Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Strategi Tindak Tutur Komisif dalam Kampanye Politik Pilkada Serentak 2018 Habiburrahman, Habiburrahman; Gani, H. Arsyad Abd; Setiawan, Irma
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 5, No 1: Januari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.116 KB) | DOI: 10.31764/telaah.v5i1.1683

Abstract

Abstrak: Tindak tutur komisif sangat berperan dalam rangka mengikat penuturnya untuk melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya pada beberapa tindakan yang akan datang seperti menjanjikan, bersumpah, menawarkan, mengancam dan memanjatkan doa. Sementara kampanye diartikan sebagai serangkaian usaha dan tindakan komunikasi yang terencana untuk mendapatkan dukungan dari sejumlah besar khalayak yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara terorganisir dalam suatu proses pengambilan keputusan dan dilakukan secara berkelanjutan dalam kurun waktu tertentu. Analisis data kualitatif dalam penelitian ini terdiri atas tiga alur kegiatan yang terjadi secara simultan, yaitu kegiatan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data atau menarik simpulan. Ketiga kegiatan tersebut saling berinteraksi, berawal dari pengumpulan data dan berakhir pada selesainya penulisan laporan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penggunaan fungsi tindak tutur komisif dalam kampanye politik Pilkada Serentak 2018 di Desa Bajur ada dua, yaitu 1) strategi langsung, dan 2) strategi tidak langsung. Kedua strategi tersebut terdapat dalam empat penggunaan fungsi tindak tutur, yaitu 1) strategi langsung tindak tutur komisif dengan cara menjanjikan, 2) strategi langsung tindak tutur komisif dengan cara menawarkan, 3) strategi tidak langsung tindak tutur komisif dengan cara  mengancam dan 4) strategi tidak langsung tindak tutur komisif dengan cara memanjatkan doa.Abstract: Commissive speech acts are very important in order to bind the speaker to carry out all the things mentioned in his utterance in a number of future actions such as promising, swearing, offering, threatening and saying prayers. While the campaign is defined as a series of planned efforts and communication actions to get support from a large number of audiences carried out by a person or group of people in an organized manner in a decision making process and carried out continuously in a certain period of time.. In accordance with this view, this research is classified as a qualitative descriptive study. Data collection in this study relates to the following matters: (1) preparation of data collection, (2) observation techniques, and (3) interview techniques. Qualitative data analysis in this study consists of three activities that occur simultaneously, namely data reduction, data presentation, and data verification or drawing conclusions. The three activities interact with each other, starting with data collection and ending with the completion of the research report writing. The results showed that the strategy for using the commissive speech act function in the 2018 Simultaneous Local Election political campaign in Bajur Village was twofold, namely 1) direct strategy, and 2) indirect strategy. The two strategies are contained in the four uses of the speech act function, namely 1) the direct strategy of commissive speech act by promising, 2) the direct strategy of commissive speech act by offering, 3) the indirect strategy of commissive speech act by threatening and 4) the strategy of indirect speech direct commissive speech acts by saying prayers.
EFEKTIVITAS TERAPI DZIKIR TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II Habiburrahman, Habiburrahman; Hasneli, Yesi; Amir, Yufitriana
Jurnal Ners Indonesia Vol 8, No 2 (2018): Maret 2018
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.503 KB) | DOI: 10.31258/jni.8.2.132-144

Abstract

Diabetes melitus adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah karena kegagalan sekresi insulin atau penggunaan insulin yang tidak adekuat. Untuk mencegah terjadinya komplikasi diabetes melitus perlu dilakukan pengendalian kadar glukosa darah secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi dzikir terhadap kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe II. Penelitian ini menggunakan desain quasy eksperiment dengan rancangan non equivalent control group. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Rejosari. Jumlah sampel sebanyak 34 responden yang diambil sesuai kritetria inklusi dan menggunakan teknik purposive sampling, dibagi menjadi 17 reponden kelompok eksperimen dan 17 responden kelompok kontrol. Alat ukur yang digunakan adalah lembar observasi kadar glukosa darah yang diukur menggunakan glucometer. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji dependent t test dan independent t test. Rata-rata kadar glukosa darah kelompok eksperimen sebelum diberikan terapi dzikir adalah 175,65 mg/dl dan setelah diberikan terapi dzikir sebanyak dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut terjadi penurunan menjadi 167,06 mg/dl. hasil uji statistik menunjukkan penurunan kadar glukosa darah secara signifikan dengan p value (0,001) < α (0,05). Hal ini disimpulkan bahwa terapi dzikir dapat menurunkan kadar glukosa darah secara efektif pada penderita diabetes melitus tipe II. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu intervensi keperawatan untuk menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe II.
POLEMIK PEMBERIAN HARTA WARIS MELALUI WASIAT KEPADA ANAK ANGKAT Habiburrahman, Habiburrahman
Asy-Syari'ah Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Asy-Syari'ah
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v16i2.632

Abstract

This paper describes the polemic of the distribution of waris for foster child in the study of Islamic law and the laws and regulations in Indonesia. The distribution of estate to foster child was regulated in article 209 in the Compilation of Islamic Law (KHI). Thus, this is a signal that the influence of customary law and Western law had entered in KHI . Therefore, by this paper, Author would like to emphasize that the distri­bu­tion of waris to the foster child by using the concept of wasiat wajibah in KHI is wrong. It is not based on the shari'ah (qath‘iy al-dilâlah), but rather based on logic of the law and humanitarian considerations, and it is zhan­niy al-dilâlah. Thus, author sure that the distribution of waris by one third (1/3) of estate to the foster child by using the concept of wasiat wajibah is an erroneous ijtihad, cotradiction with the texts, and could be detrimental to the main heirs.
Legalitas Kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin III Habiburrahman, Habiburrahman
Medina-te : Jurnal Studi Islam Vol 12 No 1 (2016): Medina-Te : Jurnal Studi Islam
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/medinate.v12i1.1150

Abstract

Sultanate of Palembang Darussalam is one of Sultanate in the Nusantara archipelago. The first Sultan of Palembang Darussalam, Susuhunan Abdurrahman was appointed as Sultan on March 3, 1666. In 1821 the Sultanate of Palembang are frozen by the Netherlands, and was resurrected again on March 3, 2003 by the Assembly of the Majelis Adat of Sultanate of Palembang Darussalam with its designation of Raden Sjafei Prabu Diradja,  as a Sultan of Palembang Darussalam with the title of Sultan Mahmud Badarudin III. Legality of power of Sultan Mahmud Power Badarudin III, referring to the basic characteristics of the legality of power in the Malay Islamic Sultanate system, base on very important factor as follows: first, direct descendant of former sultans of Palembang Darussalam Sultanate. Second, supported by the Ulama. Third, has an artifact that became a symbol of the sovereignty of the Sultanate of palembang darussalam belonging to former sultans. Regarding the form of the implementation of the legality of the power of the Sultan Mahmud Badaruddin III, that can be seen from the existence of activities, such as; the preparation of Dictionaries Baso Palembang, designation guguk-guguk inside and outside of Palembang, Attend different events and seminars related to the Sultanate of Palembang Darussalam, and maintaining continuity, customs, art and culture of the nation of Indonesia including environmental sustainability, particularly in the city of Palembang Darussalam.
KESANTUNAN TINDAK TUTUR INTROGATIF DOSEN DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS: STUDI KASUS DI PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FKIP UM MATARAM Habiburrahman, Habiburrahman
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 3, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v3i2.605

Abstract

Dalam komunikasi, kesantunan merupakan aspek penting dalam kehidupan untuk menciptakan komunikasi yang baik di antara penutur dan mitra tutur. Kaitan hubungan bahasa dengan realitas sosial tercermin pula pada proses pembelajaran di kelas dalam menciptakan suasana kampus yang harmonis.  Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mendeskripsikan bentuk tindak tutur introgatif dosen dalam pembelajaran di kelas, dan 2) untuk mendeskripsikan kesantunan tindak tutur introgatif dosen dalam pembelajaran di kelas. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut: (1) persiapan pengumpulan data, (2) teknik observasi, dan (3) teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan beberapa bentuk klasifikasi tindak tutur introgatif (pertanyaan). Tindak tutur introgatif yang diungkapkan oleh dosen dibagi menjadi dua, yaitu: 1) bentuk tindak tutur introgatif berdasarkan maksud pengajuannya dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu: pertanyaan permintaan, pertanyaan retoris, pertanyaan mengarahkan atau menuntun, dan pertanyaan menggali; dan 2) bentuk tindak tutur introgatif berdasarkan tingkat kesulitan jawaban yang diharapkan dapat diklasifikasikan menjadi enam, yaitu: pertanyaan pengetahuan, pertanyaan pemahaman, pertanyaan aplikatif, pertanyaan analisis, pertanyaan sintesis, dan pertanyaan evaluasi. Sedangkan bentuk kesantunan tindak tutur introgatif dapat dibedakan menjadi strategi kesantunan negatif dan strategi kesantunan positif. Strategi kesantunan negatif ada tiga, yaitu 1) kesantunan dengan menggunakan pagar; 2) kesantunan dengan meminimalkan paksaan; dan 3) kesantunan dengan memberikan penghormatan. Sementara strategi kesantunan positif ada dua, yaitu 1) kesantunan dengan menghindari ketidaksetujuan dengan pura-pura setuju, persetujuan yang semu (psedo agreement), menipu untuk kebaikan (mhite lies), atau pemagaran opini (hedging opinicon); dan 2) kesantunan dengan menunjukkan keoptimisan.
KAJIAN SOSIOPRAGMATIK TENTANG PENGGUNAAN KATEGORI FATIS BAHASA SASAK DALAM KESANTUNAN TINDAK TUTUR MASYARAKAT LOMBOK Habiburrahman, Habiburrahman
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 3, No 1: Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.649 KB) | DOI: 10.31764/telaah.v3i1.301

Abstract

Kategori fatis yaitu tipe tuturan yang digunakan untuk menciptakan ikatan sosial yang harmonis dengan semata-mata bertukar kata-kata. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk dan fungsi kategori fatis bahasa Sasak; 2) untuk mendeskripsikan dan menjelaskan nilai dari strategi kesantunan penggunaan bentuk dan fungsi kategori fatis bahasa Sasak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui teknik observasi yang dibantu teknik perekaman menggunakan handycam. Data penelitian terdiri atas dua jenis, yaitu: (1) data tuturan berupa percakapan masyarakat; dan (2) data catatan lapangan berupa interaksi verbal dan situasi tindak tutur. Berdasarkan hasil penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1) bentuk kategori fatis dalam bahasa Sasak berupa: partikel, kata dan frase. 2) Fungsi kategori fatis dalam bahasa sasak yaitu, untuk memulai percakapan, untuk melakukan gosip, untuk mengalihkan topik, untuk menyatakan empati, untuk mengungkapkan kesantunan, sebagai penegasan, fungsi untuk mengungkapkan ekspresi dan fungsi untuk mengakhiri percakapan. 3) Strategi kesantunan penggunaan bentuk dan fungsi kategori fatis bahasa Sasak, yaitu menggunakan srategi kesantunan negatif dan strategi positif. Beberapa jenis strategi kesantunan tersebut yaitu 1) mengintensifkan perhatian penutur dengan mendramatisasikan peristiwa dan fakta; 2) menunjukkan hal-hal yang dianggap mempunyai kesamaan melalui basa-basi (small talk) dan praanggapan (presupposition); 3) menhindari ketidaksetujuan dengan pura-pura setuju dalam arti persetujuan yang semu; 4) membesar-besarkan perhatian, persetujuan, dan simpati kepada mitratutur; 5) ujaran tindak tutur itu sebagai kesantunan yang bersifat umum; dan 6) menyatakan hubungan secara timbal balik.
KESANTUNAN TINDAK TUTUR INTROGATIF DOSEN DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS: STUDI KASUS DI PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FKIP UM MATARAM Habiburrahman, Habiburrahman; Bilal, Arpan Islami
Jurnal Ulul Albab Vol 22, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.79 KB) | DOI: 10.31764/jua.v22i2.589

Abstract

Abstrak: Dalam komunikasi, kesantunan merupakan aspek penting dalam kehidupan untuk menciptakan komunikasi yang baik di antara penutur dan mitra tutur. Kaitan hubungan bahasa dengan realitas sosial tercermin pula pada proses pembelajaran di kelas dalam menciptakan suasana kampus yang harmonis.  Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mendeskripsikan bentuk tindak tutur introgatif dosen dalam pembelajaran di kelas, dan 2) untuk mendeskripsikan kesantunan tindak tutur introgatif dosen dalam pembelajaran di kelas. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut: (1) persiapan pengumpulan data, (2) teknik observasi, dan (3) teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan beberapa bentuk klasifikasi tindak tutur introgatif (pertanyaan). Tindak tutur introgatif yang diungkapkan oleh dosen dibagi menjadi dua, yaitu: 1) bentuk tindak tutur introgatif berdasarkan maksud pengajuannya dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu: pertanyaan permintaan, pertanyaan retoris, pertanyaan mengarahkan atau menuntun, dan pertanyaan menggali; dan 2) bentuk tindak tutur introgatif berdasarkan tingkat kesulitan jawaban yang diharapkan dapat diklasifikasikan menjadi enam, yaitu: pertanyaan pengetahuan, pertanyaan pemahaman, pertanyaan aplikatif, pertanyaan analisis, pertanyaan sintesis, dan pertanyaan evaluasi. Sedangkan bentuk kesantunan tindak tutur introgatif dapat dibedakan menjadi strategi kesantunan negatif dan strategi kesantunan positif. Strategi kesantunan negatif ada tiga, yaitu 1) kesantunan dengan menggunakan pagar; 2) kesantunan dengan meminimalkan paksaan; dan 3) kesantunan dengan memberikan penghormatan. Sementara strategi kesantunan positif ada dua, yaitu 1) kesantunan dengan menghindari ketidaksetujuan dengan pura-pura setuju, persetujuan yang semu (psedo agreement), menipu untuk kebaikan (mhite lies), atau pemagaran opini (hedging opinicon); dan 2) kesantunan dengan menunjukkan keoptimisan.Kata Kunci:lecturer introgative; speech act;politeness value
Wisata Halal Dalam Dimensi Kesantunan Tindak Tutur Habiburrahman, Habiburrahman; Nurmiwati, Nurmiwati; H.Mus, Akhmad
IJECA (International Journal of Education and Curriculum Application) 2018: Proceeding of The 1st International Conference on Halal Tourism, Products, and Services 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.853 KB) | DOI: 10.31764/ijeca.v0i0.1991

Abstract

Wisata halal  yang umum dikenal selama ini adalah wisata syariah atau wisata religi. Pengertiannya tentu tidak selalu berwisata ke lokasi-lokasi religius seperti makam-makam Walisongo seperti yang selama ini banyak dilakukan orang. Jika wisata religi lebih mengedepankan aspek lokasi atau objek dan sejarah tempat wisata, maka wisata halal lebih mengedepankan aspek pelaku atau wisatawannya. Istilah wisata halal tidak hanya soal berkunjung ke lokasi religius, namun juga ke lokasi-lokasi umum dengan tetap menjaga adab sebagai Muslim dan memberikan fasilitas serta kemudahan bagi para wisatawan Muslim. Sesuai uraian tersebut maka aspek kesantunan tindak tutur sebagai salah satu indikator wisata halal dari aspek kemudahan komunikasi. Bagian tidak terpisahkan lainnya dari wisata halal ini adalah para pemandu wisata yang juga harus menyesuaikan diri dengan para wisatawan Muslim. Dalam komunikasi, kesantunan merupakan aspek penting dalam kehidupan untuk menciptakan komunikasi yang baik di antara pemandu wisata dan wisatawan. Misalnya dengan menjaga adab berkomuniasi, menggunakan pakaian yang sopan sesuai standar Muslim serta tidak lupa mengingatkan waktu beribadah tepat waktu kepada para wisatawan dengan bahasa yang santun. Bentuk kesantunan tindak tutur ini banyak kita temukan dalam sembilan fungsi tindak tutur saat memberikan layanan sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan tentang penggunaan kesantunan tindak tutur direktif di kalangan Jamaah Tablig dalam berdakwah, yaitu: (1) fungsi tindak tutur untuk menyatakan ajakan, (2) suruhan, (3) peringatan, (4) seruan, (5) imbauan, (6) persilaan, (7) anjuran, (8) harapan, dan (9) larangan. Pemakaian kesantunan tindak tutur dalam memberikan layanan prima terhadap  para wisatawan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu strategi kesantunan positif dan strategi kesantunan negatif. Kedua strategi kesantunan tersebut dapat menjadi indikator wisata halal dari aspek kemudahan komunikasi dengan menjaga adab berkomunikasi dan menciptakan situasi yang nyaman dengan lingkungan yang santun dari masyarakat sekitarnya.
CURRICULUM MANAGEMENT OF BUIN BATU ELEMENTARY SCHOOL Habiburrahman, Habiburrahman
Journal of Education Research in Administration and Management (JERAM) Vol 1 No 2 (2017): Vol 1 No 2 Year 2017 JERAM
Publisher : JERAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29061/jeram.v1i2.28

Abstract

The focus of this research is to study about the curriculum management at the Elementary School of Buin Batu that includes the curriculum planning, curriculum organization, curriculum implementation, and curriculum evaluation. It is a Case Study Research using a qualitative approach. Data obtained through in-depth interviews, observation and documentation with the research informants comprising the school principal, academic coordinator and curriculum coordinator. The data collected was analyzed through the process of data reduction, display, verification and conclusion drawing. The results of the research show that the Elementary School of Buin Batu has a curriculum planning that consists of Curriculum Mapping, Scope and Sequence, Program of Inquiry, Unit of Inquiry, and Unit Planner; a curriculum organization that includes Curriculum Structure, Teacher Assignment, Developing Transdisciplinary Program, Determining Unit of Inquiry for Each Year Level; a curriculum implementation that includes Teaching and Learning Experiences, Assessment and Reporting; and a curriculum evaluation that covers Unit Review and Subject Review. Keywords: curriculum management, curriculum planning, curriculum organization, curriculum&nbsp;implementation, curriculum evaluation
NIKAH SIRI, NIKAH DI BAWAH UMUR,DAN POLIGAMI LIAR Habiburrahman, Habiburrahman
Kosmik Hukum Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/kosmikhukum.v14i1.755

Abstract

Sahnya perkawinan bila suatu perkawinan telah memenuhi persyaratan dari sudut pandang hukum Islam dan apabila tidak terpenuhinya persyaratan tersebut berarti perkawinan tidak sah. Lain halnya dengan persyaratan menurut perundang-undangan (Pasal 6, 7, 9, dan 10 UU No. 1 Tahun 1974),jika tidak terpenuhinya ketentuan pasal-pasal tersebut tidak menyebabkan perkawinan tersebut batal, hanya dikategorikan sebagai “pelanggaran undang-undang”. Kata Kunci: Perkawinan,Pelanggaran UU