Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Produksi Mikroalga sebagai Biofuel Basmal, Jamal
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): June 2008
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.v3i1.168

Abstract

Biofuel  yang berasal dari  tanaman  darat  atau  laut  seperti mikroalga  sudah mulai  diupayakanuntuk menjadi  energi  alternatif  pengganti minyak  bumi. Berdasarkan  hasil  penelitian,  diketahuibahwa minimal  14  spesies mikroalga  berpotensi untuk menghasilkan biofuel dengan  kandunganminyak  antara  15–77%  dari  bobot  kering mikroalga. Untuk menghasilkan  1  kg  (bk)  biomassadiperlukan media  tumbuh  air  laut  sebanyak  1m3. Di  samping  kandungan minyaknya  dapatdiekstrak,  limbah  padatnya  juga  dapat  dipergunakan  untuk  pakan  ternak  atau  bahan  bakufermentasi  untuk menghasilkan  biomethane.  Tantangan  yang  dihadapi  dalam meningkatkanproduksi  biomassa mikroalga  adalah  ketersediaan  karbon  dioksida. Selain  itu,  dalam  prosesekstraksi  juga  diperlukan  suatu  alat  yang  dapat memecah  dinding  sel mikroalga  sehinggakandungan minyaknya  dapat  diekstrak  semaksimal mungkin.
Pengaruh Waktu Pengempaan Terhadap Karakteristik Papan Partikel Dari Limbah Padat Pengolahan Gracilaria Sp Fithriani, Diini; Nugroho, Tri; Basmal, Jamal
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i2.395

Abstract

Penelitian pemanfaatan limbah padat rumput laut (Gracilaria sp) sebagai bahan baku untuk pembuatan papan partikel telah dilakukan. Empat perlakuan waktu pengempaan digunakan untuk mengetahui optimasi proses. Perlakuan waktu pengempaan tersebut adalah 0, 5, 10 dan 25 menit pada suhu 150ºC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pengempaan yang optimum adalah 0 menit terhitung sejak suhu tercapai 150ºC, yang menghasilkan kerapatan 0,09 g/cm3, kadar air 2,5%, daya serap air 14,9%, pengembangan linier pada 2 jam 0,2% dan pada 24 jam 0,5%, pengembangan tebal pada 2 jam 0,8% dan pada 24 jam 1,9%, modulus patah 154 kg/cm2, modulus elastisitas 14804,32 kg/cm2 dan kekuatan rekat internal 6 kg /cm2.
Pemurnian Minyak Ikan Patin dari Hasil Samping Pengasapan Ikan Bandol Utomo, Bagus Sediadi; Basmal, Jamal; Hastarini, Ema
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i2.224

Abstract

Isi perut merupakan hasil samping pengasapan ikan patin (Pangasius hypophthalmus) yang jumlahnya mencapai 5-6%/hari dari jumlah ikan yang diasap. Jumlah hasil samping yang besar tersebut apabila tidak diolah dapat mencemari lingkungan. Masyarakat pengolah di Kabupaten Kampar, Riau telah mengekstraksi isi perut tersebut menjadi minyak ikan kasar dengan produksi 110 L/hari. Untuk itu diperlukan teknologi pemurnian yang dapat meningkatkan nilai ekonomi minyak ikan kasar yang ada. Penelitian ini bertujuan melakukan pemurnian minyak kasar hasil samping pengasapan ikan patin dengan menggunakan empat metode pemurnian. Masing-masing metode pemurnian tersebut memiliki perbedaan seperti konsentrasi bentonit, waktu dan suhu proses, konsentrasi NaOH pada proses netralisasi, dan penggunaan asam sitrat atau natrium klorida pada proses degumming. Bahan penelitian yang digunakan adalah dua jenis minyak ikan patin kasar yaitu hasil ekstraksi isi perut ikan patin dengan pengukusan dan hasil ekstraksi dengan pemanasan. Sebelum dan setelah dimurnikan, minyak ikan dianalisis bilangan asam lemak bebas, bilangan peroksida, bilangan iodin, warna, dan profil asam lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada minyak ikan hasil ekstraksi dengan pengukusan yang dimurnikan menggunakan metode I, terjadi penurunan nilai asam lemak bebas sebesar 50,79%; peroksida sebesar 23,75%; dan peningkatan angka iodin 20,99%. Sedangkan pada minyak ikan hasil ekstraksi dengan pemanasan yang telah dimurnikan menggunakan metode II terjadi penurunan nilai asam lemak bebas sebesar 50,30%; peroksida 49,77%; dan peningkatan angka iodin 30,92% Pemurnian minyak ikan patin terbaik dihasilkan dari minyak hasil ekstraksi dengan pengukusan yang dimurnikan dengan metode I dan minyak hasil ekstraksi dengan pemanasan yang dimurnikan dengan metode II karena telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh International Association of Fish Meal Manufactures, International Fish Oil Standard, dan standar farmakope Indonesia sebagai minyak ikan mutu pangan.
MUTU SEMIREFINED CARRAGEENAN (SRC) YANG DIPROSES MENGGUNAKAN AIR LIMBAH PENGOLAHAN SRC YANG DIDAUR ULANG Basmal, Jamal; Utomo, Bagus Sediadi Bandol
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.430

Abstract

Telah dilakukan penelitian mutu semi refined carrageenan (SRC) yang diproses menggunakan air limbah pengolahan SRC Yang didaur ulang. Air limbah pengolahan SRC terlebih dahulu dinetralkan, dikoagulasi, diflokulasi, dan disaring menggunakan zeolit dan arang aktif. Air yang sudah diolah tersebut selanjutnya digunakan untuk proses pengolahan SRC berikutnya. Untuk melihat optimalisasi penggunaan air hasil daur ulang terhadap penurunan mutu fisiko kimia SRC yang dihasilkan, dilakukan 5 kali daur ulang berturut-turut. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa limbah cair pengolahan SRC dapat digunakan kambali untuk pengolahan SRC berikutnya. Berdasarkan parameter kekuatan gel karaginan yang dihasilkan, ternyata terjadi peningkatan kekuatan gel dari 806 g/cm² menjadi 1147 g/cm² untuk SRC yang diolah/dicuci dengan air limbah yang telah mengalami 4 kali proses daur ulang. Pada tahap ini SRC mempunyai kadar abu 16,0%, abu tak larut asam 0,04%, kadar sulfat 3,9%, dan kadar air 12,3%.