Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

THE RECEPTION OF DAJAL STORY IN THE SAIFU AD-DHARIB Fatkhullah, Faiz Karim; Nur, Tajudin; Darsa, Undang Ahmad
Humanus Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.568 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v17i1.8779

Abstract

This study reveals the story of Dajjal who experienced a shift in interpretation. This is due to the response of each reader with a different background. To disclose it, this research uses the reception theory proposed by Hans Robert Jauss. This research is the result of philology research from Saifu ad-Dharib (SaD) script. This manuscript was written by KH. Tubagus Ahmad Bakri, Purwakarta, West Java, with a thickness of 32 pages. Meanwhile, the section of the manuscript taken only the story of Dajjal contained in Chapter 4 and part of Chapter 5. From the results of the manuscript SaD taken only transliteration and translation. From the results of the study, it was found that the author of SaD responded that Dajjal in question is Ibn Sayyad. It is realized by the author that there are two opinions concerning the birth or previous Dajjal, but the author responds and interprets that Dajjal has been born ie that existed in the time of the Prophet Muhammad. In addition, Dajjal will come out with 70,000 followers who are mostly artists. The great Dajjal before the exit will be preceded by the existence of the small Dajjal-Dajjal which is now emerging, ie Persatuan Islam, Muhammadiyah, Wahabi, and Shi'a. This manuscript was born at the time of the condition of Muslims who are still in conflict, so the reception of Dajjal refers to the organization of the period above. The manuscripts of his day can be used as propaganda material.Keywords: Dajjal, reception theory, saifu ad-dharib RESEPSI CERITA DAJJAL DALAM NASKAH SAIFU AD-DHARIBAbstrakPenelitian ini  mengungkap cerita Dajjal yang mengalami pergeseran tafsir. Hal itu disebabkan karena adanya tanggapan dari setiap pembaca yang berlatar belakang berbeda. Untuk mengungkap itu, maka penelitian ini menggunakan teori resepsi yang dikemukakan oleh Jauss. Penelitian ini merupakan hasil penelitian filologi dari naskah Saifu ad-Dharib. Naskah ini ditulis oleh KH. Tubagus Ahmad Bakri, Purwakarta, Jawa Barat, dengan ketebalan naskah 32 halaman. Sementara itu, bagian naskah yang diambil hanya cerita Dajjal yang terdapat pada Bab 4 dan sebagian Bab 5. Dari hasil naskah SaD yang diambil hanya transliterasi dan terjemahan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penulis SaD menanggapi bahwa Dajjal yang dimaksud adalah Ibnu Sahayyad. Disadari oleh penulisnya bahwa ada dua pendapat terkait lahir atau belumnya Dajjal, namun penulis menanggapi dan menafsirkan bahwa Dajjal telah lahir yakni yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw. Selain itu, Dajjal akan keluar dengan disertai 70.000 pengikut yang sebagian besar adalah seniman. Dajjal besar sebelum keluar akan didahului dengan adanya Dajjal-Dajjal kecil yang sekarang ini sudah muncul, yaitu Persatuan Islam, Muhammadiyah, Wahabi dan Syi’ah. Naskah ini lahir di saat kondisi umat Islam yang masih saling bersitegang, sehingga resepsi terhadap Dajjal merujuk pada organisasi masa di atas. Naskah pada zamannya dapat digunakan sebagai bahan propaganda.Kata kunci: Dajjal, teori resepsi, saifu ad-dharib
REKONSTRUKSI KERAJAAN GALUH ABAD VIII-XV Lubis, Nina Herlina; Muhzin Z., Mumuh; Sofianto, Kunto; Mahzuni, Dade; Widyonugrohanto, Widyonugrohanto; Mulyadi, R.M.; Darsa, Undang Ahmad
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5142

Abstract

The title of this research is Reconstruction of Galuh Kingdom in 8th-15thcentury. Issue that will be studied is how to unravel the location of the capital and palace shape of Galuh Kingdom. To answer the issue is used the historical method which consists of four steps, namely heuristic, criticism, interpretation, and historiography. Result of this research is that the existence of Galuh Kingdom is a history, not a myth. Historical sources which support the many arguments of its existence including inscriptions, foreign news, ancient manuscripts, social facts and mental facts. In addition, the life of its existence as long as eight centuries shows that Galuh Kingdom is not just existent but also strong because it is supported by a variety of solid and coherent system. Concerning about the location of capital and shape of the Kingdom , it still needs to explore further. Judul penelitian ini adalah Rekonstruksi Galuh Raya di abad ke-8-15. Masalah yang akan dipelajari adalah bagaimana mengungkap lokasi dari bentuk modal dan istana Kerajaan Galuh. Untuk menjawab masalah tersebut digunakan metode sejarah yang terdiri dari empat langkah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini adalah bahwa keberadaan Kerajaan Galuh adalah sejarah, bukan mitos. Sumber-sumber sejarah yang mendukung banyak argumen keberadaannya termasuk prasasti, berita asing, naskah kuno, fakta sosial dan fakta mental. Selain itu, kehidupan keberadaannya selama delapan abad menunjukkan bahwa Kerajaan Galuh tidak hanya ada tapi juga kuat karena didukung oleh berbagai sistem yang solid dan koheren. Mengenai tentang lokasi ibukota dan bentuk Kerajaan, masih perlu untuk menjelajahi lebih lanjut. 
THE POLITICS OF THE SUNDANESE KINGDOM ADMINISTRATION IN KAWALI-GALUH Widyonugrahanto, Widyonugrahanto; Lubis, Nina Herlina; Muhzin Z., Mumuh; Mahzuni, Dede; Sofianto, Kunto; Mulyadi, R.M.; Darsa, Undang Ahmad
Paramita: Historical Studies Journal Vol 27, No 1 (2017): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v27i1.9187

Abstract

The focus of the study is the politics of the Sundanese Kingdom administration during a period when the power was centered in Kawali-Galuh. Astana Gede Kawali is a historical site that used to be the center of the Sundanese kingdom as solidly proven by the existence of a number of remaining historical plaques found in the site.  The study employed a four-step historical method that involved heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The main concept underlying the study is Montesquieu’s Division of Power, also known as the Trias Politica. In general, the politics of the Sundanese kingdom administration remained unchanged despite the shifts of the administrative center to Galuh, Kawali, and Pakuan. The Sundanese kingdoms actually adopted a unique concept called Tri Tangtu di Buana, according to which administrative power was distributed triadically among Prebu, Rama, and Resi. The concept of Tri Tangtu Buana is similar to that of Montesquieu’s Trias Politica, which is commonly adopted by today’s modern states. Penelitian ini adalah tentang politik pemerintahan Kerajaan Sunda ketika kekuasaan berpusat di Kawali-Galuh. Astana Gede Kawali adalah salah satu situs peninggalan bersejarah yang merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Sunda Kawali-Galuh. Beberapa prasasti tentang Kerajaan Sunda yang ditemukan disana adalah bukti keras tentang itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Sejarah yang didalamnya terdapat empat tahapan yaitu Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah Konsep Pembagian Kekuasaan Montesquieu yang terkenal dengan namaTrias Politica. Politik pemerintahan dalam kerajaan Sunda pada umumnya adalah sama walaupun pusat pemerintahannya berpindah pindah dari Galuh, Kawali dan Pakuan. Pemerintahan Kerajaan Sunda memiliki kekhasannya tersendiri dengan konsepnya Tri Tangtu di Buana yang didalamnya membagi kekuasaan pemerintahan dalam Prebu-Rama-Resi.Tri Tangtu di Buana ini memiliki kemiripan dengan pembagian kekuasaan yang terkenal dengan sebutan Trias Politica dari Montesquieu yang sekarang banyak digunakan dalam negara modern. 
Perkembangan Ronggeng Sebagai Seni Tradisi Di Kabupaten Pangandaran Lubis, Nina Herlina; Darsa, Undang Ahmad
PANGGUNG Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i1.16

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dan lapangan mengenai potensi sosial, ekonomi, politik, dan budaya Kabupaten Pangandaran yang dibiayai oleh Dikti tahun Anggar- an 2014. Permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini adalah bagaimana sejarah seni ronggeng itu? Apakah penyajian seni ronggeng tersebut mengalami perubahan dari waktu ke waktu? Bagaimana upaya pemerintah dalam melestarikan seni ronggeng? Untuk menjawab pertanyaan itu, metode penelitian yang dipergunakan adalah metode sejarah karena penelitian ini dilaku- kan dalam perspektif historis. Dalam implementasinya, metode sejarah meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Untuk keperluan analisis, tulisan ini dileng- kapi dengan konsep dan teori kesenian yang relevan dengan permasalahan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya, kesenian ronggeng menunjukkan sifat sakral karena terkait dengan kepercayaan samanisme dan dalam perkembangannya, bergeser menjadi bersifat profan. Unsur-unsur negatif yang melekat dalam kesenian ronggeng, secara perlahan dihapus atau diubah sehingga dipandang tidak lagi melanggar norma sosial. Kata kunci: Pangandaran, ronggeng, sejarah, kesenian tradisional
KONTRIBUSI PENELITIAN FILOLOGI TERHADAP PERKEMBANGAN STUDI KEISLAMAN Ibrahim, Arif; Kosasih, Ade; Ma'mun, Titin Nurhayati; Darsa, Undang Ahmad
HUMANIKA Vol 25, No 2 (2018): Juli-Desember
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.07 KB) | DOI: 10.14710/humanika.v25i2.20129

Abstract

Artikel ini berjudul“Kontribusi Penelitian Filologi Terhadap Pengembangan Studi Keislaman”Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dan bertujuan untuk mengungkap kegunaan sebuah penelitian filologi yang bernaskah islami terhadap perkembangan studi keislaman Nusantara. Ruang lingkup penelitian ini adalah kontribusi naskah-naskah lama islami terhadap studi keislaman saat ini. Penulis menampilkan tiga penelitian yang membuktikan kontribusi filologi terhadap studi keislaman, diantaranya disertasi Syarah Nashaihul ‘Ibad di Banten dan dua tesis yaitu naskah fiqih sunda islami di Kuningan dan Naskah At-Tariqah Al-Wadihah Ila Asrari Al-Fatihah tentang tafsir surat Al-Fatihah.AbstractThis article titled "The Contribution of Philology Research to the Development of Islamic Studies" This research uses descriptive analytic method and its aim is revealing the usefulness of a philology research with Islamic manuscriptfor theislamic studiesdevelopment of the archipelago. The scope of this study is the contribution of old Islamic manuscripts for modern Islamic studies. The author presents three research that prove the philology's contribution for Islamic studies, they are the dissertation of Syarah Nashoihul 'Ibad in Banten and two theses namely Fiqih script of Sunda Islami in Kuningan and the At-Tariqah Al-Wadihah Ila Asrari Al-Fatihah's Text of Al-Fatihah.  
REKONSTRUKSI KERAJAAN GALUH ABAD VIII-XV Lubis, Nina Herlina; Muhzin Z., Mumuh; Sofianto, Kunto; Mahzuni, Dade; Widyonugrohanto, Widyonugrohanto; Mulyadi, R.M.; Darsa, Undang Ahmad
Paramita: Historical Studies Journal Vol 26, No 1 (2016): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v26i1.5142

Abstract

The title of this research is Reconstruction of Galuh Kingdom in 8th-15thcentury. Issue that will be studied is how to unravel the location of the capital and palace shape of Galuh Kingdom. To answer the issue is used the historical method which consists of four steps, namely heuristic, criticism, interpretation, and historiography. Result of this research is that the existence of Galuh Kingdom is a history, not a myth. Historical sources which support the many arguments of its existence including inscriptions, foreign news, ancient manuscripts, social facts and mental facts. In addition, the life of its existence as long as eight centuries shows that Galuh Kingdom is not just existent but also strong because it is supported by a variety of solid and coherent system. Concerning about the location of capital and shape of the Kingdom , it still needs to explore further. Judul penelitian ini adalah Rekonstruksi Galuh Raya di abad ke-8-15. Masalah yang akan dipelajari adalah bagaimana mengungkap lokasi dari bentuk modal dan istana Kerajaan Galuh. Untuk menjawab masalah tersebut digunakan metode sejarah yang terdiri dari empat langkah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini adalah bahwa keberadaan Kerajaan Galuh adalah sejarah, bukan mitos. Sumber-sumber sejarah yang mendukung banyak argumen keberadaannya termasuk prasasti, berita asing, naskah kuno, fakta sosial dan fakta mental. Selain itu, kehidupan keberadaannya selama delapan abad menunjukkan bahwa Kerajaan Galuh tidak hanya ada tapi juga kuat karena didukung oleh berbagai sistem yang solid dan koheren. Mengenai tentang lokasi ibukota dan bentuk Kerajaan, masih perlu untuk menjelajahi lebih lanjut. 
Existence of Sundanese Manuscripts as a Form of Intellectual Tradition in the Ciletuh Geopark Area Darsa, Undang Ahmad; Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.887 KB) | DOI: 10.26811/peuradeun.v8i2.369

Abstract

The variety of Sundanese manuscripts are still scattered in individual communities, as well as those already stored in various libraries and museums in West Java. The Sundanese script is still stored in the Ciletuh Geopark, Sukabumi District. This research is interesting because of the discovery of several manuscripts around the southern Sukabumi area, especially at Surade, Ciemas, and Jampang Kulon areas. Descriptive method of comparative analysis that was used trying to describe the data in detail and thoroughly, analyze it carefully, and compare those target accurately between several texts studied. While the method of the study in the form of text critique method, referred to the method of a single script, through the standard edition. The method of content review used the method of cultural studies, which reveals the existence and function of the script pragmatically in the community, especially in the Ciletuh Geopark. The results of the research can be considered as "the documents and local wisdom of Sundanese culture", which deserves to be addressed wisely in the hope that the content contained in it is able to reveal the history of the life of Ciletuh Geopark, either through written tradition, folklore, and culture.
Tata Ruang Kosmologis Masyarakat Adat Kampung Naga berbasis Naskah Sunda Kuno Sumarlina, Elis Suryani Nani; Permana, Rangga Saptya Mohamad; Darsa, Undang Ahmad
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25163

Abstract

Cosmologically, humans are seen as the microcosm of the universe whose entire life must always carry out all the torments or teachings of the Sanghyang Darma. That is the ideal human who can reach eternal heaven or nirvana according to the Sanghyang Raga Dewata (SRD) manuscript, one of the lontar manuscripts and the ancient Sundanese language of the sixteenth century AD. The cosmological concept of spatial Sundanese society, based on several Sundanese manuscripts of the XVI century AD, is triad, triune or triumvirate. Sundanese people have a view of parallels between the macrocosm and the microcosm, between the universe and the human world. This order seeks to find the meaning of the world according to its existence. This paper presents the cosmological layout of the Kampung Naga indigenous people, based on the Ancient Sundanese XVI century AD, which is examined through descriptive analysis research methods, and philological and cultural studies methods. The cosmological concept of the Kampung Naga community is closely related to the concept known as Tri Tangtu Di Bumi, which includes ‘tata wilayah', 'tata wayah', and 'tata lampah', all of which are interconnected with one another, according to their customs and traditions. AbstrakSecara kosmologis, manusia dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya, seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan segala siksa atau ajaran Sanghyang Darma.  Itulah manusia ideal yang kelak dapat mencapai surga abadi atau nirwana menurut naskah Sanghyang Raga Dewata (SRD), salah satu naskah lontar beraksara dan berbahasa Sunda kuno abad ke-16 Masehi. Konsep tata ruang masyarakat Sunda secara kosmologis, berdasarkan beberapa naskah Sunda abad  ke-16 Masehi, bersifat tiga serangkai, tritunggal atau triumvirate. Masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Dalam tatanan ini, berupaya mencari makna dunia menurut eksistensinya. Tulisan ini menyajikan kosmologis tata ruang masyarakat adat Kampung Naga, berbasis naskah Sunda Kuno abad ke-16 Masehi, yang dikaji melalui metode penelitian deskriptif analisis, dan kajian filologi dan budaya. Konsep kosmologis masyarakat Kampung Naga seperti itu, berkaitan erat dengan konsep yang dikenal dengan sebutan Tri Tangtu di Bumi, yang meliputi ‘tata wilayah’, ‘tata wayah’,  dan‘tata lampah’, yang ketiganya saling berhubungan satu sama lain, sesuai dengan adat dan tradisi mereka.
The Values of Local Wisdom in Wawacan Pandita Sawang Manuscripts Suherman, Agus; Ma’mun, Titin Nurhayati; Darsa, Undang Ahmad; Ikhwan, Ikhwan
LOKABASA Vol 12, No 2 (2021): Vol. 12 No. 2, Oktober 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i2.40613

Abstract

Abstract: Local wisdom is believed to be a form of internalization of the values embraced by a particular society or community, which are maintained and disseminated from generation to generation, both through oral and written traditions, one of which is through Wawacan Pandita Sawang manuscripts. Employing a qualitative descriptive approach and philological methods, this study is aimed to explore the values of local wisdom contained in the ancient Sundanese manuscripts. The results showed that the local wisdom recorded in the ancient manuscripts has long been lived and practiced by the people, so that it has formed the character of Sundanese people in carrying out their lives, especially those related to the relationship between humans and God, humans and humans, and humans with their environment. Therefore, the study of this manuscript will reopen and at the same time revitalize the values of local wisdom that once lived in Sundanese society as a comparison to develop values of the present time.