Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Meningkatkan keterampilan procedural dan keterampilan berpikir tinggi mahasiswa melalui model pemecahan masalah pada perkuliahan elektronika dasar Ratu, Tursina; Erfan, Muhammad
Jurnal Pendidikan Fisika dan Keilmuan (JPFK) Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERISTAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.971 KB) | DOI: 10.25273/jpfk.v4i1.2017

Abstract

Berlakunya Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) mengharuskan jenjang Sarjana memiliki kompetensi lulusan mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Standar ini secara tidak langsung menghendaki mahasiswa untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan permasalahan, khususnya Elektronika Dasar. Elektronika Dasar adalah mata kuliah dengan konsep dasar fisika yang mengedepankan kemampuan analisis sintesis. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan prosedural dan keterampilan berpikir tingkat tinggi melalui model pemecahan masalah. Jenis penelitian yang digunakan berupa penelitian tindakan kelas dengan teknik pengambilan data meliputi lembar observasi dan tes. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Elektronika Dasar dengan model pemecahan masalah dapat meningkatkan keterampilan prosedural dan keterampilan berpikir tingkat tinggi terlebih pada ranah analisis dan sintesis mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Samawa pada perkuliahan Elektronika Dasar.
Leadership of School Principal and Advertising Question to the Teachers Work Motivation Indraswati, Dyah; Satrio, Tito; Maulyda, Mohammad Archi; Erfan, Muhammad; Widodo, Arif; Rahmatih, Aisa Nikmah
International Journal of Advances in Social and Economics Vol 2, No 3 (2020)
Publisher : Institute of Indonesian Education Studies Independent (IIES Independent)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33122/ijase.v2i3.165

Abstract

This study aims to describe about the effect of (1) leadership towards work motivation, (2) adversity quotient towards work motivation, and (3) leadership towards adversity quotient. The hypotheses of the this research are: (1) there is direct positive effect on leadership towards work motivation, (2) there is direct positive effect on adversity quotient towards work motivation, and (3) there is direct positive effect on leadership towards adversity quotient. The method used in this research was survey. The population was all of junior high school state teachers in District Grogol Petamburan West Jakarta and the total were 189 participants. The  results  showed  that,  firstly,  there was direct positive  effect  on leadership  towards  work motivation with the correlation coefficient r13 = 0,896, and path coefficient p31 at the number 0,514 with α = 0,05. Secondly, there direct was positive effect on adversity quotient towards work motivation with the correlation coefficient r23 = 0,911, and path coefficient p32 at the number 0,561 with α = 0,05. Thirdly, there was direct positive effect on leadership towards adversity quotient with the correlation coefficient r12 = 0,681, and path coefficient p21 at the number 0,681 with α = 0,05. The results of this study are useful for increasing work motivation through increased leadership and increasing adversity quotient through increased leadership.
Identifikasi Level Kognitif pada Soal Ujian Akhir Semester Gasal Kelas IV Sekolah Dasar Erfan, Muhammad; Nurwahidah; Anar, Ashar Pajarungi; Maulyda, Mohammad Archi
Jurnal Kiprah Vol 8 No 1 (2020): Jurnal Kiprah
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.467 KB) | DOI: 10.31629/kiprah.v8i1.1954

Abstract

Developing measurement tools in the form of a question is a skill that must be mastered by educators and prospective educators. With the implementation of the 2013 curriculum, educators must not only be able to develop authentic assessments but questions that developed must also be able to encourage students to master lower-order thinking skills (LOTS) as well as higher-order thinking skills (HOTS). This study aims to determine the cognitive level of final semester exam questions at fourth-grade elementary school level on theme 3, theme 4, and theme 5. This study uses descriptive-analytical methods in which the researcher tries to describe the object (question item). The results obtained that most of the multiple-choice questions both in Theme 3, Theme 4, and Theme 5 at the elementary school level grade IV (four) at Gugus 2 Aik Dareq sub-district, Central Lombok are still at the cognitive level of low-level thinking ability (LOTS).
PROFILE OF THINKING GEOMETRY LEVELS OF PGSD STUDENT PROGRAMS BASED ON VAN HIELE THEORY Umar, Umar; Maulyda, Mohammad Archi; Erfan, Muhammad; Hidayati, Vivi Rachmatul; Widodo, Arif
Integral : Pendidikan Matematika Vol 11 No 1 (2020): INTEGRAL
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The level of Van Hiele geometry thinking is the level of cognitive development of students in understanding the concept of geometry and solving geometry problems based on Van Hiele's level of thinking. Van Hiele divides the level of geometrical thinking of students in understanding geometry material into level 0 (visualization), level 1 (analysis), level 2 (informal deduction), level 3 (formal deduction), and level 4 (rigor). The purpose of this study is to measure and describe the level of geometrical thinking of PGSD study program students based on Van Hiele's theory. This research uses a quantitative descriptive approach. The population in this study were PGSD study program students at one of the State Universities in the City of Mataram. In this study, as many as 130 students of PGSD study programs at one of the state universities in the city of Mataram. The sampling technique used was cluster random sampling. The instrument used in this study was the Van Hiele geometry test developed by Usiskin (1987) which was translated into Indonesian. The results showed that the level of thinking geometry of PGSD study program students based on Van Hiele's theory was at the following levels: (1) 32% of students were at pre 0 level of thinking or had not yet reached level 0 (visualization). (2) 38% of students are at level 0 thinking (visualization). (3) 30% of students are at level 1 thinking level (analysis). (4) There are no students who reach the level of thinking geometry at level 2 (informal deduction), level 3 (formal deduction), and level 4 (rigor).   Keywords: level of geometry thinking, van hiele theory, PGSD student   Abstrak   Tingkat berpikir geometri Van Hiele merupakan tingkat perkembangan kognitif peserta didik dalam memahami konsep geometri dan menyelesaiakan masalah geometri berdasarkan tingkat berpikir Van Hiele. Van Hiele membagi tingkat berpikir geometri peserta didik dalam memahami materi geometri menjadi tingkat 0 (visualisasi), tingkat 1 (analisis), tingkat 2 (deduksi informal), tingkat 3 (deduksi formal), dan tingkat 4 (rigor). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur dan mendeskripsiskan tingkat berpikir geometri mahasiswa program studi PGSD berdasarkan teori Van Hiele. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi PGSD di salah satu Universitas Negeri di Kota Mataram. Suampel dalam penelitian ini sebanyak 130 mahasiswa program studi PGSD di salah satu universitas negeri di kota Mataram. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes geometri Van Hiele yang dikembangkan oleh Usiskin (1987) yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat berpikir geometri mahasiswa program studi PGSD berdasarkan teori Van Hiele berada pada beberapa tingkat sebagai berikut: (1) 32% mahasiswa berada pada tingkat berpikir pra 0 atau belum mencapai tingkat 0 (visualisasi). (2) 38% mahasiswa berada pada tingkat berpikir tingkat 0 (visualisasi). (3) 30% mahasiswa berada pada tingkat berpikir tingkat 1 (analisis). (4) Tidak ada mahasiswa yang mencapai tingkat berpikir geometri pada tingkat 2 (deduksi informal), tingkat 3 (deduksi formal), dan tingkat 4 (rigor).   Kata kunci: tingkat berikir geometri, teori van hiele, mahasiswa PGSD The level of Van Hiele geometry thinking is the level of cognitive development of students in understanding the concept of geometry and solving geometry problems based on Van Hiele's level of thinking. Van Hiele divides the level of geometrical thinking of students in understanding geometry material into level 0 (visualization), level 1 (analysis), level 2 (informal deduction), level 3 (formal deduction), and level 4 (rigor). The purpose of this study is to measure and describe the level of geometrical thinking of PGSD study program students based on Van Hiele's theory. This research uses a quantitative descriptive approach. The population in this study were PGSD study program students at one of the State Universities in the City of Mataram. In this study, as many as 130 students of PGSD study programs at one of the state universities in the city of Mataram. The sampling technique used was cluster random sampling. The instrument used in this study was the Van Hiele geometry test developed by Usiskin (1987) which was translated into Indonesian. The results showed that the level of thinking geometry of PGSD study program students based on Van Hiele's theory was at the following levels: (1) 32% of students were at pre 0 level of thinking or had not yet reached level 0 (visualization). (2) 38% of students are at level 0 thinking (visualization). (3) 30% of students are at level 1 thinking level (analysis). (4) There are no students who reach the level of thinking geometry at level 2 (informal deduction), level 3 (formal deduction), and level 4 (rigor).   Keywords: level of geometry thinking, van hiele theory, PGSD student   Abstrak   Tingkat berpikir geometri Van Hiele merupakan tingkat perkembangan kognitif peserta didik dalam memahami konsep geometri dan menyelesaiakan masalah geometri berdasarkan tingkat berpikir Van Hiele. Van Hiele membagi tingkat berpikir geometri peserta didik dalam memahami materi geometri menjadi tingkat 0 (visualisasi), tingkat 1 (analisis), tingkat 2 (deduksi informal), tingkat 3 (deduksi formal), dan tingkat 4 (rigor). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur dan mendeskripsiskan tingkat berpikir geometri mahasiswa program studi PGSD berdasarkan teori Van Hiele. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi PGSD di salah satu Universitas Negeri di Kota Mataram. Suampel dalam penelitian ini sebanyak 130 mahasiswa program studi PGSD di salah satu universitas negeri di kota Mataram. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes geometri Van Hiele yang dikembangkan oleh Usiskin (1987) yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat berpikir geometri mahasiswa program studi PGSD berdasarkan teori Van Hiele berada pada beberapa tingkat sebagai berikut: (1) 32% mahasiswa berada pada tingkat berpikir pra 0 atau belum mencapai tingkat 0 (visualisasi). (2) 38% mahasiswa berada pada tingkat berpikir tingkat 0 (visualisasi). (3) 30% mahasiswa berada pada tingkat berpikir tingkat 1 (analisis). (4) Tidak ada mahasiswa yang mencapai tingkat berpikir geometri pada tingkat 2 (deduksi informal), tingkat 3 (deduksi formal), dan tingkat 4 (rigor).   Kata kunci: tingkat berikir geometri, teori van hiele, mahasiswa PGSD The level of Van Hiele geometry thinking is the level of cognitive development of students in understanding the concept of geometry and solving geometry problems based on Van Hiele's level of thinking. Van Hiele divides the level of geometrical thinking of students in understanding geometry material into level 0 (visualization), level 1 (analysis), level 2 (informal deduction), level 3 (formal deduction), and level 4 (rigor). The purpose of this study is to measure and describe the level of geometrical thinking of PGSD study program students based on Van Hiele's theory. This research uses a quantitative descriptive approach. The population in this study were PGSD study program students at one of the State Universities in the City of Mataram. In this study, as many as 130 students of PGSD study programs at one of the state universities in the city of Mataram. The sampling technique used was cluster random sampling. The instrument used in this study was the Van Hiele geometry test developed by Usiskin (1987) which was translated into Indonesian. The results showed that the level of thinking geometry of PGSD study program students based on Van Hiele's theory was at the following levels: (1) 32% of students were at pre 0 level of thinking or had not yet reached level 0 (visualization). (2) 38% of students are at level 0 thinking (visualization). (3) 30% of students are at level 1 thinking level (analysis). (4) There are no students who reach the level of thinking geometry at level 2 (informal deduction), level 3 (formal deduction), and level 4 (rigor).   Keywords: level of geometry thinking, van hiele theory, PGSD student   Abstrak   Tingkat berpikir geometri Van Hiele merupakan tingkat perkembangan kognitif peserta didik dalam memahami konsep geometri dan menyelesaiakan masalah geometri berdasarkan tingkat berpikir Van Hiele. Van Hiele membagi tingkat berpikir geometri peserta didik dalam memahami materi geometri menjadi tingkat 0 (visualisasi), tingkat 1 (analisis), tingkat 2 (deduksi informal), tingkat 3 (deduksi formal), dan tingkat 4 (rigor). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur dan mendeskripsiskan tingkat berpikir geometri mahasiswa program studi PGSD berdasarkan teori Van Hiele. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi PGSD di salah satu Universitas Negeri di Kota Mataram. Suampel dalam penelitian ini sebanyak 130 mahasiswa program studi PGSD di salah satu universitas negeri di kota Mataram. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes geometri Van Hiele yang dikembangkan oleh Usiskin (1987) yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat berpikir geometri mahasiswa program studi PGSD berdasarkan teori Van Hiele berada pada beberapa tingkat sebagai berikut: (1) 32% mahasiswa berada pada tingkat berpikir pra 0 atau belum mencapai tingkat 0 (visualisasi). (2) 38% mahasiswa berada pada tingkat berpikir tingkat 0 (visualisasi). (3) 30% mahasiswa berada pada tingkat berpikir tingkat 1 (analisis). (4) Tidak ada mahasiswa yang mencapai tingkat berpikir geometri pada tingkat 2 (deduksi informal), tingkat 3 (deduksi formal), dan tingkat 4 (rigor).   Kata kunci: tingkat berikir geometri, teori van hiele, mahasiswa PGSD
PENINGKATAN HASIL BELAJAR KOGNITIF MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) TEMA PERKALIAN DAN PEMBAGIAN PECAHAN Erfan, Muhammad; Sari, Nursina; Suarni, Nani; Maulyda, Mohammad Archi; Indraswati, Dyah
Jurnal IKA PGSD (Ikatan Alumni PGSD) UNARS Vol 8 No 1 (2020): JUNI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/pgsdunars.v8i1.588

Abstract

Tema perkalian dan pembagian pecahan pada pembelajaran matematika masih menjadi hal yang sulit bagi peserta didik di kelas IV SDN 3 Batu Kumbung. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya capaian hasil belajar kognitif peserta didik pada tema perkalian dan pembagian pecahan yang rata-rata dibawah KKM. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar kognitif melalui variasi model pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada tema perkalian dan pembagian pecahan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada peserta didik kelas IV SDN 3 Batu Kumbung yang berjumlah 21 orang dengan dua siklus. Data diperoleh dengan teknik tes dan dianalisis melalui statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari siklus pertama hanya terdapat sedikit peningkatan, namun setelah para peserta didik kelas IV diberikan petunjuk dan penguatan, hasil belajar kognitif pada tema perkalian dan pembagian pecahan meningkat melebihi nilai KKM. Siklus dihentikan setelah nilai rata-rata hasil belajar kognitif pada tema perkalian dan pembagian pecahan telah tercapai atau melebihi nilai kriteria ketuntasan minimal.
IMPLEMENTASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH UNTUK SISWA LEMAH BACA DI SD KRISTEN MARANATHA KEDUNGADEM BOJONEGORO Widodo, Arif; Mafrudin, Eko; Sutisna, Deni; Sobri, Muhammad; Erfan, Muhammad
Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan
Publisher : LPPM Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan yang dilakukan oleh sekolah dalam menanggulangi siswa yang lemah baca sebagai bagian dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Subyek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan siswa di SD K Maranatha Kedungadem Bojonegoro. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara terbuka, wawancara tertutup dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan temuan dengan cara triangulasi sumber. Data disajikan dalam bentuk deskripsi dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat siswa yang lemah baca serta minat bacanya juga rendah. Upaya yang dilakukan sekolah dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa adalah dengan cara mengadakan program B3 (Bacaan Buku Berjenjang) serta menambah jumlah durasi bimbingan membaca khusus untuk siswa kelas tinggi yang lemah baca. Program B3 dinyatakan berhasil dengan indikator semakin meningkatnya kemampuan membaca siswa baik kelas tinggi maupun kelas rendah. Kendala yang dihadapi pelaksanaan program B3 adalah rendahnya minat baca siswa serta terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah.
Spirit Filantropi Islam dalam Tindakan Sosial Rasionalitas Nilai Max Weber Erfan, Muhammad
Jesya (Jurnal Ekonomi dan Ekonomi Syariah) Vol 4 No 1 (2021): Article Research : Volume 4 Nomor 1, Periode Januari 2021
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al-Washliyah Sibolga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36778/jesya.v4i1.281

Abstract

Philanthropy is not limited to loving others related to the economic field, such as zakat, infaq, alms, waqf or others. This study aims to inventory the spirit of Islamic philanthropy in Max Weber's social actions, especially in the act of rationality of values from the behavior of the congregation of Majelis Ratib Atthos Palangka Raya. This study is a qualitative study using data collection techniques in the form of observation and documentation. Data analysis was performed using qualitative procedures. The results of this study found the behavior of the assemblies in the form of social actions of value rationality carried out with the spirit of Islamic philanthropy.
Do Social Interactions with Peers Affect Student Identity? Maulyda, Mohammad Archi; Erfan, Muhammad
Qalam : Jurnal Ilmu Kependidikan Vol 9, No 2 (2020): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/jq.v9i2.1105

Abstract

This research is based on the observations and experiences of researchers, that at SMP Pawyatan Daha there are some students who are still doing things based on following along with friends, not based on themselves. For example, when a friend has a problem with a gang then triggers a fight, then his other friends will join in a fight with the intention of defending a friend even though they don't know what the problem is. This study aims to determine the effect of peer relations on self-identity. This study uses a quantitative research approach with comparative or ex-post facto causal techniques. The study population was 185, and the sample consisted of 47 research subjects of class VI students of SDN 26 Ampenan. Collecting data using peer questionnaire instruments and self-identity then based on the results of the distribution of questionnaires it was found that peers had a significant influence on the self-identity of grade VII students of SMP Pawyatan Daha 1 Kediri. Based on the results of the study using the product moment correlation test, the results obtained the value of r count ≥ r table or 0.295 ≥ 0.288. This means that there is an effect of peer interaction on the identity of class VII students of SMP Pawyatan Daha 1 Kediri. This result is supported by a simple linear regression test obtained by R Square with a result of 0.087. This means that the magnitude of the influence of peer interaction on self-identity is very weak.
Validity and reliability of cognitive tests study and development of elementary curriculum using Rasch model Erfan, Muhammad; Maulyda, Mohammad Archi; Ermiana, Ida; Hidayati, Vivi Rachmatul; Widodo, Arif
Psychology, Evaluation, and Technology in Educational Research Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/petier.v3i1.51

Abstract

The instrument for measuring knowledge in the subject of Elementary School Curriculum Study and Development has been created to measure students' understanding of teacher candidates in applying concepts, implications and curriculum development at the elementary school level. In order to make reliable and feasible instrument for measuring students knowledge in the subject of Elementary School Curriculum Study and Development, this study aims to produce empirical evidence about the validity and reliability of test instruments using the Rasch model analysis. The study was conducted by testing 20 items on 142 elementary school teacher candidate at one of the State Universities in the City of Mataram, West Nusa Tenggara. The validity and reliability of the instrument were measured by the Rasch analysis model using the Winstep program. The one-dimensional testing of 20 items has a variance measured at 42.7% which exceeds the minimum points of 40.0% desired by the Rasch model. The reliability index of the respondents was 0.65 and the item reliability index was 0.98. All items show a positive value for Point Measure Correlation (PMC) in terms of item polarity which means there is no conflict between the item and the construct being measured. Outfit Mean Square value also shows that all items that almost all items have an MNSQ Outfit value smaller than 1.5 which means the measurement value can be said to be productive except for item 13 (3.77) and item 16 (3.77). Both of these items need to be re-examined because they have problems in measuring their validity. The results of this study have proven that the knowledge measurement test instrument in the Elementary School Curriculum Study and Development course has validity and reliability values that meet and are empirically feasible to be used in measuring Basic School Curriculum Study and Development knowledge for prospective teacher students.
INTERNALISASI ATURAN POLYA TERHADAP KECAKAPAN SISWA MENYELESAIKAN MASALAH KPK & FPB Maulyda, Mohammad Archi; Erfan, Muhammad
COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education) Vol 3, No 6 (2020)
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apakah ada pengaruh model pembelajaran Polya terhadap kemampuan penyelesaian soal KPK dan FPB pada siswa kelas V SDN 1 Labuapi Kabupaten Lombok Barat. Subjek dalam penelitian ini adalah 25 siswa kelas VA SDN I Labuapi dan 25 siswa kelas VB SDN I Labuapi. Teknik pengumpulan data berupa tes tertulis dan instrumen berupa soal uraian yang berjumlah 10 butir. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji t atau uji t. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa: (1) Kemampuan menyelesaikan soal KPK dan FPB sebelum diterapkan model pembelajaran Polya pada siswa kelas V SDN 1 Labuapi Kabupaten Lombok Barat dengan ketuntasan klasikal mencapai <75%. Hal tersebut dibuktikan dengan ketuntasan klasikal sebesar 60,4%. (2) Kemampuan menyelesaikan soal KPK dan FPB setelah diterapkan model pembelajaran Polya pada siswa kelas V SDN 1 Labuapi Kabupaten Lombok Barat dengan ketuntasan klasikal mencapai ≥75%. Hal tersebut dibuktikan dengan ketuntasan klasikal sebesar 98,2%. (3) Ada pengaruh model pembelajaran Polya terhadap kemampuan pemecahan soal KPK dan FPB siswa kelas V SDN 1 Labuapi Kabupaten Lombok Barat. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai sig. (2tailed) sebesar 0,000 <0,05 dan nilai t-hitung ≥ t-tabel atau 5,508> 1,708 berarti Ho ditolak dan Ha diterima.