vera vera, vera
Department of Urology, Faculty of Medicine/Padjadjaran University, Hasan Sadikin General Hospital, Bandung.

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

A 87 YEARS OLD MALE WITH GIANT PROSTATIC HYPERPLASIA AND BLADDER STONES, THE LARGEST PROSTATE REPORTED IN INDONESIA Vera, Vera; Pramod, Sawkar Vijay
Indonesian Journal of Urology Vol 24 No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Urological Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32421/juri.v24i2.277

Abstract

Objective: The aim of this article is to report a case of Giant Prostatic Hyperplasia and see the correlation between volume of prostate and benign prostate hyperplasia (BPH) symptoms. Giant BPH is defined as a prostate weight over 200 g or 500 g; the lower threshold was suggested by Japanese authors. It’s extremely rare, with only 16 cases exceeding 500 g till 2013. Case presentation: Patient was an 87-year-old male with chief complaint of haematuria. We performed Transabdominal Ultra Sonography (USG) on the patient. Discussion: Transabdominal USG showed enlarged prostate with median lobe protruding into the bladder measuring 86 x 102 x 76 mm and 348 cc in volume. We performed transvesical prostatectomy. The large prostate was enucleated completely in one piece with 23 stones measuring about 1 cm in size. Grossly, the mass measured 12 x 8 cm and weighed 300 g. Histopathology evaluation revealed BPH. Conclusion: To our knowledge, this is the first giant BPH case being reported in Indonesia. We would like to emphasize that severity of BPH symptoms does not correlate with volume of the prostate. Unfortunately, we can not conclude that there were correlation between body mass index (BMI) and volume due to lack of BMI data from the literature.
MATURE RETROVESICAL TERATOMA IN AN ADULT MALE: A CASE REPORT AND LITERATURE REVIEW Vera, Vera; Safriadi, Ferry
Indonesian Journal of Urology Vol 23 No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Urological Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32421/juri.v23i2.262

Abstract

Objective:We reported a case of mature (benign) cystic retrovesical teratoma. Retrovesical teratoma is a very rare extragonadal tumour, especially in adults, moreover in male patients. Grading and classification of teratoma is important for management and prognosis.Material & method:The patient in this study was a 49-year-old male who had chief complaints of abdominal mass and difficulty in urination. We performed Ultrasonography (USG) and Abdominal Multislice Computed Tomography (MSCT) scan on the patient. Results: USG showed a large mass in the pelvic region demonstrating a well-defined hypoechoic mass with septations at posterior of vesica urinaria. MSCT scan showed a large inhomogeneous hypodense mass with thin septations as well as multiple areas of fatty collections and coarse calcifications in pelvic region. We performed complete surgical resection per laparotomy. Grossly, the mass measured 12 x 10 x 5 cm and had rubbery consistency. Cut section of the mass revealed multilocular cystic spaces, whitish-gray walls, scattered yellowish adipose tissue collection, mucus secretions, and areas of calcifications. Pathological diagnosis of the resected tumour was a matured teratoma. The diagnosis was made because the tumour showed signs of a mature teratoma such as lined by stratified squamous and respiratory columnar eptithelium, fat and muscle tissue, nerve tissue, and calcifications. Conclusion: There were no neuroepithelium appearance. To our knowledge, this is the first retrovesical teratoma case being reported in Indonesia.
Determinan Diagnostik Klinis Defisiensi Vitamin D pada Wanita Berusia Lebih dari 50 Tahun Vera, Vera; Setiati, Siti; Roosheroe, Arya Govinda
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Prevalensi deifisiensi vitamin D pada wanita 50 tahun ke atas di Indonesia cukup tinggi namun pemeriksaan kadar vitamin D serum sangat mahal. Oleh karena itu, diperlukan alat penyaring defisiensi vitamin D yang cukup ekonomis dan sederhana untuk dikerjakan di layanan kesehatan primer.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian diagnostik, menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) sehubungan dengan pengambilan data hanya dilakukan sewaktu saja. Penelitian ini dilakukan di Kotamadia Bandung selama Agustus–Oktober 2012. Pada 240 subjek, dilakukan pengumpulan data berupa karakteristik responden, diabetes mellitus, penyakit ginjal kronik, riwayat jatuh, riwayat fraktur setelah menopause, nyeri tulang, skor paparan sinar matahari, skor proteksi sinar matahari, status gizi, kinerja fisik (5 timed chair-stands dan uji sikap tandem), status kesehatan (jumlah dan derajat berat penyakit kronis), kadar vitamin D serum. Untuk pengujian statistik hubungan antara dua variabel kualitatif dikotom dilakukan dengan uji Chi-square dilanjutkan dengan uji multivariat.Hasil. Penelitian ini menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara diabetes mellitus, skor proteksi matahari, kelemaan otot ekstremitas bawah dengan defiisensi vitamin D. Berdasarkan ketiga determinan tersebut, dapat dibuat sistem skoring yang dapat digunakan untuk menyaring kelompok wanita 50 tahun ke atas yang mempunyai probabilitas besar menderita defisiensi vitamin D.Simpulan. Determinan diagnostik defisiensi vitamin D berat yang ditemukan pada penelitian ini meliputi: adanya diabetes melitus, skor proteksi matahari, kelemahan otot tungkai bawah. Sistem skoring untuk menyaring defisiensi vitamin D berat pada wanita berusia 50 tahun ke atas dapat dibuat berdasarkan ketiga determinan tersebut di atas. Bobot untuk masing-masing determinan adalah: 1 untuk diabetes mellitus dan kelemahan otot tungkai bawah serta 2 untuk skor proteksi matahari. Bila penjumlahan dari skor ketiga komponen tersebut ³2, maka subjek tersebut diprediksi menderita defisiensi vitamin D berat.
PENERAPAN SIRKUIT HAMILTON UNTUK MENENTUKAN RUTE TERPENDEK PERJALANAN SALESMAN PT HEALTH WEALTH INTERNATIONAL (HWI) Wijaya, Edi; Vera, Vera
Jurnal TIMES Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : STMIK TIME

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.691 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merancang aplikasi rute perjalanan salesman dengan Sirkuit Hamilton pada PT. Health Wealth International yang mencakup pembelian, penjualan, dan rute perjalanan. Metodologi yang digunakan untuk melakukan proses analisis dan perancangan pada penelitian ini adalah metode Breadth First Search (BFS). Tools yang digunakan untuk melakukan analisis dan desain adalah Data Flow Diagram (DFD). Hasil dari penelitian ini adalah Aplikasi Rute Perjalanan dengan Sirkuit Hamilton pada PT Health Wealth International yang terkomputerisasi yang dapat digunakan untuk menyediakan informasi rute perjalanan yang berguna dalam kegiatan pengiriman barang perusahaan.
Analisis Laporan Kejadian Jatuh pada Pasien Lansia Saat Rawat Inap di Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode 2014-2016 Vera, Vera
Journal of Medicine and Health Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v3i2.3127

Abstract

Jatuh merupakan salah satu masalah yang dominan terjadi pada lansia. Jatuh didefinisikan sebagai suatu kejadian yang mendadak, tidak diharapkan, dan tidak disengaja yang menyebabkan pasien berada di tanah atau level yang lebih rendah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, menggunakan data laporan kasus jatuh yang masuk ke komite patient safety, dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik klinis dari pasien lansia yang jatuh saat dirawat inap di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Selama periode 2014-2016, didapatkan 12 laporan kejadian pasien lansia jatuh saat dirawat inap di Rumah Sakit Immanuel, komorbiditas yang paling banyak adalah diabetes melitus. Simpulan yang didapat, kejadian jatuh pada pasien lansia yang dirawat inap di RS Immanuel lebih banyak terjadi pada wanita dengan usia > 60 tahun, terjadi malam hari, di sekitar tempat tidur, dan saat tidak didampingi. Konsumsi lebih dari satu obat oleh pasien lansia sebaiknya dihindari karena berpotensi meningkatkan risiko jatuh dan menyebabkan hasil perawatan kurang baik.Kata kunci: jatuh, lansia, rawat inap