I Made Darmada
Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Jengah Dalam Pengamalan Pancasila: The Implementation Of Jengah in the Practice of Pancasila Ribit Rantausari; I Made Darmada
Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. 1 (2021): Nirwasita
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.943 KB)

Abstract

Dalam menjaga ketahanan nasional, ideologi merupakan dasar yang harus dipegangan erat oleh semua lapisan masyarakat. Indonesia memiliki ideologi Pancasila yang telah disusun sedemikian rupa oleh pendahulu kita dengan menyesuaikan situasi dan kondisi masyarakat Indonesia yang sangat beragam telah mampu mengantarkan Indonesia dari kemerdekaan sampai sekarang. Untuk memperjuangkan hal tersebut tentu tidak mudah banyak godaan serta cobaan yang berusaha mengancam ideologi Pancasila yang sangat berpotensi untuk memecah belah persatuan Indonesia. Di Bali untuk mempertahankan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila telah memiliki sikap local genius yang berbentuk lisan dan telah di wariskan oleh tetua atau leluhur Bali sejak dahulu sebagai modal untuk menghadapi berbagai tantangan atau permasalahan kehidupan, dan ini sangat sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, salah satunya pada sila ketiga yaitu “Persatuan Indonesia”. Sikap ini disebut dengan “jengah”. Sikap jengah mempunyai arti mampu membangkitkan motivasi dari dalam diri bertujuan untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik, membawa seseorang untuk lebih banyak bertindak. Hal ini bisa dijadikan sebagai pedorong untuk menjaga persatuan atau kesatuan suatu bangsa, seperti yang terdapat dalam pancasila sila ketiga yaitu “persatuan Indonesia”.
Peran Perempuan Bali Dalam Mendidik Anak: The Role of Balinese Women in Educating Children I Wayan Sapta Wigunadika; I Made Darmada
Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. 1 (2021): Nirwasita
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.677 KB)

Abstract

Peran perempuan Bali sangat penting dalam mendidik anak, bahkan pendidikan pertama yang diberikan kepada anak adalah dari seorang ibu. Ibu memiliki andil yang besar dalam melakukan pengembangan potensi anak. Karena ibu memiliki keterikatan batin yang kuat dengan anak. Ada sebuah pepatah yang mengatakan jika perempuan cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Mendidik anak dilakukan dalam bentuk aktivitas keagamaan, seperti melakukan Trisandhya (berdoa) secara rutin dan teratur, membiasakan menggunakan kata-kata yang sopan. Sehingga dalam kesehariaanya di rumah anak-anak terbiasa menggunakan bahasa Bali sopan dengan orang tuanya dan saudaranya. Diharapkan pula menjadi kebiasaan dalam bertutur kata yang sopan kepada orang lain.Perempuan Bali dalam mendidik anak juga membiasakan anak-anaknya untuk besembahyang sebelum berangkat ke sekolah. Karena budi pekerti berasal dari ajaran agama, dan salah satu implementasi dari ajaran agama adalah dengan membiasakan untuk selalu ingat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu anak-anak mereka juga diajarkan untuk selalu berfikir yang baik, berkata yang baik, dan berbuat yang baik. Ketiga perilaku yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik selalu dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya, manusia dengan sesama, dan manusia dengan maha pencipta. Sehingga kerukunan, ketentraman, dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat dapat tercipta.
Negarakertagama : Kisah Keagungan Kerajaan Majapahit Dewa Made Alit; I Nyoman Bayu Pramartha; Gabriel Sandri Susanto Lewa; I Made Darmada; Ida Ayu Putu Sri Udiyani
Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial Vol. 3 No. 1 (2022): Nirwasita
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.289 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa Prapanca menggubah Negarakertagama dalam bentuk puja sastra dan bagaimana puja sastra tersebut tersurat dalam Negarakertagama. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga akan mengikuti prosedur kerja sejarah yakni heuristic, kritik, interpretasi dan historiografi. Data dikumpulkan mealui studi pustaka. Sumber data yang utama dalam penelitian ini adalah Negarakertagama yang telah diterjemahkan oleh Slamet Mulyana yang termuat dalam Negarakertagama dan tafsir Sejarahnya ditambah dengan sumber sumber lain yang relevan. Data yang sudah terkumpul kemudian dikritik dengan kritik ekstern dan intern untuk mendapatkan fakta. Fakta kemudian diinterpretasikan, dihubung-hubungkan satu dengan yang lainnya yang kemudian dituangkan dalam bentuk cerita sejarah. Hasil analisis data menunjukan bahwa masyarakat Majapahit terstruktur dalam empat kasta atau sering juga disebut catur warna yakni brahmana, kesatria, wesya dan sudra. Prapanca masuk dalam golongan brahmana. Kaum brahmana bertugas dalam bidang keagamaan, pujangga yang juga masuk elite agama bertugas menyusun sastra yang ditujukan untuk menambah keagungan raja, kejayaan raja dan kerajaannya. Negarakertagama merupakan karya sastra dimana sastra merupakan sarana untuk memuja kebesaran seorang raja. Tidak mengherankan bila Prapanca dari awal gubahannya sudah menyampaikan bahwa ada dorongan rasa cinta bakti kepada raja, walaupun menurut Prapanca ia tidak semahir pujangga-pujangga lainnya dalam menggubah kekawin. Bait-bait yang digubah oleh Prapanca penuh dengan pujian di dalamnya tidak ada lagi tempat tanpa pujian akan keagungan, keluhuran, kebesaran, kebijaksanaan, yang ditunjukan oleh sifat-sifat para dewa, istananya, luas wilayah kekuasannya, asal usulnya dan kebaktian rakyat terhadap raja Hayam Wuruk. Bahkan pada bagian akhir Prapanca berharap barang siapa mendengar kisah raja, tak puas hatinya, bertambah baktinya, menjauhkan diri dari tindak durhaka.