Nurhawaty Siagian, Nurhawaty
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS AWAL TANAMAN KARET BERBATANG BAWAH BANYAK Siagian, Nurhawaty; Siregar, Tumpal H. S.
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 32, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v32i1.145

Abstract

Sejak tahun 2005 penggunaan bahan tanam karet berbatang bawah banyak dengan tujuan mempersingkat masa TBM telah berkembang di tingkat petani.  Model pembibitan tersebut terus  berkembang dan bibit diperjualbelikan oleh penangkar antara lain di Kabupaten Muara Enim, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Madina, Taput, Provinsi Bengkulu, Aceh,  Jambi, Sumatera Barat (Damas Raya dan Solok Selatan).  Bahan tanam karet berbatang bawah banyak secara logika akan mendorong pertumbuhan batang karet karena mempunyai banyak akar untuk penyerapan air dan hara.  Informasi teknis tentang perkembangan pertumbuhan dan produksi bibit karet berbatang bawah ganda perlu disebarluaskan agar tidak terjadi kekeliruan dikemudian hari.   Teknik perbanyakan tanaman berbatang bawah banyak dan pertumbuhannya selama di polibeg telah dilaporkan secara lengkap oleh Siagian pada tahun 2006 dan pada tahun 2010 dilaporkan  pertumbuhan tanaman sampai dengan umur 4 tahun di lapangan.  Penelitian lanjutan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap pertumbuhan, persentase pohon matang sadap pada umur 4,5 tahun dan produksi 3 tahun sadap tanaman karet di lapangan.   Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih yang disusun menggunakan rancangan acak kelompok faktorial.  Setiap unit percobaan menggunakan sebanyak 50 tanaman dan ulangan tiga kali.  Faktor pertama yang diuji adalah jumlah batang bawah yang disambung/jumlah akar tunggang yaitu dua (S2), tiga (S3), empat (S4) dan kontrol tidak disambung atau hanya satu batang bawah/akar tunggang (S1).  Faktor kedua adalah jenis klon yang diokulasikan yaitu klon PB 260 dan klon IRR 118.  Dengan demikian terdapat sebanyak 8 kombinasi perlakuan.  Penanaman di lapangan menggunakan bahan tanam polibeg dua payung, dilakukan pada akhir bulan Mei tahun 2006. Peubah yang diamati adalah produksi karet kering (gram per pohon per sadap), lilit batang pada umur 4,5 tahun dan 7,5 tahun, persentase tanaman yang memenuhi kriteria matang sadap, tebal kulit, jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar hara N, P,K, Mg dan Ca daun pada umur 7,5 tahun.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa TBM pada tanaman berbatang bawah dua, tiga dan empat hampir setara dengan masa TBM pada tanaman berbatang bawah satu (kontrol), yaitu 4,5 tahun. Penggunaan bahan tanam berbatang bawah banyak (dua, tiga, maupun empat) untuk tujuan mempersingkat masa TBM belum terbukti sebagaimana dianggap sebelumnya. Pengamatan selama 3 tahun sadap menunjukkan bahwa rataan produksi karet kering per pohon per sadap pada tanaman yang berbatang bawah dua,  tiga dan empat tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (berbatang bawah satu). Diterima : 9 September 2013; Direvisi : 15 Oktober 2013; Disetujui : 12 November 2013  How to Cite : Siagian, N., & Siregar, T. H. S. (2012). Pertumbuhan dan produktivitas awal tanaman karet berbatang bawah banyak. Jurnal Penelitian Karet, 32(1), 10-20. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/145
KERAGAAN SISTEM PREMI PENYADAP DI BEBERAPA PERUSAHAAN PERKEBUNAN KARET Fauzi, Iif Rahmat; Syarifa, Lina Fatayati; Herlinawati, Eva; Siagian, Nurhawaty
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 32, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v32i2.162

Abstract

Produktivitas tanaman di perusahaan perkebunan karet selain dipengaruhi oleh faktor teknis budidaya juga dipengaruhi oleh faktor nonteknis seperti manajemen penyadapan. Faktor manajemen penyadapan yang paling berpengaruh dalam mendorong produktivitas adalah sistem premi. Premi merupakan suatu penghargaan yang diberikan oleh perusahaan kepada pekerja yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan sistem premi di beberapa perusahaan perkebunan karet. Penelitian dilakukan pada tahun 2012 dengan metode survei dan wawancara. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive yaitu dengan memilih sentra perkebunan karet terbesar di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum jenis premi penyadap di perusahaan perkebunan karet meliputi premi sadap hari biasa (premi prestasi, premi kerajinan, dan premi khusus), premi sadap hari libur, dan premi sadap bebas. Untuk mendukung penyadapan memperoleh hasil yang optimal maka diberikan premi kepada pekerja lain yang berkaitan dengan operasional panen. Di antara jenis premi pekerja lain yang dianggap penting adalah premi mandor besar, mandor sadap, TAP kontrol induk, TAP kontrol afdeling, koordinator produksi, krani afdeling, pembantu krani, pekerja TPH, dan penjaga afdeling. Seorang mandor dan TAP kontrol memiliki kontribusi dalam menentukan kelas penyadap. Perannya pada beberapa kebun berada di bawah kendali afdeling. Nilai premi seorang mandor dan TAP kontrol diatur sedemikian rupa sehingga berbanding lurus dengan nilai premi penyadap. Pada kondisi tersebut penerapan fungsi kelas penyadap yang berkaitan langsung dengan kualitas penyadapan menjadi tidak representatif. Selain faktor peran dari fungsi pengawasan, nilai insentif yang diatur dalam sistem premi dinilai belum mampu mendorong penyadap melakukan penyadapan sesuai norma. Diperlukan sistem premi yang tegas terhadap perbedaan kelas penyadap dan peran pengawas yang berdiri sendiri di luar stuktur afdeling sebagaimana yang disampaikan dalam studi ini. Diterima : 5 Desember 2013; Direvisi : 28 Februari 2014; Disetujui : 30 Mei 2014  How to Cite : Fauzi, I. R., Syarifa, L. F., Herlinawati, E., & Siagian, N. (2014). Keragaan sistem premi penyadap di beberapa perusahaan perkebunan karet. Jurnal Penelitian Karet, 32(2), 157-180. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/162
PENGARUH JENIS MATA ENTRES DAN KLON TERHADAP KEBERHASILAN OKULASI DAN PERTUMBUHAN TUNAS PADA OKULASI HIJAU DI POLIBEG Junaidi, Junaidi; Atminingsih, Atminingsih; Siagian, Nurhawaty
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 32, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v32i1.146

Abstract

Pada saat ini pengadaan bahan tanam karet dengan cara okulasi tanaman muda langsung di polibeg sedang berkembang terutama di perkebunan besar. Pertanyaan yang sering dilontarkan para pekebun adalah jenis mata okulasi apa yang cocok untuk digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis mata okulasi terhadap persentase keberhasilan dan pertumbuhan tunas hasil okulasi hijau di polibeg. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungei Putih, menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor yaitu jenis klon (PB 260 dan IRR 118) dan jenis mata okulasi yaitu mata daun hijau (MDH), mata daun coklat (MDC), mata sisik hijau (MSH) dan mata sisik coklat (MSC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk okulasi hijau dalam polibeg, jenis mata yang paling sesuai adalah mata sisik hijau (MSH). Meskipun persentase keberhasilannya tinggi (90,5%), tunas yang tumbuh dari MSH relatif lebih kecil dibandingkan dengan jenis mata entres lainnya sehingga pemeliharaan setelah okulasi tumbuh sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan tunas. Pada kondisi MSH tidak mencukupi, okulasi hijau di polibeg dapat dilakukan dengan menggunakan mata sisik coklat (MSC) dan mata daun hijau (MDH) namun tidak dianjurkan menggunakan mata daun coklat (MDC). Diterima : 10 Desember 2013; Direvisi : 3 Januari 2014; Disetujui : 20 Februari 2014  How to Cite : Junaidi., Atminingsih., & Siagian, N. (2014). Pengaruh jenis mata entres dan klon terhadap keberhasilan okulasi dan pertumbuhan tunas pada okulasi hijau di polibeg. Jurnal Penelitian Karet, 32(1), 21-30. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/146 
ISOLASI BAKTERI PEREDUKSI SULFAT UNTUK MEMPERBAIKI SIFAT KIMIA TANAH BEKAS TAMBANG BATUBARA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARET (HEVEA BRASILIENSIS) DI POLIBEG Sembiring, YanRiska Venata; Andriyanto, Mochlisin; Siagian, Nurhawaty; Widyati, Enny; Azwir, Azwir
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i2.223

Abstract

Teknik pertambangan terbuka pada lahan bekas tambang batubara di Sumatera Barat mengakibatkan vegetasi penutup tanah hilang, pemadatan tanah, kahat unsur hara, reaksi masam, top soil tipis, rendah bahan organik, tekstur tanah buruk, toksisitas mineral, kandungan logam tinggi dan mengganggu aktivitas mikroorganisme tanah. Mikroba tanah seperti Bakteri Pereduksi Sulfat (BPS) dapat dimanfaatkan untuk perbaikan sifat kimia tanah dalam mendukung revegetasi lahan bekas tambang batubara. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan isolat BPS dan pengaruhnya terhadap sifat kimia tanah bekas tambang batubara, serta pertumbuhan karet di polibeg. Penelitan ini dilakukan di Balai Penelitian Sungei Putih yang berlangsung bulan Maret-Desember 2015. Sumber isolat BPS yang digunakan berasal dari sewage sludge, sludge industri kertas dan rumen sapi. Isolat yang didapatkan tersebut selanjutnya dimurnikan dan diapilkasikan ke media polibeg. Berdasarkan penelitian didapatkan tiga jenis isolat BPS yaitu isolat A, isolat B, dan isolat D. Semua isolat BPS dapat menurunkan pH, C-organik, dan kandungan sulfat tanah bekas tambang batubara. Pertambahan tinggi tanaman di polibeg setelah tiga bulan aplikasi, semua isolat nyata lebih besar dibandingkan dengan kontrol (tanpa isolat dan hanya media bekas tanah tambang saja).