Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

SISTEM INFORMASI PENCATATAN PEMBAYARAN UANG SEKOLAH BERBASIS MULTIUSER (Studi Kasus di SMK Perintis 29-01 Semarang) Setyawati, Tri
Jurnal Mahasiswa Vol 1, No 1 (2014): Manajemen Informatika
Publisher : STEKOM Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.901 KB)

Abstract

SMK Perintis 29-01 Semarang merupakan salah satu lembaga pendidikan yang perlu berinteraksi dan bersosialisasi baik dalam lingkup internal sesama civitas akademika maupun eksternal kepada masyarakat luas. Dalam suatu lembaga pendidikan, tentunya tak lepas dari sistem informasi yang berlaku pada lembaga atau institusi yang bersangkutan yang sering disebut sistem informasi akademik. Disini peranan teknologi informasi sangat diperlukan seiring dengan perkembangannya. Dengan semakin berkembangnya suatu lembaga pendidikan, bertambahnya siswa dan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, mau tidak mau sekolah harus meningkatkan pelayanan, dan kualitas sumber daya manusia yang ada. Lembaga pendidikan yang baik tentunya harus memiliki sistem informasi pembayaran yang cukup bahkan lebih untuk siswa, tenaga pengajar, dan staff dan berbagai informasi yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Penulis menggunakan 3 metode penelitian untuk pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan studi pustaka. Metode observasi yang digunakan penulis yaitu dengan melakukan praktek langsung terhadap permasalahan yang terjadi. Wawancara dilakukan penulis terhadap para karyawan yang bersangkutan, sedangkan pada studi pustaka penulis mencari literatur yang berkaitan dengan penelitian dan digunakan sebagai landasan teori. Dari analisa dan hasil penelitian dapat diketahui solusi dari permasalahan diatas, maka SMK Perintis 29-01 Semarang membutuhkan Sistem Informasi Pencatatan Pembayaran Uang Sekolah untuk membantu bidang pengurus pembayaran uang sekolah khususnya dalam pencatatan data Pembayaran. Sistem informasi ini berbasis multiuser dengan bahasa pemrograman Visual Basic 6.0 dan menggunakan database Microsoft SQL Server 2000. Diharapkan dengan adanya Sistem Informasi Pencatatan Pembayaran Uang Sekolah ini maka pencatatan data pembayaran di SMK Perintis 29-01 Semarang dapat dilakukan dengan lebih akurat dan efisien. Kata Kunci : sistem informasi, pembayaran uang sekolah
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK (CIPROFLOXACIN, CEFOTAXIME, AMPICILIN, CEFTAZIDIME DAN MEROPENEM) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PENYEBAB ULKUS DIABETIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE KIIRBY-BAUER Sri, Ni Komang; Setyawati, Tri
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif ditandai dengan adanya hiperglikemia atau kelebihan kadar glukosa dalam darah yang memerlukan penanganan tepat. Diabetes melitus yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai komplikasi salah satunya yaitu ulkus diabetikum. Ulkus diabetikum di Indonesia merupakan permasalahan yang belum dapat terkelola dengan baik dan sering kali berakhir dengan kecacatan dan kematian. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan kuman terbanyak menginfeksi pasien ulkus diabetik. Antibiotik empiris yang sering di gunakan adalah (ciprofloxacin, cefotaxime, ampicilin, ceftazidime dan meropenem).Metode. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium murni, pengumpulan data diambil dari sampel yang di peroleh dari hasil kultur yang berasal dari pasien ulkus diabetik, kemudian dilakukan suspense biakan bakteri Staphylococcus aureus dan uji efektivitas bakteri di laboratorium dengan jumlah sampel sebanyak 6 pasien di dapat 36 sampel di peroleh dari 6 kali replikasi. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder dari Laboratoriun Kesehatan Daerah kota palu.Hasil. Rerata dari zona hambat tertinggi adalah meropenem 29 mm (sensitive), ciprofloxacin 27,33 mm (sensitive), ampicillin 19,16 mm (sensitive), cefotaxime 19,5 mm (intermediet), ceftazidime 9 mm (resisten).Kesimpulan. terdapat perbedaan yang signifikan dan perbedaan yang tidak signifikan dari tiap perlakuan antibiotik terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Dimana perlakuan yang memiliki daya hambat tertinggi adalah antibiotik meropenem, ciprofloxacin, dan ampicillin sedangkan perlakuan yang memiliki daya hambat terendah adalah antibiotik cefotaxime dan ceftazidime.  Background. Diabetes mellitus is a degenerative disease characterized by hyperglycemia or excess levels of glucose in the blood that requires proper treatment. Uncontrolled diabetes can lead to various complications, one of which diabetic ulcers. Diabetic ulcers in Indonesia is a problem that can not be managed and often end up with disability and death. Staphylococcus aureus is the bacteria infects the majority of diabetic ulcer patients. Empirical antibiotic that is often used is (ciprofloxacin, cefotaxime, ampicillin, ceftazidime and meropenem)Methods. This research is an experimental laboratory pure, collecting data taken from samples obtained from cultures derived from patients with ulcer diabetic, then made suspension cultures of bacteria Staphylococcus aureus and test the effectiveness of the bacteria in the laboratory with a total sample of 6 patients may be 36 samples obtained 6 times replication. This research uses primary and secondary data sources from the Regional Health laboratory hammer town.Results. The mean of the highest inhibitory zone is meropenem 29 mm (sensitive), ciprofloxacin 27.33 mm (sensitive), ampicillin 19.16 mm (sensitive), cefotaxime 19.5 mm (intermediate), ceftazidime 9 mm (resistant).Conclusion. there are significant differences and no significant differences from each of antibiotic treatment on the growth of Staphylococcus aureus. Where treatment has the highest inhibitory antibiotic meropenem, ciprofloxacin, and ampicillin while treatment had the lowest inhibition is an antibiotic cefotaxime and ceftazidime.
HUBUNGAN ANTARA JUMLAH LEUKOSIT DAN HEMATOKRIT DENGAN DERAJAT BERATNYA PENYAKIT DBD PADA PASIEN ANAK DI RSU. ANUTAPURA PERIODE JANUARI 2014-MARET 2015 Setyawati, Tri; Qulub, Sakinatul; Hutasoit, Gina Andhyka; Lumula, Rosdiana
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Dengue hemorrhagic fever is a disease cause by dengue virus that can infect and cause death for children. Severity of dengue fever is determined based on clinical criteria and laboratories. The decline in the number of leukocytes and the increased number of hematocrit can be a marker of severity for dengue fever.Objective: This study aimed to determine the relationship between leukocyte cand hematocrit count with the severity of dengue disease in pediatric patients at Anutapura public hospital from January 2014-March 2015.Methods: This research used cross-sectional study. The sampling technique used is total sampling. The samples used in the study amounted to 83 patients according to the inclusion and exclusion criteria. The instruments used in this research were the medical records of pediatric patients with dengue fever. The relationship between leukocyte and hematocrit count with the severity of dengue fever disease in pediatric patients were analyzed using Spearman correlation test.Results: Spearman correlation test showed there was no correlation between the number of leukocytes with the severity of dengue fever in pediatric patients (p = 0.775) directed to positive correlation and the weak strength of the relationship (r = 0.032). While the correlation between the amount of hematocrit with the severity of dengue fever had no correlation (p = 0.052) directed to positive correlation and weak strength of the relationship (r = 0.214).Conclusions: There was no relationship between leukocyte and hematocrit count with the severity of dengue disease in pediatric patients at Anutapura public hospital from January 2014-March 2015. Keywords: dengue degree of severity, Number of leukocytes, Number of Hematocrit Latar Belakang: Demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dapat menginfeksi serta menimbulkan kematian bagi anak. Klasifikasi derajat beratnya penyakit DBD menjadi acuan yang dalam melakukan tatalaksana. Penurunan jumlah leukosit serta peningkatan jumlah hematokrit dapat menjadi penanda derajat beratnya penyakit demam berdarah dengue.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jumlah leukosit dan hematokrit dengan derajat beratnya penyakit DBD pada pasien anak di RSU. Anutapura periode Januari 2014-Maret 2015.Metode Penelitian: Penelitan ini menggunakan metode penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu total sampling. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian berjumlah 83 pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi serta eksklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitan adalah data rekam medik dari pasien anak penderita demam berdarah dengue. Hubungan antara jumlah leukosit dan hematokrit dengan derajat beratnya penyakit demam berdarah dengue pada pasien anak dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian: Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan antara jumlah leukosit dengan derajat beratnya penyakit demam berdarah dengue pada pasien anak (p=0.775) arah korelasi positif serta kekuatan hubungannya lemah (r=0,032). Sedangkan korelasi antara jumlah hematokrit dengan derajat beratnya penyakit demam berdarah dengue tidak terdapat hubungan (p=0,052) dengan arah korelasi positif dan kekuatan hubungan lemah (r=0,214). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara jumlah leukosit dan hematokrit dengan derajat beratnya penyakit DBD pada pasien anak di RSU. Anutapura periode Januari 2014-Maret 2015. Kata kunci : Derajat Beratnya DBD, Jumlah Leukosit, Jumlah Hematokrit
UJI IN-VITRO SENSITIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP BAKTERI SALMONELLA TYPHI DI KOTA PALU Perdana, Reska; Setyawati, Tri
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Tujuan penelitian: Meneliti dan menganalisis sensitivitas antibiotik terhadap bakteri Salmonella typhi di Kota Palu.Metode penelitian: Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni dengan menggunakan rancangan penelitian post test only control group design. Jumlah sampel 32, 16 diberi kloramfenikol, dan 16 diberi antibiotik amoksisilin. Pengujian uji sensitivitas antibiotik dilakukan dengan menggunakan metode difusi Kirby-bauer. Interpretasi hasil didasarkan pada zona hambat yang terbentuk dan disesuaikan dengan kriteria standar dari National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS). Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 32 sampel antibiotik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah.Hasil penelitian: Hasil uji sensitivitas antibiotik terhadap bakteri Salmonella typhi menggunakan metode difusi Kirby-Bauer menunjukkan bahwa antibiotik kloramfenikol sensitif, (100%) dengan rerata daya hambat sebesar 23,06 mm; dan antibiotik amoksisilin sensitif, (100%) dengan rerata daya hambat 21,13 mm. Penelitian tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara daya hambat yang terbentuk dari kloramfenikol dan amoksisilin.Kesimpulan : Kloramfenikol dan amoksisilin sensitif terhadap bakteri Salmonella typhi.Kata kunci: Salmonella typhi, kloramfenikol, amoksisilin, sensitivitas antibiotik.
POLIMORFISME GEN PADA PENDERITA ASMA BRONKIAL Setyawati, Tri
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Asma merupakan penyakit saluran pernafasan kronis yang paling banyak terjadi pada anak-anak terutama di negara berkembang. Namun, kini asma menjadi masalah serius karena bisa terjadi pada semua umur. Faktor genetik dan lingkungan sangat berperan terhadap peningkatan prevalensi asma. Beberapa regio pada kromosom yang mengandung gen-gen terkait asma telah diidentifikasi dan beberapa gen perannya telah diketahui.Identifikasi genetik pada penderita asma sangat penting untuk memahami patogenesis penyakit asma,Mereview berbagai penelitian ilmiah dan artikel mengenai penyakit asma bronkial pada anak-anak dan polimorfismenya. Pencarian dilakukan dengan menggunakan kata kunci spesifik melalui pubmed NCBI, dan google scholar.Beberapa gen yang telah berhasil diidentifikasi antara lain kromosom 17Q21, kromosom 5, kromosom 6, kromosom 7, kromosom 11q, kromosom 12,  dan kromosom 13q14. Hal ini menjadi kajian baru dalam hal penanganan dengan pendekatan genetika dan biomolekuler dengan memperhatikan skrining genom polimorfisme asma bronkial pada anak.Kata kunci: asma bronkial, polimorfisme, kromosom, biomolekuler.
PENINGKATAN HDL PLASMA PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 MELALUI TERAPI SINBIO EUBACTERIUM RECTALE DAN PATI GEMBILI (DIOSCOREA ESCULENTA) Setyawati, Tri
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan kondisi hiperglikemia kronis yang sering terjadi akibat resistensi insulin. Peningkatan kadar glukosa pada DM tipe 2 dapat memicu peningkatan lipid. Salah satu kondisi dislipidemia yang sering dijumpai pada DM tipe 2 diantaranya adalah penurunan kadar HDL kolesterol. HDL kolesterol memiliki peran penting dalam transport lipid dari jaringan termasuk pembuluh darah menuju ke hepar. Penurunan kadar HDL dapat meningkatkan faktor risiko penyakit kardiovaskuler pada DM tipe 2. Pemberian terapi butirogenik dengan kombinasi sinbio antara bakteri e. rectale dan pati Dioscorea esculenta dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah dan memperbaiki sensitivitas insulin sehingga kadar HDL serum darah meningkat kembali. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa sinbio butirogenik e. rectale dan Dioscorea esculenta dapat meningkatkan kadar HDL serum pada model tikus DM tipe 2. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimental with pre and post with control group design. Tikus yang digunakan adalah galur Wistar usia 3 bulan dengan berat 200-300 gram. Induksi DM tipe 2 dilakukan menggunakan Streptozotocin (STZ) 60 mg/kgBB dan Nikotinamid (NA) 120 mg/kgBB yang diberikan secara intraperitoneal. Injeksi nikotinamide diberikan 15 menit setelah injeksi intraperitoneal streptozotocin. Kadar HDL dianalisa pada saat setelah induksi STZ-NA (pre test) dan setelah 4 minggu perlakuan (post test). Terjadi penurunan kadar HDL serum pada kelompok DM kontrol yang hanya diberi pakan standar, sedangkan kelompok DM yang diberi sinbio butirogenik e. rectale dan Dioscorea esculenta mengalami peningkatan yang signifikan dengan nilai p < 0,05.Kata Kunci. Dyslipidemia, diabetes mellitus, dioscorea esculenta, HDL serum
Peroxisome Proliferator Activated Receptor-γ (Ppar- γ ) coactivator 1-α (PGC-1 α) Pada Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) dan Perannya dalam fungsi mitokondria Setyawati, Tri
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus Tipe 2 (DMT2) adalah kondisi hiperglikemia kronis akibat penurunan sensitivitas jaringan terhadap aksi insulin atau resistensi insulin. Kondisi ini menyebabkan gangguan metabolism di mitokondria yang ditandai dengan penurunan ekspresi Peroxisome Proliferator Activated Receptor-γ (Ppar- γ ) coactivator 1-α (PGC-1 α). Gangguan fungsi mitokondria  menyebabkan akumulasi lipid toksik di jaringan sehingga menghambat aksi insulin dalam metabolisme glukosa. Koaktivator transkripsional PGC-1α merupakan regulator fungsi mitokondria, biogenesis, dan respirasi jaringan Peningkatan ekspresi gen PGC-1α di jaringan, dapat meningkatkan oksidasi dan biogenesis mitokondria yang mengarah pada perbaikan dan peningkatan sensitivitas insulin. Tinjauan sistematis ini dilakukan untuk menampilkan kajian terhadap gen Peroxisome Proliferator Activated Receptor-γ (Ppar- γ ) coactivator 1-α (PGC-1 α) pada DMT2 dan Perannya dalam fungsi mitokondria. Mereview berbagai penelitian ilmiah dan artikel mengenai Peroxisome Proliferator Activated Receptor-γ (Ppar- γ ) coactivator 1-α (PGC-1 α) pada DMT2 dan Perannya dalam fungsi mitokondria. Pencarian dilakukan dengan menggunakan kata kunci spesifik melalui pubmed NCBI, dan google scholar. Gen Pgc-1α memiliki peran penting dalam fungsi mitokondria karena dapat mengkoaktivasi transkripsi enzim-enzim yang berperan dalam biogenesis mitokondria. Peningkatan ekspresi Pgc-1α dengan exercise, nutrisi dapat membantu memperbaiki resistensi insulin pada DMT2.Kata kunci: Diabetes mellitus Tipe 2,  Pgc-1α, hiperglikemia, resistensi insulin.
MANFAAT EKSTRAK DAUN SIRSAK (annona muricata) SEBAGAI ANTIHIPERGLIKEMIA PADA TIKUS WISTAR DIABETIK YANG DIINDUKSI ALOKSAN Setyawati, Tri; Nurjannah. A, Nurjannah. A; Azam, Ahmad
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Terapi dengan menggunakan obat sintetis memerlukan biaya yang tidak sedikit dan menimbulkan efek samping hal inilah yang mendorong masyarakat mulai beralih menggunakan pengobatan tradisional.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek dari daun sirsak (annona muricata) terhadap perbaikan kadar glukosa darah dan mengetahui dosis efektif ekstrak daun sirsak sebagai anti diabetik.Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratories pre test and post test with control group design, jumlah sampel 30 ekor tikus, menggunakan aloksan untuk menginduksi diabetik, dan kadar glukosa ditentukan dengan metode Glucose Oxidase-Phenol 4-Aminoantipirin (GOD-PAP), Analisis data menggunakan SPSS 15.00 for windows. Hasil: Ekstrak daun sirsak memiliki efek perbaikan kadar glukosa darah pada tikus wistar diabetik yang diinduksi aloksan dan kelompok ekstrak 800 mg memiliki efek penurunan kadar glukosa darah yang paling besar, dengan rata-rata penurunan nya 50,72 mg/dl, namun penurunannya tidak berbeda secara signifikan dengan kelompok glibenklamid.Kata kunci : Aloksan, Antihiperglikemi, Diabetes, dan Ekstrak Daun Sirsak
ANTIHIPERGLIKEMI PATI GEMBILI (DIOSCOREA ESCULENTA) DAN EUBACTERIUM RECTALE PADA MODEL TIKUS DIABETES YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN DAN NIKOTINAMID Setyawati, Tri; Oktiyani, Neni; Kusuma, Rio Jati; Setiawan, Tony Adi; Sunarti, Sunarti
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Diabetes merupakan salah satu penyakit degenaratif dengan prevalesi cukup tinggi di Indonesia. Diabetes tipe 2 memiliki prevalensi paling tinggi diantara jenis diabetes yang lain. Diabetes tipe 2 merupakan kondisi hiperglemia kronis yang umumnya disebabkan oleh resistensi insulin. Diet dengan resistant starch berpotensi untuk meningkatkan sensitivitas insulin pada penderita diabetes melalui butirat yang dihasilkan pada saat fermentasi di usus besar. Salah satu bahan pangan yang berpotensi dalam penanganan diabetes adalah gembili (Dioscorea esculenta). Eubcaterium rectale (e. rectale) merupakan bakteri butirogenik yang dapat meningkatkan produk butirat di dalam kolon.Tujuan. Tujuan penellitian ini adalah untuk mengetahui penurunan glukosa darah pada tikus Wistar yang diinduksi nikotinamide dan streptozotosin setelah pemberian diet gembili dan eubacterium rectale.Metode. Penelitian ini menggunakan desain pre dan posttest kontrol. Tikus jantan Wistar 3 bulan, dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol sehat (K1), kelompok yang diinduksi Streptozotocin (STZ) dan nikotinamide(NA) tanpa terapi (K2), kelompok yang diinduksi STZ dan NA dengan pemberian e. ractale (K3), kelompok induksi ditambah pati gembili (K4), dan kelompok induksi dengan sinbio pati gembili dan e. rectale (K5). Dengan lama intervensi 4 minggu.Hasil. Terjadi penurunan kadar glukosa darah setelah intervensi 4 minggu yaitu antara kelompok K2 dan K3, K4 dan K5 dengan nilai signifikansi p < 0,05.Kata kunci: diabetes tipe 2, Dioscorea esculenta, resistant starch, butirat, resistensi insulin, sensitivitas insulin.
INHIBITION OF BETEL LEAF EXTRACT (Piper Betle Linn) AGAINST Candida Albicans Chairunnisa, Siti; Setyawati, Tri; Nursyamsi, Nursyamsi
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Candida albicans adalah jamur yang dapat menyebabkan infeksi pada bagian superfisial tubuh kita. Beberapa faktor dapat memicu kearah  patogen yang lebih serius. Umumnya, jamur ini merupakan flora normal. Pada kebanyakan individu justru kurang menguntungkan. Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal adalah daun sirih (Piper betle linn) yang dapat dijumpai di daerah tropis. Daun sirih diyakini memiliki khasiat karminatif, afdrodisiak, antioksidan, tonik, laksatif, dan meningkatkan nafsu makan. Kandungan minyak atsirinya juga dapat bekerja sebagai antikuman dan antijamur.Tujuan : Untuk mengetahui efek antijamur ekstrak daun sirih (Piper betle linn) terhadap jamur Candida albicansMetode : Jenis penelitian ini adalah eksperimental posttest control group only design dengan pengujian aktivitas antijamur menggunakan metode difusi agar dengan mengukur zona hambat yang terbentuk. Konsentrasi ekstrak daun sirih yang diuji adalah 10%, 20%, 40%, dan 100% dengan Ketokonazole sebagai kontrol positif dan akuades kontrol negatif. Masing-masing perlakuan direplikasi sebanyak enam kali.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih (Piper betle linn) dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans pada semua konsentrasi yang di ujikan. Dari hasil ini diperoleh nilai kadar hambat minimal (KHM) adalah 10%. Hasil uji statistik dengan menggunakan one-way ANOVA didapatkan nilai signifikasi p < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan signifikan pengaruh ekstrak daun sirih yang diberikan kepada jamur Candida albicans.Kesimpulan : Ekstrak daun sirih ( Piper betle linn ) memilki efek antijamur terhadap jamur Candida albicansKata kunci : Candida albicans, ekstrak daun sirih, Piper betle linn, antijamur, Kadar hambat minimal (KHM).