Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Khazanah Tafsir Melayu (Studi Kitab Tafsir Tarjuman Al- Mustafid Karya Abd Rauf Al- Sinkili) Afriadi Putra
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.781 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v2i2.84

Abstract

Kitab tafsir Tarjuman Al- Mustafidmerupakan kitab tafsir pertama yang ditulis lengkap tiga puluh juz berbahasa Melayu sehingga ia juga disebut dengan Tafsir Melayu. Ditulis oleh ulama yang sangat berpengaruh di Kesultanan Aceh dan memiliki ilmu yang sangat luas di bidang agama. Di dunia Melayu, tafsir ini menjadi rujukan penting dalam upaya memahami ajaran Islam lansung dari sumber utama yaitu, al-Qur’an. Melalui tulisan ini penulis ingin membuktikan bahwa tafsir Tarjuman Al- Mustafidmenjadi pelopor kajian tafsir al-Qur’an di Nusantara. Di lihat dari segi metodolgis, penggunaan qira’at sebagai analisis penafsiran membuat tafsir ini menjadi unik. Sekaligus memperkenalkan ilmu qira’at yang belum populer di kalangan pengkaji al-Qur’an ketika itu.
Offiside Kesetaraan Gender (Kritik Terhadap Liberasi Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur'an) Afriadi Putra; Khairunnas Jamal; Nasrul Fatah
An-Nida' Vol 43, No 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v43i1.12313

Abstract

Kesetaraan gender menjadi kajian yang menarik terutama seiring dengan kehidupan modern. Pengarusutamaan kajian tentang gender yang digagas para pemerhatinya pada akhirnya bermuara pada kesetaraan tanpa batas (liberation of gender equality). Untuk membentengi hal itu perlu kiranya kajian yang berangkat dari sudut pandang Al-Qur’an sebagai pedoman utama dan menjadi pijakan kritis terhadap liberasi kesetaraan tersebut. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan; Pertama, Al-Qur’an menegaskan bahwa perempuan ditempatkan pada posisi yang mulia, terhormat dan setara dengan laki-laki. Al-Qur’an sangat menentang keras adanya perlakuan buruk dan dikriminatif terhadap perempuan. Kedua, Al-Qur’an memandang bahwa kesetaraan perempuan dengan laki-laki terletak pada hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak kemanusiaan dan ibadah. Namun pada fungsi-fungsi tertentu perempuan tidak dapat disamakan dengan laki-laki, seperti mengurus rumah tangga dan fungsi biologisnya. Dengan demikian kesetaraan yang diangkat oleh Al-Qur’an didasarkan pada aspek-aspek keadilan dan keseuaian dengan fitrah perempuan dan laki-laki.
KAJIAN AL-QUR’AN DI INDONESIA (DARI STUDI TEKS KE LIVING QUR’AN) Putra, Afriadi
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v18i2.214

Abstract

Tulisan ini membahas tentang dinamika kajian al-Qur’an di Indonesia; dari studi teks ke living qur’an. Kajian ini sangat penting untuk melacak perkembangan kajian al-Qur’an di Indonesia yang selama ini hanya berorientasi di wilayah teks. Maka tidak salah ada yang menyebut bahwa peradaban Islam identik dengan hadharah nashsh.Namun saat ini, kajian al-Qur’an mengalami pergeseran dari teks ke konteks yang dinamakan living qur’an dengan perspektif penelitian sosial. Penelitian semacam ini masih jarang dilakukan, padahal kedua hal ini harus seimbang sehingga perkembangan ilmu dalam bidang kajian al-Qur’an tidak statis tapi terus berjalan dan dinamis. Penelitian living qur’an memfokuskan kajian pada respons seseorang atau komunitas tertentu terhadap teks al-Qur’an dan hasil penafsiran seseorang. Termasuk dalam pengertian respons masyarakat adalah resepsi mereka terhadap teks tertentu dan hasil penafsiran tertentu. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian living qur’an adalah pendekatan fenomenologi agama. Pendekatan ini dianggap relevan dalam kajian living qur’an, sebab objek kajiannya berkaitan erat dengan realitas sosial.
Isu Gender dalam Al-Qur’an: Studi Penafsirsan Kontekstual Abdullah Saeed Terhadap Ayat-ayat Warisan Afriadi Putra
Kafa`ah: Journal of Gender Studies Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jk.v7i2.176

Abstract

There are not a few Muslims who make the story of Adam and Eve as an argument to consider women as a source of triggering sin.This study aims to find out the Qur'anic view of the story of the expulsion of Adam and Eve from heaven, expressing the comprehensive view of the Qur'an about the chronology of the exorcism of Adam and Eve and outlining the causes of the expulsion of Adam and Eve from Heaven. This study uses thematic method with Q.S.  An-Nisa  (4): 1 and al-A'raf (7): 22 as  sources of data. Linguistic analysis was used to analyze the data. The results of the study showed that the emergence of this assumption is motivated by several reasons. Among the reasons is the history of Israiliyyat made by the classical interpreters as the primary source in interpreting the verses about Adam and Eve, which began at the end of the first century of Hhijriyah. The Israiliyyat narrations which speak of the story of Adam and Eve in general provide information which tends to make Eve a degrading party as well as a source of sin. This understanding ultimately affects the lowering of women's position over men in real life. In fact, if we examine directly the linguistic structure of the text of the verses in the Qur'an and read it holistically, and linked with the maqashid of equality of human creation, we will find that the Qur'an always makes Eve in an equal position with Adam.
Pemikiran Hadis KH. M. Hasyim Asy’ari dan Kontribusinya terhadap Kajian Hadis di Indonesia Afriadi Putra
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.891 KB) | DOI: 10.15575/jw.v1i1.577

Abstract

This article describes the opinion of KH. M. Hasyim Asy’ari, one of the Indonesian Hadith scholars, and his contribution to the study of Hadith in Indonesia. This study is important to understand the dynamic of Hadith study in Indonesia that experienced stagnancy for certain period. The twentieth century marked as the rising of Hadith study in Indonesia by the emergence of many Hadith books of Arabic languages, their translations and the scholars opinion related to Hadith. The book of risālah ahlu al-sunnah wa al-jamā’ah is among those books that was written in the beginning of the twentieth century. This book played a significant role at that time as a guidance for Muslim society in facing modernity. The content of this book provides basic themes related to religious experiences of the community. This book is also represented the opinion of KH. M. Hasyim Asy’ari related to Hadith, as an Indonesian Muslim scholar who received isnād Hadith (the chain of Hadith transmission) from his teacher Syeikh Mahfudz Termas.
KISAH DALAM AL-QUR’AN (STUDI KITAB MADKHAL ILA AL-QURAN AL KARIM KARYA MOHAMMED ABED AL-JABIRI) Edi Hermanto; Nurfajriyani Nurfajriyani; Afriadi Putra; Ali Akbar
PERADA Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/perada.v3i1.132

Abstract

Tulisan ini membahas tentang kisah dalam al-Qur’an pada kitab madkhal ila al-Qur’an al-Karim karya M. Abed al-Jabiri. Kajian ini penting untuk melihat konsep kisah al-Qur’an sebagai salah satu pisau analisis untuk menafsirkan al-Qur’an. Disamping itu, dalam tafsirnya ini M. Abed al-Jabiri memiliki gagasan besar tentang pengembangan ulumul qur’an yang menurutnya selama ini hanya berjalan di tempat, sehingga diperlukan analisis baru untuk menangkap pesan-pesan yang ingin disampaikan al-Qur’an. Di dalam kitab ini langkah awal yang dilakukan al-Jabiri adalah merekonstruksi makna al-Qur’an, al-Jabiri memberikan kritik atas berbagai definisi yang telah dikonstruksi oleh para ulama seperti al-Suyuti, al-Syanqiti, al-Isfahani dan lain sebagainya. Selanjutnya, al-Jabiri mengklasifikasi surat-surat al-Qur’an yang berbicara tentang kisah dalam kategori makiyyah dan madaniyyah. Kategori makiyyah, dibagi dalam dua tahap, sedangkan pada kategori madaniyyah hanya satu tahap. This paper discusses the story in the Al-Qur'an in the madkhal ila Al-Qur'an al-Karim by M. Abed al-Jabiri. This study is important to see the concept of the Al-Qur'an story as one of the analytical tools for interpreting the Al-Quran. Besides that, in this interpretation M. Abed al-Jabiri has a big idea about the development of ulumul quran which according to him has only been running in place, so that a new analysis is needed to capture the messages that the Qur'an wants to convey. In this book, al-Jabiri's initial steps were to reconstruct the meaning of the Koran, al-Jabri provided a critique of the various definitions constructed by classical scholars such as al-Suyuti, al-Syanqiti, al-Isfahani and so on. . Furthermore, al-Jabiri classified the letters of the Al-Qur'an which speak of stories in the category of makiyyah and madaniyyah. The category of makiyyah is divided into two stages, while in the madaniyyah category there is only one stage.
Maqâṣid Al-Qur’ân In The Interpretation of M. Quraish Shihab About The Verse of Social Media Usage Johar Arifin; Ilyas Husti; Khairunnas Jamal; Afriadi Putra
Jurnal Ushuluddin Vol 28, No 1 (2020): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v28i1.7293

Abstract

This article aims to explain maqâṣid al-Qur’ân according to M. Quraish Shihab and its application in interpreting verses related to the use of social media. The problem that will be answered in this article covers two main issues, namely how the perspective of maqâṣid al-Qur’ân according to M. Quraish Shihab and how it is applied in interpreting the verses of the use of social media. The method used is the thematic method, namely discussing verses based on themes. Fr om this study the authors concluded that according to M. Quraish Shihab there are six elements of a large group of universal goals of the al-Qur’ân, namely strengthening the faith, humans as caliphs, unifying books, law enforcement, callers to the ummah of wasathan, and mastering world civilization. The quality of information lies in the strength of the monotheistic dimension which is the highest peak of the Qur’anic maqâṣid. M. Quraish Shihab offers six diction which can be done by recipients of information in interacting on social media. Thus, it aims to usher in the knowledge and understanding of what is conveyed in carrying out human mission as caliph, enlightenment through oral and written, law enforcement, unifying mankind and the universe to the ummah of wasathan, and mastery of world civilization
PROBLEMATIKA PRIVASI DALAM MEDIA (KAJIAN PRIVASI SEBAGAI NILAI MORAL) Muhamad Taufik; Muzairi Muzairi; Afriadi Putra
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Keislaman Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5415.749 KB) | DOI: 10.14421/ref.2016.%x

Abstract

Discussion and research on media as a discourse could not be separated from the connection between the language that used in it, the knowledge that underlying, as well as other forms of interests and power that operating behind the language. That means, the conversation about media inevitably cannot be separated from the ideology that formed it, which is finally affects the language (style, expression, vocabulary, signs) that used and the knowledge (justice, truth, reality) that generated it. We are aware the discussion of media and communication order cannot be separated from the interests behind the media, especially the interests of the information that conveyed. Eviction ofprivacy in communication practices indeed became serious problem because it involves self-esteem, which ultimately creates many prolonged polemic. Privacy as a right or a right to control unwanted publicity, become someone's personal affairs personal because our problem has occurred mistakenly believe that a public figureby itself does not have privacy inthe public. For this reason, this research is conducted, namely the attempt to try to analyse the privacy and moral value in media that eligible to be criticized.
Tradisi pemberian sumbangan dalam hajatan pernikahan persfektif fiqhul Islam Asrizal Saiin; Pipin Armita; Afriadi Putra; Bashori Bashori
TERAJU: Jurnal Syariah dan Hukum Vol 1 No 02 (2019)
Publisher : P3M dan Jurusan Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.995 KB) | DOI: 10.35961/teraju.v1i02.47

Abstract

Dalam tulisan ini akan sedikit membahas mengenai sumbangan yang diberikan ketika hajatan pernikahan. Sehingga dapat digambarkan bahwa seluruh lapisan masyarakat menganggap penting diterapkan tradisi sumbangan dalam hajatan pernikahan. Permasalahan ini akan dikaji dengan menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif, yaitu suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Mengenai tradisi sumbangan dalam hajatan pernikahan ini sudah menjadi tradisi yang sudah tertanam dalam masyarakat. Baik buruknya tradisi ini dapat dilihat sejauh mana bertahannya tradisi tersebut dan tentunya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tidak dapat dipungkiri, ternyata sampai saat ini, tradisi sumbangan dalam hajatan pernikahan tersebut masih tetap bertahan dan berjalan sebagaimana mestinya. Ini menjadi bukti bahwa tradisi ini sangat baik dan harus dipertahankan, karena tradisi ini juga sama dengan tradisi tolong menolong yang telah menjadi jati diri masyarakat muslim. Dalam tradisi Islam, memang tidak disebutkan aturan yang jelas terkait pemberian sumbangan dalam acara pernikahan, akan tetapi dijelaskan tentang inti dari pelaksanaan hajatan pernikahan yang digelar sebagai wujud rasa syukur atas diadakannya acara sakral dalam kehidupan seseorang.
SIGNIFIKANSI MAKKIYAH MADANIYAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN Lukmanul Hakim; Afriadi Putra
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol 3 No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v3i1.472

Abstract

Turunnya al-Qur’an kepada nabi Muhammad secara berangsur-angsur menyiratkan makna khusus yang terkandung di dalamnya. Periodesasi ini sesuai dengan perjalanan dakwah Rasulullah selama di kota Mekah dan Madinah dalam kurun waktu lebih kurang 23 tahun. Artikel ini akan mengkaji dan menganalisa salah satu pisau analisis dalam menafsirkan al-Qur’an, yaitu signifikansi Makkiyah dan Madaniyah. Melaui artikel ini penulis ingin membuktikan bahwa kajian ulumul qur’an tidak hanya berputar pada wilayah normatif dengan kajian yang cenderung stagnan. Akan tetapi kajian ulumul qur’an berkembang dinamis dengan adanya pendekatan historis-filosofis yang penulis gunakan dalam artikel ini. Melalui signifikansi Makkiyah dan Madaniyah ini terlihat bahwa al-Qur’an menerapkan hukum terhadap sesuatu secara gradual sesuai dengan mukhatab yang dihadapi oleh Rasulullah. Khamr pada mulanya dalam ayat Makkiyah tidak disebutkan pengharamannya secara tegas. Namun pada ayat Madaniyah khamr secara tegas diharamkan.