Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

KONDISI TERUMBU KARANG DI PULAU WEH PASCA BENCANA MEGA TSUNAMI Purbani, Dini; Kepel, Terry Louise; Takwir, Amadhan
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang pasca tsunami sebagai langkah awal dalam upaya rehabilitasi terumbu karang. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan kondisi terumbu karang tahun 2002 sebelum tsunami dan tahun 2009 pasca tsunami menggunakan citra satelit Landsat ETM7 melalui analisis Lyzenga. Pengamatan langsung di lapangan menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) dan pengukuran kualitas perairan. Lokasi pengamatan berada di Ujung Seurawan,  Sea Garden di Pulau Rubiah,  Sea Garden 1, Rubiah Channel 2 dan  Loh Weng. Kondisi terumbu karang yang berada di Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Weh ini berada pada kondisi yang buruk sampai baik. Terumbu karang kondisi baik terdapat di lokasi Sea Garden 1 (54,26 %), kondisi sedang di Rubiah Channel 2 (26,32%) dan Sea Garden 2 (39,5%) sedangkan kondisi buruk terdapat di Ujung Seurawan (19,28 %) dan Loh Weng (15,14%). Bentuk kerusakan terumbu karang antara lain patah, terbalik dan hanyut. Jenis terumbu karang yang rusak terdapat di sebelah timur Pulau Weh yaitu sekitar Pulau Rubiah dan sekitar Teluk Loh Pria Laot. Kisaran kondisi perairan berupa pH, salinitas, suhu dan DO menunjukkan bahwa kualitas perairan berada pada kondisi baik untuk perencanaan kegiatan rehabilitasi terumbu karang.
Distribusi Spasial Logam Berat Besi (Fe) di Perairan Teluk Staring, Sulawesi Tenggara Bahril, Bahril; Armid, Armid; Jabir, Jabir; Takwir, Amadhan; Rahim, Abdul
ALCHEMY Vol 7, No 2 (2019): ALCHEMY: Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology UIN Maulana Malik Ibrahim Malan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.331 KB) | DOI: 10.18860/al.v7i2.7192

Abstract

 Study on spatial distribution of metal Fe in the coastal area of Staring Bay, Southeast Sulawesi has been carried out. This study aims to determine the spatial distributions of heavy Fe in the coastal area of Staring Bay. Sampling was conducted at 12 stations along the bay through the purposive sampling method. Determination of heavy metal Fe concentration was performed utilizing the Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Spatial analysis was performed with IDW interpolation method using a software ArcGIS 10.3. The results showed that the concentration of metal Fe at 12 stations was in the range of 0.00187 ppm to 0.01296 ppm whereby the highest level was found at station 7 (mouth of the Laonti river). The spatial analysis in 12 stations confirmed that in the coastal areas of Woru-woru village (near the mouth of the Laonti river) to Gala Island and Wandahea village up to Intan Island have been contaminated by metal Fe ranged from 0.0106-0.0117 ppm and 0.0118-0.013 ppm, respectively. The contamination factor of metal Fe was moderate. Based on the values of CF, the highest contamination of heavy metal Fe is at station 7. Keywords: Spatial analysis, Fe, IDW, CF, Staring Bay  Telah dilakukan studi distribusi spasial logam Fe di perairan Teluk Staring, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran spasial logam Fe di perairan Teluk Staring. Pengambilan sampel dilakukan 12 stasiun di perairan teluk dengan metode purposive sampling. Penentuan kadar logam Fe pada sampel air laut menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Analisis spasial dilakukan dengan metode interpolasi IDW menggunakan software ArcGIS 10.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar logam Fe di 12 stasiun penelitian berkisar antara 0,00187-0,01296 ppm dengan kadar tertinggi berada pada stasiun 7 (muara Sungai Laonti). Hasil analisis spasial pada 12 stasiun menunjukkan bahwa di daerah pesisir Desa Woru-woru (dekat muara Sungai Laonti) hingga Pulau Gala dan Desa Wandahea hingga Pulau Intan telah terkontaminasi logam Fe dengan kisaran 0,0106-0,0117 ppm dan 0,0118-0,013 ppm. Faktor kontaminasi logam Fe bersifat moderat. Berdasarkan nilai CF, kontaminasi tertinggi oleh logam Fe terdapat pada stasiun 7. Kata kunci: Analisis spasial, Fe, IDW, CF, Teluk Staring 
Potensi dan Arahan Pengembangan Kampung Wisata Bahari Berbasis Produk Unggulan Mutiara di Kelurahan Palabusa Kota Baubau Nadia, La Ode Abdul Rajab; Oetama, Dedy; Hamzah, Muhaimin; Takwir, Amadhan; Erawan, Muhammad Trial F.
Kainawa: Jurnal Pembangunan & Budaya Vol 1 No 2 (2019)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Baubau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46891/kainawa.1.2019.115-130

Abstract

The integrating tourism development of mainstay sector, product diversification, and services is one of directions of developing the city of Baubau. One of models that is going to be promoted is a tourism village of pearl prime products based. This research was aimed at analyzing the potency and layout planning in the marine tourism village of pearl prime products-based in the Palabusa urban village. The collecting data methods were (1) survey regarding issues and problems of intensifying tourism of fishery resource use-based, (2) FGD with some stakeholders related to issues being studied, (3) verification and evaluation of gained field results. The potential natural resource then would be documented. The data analyzing method consisted of spatial analysis, tourism area of development analysis, and layout. The results of this research indicate that the spatial analysis of the potential coastal area for cultivating the pearl shells in the Palabusa urban village is about 61.23 hectares. Currently, the existing area of culture only reaches 22.22 consisting of 4.06 hectares belonging to local communities, and 18.16 hectares owning by PT Selat Buton. From the potential unutilized extent area, is assumed for 25% of use, this area can accommodate 138 units of floating culture 6×12 m. The results of area development layout cover the spaces for service area, buffer zone, aquaculture area, tourism/service area, circulating track, and historical conservation area. The developing model of tourism village in Palabusa encompasses aspects of economy and environment, community-based, and multi-stakeholder participation.
POLA SEBARAN MATERIAL PADATAN TERSUSPENSI (MPT) DI PERAIRAN MUARA SUNGAI LA BALANO KABUPATEN MUNA Safarudin, .; Yasir Haya, La Ode Muhammad; Takwir, Amadhan
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 2: Mei 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i2.8326

Abstract

Perairan di sekitar Muara Sungai La Balano terdapat kegiatan pemanfaatan ruang seperti pemukiman, budidaya tambak, perkebunan dan pertanian yang diperkirakan berperan besar pada terjadinya penurunan kualitas air. Konsentrasi Material Padatan Tersuspensi (MPT) yang berlebihan di muara sungai dapat menyebabkan kekeruhan dan ancaman pendangkalan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi MPT, perubahan pola arus dan pola sebaran MPT saat kondisi pasang dan surut di Perairan Muara Sungai La  Balano Kab. Muna. Metode penentuan titik stasiun menggunakan purposive sampling. Pengambilan data sampel air dan pengukuran parameter fisika oseanografi dilakukan saat kondisi air pasang dan air surut. Analisis sampel MPT menggunakan metode Gravimetri. Peta Pola sebaran MPT diinterpolasi menggunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi MPT di Perairan Muara Sungai La Balano saat kondisi pasang berkisar antara 13.90 – 14.46 mg/l dan kondisi surut berkisar 13.87 – 14.50 mg/l, dengan pola arus yang didominasi oleh arus pasut yaitu terjadi bolak-balik. Pola sebaran MPT di Muara Sungai La Balano terlihat bahwa saat kondisi pasang terjadi penumpukan sedimen di sekitar jety dan saat kondisi surut terjadi penumpukan sedimen di muara sungai. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebaran MPT mengikuti pergerakan arus pasang surut sedangkan konsentrasinya lebih besar bersumber dari daratan.Kata Kunci : Material Padatan Tersuspensi, Pasang Surut, Pola Sebaran, Muara Sungai La Balano 
DISTRIBUSI LOGAM BERAT Cu PADA AIR LAUT PERMUKAAN DI PERAIRAN TELUK STARING SULAWESI TENGGARA Arjuna, .; Armid, Alrum; Takwir, Amadhan
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 4: November 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i4.10770

Abstract

Kandungan logam berat di suatu perairan sangat berbahaya apabila telah melewati standar baku mutu. Salah satu logam berat yang termasuk bahan beracun dan berbahaya adalah logam berat Cu. Logam berat Cu masuk ke dalam lingkungan perairan akibat factor antropogenik seperti buangan limbah industri, pelayaran, pertanian dan buangan limbah rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi spasial dan status pencemaran logam berat Cu di Perairan Teluk Staring. Pengambilan sampel air laut permukaan sebanyak 12 stasiun dilakukan dengan metode Purposive Random Sampling. Larutan sampel dianalisis dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)  sedangkan sebaran spasial dianalisis melalui metode interpolasi Inverse Distance Weight (IDW). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai kadar Logam Cu di 12 Stasiun sebesar 0,0025-0,1147 ppm. Nilai rata-rata logam Cu adalah sebesar 0,055 ppm. Kadar logam Cu tertinggi terdapat pada Stasiun 7 dan 8. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa telah terjadi kontaminasi logam berat Cu di daerah pesisir Pulau Lara, Kec. Moramo Utara sampai pesisir Pulau Labotaone, Kec. Laonti dengan kisaran nilai kadar logam sebesar 0,0523-0,1147 ppm. Status pencemaran logam berat Cu pada area tersebut telah melewati nilai standar baku mutu sesuai KepMen LH, No. 51 Tahun 2004. Variabel lingkungan (Suhu, Salinitas dan pH) terhadap konsentrasi Logam Berat Cu tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sebaran kandungan logam berat Cu.Kata Kunci: Logam Berat Tembaga (Cu), Distribusi, Status Pencemaran, Teluk Staring
DISTRIBUSI LOGAM BERAT MANGAN (Mn) PADA AIR LAUT PERMUKAAN DI PERAIRAN TELUK STARING SULAWESI TENGGARA Indra, .; Armid, Alrum; Takwir, Amadhan
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 1: Februari 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i1.10957

Abstract

Logam berat Mangan (Mn) termasuk logam esensial yang bersumber dari peristiwa pengikisan (erosi) Mn masuk kedalam lingkungan perairan akibat dari aktivitas manusia seperti buang limbah industri, pelayaran, pertanian dan buangan limbah rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran spasial logam berat Mn di Perairan Teluk Staring. Jenis penelitian yang di lakukan adalah pengambilan sampel air laut di permukaan Teluk Staring sebanyak 12 Stasiun dengan metode Purposive Random Sampling. Larutan sampel dianalisis dengan Spektrofometri Serapan Atom (SSA). Analisis sebaran spasial menggunakan metode interpolasi IDW pada ArcGIS. Dari hasil pengukuran menunjukan kisaran kosentrasi kadar logam Mn di 12 Stasiun sebesar 0,1153 dan 0,4077 ppm. Nilai rata-rata logam Mn adalah antara 0, 2463 ppm. Kadar logam Mn yang tertinggi terdapat pada Stasiun 3 dan 4. Hasil analisis spasial dari 12 Stasiun menunjukan bahwa pada semua stasiun pengamatan telah  terkontaminasi oleh logam berat Mn, dengan konsentrasi melewati standar baku mutu yang telah ditentukan oleh ENVIRONMENTAL PROTECTION AGENCY, Water Quality Standard 1972. Dalam hal ini Teluk Staring telah tercemar oleh logam berat Mn. Sedangkan variabel lingkungan (Suhu,Salinitas dan pH) terhadap konsentrasi Logam Berat Mn tidak memiliki pengaruh yang signifikan.Kata kunci: Logam Berat Mangan (Mn), Distribusi Spasial, Teluk Staring
STUDI PERUBAHAN GARIS PANTAI DENGAN PENDEKATAN PENGINDERAAN JAUH DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH Kulmawapa, Rizki Arpakul; Afu, La Ode Alirman; Takwir, Amadhan
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 2, No 3: Agustus 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v2i3.3610

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memetakan perubahan garis pantai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret–April Tahun 2017 yang bertempat di  pesisir Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah. Metode yang   digunakan  dalam penelitian ini adalah metode Overlay (tumpang susun) antara citra Landsat 5 TM tahun 1995 dan Landsat 8 OLI tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 20 tahun, perubahan garis pantai yang terjadi di lokasi studi berupa akresi dan abrasi. Perubahan berupa akresi berkisar antara 33,46-192,08 m yang terjadi di Desa Air Bajo, Terapung, Kanapa-napa, Banga, Tanailandu, Oengkolaki, Balobone, Napa, Wakambangura I, Wakambangura II, Kancebungi dan Gumanano. Sedangkan abrasi terjadi di Desa  Air Bajo, Terapung, Kanapa-napa, Tanailandu, Oengkolaki, Watolo, Mawasangka Balobone, Wakambangura I, Kancebungi dan Gumanano dengan rentang jarak antara 45,65-369,1 m. Perubahan tersebut utamanya disebabkan oleh faktor  hidro-oseanografi yakni arus dan gelombang serta faktor antropogenik yakni pembangunan pemukiman dan degradasi hutan mangrove.Kata Kunci: Perubahan garis pantai, citra Landsat, Mawasangka, Buton Tengah
PEMETAAN SEBARAN DAN TUTUPAN LAMUN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT 8 DAN SENTINEL 2A DI PERAIRAN DESA TANJUNG TIRAM KABUPATEN KONAWE SELATAN Indriana, .; Haya, La Ode Muhammad Yasir; Takwir, Amadhan
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 5, No 4: November 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v5i4.15496

Abstract

Studi tentang lamun telah dilakukan di perairan Desa Tanjung Tiram. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran, tutupan, dan habitat lamun menggunakan citra LANDSAT 8 OLI dan Sentinel 2A. Metode penelitian yang digunakan adalah perbandingan klasifikasi dua citra yang dikombinasikan dengan data lapangan. Citra yang digunakan telah dikoreksi menggunakan algoritma Depth Invariant Index (DII) untuk menghilangkan efek kedalaman. Sedangkan data lapangan diperoleh melalui metode transek kuadrat ukuran 1x1 meter persegi. Setiap transek diambil titik koordinatnya dan diamati jenis lamun serta persen tutupan lamun. Hasil analisis data lapangan menunjukkan bahwa Enhalus acoroides hanya ditemukan di Stasiun I. Sedangkan di Stasiun II dan Stasiun III ditemukan tiga jenis lamun dengan jumlah yang berbeda, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Halophila minor. Terdapat tiga kategori kepadatan lamun dari hasil klasifikasi citra, yaitu; lamun jarang, lamun sedang, dan lamun padat. Analisis Citra Landsat 8 OLI menunjukkan bahwa area kepadatan lamun di Perairan Desa Tanjung Tiram terdiri kategori lamun jarang seluas 8.58 Ha (13%), lamun sedang seluas 34.21 Ha  (17%), dan lamun padat seluas 6.48 Ha (69%) dengan total area sebesar 49.28 Ha. Sedangkan citra satelit Sentinel 2A sedikit berbeda dengan Landsat 8 OLI, Area tutupan lamun dengan kategori lamun jarang seluas 9.59 Ha (18%), selanjutnya lamun sedang sebesar 33.40 Ha (64%), dan lamun padat sebesar 9.54 Ha (18%) dengan total area 52.53 Ha. Tingkat akurasi klasifikasi pada citra satelit yang digunakan masing-masing sebesar 60.28% (Landsat 8 OLI) dan 73.04% (Sentinel 2A). Secara umum, tutupan lamun di lokasi penelitian dapat dinyatakan baik dan perlu dijaga kelestariannya.Kata kunci: Lamun, Citra LANDSAT 8 OLI, Sentinel 2A, Desa Tanjung Tiram.
PEMETAAN BATIMETRI PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN ALGORITMA JUPP PADA CITRA SPOT-7 DI PERAIRAN TANJUNG TIRAM Harianto, Kurniawan; Takwir, Amadhan; Halili, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 4, No 1: Februari 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v4i1.6802

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara nilai-nilai setiap kanal citra SPOT-7 dengan kedalaman perairan dangkal Tanjung Tiram, mensimulasi tingkat akurasi serta memetakan kedalaman pada perairan Tanjung Tiram menggunakan algoritma Jupp. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2018 di perairan Tanjung Tiram. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pengumpulan data-data primer dan sekunder hingga pengolahan data citra. Data primer berupa data batimetri. Data sekunder berupa data pasang surut. Data citra yang digunakan adalah citra SPOT-7 yang memiliki 4 kanal, multispektral dengan resolusi spasial 6 m terdiri dari kanal spektral biru (450 – 520 nm), hijau (530-590 nm), merah (625- 695 nm) dan band NIR (760 - 890 nm). Pengolahan data citra dilakukan dengan mengubah nilai digital menjadi nilai kedalaman perairan berdasarkan algoritma Jupp lalu koreksi terhadap pasang surut. Hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan anatara nilai digital (DN) dan kedalaman lapangan cukup baik dengan nilai R2 0,71. Selain itu, terlihat bahwa nilai digital setiap kanal cenderung semakin rendah dengan bertambahnya kedalaman lapangan suatu perairan begitu pun sebaliknya.Kata Kunci : Tanjung Tiram, Batimetri, Citra SPOT-7, Algoritma Jupp
Pengelolaan Kawasan Budidaya Kerang Mutiara melalui Pendekatan Daya Dukung di Pesisir Palabusa Kota Baubau Nadia, La Ode Abdul Rajab; Oetama, Dedy; Takwir, Amadhan; Nadia, Laode Muhamad Hazairin
Kainawa: Jurnal Pembangunan & Budaya Vol 2 No 1 (2020)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Baubau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pearl oyster is one of high value commodity of fishery sector and it has good prospect in the future business development. Pearl oysters’ culture was limited conducted by big companies, mostly foreign capital investment. In other side, there were some problems which should solved, it was coastal area utilization on big scale without considering the environment suitability and capacity. The aims of this research were to identify the characteristics of waters, determine the suitability value and carrying capacity of water environment for pearl oyster. This research was conducted in Baubau City coastal area from August to November 2019. Biophysical data were collected by field surveys and it were supported by of secondary data. Data analysis of water characteristic, analysis of water suitability and carrying capacity and spatial analysis. The condition of water quality parameters suitable for pearl oyster culture, included: current, suspended solid material, depth, phytoplankton, dissolved oxygen, brightness, salinity, temperature, chlorophyll-a and pH. The result of suitability classes in Palabusa of Baubau City coastal area were divided into three classes, there were very suitable covering 61.23 ha (59.54%), suitable covering 28,8 ha (28.01%) and not suitable covering 12,8 ha (12.45%). Regional carrying capacity was described in pearl cultivation unit on a cultivation period which could be supported by environment. Carrying capacity for very suitable conducted by rope system which covering 36 units and floating rafts were 72 units. Suitable class was conducted by rope system which covering of 18 units and floating raft system were 32 units.