan 35 sampel blok parafin kasus adenokarsinoma yang telah didiagnosis pada Laboratorium Patologi Anatomik di Sumatera Barat sejak Januari 2012-Desember 2014. Ekspresi MMP-9 dinilai menggunakan pewarnaan imunohistokimia pada sitoplasma sel tumor. Ekspresi dinyatakan negatif bila <10% sel terwarnai, dan positif bila ≥10% sel terwarnai. Analisis statistik antara ekspresi MMP-9 dan kedalaman invasi dilakukan menggunakan uji chi-square.HasilEkspresi MMP-9 positif pada 28 kasus (80%) dan negatif pada 7 kasus (20%). Kelompok 1 (T1+T2) menunjukkan ekspresi positif pada 10 kasus (35,7%) dan Kelompok 2 (T3+T4) menunjukkan ekspresi positif pada 18 kasus (64,3%). Analisa statistik antara ekspresi MMP-9 dan tingkat kedalaman invasi adenokarsinoma kolorektal invasif menunjukkan hubungan tidak bermakna (p>0,05).KesimpulanEkspresi MMP-9 dapat digunakan untuk menentukan tingkat kedalaman invasi adenokarsinoma kolorektal invasif.
Hubungan Ekspresi Reseptor Progesteron dan Ki-67 Labeling Index dengan Derajat Histopatologik Meningioma Dwi Sri Rejeki; Salmiah Agus; Yuliarni Syafrita
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 3 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.555 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangMeningioma adalah tumor yang berasal dari sel meningotel (arachnoid) yang menempel pada duramater.Tumor ini merupakan tumor terbanyak kedua pada susunan saraf pusat, terbanyak pada perempuan. Semuaderajat meningioma berisiko untuk terjadi rekurensi, sayangnya perilaku biologik dari meningioma tidak dapatdilihat hanya dari gambaran histopatologik saja. Pada banyak penelitian jenis tumor lain menunjukkan bahwareseptor progesteron mempengaruhi derajat histologik. Dikatakan Ki-67 LI berperan penting dalam menentukanrisiko rekurensi pada derajat histologik meningioma. Dengan demikian maka pada meningioma diperlukanpemeriksaan reseptor progesteron dan Ki-67 LI untuk melihat perangai dari sel tumor yang dapat menentukanterapi dan prognosis.MetodePenelitian menggunakan metode cross-sectional study. Sampel penelitian ini penderita meningioma di 5Laboratorium Patologi Anatomik Sumatra Barat. Didapatkan sebanyak 64 kasus meningioma didapatkanselama Januari 2012 sampai Desember 2015, dan 35 sampel diambil yang memenuhi kriteria inklusi. Dilakukanpemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi yang spesifik dengan reseptor progesteron dan Ki-67.Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis Test dan dianggap bermakna bila p<0,05.HasilSebanyak 35 sampel, 29 sampel (82,9%) dikelompokkan pada meningioma derajat I, 4 sampel (11,4%)dikelompokkan pada meningioma derajat II dan 2 sampel (5,7%) dikelompokkan pada meningioma derajat III.Meningioma paling banyak ditemukan pada kelompok usia 41-50 tahun, jenis kelamin perempuan dan derajathistopatologik derajat I.KesimpulanTidak terdapat perbedaan ekspresi reseptor progesteron pada derajat histopatologik meningioma. Tidakterdapat perbedaan ekspresi Ki-67 LI pada derajat histopatologik meningioma. Terdapat hubungan terbalikantara ekspresi reseptor progesteron dan Ki-67 LI pada derajat histopatologik meningioma.
Ekspresi Cathepsin-D Lebih Tinggi pada Adenokarsinoma Folikuler Tiroid Dibandingkan Adenoma Folikuler Tiroid Agusry Yakob; Salmiah Agus
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 3 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.065 KB)

Abstract

Type of thyroid follicular neoplasms are benign thyroid disorders such as follicular adenomas (AK) and malignant form of follicular adenocarcinoma (AKF). Both of these morphological types of neoplasms are difficult to distinguish, because it has a similiar picture. The criteria used to distinguish these two lesions in the infiltration of tumor cells into the capsule in follicular adenocarcinoma. Cathepsin-D is one of the useful biological marker lysis of extracellular matrix including tissue capsule at the time of invasion. Histological markers can be used as an indicator for the assessment of tumor cell invasion into capsule. This study aims to determine whether there are differences and relationships cathepsin-D expression in thyroid follicular neoplasms to help properly diagnosis. Methods The design of analytic observational study with cross sectional approach. The study population was derived from paraffin blocks that have been diagnosed as follicular carcinoma and adenoma in the Anatomical Pathology Laboratory of the Faculty of Medicine, University of Andalas in 2010 to 2012. Obtained sample size formula based on 32 samples. The sampling method proportional stratified random sampling with thyroid follicular adenoma 13 cases and 19 cases of thyroid follicular adenocarcinoma. In the samples examined using immunohisto-chemistry mouse monoclonal antibody cathepsin-D. The data obtained were analyzed with the chi-square test. Results In epidemiology of thyroid disorders such as thyroid neoplasms benign or malignant more common in women than in men, while age is incidence of reproductive age, 33-55 years. Of the 32 samples, thyroid follicular adenoma (n=13) and follicular thyroid adenocarcinoma (n=19) showed expression of cathepsin-D were higher in follicular thyroid adenocarcinoma (84.2%) compared with follicular adenoma (15.8%). Statistically using Chi square test found a significant relationship between the expression of cathepsin-D with the type of follicular thyroid neoplasma with a value of p
Hubungan Ekspresi Ki-67 dan E-Cadherin dengan Kedalaman Invasi Melanoma Malignum Berdasarkan Clark Level Santy Saberko; Salmiah Agus; Satya Wydya Yenny
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 3 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.33 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangMelanoma malignum (MM) adalah keganasan yang berasal dari sistem melanosit kulit. Tumor inimerupakan tumor paling agresif dari semua keganasan kulit. Tumor dengan ukuran kecil dapat mengalamiinvasi dan metastasis dengan prognosis buruk. Kedalaman invasi MM berdasarkan Clark level merupakansalah satu faktor prognosis penting untuk menentukan ketahanan hidup pasien. Penentuan invasiberdasarkan Clark level ini bersifat subjektif maka diperlukan pemeriksaan yang lebih objektif sepertipemeriksaan imuhistokimia Ki-67 dan E-cadherin. Pemeriksaan ini diharapkan mampu melihat risikometastasis pada MM. Proliferasi sel merupakan kunci utama progresi tumor dan dapat diukur denganpemeriksaan ekspresi Ki-67. E-Cadherin merupakan salah satu protein transmembran yang memiliki peranpenting dalam proses metastasis tumor. Tujuan penelitian ini untuk menilai ekspresi Ki-67 dan E-Cadherinpada kedalaman invasi MM berdasarkan Clark level HasilEkspresi Ki-67 positif ditemukan pada 42 kasus di mana rerata ekspresi Ki-67 pada Clark level II yaitu12,17%, Clark level III 39,38%, Clark level IV 57,63% dan Clark level V 64,44%. Ekspresi E-Cadherinpositif pada Clark level II sedangkan pada Clark level III, IV dan V sebagian besar ekspresi E-Cadherinnegatif. Melanoma malignum paling banyak ditemukan pada kelompok usia 60-79 tahun, jenis kelaminlaki-laki, subtipe histopatologik nodular melanoma dan kedalaman invasi Clark level IV. Terdapathubungan bermakna antara ekspresi Ki-67 dan E-Cadherin dengan kedalaman invasi berdasarkan Clarklevel p=0,001.KesimpulanEkspresi Ki-67 berbanding lurus dan ekspresi E-Cadherin berbanding terbalik dengan kedalaman invasimelanoma malignum berdasarkan Clark level. Ekspresi Ki-67 dan E-Cadherin mampu memprediksi risikometastasis pada melanoma malignum.